STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 24: (STERIL: The Moon)


__ADS_3

Suara baling-baling helikopter memecah sunyi, membuka tabir kegelapan pada tanah yang ditaburi puing-puing reruntuhan. Tuan Altar duduk diam di atas kursinya. Sekilas pria itu tampak tenang. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, kau akan tahu kerisauan apa yang tengah dihadapinya. Alis Tuan Altar sedikit mengerut melihat hamparan tanah hitam berlubang. Ada sisipan geram nan kesal.


Setelah mendengar ledakan sekaligus merasakan getarannya, Tuan Altar bergegas pergi ke lokasi kejadian dengan menaiki helikopter pribadi. Dengan penuh pengamatan, pria itu meninjau seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan dan hasilnya mengecewakan. Dipandanginya lagi layar tablet berisi rekaman situasi terakhir. Tubuh-tubuh zombie bergelimpangan, beberapa di antaranya tak jelas bentuknya.


Ini sudah menyalahi aturan. Aturan dalam protokol baru kemiliteran jelas mengatakan bahwa 'Dilarang menjatuhkan bom dan segala jenis senjata penghancur masal di zona merah zombie.' Namun sepertinya ada oknum yang menginginkan jalan pintas tanpa ingin bersusah payah. Kasus ini harus ditindaklanjuti. Jika tidak, maka program STERIL akan sia-sia belaka.


"Tuan, di bawah sangat berbahaya. Kita tidak tahu apakah situasi sudah aman atau masih ada serangan selanjutnya. Sebaiknya kita tidak turun," saran pilot dari balik kokpit.


"Ya. Aku pun dapat melihatnya dari sini. Kalau begitu usahakan agar helikopter ini tetap stabil agar aku bisa memantau keadaan."


"Baik, Tuan!"


Tuan Altar menatap lagi hamparan hitam yang begitu luas. Dia harus berbuat sesuatu.


Tuan Altar menekan earphone untuk menghubungi seseorang yang sedang memeriksa puing-puing reruntuhan.


"Beri aku laporan! Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Tuan Altar ingin tahu.


[Ya, Tuan. Menurut radar ada sebuah rudal tidak dikenal melintas menuju ke tempat ini. Setelah itu tempat ini diledakkan. Kami tidak bisa mencegah karena ada sesuatu yang mengacaukan sinyalnya, bahkan kami tidak tau dari titik koordinat mana rudal itu berasal. Menurut dugaan sementara bahwa rudal ini dikendalikan melalui dari jarak jauh.] jawab seseorang berpakaian militer yang telah lebih dulu berada di lokasi kejadian.


"Hm. Cari apapun yang bisa menjadi petunjuk, lacak, lalu kirim datanya padaku!"


[Baik, Pak! Laksanakan!]


Tuan Altar mematikan panggilan lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Semuanya terasa runyam. Belum selesai misi penyelamatan, kini muncul masalah baru. Hal ini tidak bisa dibiarkan.


Jika melihat ke belakang, rudal adalah senjata yang dulu digunakan oleh pemerintah untuk memberantas penyebaran virus zombie. Dulu ketika mayat hidup merajalela, jalan satu-satunya hanyalah memusnahkan pemukiman bahkan kota. Mereka mengambil langkah mudah penanganan virus zombie dengan cara menginput data melalui drone mata-mata, mengelompokanya pada beberapa titik yang kemudian ditetapkan sebagai zona merah/berbahaya. Selanjutnya militer akan mengisolasi mereka dalam satu tempat, lalu menandainya. Setelah pemetaan selesai, beberapa tim militer dikerahkan untuk membasmi mayat hidup dengan cara menjatuhkan bom.


Hingga tercetuslah ide tentang upaya untuk menyembuhkan mayat hidup. Ide ini membuat geger Negeri Beltran Guido. Idenya dirasa mustahil oleh sebagian besar orang. Bahkan mereka berani mengatakan 'menyembuhkan mayat hidup hanya ide gila yang tercetus dari orang tidak waras.' Jalan yang ditempuh agar mayat hidup dapat kembali normal tidak mudah. Tuan Altar bahkan sampai menghadapi sidang demi terbentuknya misi STERIL.


Hei, memangnya berapa persen kemungkinan syaraf rusak bisa kembali pulih seperti bayi? Apa kau pernah memikirkan hal ini? Tidak, kan? Maka orang-orang se-kelas petinggi di Beltran Guido pun tidak. Hanya saja ada seorang ayah di sana. Apa kau bisa mengerti perasaanya? Rasa sayang terhadap anaknya amat besar sampai-sampai memiliki ide mengobati mayat hidup dianggap gila. Namun Tuan Altar tidak peduli. Dia hanya ingin mencari dan mencoba mengembalikan bayi kecilnya seperti sedia kala. Meski dengan tudingan miring, Tuan Altar tetap menjalankan niatnya.


Setelah STERIL dibentuk, maka pembantaian terhadap zombie tidak diterapkan lagi. Pemetaan tetap dilakukan, hanya saja caranya yang berbeda. Mereka tidak lagi dimusnahkan secara masal. Mereka akan diberi pilihan; dimusnahkan atau diselamatkan. Berbekal keyakinan, akhirnya Tuan Altar berhasil merangkul Rumah Sakit Atlantis sebagai tempat zombie dikarantina sekaligus pusat penelitian.


Setelah sekian lama, nampaknya ada pihak yang tidak senang. Mungkin mereka adalah pemberontak. Pemberontak yang ingin agar STERIL jatuh. Tuan Altar jelas tidak akan membiarkan hal ini terjadi.


Harapan selalu ada bagi mereka yang berjuang. Jika gagal sekalipun, setidaknya sudah pernah mencoba.


Semoga Beltran Guido selalu diselimuti cahaya.


"Sekarang kita mau ke mana, Tuan?"


Panggilan itu membawa Tuan Altar kembali ke dunia nyata. "Kita ke markas!"


"Baik."


Tuan Altar bergerak secepat mungkin. Dia mengumpulkan orang-orang hebat di bidangnya dan menggelar pertemuan mendadak. Sebagai wakil militer dia merasa bertanggungjawab terhadap apa yang terjadi. Tuan Altar mengerahkan seluruh tim cyber untuk melacak dari mana dan siapa dalang dari pengeboman sektor C. Namun, pesawat yang digunakan oleh si pelaku ternyata telah menyamarkan diri dengan menggunakan virus komputer sehingga tidak bisa disusupi dengan mudah.


Sepertinya semua hanya berupa benang kusut.

__ADS_1


****


Beberapa hari telah berlalu, namun suasana hati Tahta sedang tidak baik. Dia sering mengamuk, bahkan menyerang beberapa orang perawat yang mendekatinya. Rantai telah dilepas. Tahta kini bisa kembali berjalan-jalan seperti biasa. Butuh waktu sekitar seminggu baginya untuk bisa didekati orang lain.


Selama itu juga Hideo tidak diperbolehkan menjenguk. Ini sangat menyiksa bagi Hideo, mengingat sehari saja tak melihat wajah sang kekasih bagai seribu abad lamanya. Makanya, begitu rambu hijau menyala dan izin telah didapat, Hideo bergegas menuju Atlantis.


Saat itu hari sudah larut, namun Hideo tidak sabar untuk bertemu esok hari. Jadi setelah selesai bertugas, Hideo melajukan motornya dan berhenti di halaman rumah sakit. Beberapa pria berpakaian militer masih patuh berjaga di sekitar pusat rehabilitasi. Hideo menyapa mereka sekilas lalu segera menaiki lift.


Begitu pintu kamar dibuka, seharusnya wajah Tahta menyapa. Namun, Tahta tak nampak barang seujung rambut pun. Gelap justru menyapa Hideo kala itu. Hanya cahaya rembulan yang masuk melalui jendela menghujani sebagian ruangan sebagai penerang. Semilir angin malam menggoyangkan tirai, lalu menerpa kulit khas milik seorang pria pejuang.


"Tahta?" panggil Hideo berharap kekasihnya datang menyambut.


Dia baru akan berjalan ke dinding untuk mencari saklar, ketika sebuah suara tertangkap oleh indera pendengaran.


"Um."


Suara itu lebih mirip gumaman.


"Tahta?"


Hideo mengeratkan kepalan tangan karena dia tidak bersenjata sekarang.


"Um."


Suara itu datang lagi. Hideo menebaknya berasal dari sudut ruangan. Dia melangkah perlahan. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada yang membahayakan kekasihnya. Kamar rawat Atlantis dijaga sangat ketat. Hideo sangsi ada zombie lain menyusup. Tetapi Tahta juga tidak menyahut. Jelas Hideo khawatir.


"Tahta, apa itu kau?"


"Tahta, jangan main-main!"


"Um. Khikhi."


Kini Hideo berhasil melihat wujud dari bayangan, tetapi dia tidak bisa melihat raut wajahnya, karena sosok itu tengah menunduk. Namun Hideo bisa mengenali warna rambut pirang keperakan yang seakan bercahaya terpapar sinar bulan. Dia adalah Tahta.


"Tahta, kau belum tidur?"


Dahi Hideo sedikit mengernyit. Dia terheran-heran melihat penampilan Tahta. Di malam yang dingin, kenapa Tahta hanya mengenakan kaus tipis? Kakinya bahkan terbebas dari penutup yang menghalangi pandangan.


"Kenapa kau tidak pakai piyama?"


"Um. Um. Deo. Um."


"Kau memanggilku?"


Tangan Hideo terulur dan disambut oleh serangan.


"Hargh!"


Tahta membuka mulutnya lebar-lebar tanpa peringatan. Dia menerjang dan berusaha menyerang Hideo. Tahta dan Hideo sempat hampir bergulat di atas lantai. Kalau saja zombie itu bukan Tahta, pasti Hideo sudah membantingnya kuat-kuat.

__ADS_1


"Tahta, apa yang terjadi?!"


Hideo mundur. Dia berusaha menghindari serangan Tahta. Sebisa mungkin dia menahan agar Tahta tidak mencekiknya. Tentu dia terkejut dan rasa terkejut itu terbalut oleh kekesalan karena dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Tahta-nya berubah. Jauh ke dalam bola mata pucat itu, Hideo tak melihat apapun, kecuali 'kemarahan.'


Meski pandangan zombie biasanya kosong, tetapi setelah menjalani serangkaian pemulihan, Hideo merasa ada sesuatu yang lain dan itu membuat Tahta terlihat lebih hidup. Tetapi sekarang jauh berbeda. Kemarahan dari Tahta sangatlah dingin. Es pun kalah olehnya. Tahta seolah tidak mengenali Hideo.


BUGH


Hideo terdorong ke atas tempat tidur, karena tenaga Tahta bertambah dua kali lipat lebih kuat. Biasanya Tahta tidak begini. Apa ini imbas dari kemarahannya beberapa hari lalu? Belum sempat Hideo berdiri, dia harus siap dengan Tahta yang tiba-tiba menindih perutnya.


"Tahta, apa yangmmp."


Kata-kata Hideo terhenti. Bibirnya disumpal oleh bibir Tahta sendiri. Antara nyata ataukah mimpi, Hideo merasa sesuatu keluar dari mulut Tahta. Sesuatu itu telah membasahi lidah, lalu masuk ke dalam kerongkongannya. Hideo seperti sedang meminum cairan. Cairannya kental juga sangat banyak. Dia hampir terbatuk karena tersedak.


Brek


"Apa yang kau lakukan?!"


Begitu bunyi kain disobek terdengar, Hideo segera mendorong Tahta, tetapi dia hanya berakhir jatuh kembali ke atas busa empuk. Kancing seragam Hideo berserakan entah ke mana. Kemejanya robek, begitu pula dengan kaus dalam yang dipakainya.


Hideo tidak takut. Sungguh. Namun, hal ini di luar kendali dan dia tidak bisa mengatasi kekasihnya sendiri. Bagaimana tidak? Jika yang ada hanya rasa kepanasan melanda. Sebagai pria dia terangsang oleh sentuhan kekasihnya sendiri. Begitu resleting celananya ditarik paksa, Hideo baru merasa takut setengah mati.


Takut karena menganggap 'ini gila!' dan berakhir pada tindakan gila.


Beberapa menit jarum jam berputar, Hideo menyadari apa yang telah mereka lakukan. Dia tidak bisa bergerak. Hideo tiba-tiba pusing. Dia seperti melihat berjuta-juta bintang di atas kepalanya. Mungkin ini efek dari meminum cairan aneh barusan. Cairan itu bukan alkohol tetapi memabukkan, bukan racun tetapi membuat tubuhnya lemas.


Rasa itu tak tertahankan. Hideo memilih untuk melawan. Kini dia yang memegang kendali dan menahan Tahta di bawah kungkungan kedua tangannya. Walau tak begitu terang, tetapi Hideo dapat melihat betapa indahnya wajah Tahta. Hideo pun menunduk untuk memberi kecupan dan berkata ....


"Sayang, sadarlah!" ucapnya dengan lembut.


Akankah ini mimpi? Semua penantian dan kesabaran Hideo kini berbuah manis. Kecupan Hideo berbalas. Mereka kini saling berbagi kasih sayang. Saat itu juga kelenjar sekretori di mulut Tahta telah memproduksi air liur lebih banyak dan semuanya ditelan oleh Hideo. Hideo merasa perutnya penuh seperti telah meminum banyak air. Namun, dia tidak peduli. Baginya suasana ini sangat menyenangkan. Tahta adalah miliknya.


Kesadaran Tahta kembali seperti semula. Begitu dia melihat wajah Hideo, tiba-tiba pipinya memerah. Dia tidak begitu mengerti tentang apa yang baru saja mereka lakukan, tetapi dia malu. Dia lantas menyembunyikan wajahnya di antara ceruk leher Hideo.


Garis bibir Hideo pun mengutarakan rasa senang. Itu artinya Tahta sadar dengan apa yang sedang mereka lakukan. Tadinya Hideo khawatir Tahta akan lupa, tetapi sekarang hatinya lega. Mulai saat ini dia tidak akan membawa hubungan ini sendirian.


Hideo membawa tubuh Tahta ke dalam pelukan hangat. Dia akan mendekapnya erat serta menyayanginya hari ini, esok, hingga nanti.


"Aku tidak akan meninggalkanmu," Hideo mendaratkan bibirnya ke dahi Tahta juga mengusap kepalanya perlahan.


"Deo," panggil Tahta sambari menatap dengan mata bulatnya. "Ma ... maafkan aku, Deo," ucapnya pelan.


Senyum Hideo semakin lebar dan tak pudar-pudar.


"Tidak usah minta maaf." Hideo merapikan anak rambut yang menutupi dahi Tahta. "Dengan ini----kau milikku sekarang."


****


Bagaimana? Apa cerita ini masih menarik?

__ADS_1


Jangan lupa like, view, dan comentnya. 😆


__ADS_2