
Setelah memastikan Tahta baik-baik saja, Hideo memutuskan untuk pulang. Namun ada yang aneh ketika dia berjalan menyusuri koridor. Bunyi langkah kaki diseret terdengar. Ketika Hideo menengok ke belakang dia melihat Tahta. Zombie remaja itu berdiri di hadapannya dengan tatapan kosong.
"Tahta? Apa kau mengikutiku?"
"Um." Tahta hanya menjawab dengan gumaman seperti biasa, lalu menggerakkan kepalanya lamban.
"Sana, kembali ke tempatmu!"
"Um." Tahta tetap diam di tempatnya.
Hideo sedikit heran. Tumben sekali Tahta mau dekat-dekat dengannya. Hideo berpikir sejenak lalu muncullah sebuah gagasan untuk memastikan sesuatu. Pemuda itu mengangkat kaki satu langkah dan Tahta maju satu langkah. Hideo mengambil dua langkah, maka Tahta juga melakukannya. Hideo akhirnya berjalan, lalu Tahta mengikutinya.
"Baiklah. Apa kau ingin ikut denganku?" tanya Hideo setelah benar-benar yakin Tahta membuntutinya.
Hideo tidak tahu apakah ini hasil dari pemberian obat baru atau bukan. Yang jelas Tahta mulai memiliki respon. Lebih bagus lagi karena Tahta merespon interaksi di antara mereka. Ini sebuah kemajuan untuk pemulihan Tahta.
"Aku akan membiarkanmu ikut denganku, tapi setelah itu kau harus kembali."
Sejak hari itu jika Hideo datang, Tahta akan sesekali berjalan di belakang mengikutinya. Dikejar-kejar mayat hidup adalah pemandangan mengerikan. Manusia biasa pasti akan langsung lari. Namun kali ini berbeda. Hideo memang diikuti zombie tapi zombie itu tidak berbuat apa-apa selain menggumam.
"Hideo, untung kau sudah datang. Bisa panggilkan Tahta agar dia mau masuk ke ruang perawatan? Ini sudah waktunya untuk suntikan ke-2 dan sejak tadi pagi dia terus berada di taman tidak mau meninggalkan tempat itu. Kami sudah membujuknya, tapi dia malah mengamuk," pinta Leony ketika melihat sahabatnya.
"Baik. Kau berhutang padaku, Leo."
Leony memutar bola matanya, "Ah, ya. Hutangku sudah kubayar dengan mengobati zombie kekasihmu."
"Akhirnya kau mengakui hubunganku dengannya," Hideo terkekeh.
"Cepat panggil dia! Suntikannya harus teratur dan sesuai jadwal."
"Baik, Doktor. Tunggu sebentar," kata Hideo, lalu dia pergi menuju taman.
Saat Hideo sampai, pemuda itu hanya bisa menunggu sejenak untuk memperhatikan Tahta. Dari belakang tubuh remaja itu terlihat kurus ditambah dia sedang memakai pakaian longgar. Meski zombie juga bisa makan----daging mentah tentunya----tapi Hideo tidak yakin kalau makanan itu bernutrisi. Belum lagi pencernaan zombie tidak baik. Apakah makanan itu bisa dicerna? Jika melihat garis tulang yang menyembul di balik kulit Tahta, Hideo berani mengatakan kalau selama ini zombie hanya makan makanan sampah. Karena walaupun mereka bisa makan, daging manusia tidak bisa memenuhi nutrisi mereka. Oleh karena itu mereka selalu merasa lapar. Jadi selain otak mereka yang konslet, masalah mayat hidup sebenarnya terletak pada percernaan mereka yang terganggu.
Tahta saat ini sedang berdiri menatap jendela yang terbuka. Di bagian atas jendela itu tergantung lonceng angin. Ada tiga lonceng berbentuk wajah kucing dan dipasang berjajar. Ekspresi dari masing-masing wajah sangat lucu. Bila ada angin masuk, maka benda itu akan berbunyi 'Ting-Ting' nyaring. Rupanya Tahta tertarik dengan lonceng, tak hanya karena suara, tetapi wajah kucing juga. Melihat ini Hideo jadi teringat pada foto yang dia lihat di rumah Tuan Altar. Di foto-foto itu ada sosok Tahta bersama seekor kucing. Di foto itu Tahta tersenyum bahagia. Mungkin ingatan masa lalu masih tersisa dan terbawa hingga dia berubah jadi zombie. Hideo berharap ini pertanda baik.
"Kau menyukai loncengnya?" tanya Hideo dari jarak 3 meter.
__ADS_1
Dia ingin tahu apakah Tahta akan meresponnya atau tidak. Nyatanya nihil. Tahta tidak menoleh. Sekarang Hideo mulai terbiasa dengan sikap tak acuh Tahta.
'Pelan-pelan saja, sayang.' Hideo akhirnya berjalan ke sisi Tahta agar bisa bicara lebih dekat.
"Kau dipanggil Leony. Kenapa kau tidak mau disuntik? Apa kau takut pada suntikan?"
Tahta diam.
"Tidak sakit. Hanya terasa seperti digigit semut----kalau kau masih ingat bagaimana rasanya digigit zombie, digigit semut jauh lebih baik." Dalam hati Hideo merutuki dirinya sendiri. Dia seperti sedang membujuk seorang anak kecil yang kabur dari dokter karena takut jarum suntik. Dan dari mana datangnya kata-kata bujukan ini? Hideo merasa konyol.
"Kau jangan nakal dan menurutlah padanya. Leo sahabatku dan dia akan memulihkanmu."
Tahta tetap diam.
Hideo melirik lonceng yang masih menjadi obyek menarik bagi Tahta. Gara-gara benda itu semua dunia diabaikan. Jangankan melirik, menoleh saja tidak. Jangan-jangan gara-gara benda itu juga Tahta tidak mau pergi untuk periksa? Hideo tersentak menyadari ini. Ternyata Tahta memang tertarik pada kucing.
"Kalau kau rajin periksa dengan Leony dan menurut, aku akan memberimu hadiah hiasan kucing."
Hideo memanjat jendela lalu mengambil satu lonceng.
TING TING
"Ayo, ikut aku!"
Ide Hideo berhasil. Zombie remaja itu mengikutinya karena tertarik dengan lonceng yang berdenting nyaring. Sesekali Hideo menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Tahta masih mengikutinya atau tidak. Pemuda itu hanya mengulas senyum melihat kekasihnya mengekor dengan patuh. Hingga mereka sampai di ruang rawat, Leony menyambut dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Kau berhasil mengajak Tahta ke sini. Tapi benda apa yang kaubawa?"
"Tahta suka loncengnya, karena itu dia tidak mau pergi dari taman. Ambil lonceng ini! Gunakan benda itu untuk berjaga-jaga kalau dia mogok lagi."
Leony menatap lonceng berbentuk kucing ditangannya. Beberapa hari lalu jendela dekat taman dipasangi lonceng. Tujuan awal memang hanya sebagai hiasan. Namun, Leony tidak pernah mengira kalau benda itu akan menarik perhatian zombie Tahta.
"Apa kau tahu kalau reaksi ini sangat manusiawi?! Aku perlu mencatatnya!" Leony kemudian berteriak memanggil seorang perawat bagian pencatat untuk menulis penemuan yang baru saja mereka temukan.
Esoknya Hideo menepati janji. Dia membawa hadiah kecil untuk Tahta. Hiasan itu berupa pot dengan tanaman mini, di atasnya terdapat boneka-boneka kucing lucu sedang bergerombol. Respon Tahta masih lamban, sehingga Hideo harus berusaha menarik perhatiannya dengan cara berbeda. Pemuda itu menunjukkan hadiahnya tepat di depan wajah Tahta, lalu dengan sedikit gerakan Hideo menuntunnya pada sebuah meja batu. Hideo meletakkan pot itu di atas meja karena dia tahu Tahta sering berkeliaran di taman yang luas ini.
Sebagai zombie, Tahta sangat dimanjakan. Sekarang Tahta punya kegiatan baru, yaitu berdiri berjam-jam sambil mengamati pot pemberian Hideo.
__ADS_1
****
Gedung Atlantis terdiri dari lantai dasar, lantai 1 hingga 7. Tiap lantai memiliki fungsinya masing-masing. Zombie yang masuk ke gedung tersebut harus melalui berbagai tahap lalu dimasukkan ke dalam ruangan terpisah. Lantai dasar, lantai 1, dan 2 merupakan tempat khusus bagi zombie yang baru datang. Di lantai ini zombie baru akan diberi vaksin pertama kali dan didiamkan selama seminggu untuk menunggu reaksi. Bila tubuhnya menolak vaksin, maka mereka akan mengalami pendarahan lalu mati.
Lantai 3 dan 4 adalah tempat untuk zombie yang mampu menerima vaksin pada tahap awal. Di lantai ini mereka akan dibersihkan dengan air khusus (mandi) dan akan melanjutkan ke tahap berikutnya.
Lantai 5 dan 6 adalah tempat untuk zombie yang berhasil melalui tahap 'penarikkan memori.' Lantai ke tujuh, lantai paling atas adalah lantai pusat penelitian di mana para profesor dan ilmuwan senior bekerja, ditambah ruang meeting, ruang pusat kendali, ruangan bagi Pimpinan Atlantis, dan kamar VVIP untuk zombie yang dinyatakan manusiawi secara fisik maupun sifat.
"Hm. Jaringan kulitmu sepertinya mulai tumbuh."
Luka menganga di pipi Tahta berangsur pulih. Selain mengering, di dekat luka itu terdapat jaringan baru. Leony menyentuh pipi Tahta dengan jari untuk memeriksa. Sebuah sarung tangan karet khusus menjadi pembatas agar kulit mereka tak saling bersentuhan.
"Doktor sepertinya serum ekstrak tumbuhan dan buah-buahan itu bekerja dengan baik," lapor seorang perawat laki-laki.
"Ya. Tapi kita masih perlu memastikannya."
"Apa kita akan menggunakan obat dan vaksin lama lagi?"
"Tidak! Itu obat kimia. Keadaan tubuh zombie pada dasarnya rusak, kalau kita gunakan obat kimia malah akan membebani tubuh dan akhirnya mereka tidak mampu bertahan. Itulah sebabnya kenapa kita gagal. Selama ini kita hanya ingin kesembuhan cepat sehingga lupa pada efek sampingnya." Leony menunduk lesu.
"Obat dan serum yang kita buat dulu tidak cocok dengan jaringan sel mereka. Gunakan bahan alami saja. Bahan itu efektif untuk merangsang jaringan sel agar bertumbuh," lanjutnya.
"Baik, Doktor."
Gedung rehabilitasi siang itu masih sama. Semua orang yang terlibat dalam misi STERIL bekerja dengan solid dan saling membantu. Baik profesor maupun ilmuwan sibuk meracik berbagai ekstrak tumbuhan untuk obat dan serum. Para staf dan perawat gedung Atlantis menjalankan tugasnya masing-masing.
Selagi mereka bekerja Tahta dibiarkan berkeliaran setelah disuntik serum regenerasi sel dosis tinggi. Mereka sudah terbiasa membiarkannya seperti itu, karena mereka yakin zombie tidak akan bisa kabur dari gedung Atlantis yang dijaga ketat. Sampai saat di mana ada sebuah kejadian yang membuka mata mereka. Mereka pasti akan memperketat penjagaan Tahta setelah ini.
Sudah dua hari Hideo tidak datang menemui kekasihnya.
Hingga malam tiba Tahta masih berkeliaran dan menolak untuk masuk. Kemarin Leony bisa menggunakan lonceng angin untuk mengajak Tahta kembali ke ruangannya, tapi sekarang zombie itu menolak. Ketika tidak ada satu orang pun di sekitar Tahta, zombie itu terus berjalan hingga di dekat taman. Cahaya bulan masuk melalui jendela.
Saat itu pukul 7.45 malam, biasanya jendela akan ditutup pukul 8.00. Bunyi lonceng berdenting sangat nyaring karena tertiup angin kencang. Tahta berdiri sambil memperhatikan lonceng.
"Yo ... um. Eo," gumamnya.
Di bawah jendela ada rak bersusun berisi pot-pot tanaman terbuat dari kayu. Rak itu terlihat kokoh. Pandangan Tahta jatuh dari lonceng ke rak. Setelah meneliti dalam diam, Tahta memanjat seperti yang dilakukan Hideo beberapa hari lalu. Kaki dan tangan yang tidak dirantai memudahkan Tahta bergerak. Sesampainya di pinggir jendela, zombie remaja yang belum sepenuhnya sadar atas apa yang dilakukan itu terjun bebas dari lantai 3.
__ADS_1
****
Bersambung