
Mayat-mayat hidup datang mendekat. Setelah sekian lama dalam pengasingan, siapa bisa menduga akhirnya beberapa dari mereka berevolusi. Telapak tangan dan kaki mereka menempel di dinding, kemudian mereka berjalan leluasa seperti 'itu' daratan tanpa gravitasi. Mayat hidup merayap adalah hal tak terduga sepanjang sejarah penyerangan. Bahkan sesudah dia bertransformasi dari manusia ke zombie, maupun zombie menjadi setengah manusia, Tahta belum pernah melihat hal ini.
Setelah dia dibawa ke Atlantis dan menjalani rehabilitasi, ini kali pertama dia berjumpa dengan saudaranya. Oh, entah apakah ini bisa disebut saudara? Manusia dan manusia dikatakan demikian, maka zombie dan zombie juga sama. Hanya saja sekarang Tahta berada di antaranya. Dia bukan manusia atau zombie.
Tahta terdiam selama beberapa menit. Matanya menatap lurus ke depan memasuki lubang hitam yang ditimbulkan oleh sepasang bola mata tak bernyawa.
'Berikan kehidupanmu untuk kami.'
Suara dalam lagi mengambang memasuki pikiran Tahta dan berputar seperti balerina menari-nari. Tahta sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus lari? Tidak. Kakinya keras menancap di lantai. Dia ingin berteriak, namun suaranya tersendat.
"Deo," panggilnya berharap pemilik nama itu segera datang.
Tubuh Tahta gemetar menatap wajah mengerikan di hadapannya. Dagunya yang dicengkram kuat kini sedikit berdenyut. Dia tidak mengerti jika rasa sakit itu mulai merangsang syarafnya yang mulai berfungsi. Tidak ada darah keluar dari kulitnya, tapi tak menutup kenyataan bahwa ada bekas dari cengkraman itu.
"Siapa yang kaupanggil? Tidak akan ada yang menolongmu. Mereka sedang sibuk sendiri menghadapi teman-teman kami."
"Ugh, lepas! Nanti Deo ... akan menghajalmu. Jangan ... ganggu Tha!"
"Berhenti berpura-pura! Aku tahu kau bisa bicara normal. Lihatlah dirimu ... kau mirip manusia, sedangkan kami ..." Makhluk itu menangis, terkikik, lalu tiba-tiba marah. Matanya membola sempurna seperti akan melompat keluar. "... kami harus menderita kesepian dan pesakitan! Belum lagi harus mengalami ketakutan karena ditembaki! Virus itu menghancurkan hidup kami! Kami harus meninggalkan kehidupan sebagai manusia dan berakhir menjadi mayat hidup. Melihat kulit indah ini berubah abu-abu dengan wajah mengerikan, ini merupakan tekanan mental."
"Mereka ... akan ... menyembuhkan kalian."
"Benarkah? Apa kauyakin? Apa kauyakin mereka tidak akan menembaki kami? Kami bersembunyi di sini dan tidak berani ke luar, hingga saat tersiar desas-desus dari sesama bahwa kami akan punya pemimpin yang akan membalaskan dendam."
"Balas dendam?"
"Ya. Siapa sangka zombie kecil sepertimu yang akan jadi pemimpin. Aku tidak percaya padamu. Kau pasti dikirim sebagai mata-mata."
Tahta menggelengkan kepala, "bukan."
'Serang dia! Kita habisi penghianat ini!"
GROARGH
"TIDAK!"
Tahta menampik tangan zombie yang mencengkramnya, mendorong, sekaligus menendangnya sekuat tenaga, lalu memaksa kakinya agar berlari. Energi itu datang dengan sendirinya. Tiba-tiba dalam diri Tahta muncul keinginan untuk bertahan dan rasa itu semakin kuat. Satu-satunya yang dia cari adalah Hideo. Dia ingin segera berada di sisi pemuda itu.
"Deo! DEO!"
***
Senapan Hideo mengacung di muka. Bersama anak buahnya dia menyusuri koridor kosong. Sejak mereka tiba, baik Dorry maupun salah satu di antara anggota pasukan belum menemukan zombie satu pun. Mereka telah mencari dan menggeledah hampir di tiap sudut bangunan, namun sepertinya para zombie telah bersembunyi.
Ini sangat aneh. Dari berbagai macam guratan di dinding, sepertinya bekas cakar itu masih baru. Ditambah udara dingin dan pengap menjadi tempat yang disukai para mayat hidup. Hideo benar-benar harus waspada. Mereka bisa berada di mana saja.
"Dorry, apa yang kau temukan?" tanya Hideo pada robot kamera yang terbang mendahului tim-nya.
Dorri menyahut, [Aku belum menemukan apapun, Komandan.]
"Ini aneh sekali."
"Komandan, apakah di sini tidak ada zombie?" tanya salah satu anak buahnya.
"Tidak mungkin. Tempat ini sangat gelap dan berbau anyir darah. Mereka pasti ada di salah satu sudut pemukiman ini. Tetap berhati-hati."
"Siap, Komandan."
__ADS_1
Hideo masih memimpin. Dia hampir saja memutuskan untuk menarik pasukan dan pergi karena target belum juga muncul. Lagipula dia mulai merasa tidak tenang karena meninggalkan Tahta. Hatinya resah.
"Ayo kita ...? Berhenti!"
Hideo mengangkat salah satu tangan untuk memberi tanda pada anak buahnya di belakang. Dari pendengarannya yang terlatih, dia bisa mendengar suara mencurigakan. Awal suasana sunyi perlahan mencekam. Suara gaduh, derap kaki, juga teriakan tertangkap oleh telinga Hideo, namun wujudnya belum ada.
Lama kelamaan suara itu semakin jelas mendekati tim-nya Hideo.
Hideo membalik badan diikuti oleh anak buahnya. Melalui intruksi mata, mereka mengganti senjata bius dengan senjata penghancur. Firasat mereka mengatakan ada sesuatu akan datang sebentar lagi. Pastinya itu zombie. Namun, mereka tidak mengira bahwa zombie yang sedari tadi mereka cari kini telah berkumpul dan menyerang bersama-sama.
Suara geram seperti auman harimau terdengar berbarengan dengan sebuah teriakan.
"DEO!"
Mata Hideo terbuka sempurna melihat kekasihnya tidak berada di tempat yang mereka sepakati.
"Tahta!"
Hideo cemas, tetapi pekerjaannya membutuhkan dia agar emosinya tetap stabil dan tidak panik. Sebagai seorang komandan dia harus berpikir cepat dan mengambil tindakan tepat. Apalagi saat melihat kekasihnya dalam bahaya. Hideo harus segera menyelamatkannya.
Tahta berlari ke arah Hideo. Di belakang Tahta ada banyak zombie yang mengejar. Tangan para mayat hidup itu terangkat dan berusaha meraihnya, namun Tahta berhasil menciptakan jarak di antara mereka. Saat melihat Hideo, matanya hanya tertuju pada sosok tegap itu. Jika bisa dijabarkan, dia merasa senang bertemu dengannya.
"DEO! Tolong aku!"
GROARGH
"Menunduk!" Teriak Hideo ditujukan untuk kekasihnya, Tahta. "Lindungi aku dan kita cepat pergi dari sini!"
"Siap, Komandan!"
Anak buah Hideo menerima perintah dengan patuh. Mereka menembakkan peluru ke arah zombie untuk melindungi sang komandan yang akan menyelamatkan kekasihnya.
"Argh! Deo!"
BRUG
Tahta tersandung kakinya sendiri dan hampir menyentuh lantai kalau saja seseorang tidak menahan tubuhnya dari depan.
Hideo segera menarik Tahta begitu sang kekasih ada pada jarak jangkauannya. Dia melindungi Tahta di belakang punggung dan membiarkan tangan lainnya menembak. Situasi tidak terkendali, ditambah jumlah tim kalah banyak dari makhluk mati di depan mereka.
DAR
DAR
"Mundur. Mundur!" perintah Hideo pada anak buahnya.
Dalam pelarian, mereka terjebak pada dinding kayu. Dorri memberitahu ada jalan menuju ke luar dari sana, tapi bagaimana caranya agar mereka bisa lewat? Maka tidak ada cara lain selain menghancurkan dinding penghalang. Toh tempat itu sudah menjadi desa mati. Merusak sedikit tidak apa-apa.
Hideo mengambil sikap brutal kali ini. Dia menembaki dinding hingga berlubang lalu menendangnya hingga terbukalah jalan bagi mereka. Baru saja dia akan keluar melalui lubang itu, namun salah satu zombie menyergap tepat di depan matanya.
GROAGH
"Sial."
DAR
"Ini balasan karena sudah membuatku kaget."
__ADS_1
Setelah menembak zombie tadi hingga benar-benar terkapar, Hideo memimpin anak buah dan kekasihnya keluar lalu menutup lubang tersebut dengan box besi berukuran besar, kemudian merusak rodanya, agar zombie tidak bisa mengejar. Sekarang mereka hanya perlu masuk ke mobil lalu pergi. Namun nasib rupanya masih ingin mempermainkan mereka. Mobil sudah ditemukan, tapi dua benda itu dikelilingi oleh mayat hidup.
"Dorri, kirim pesan! Minta bantuan segera!"
[Baik, Komandan. Aku akan kirim permintaan pada pos terdekat.]
Selagi menunggu bantuan, Hideo bersama tim-nya masih bertahan. Mereka terjebak. Jika mereka nekat pun akan mati konyol. Jadi Hideo menyuruh tim-nya mengamati diam-diam dan tidak membuat gerakan yang menarik perhatian.
Di samping mereka hanya ada tumpukan box berukuran lebih kecil bertuliskan 'JANGAN DIBUKA!' Hideo penasaran lalu menyuruh beberapa anak buahnya untuk membantu membuka penutupnya.
"Komandan, ini everclear," anggota Divisi dengan papan nama Flo itu menyerahkan sebuah botol kepada Hideo.
"Everclear?! Bagaimana bisa cairan ini ada di sini? Bukankah ini pabrik kertas?" Sambil berpikir, Hideo menimang-nimang botol di tangannya. Dari luar isi botol itu tampak seperti air mineral biasa, tetapi begitu membaca tulisan di kemasannya, semua orang tahu kalau isi di dalamnya jauh dari kata biasa.
Everclear adalah salah satu minuman dengan kadar alkohol paling tinggi di dunia mencapai 95%. Beberapa tahun lalu peredarannya dilarang karena bisa membuat seseorang mabuk berat dan berhalusinasi. Selain itu everclear sangat berbahaya. Namun rupanya beberapa oknum telah berani melanggar larangan ini dan memproduksinya secara ilegal.
"Hm, rupanya pabrik ini hanyalah kamuflase belaka. Mereka tidak sepenuhnya memproduksi kertas, melainkan alkohol. Kutu-kutu telah lama bersembunyi dan sudah seharusnya dibasmi," Hideo tersenyum sinis.
Jadi beberapa dari zombie-zombie tadi bukan tidak mungkin adalah para karyawan pabrik.
Selagi terjepit, tiba-tiba Hideo menemukan ide.
"Ambil botol-botolnya! Kita bisa gunakan ini untuk kembali ke mobil. Pukul mundur para zombie dengan everclear untuk membuka jalan."
"Baik."
"Deo."
Merasa seseorang meremat baju seragamnya, Hideo pun menoleh. Dia lihat Tahta menatapnya dengan alis melengkung ke bawah. Hideo tersenyum lalu menepuk pelan kepalanya. Dia tidak peduli lagi dengan batasan bahwa 'pasien rehabilitasi tidak boleh disentuh sembarangan.'
"Kita pasti akan selamat," ucapnya menenangkan.
"Aku mau ... dekat, Deo."
"Ya. Setelah kita selamat kau boleh dekat-dekat denganku. Apa kau mau kembang gula?"
Tahta memiringkan kepalanya tidak mengerti. "Um, kem ... bang gula? Apa tuh?"
"Nanti akan kuberi tahu."
Sekelompok zombie di depan mereka menggeram keras. Tahta yang kaget lantas bersembunyi di balik punggung Hideo. Sesekali kepalanya menyembul karena sedikit penasaran, lalu tenggelam lagi di punggung lebar Hideo. Zombie-zombie mencoba memasuki pikirannya, karena itu kepala Tahta terasa penuh. Jadi yang dapat Tahta lakukan adalah menempelkan dahinya di belakang Hideo.
"Kita harus berlari ke mobil secepat mungkin, apa kau bisa?" tanya Hideo yang diberi anggukan oleh Tahta sebagai jawaban.
Hideo dan pasukannya telah siap dengan beberapa botol everclear. Setelah datang waktu yang pas, mereka melempari zombie dengan botol dari jarak tertentu. Tak ada jeda, Hideo mengambil pematik api, menyalakan, lalu melemparkannya ke salah satu zombie. Cairan everclear yang menempel di tubuh mayat hidup telah memicu api untuk menyala lebih besar. Api itu kemudian merambat dari satu zombie ke zombie lainnya. Mereka kini terlihat seperti kayu bakar yang bergerak.
GROARGH
"Sekarang!"
Jalan terbuka. Dengan senjata yang telah diisi penuh, pasukan Divisi Utara kini harus bergerak secepat mungkin. Mereka bergegas sambil menembaki zombie. Hideo melempar lagi botol everclear, lalu menembaknya tepat di tengah-tengah. Dan ...
BOM
Senyawa alkohol dalam botol itu berputar-putar di dalam wadah dan telah menciptakan gesekan juga tekanan kuat. Begitu peluru api menyentuhnya, maka terciptalah ledakan.
****
__ADS_1
To be continue