
Seorang pria sedang duduk di atas kursi. Raut wajahnya datar, meski begitu dia tengah serius menatap pada layar berukuran besar yang berfungsi sebagai media komunikasi. Dia mendengarkan tiap kata dan berita yang disampaikan oleh seseorang si pembawa berita. Bersamaan dengan itu, pintu diketuk, disusul seorang berpakaian militer datang, tetapi dia hanya memberi isyarat padanya agar tetap berada di ambang pintu.
"Apa benar Hideo terinfeksi dan dia dinyatakan tidak tertular?" tanya pria itu pada seseorang di layar.
[Benar, Jenderal. Setelah dia terinfeksi, hingga sekarang dia baik-baik saja. Dia sehat dan tidak menunjukkan gejala penularan virus.]
Alis Jenderal Drake perlahan menungkik, tanda tak suka. Berita tentang Hideo yang terkena gigitan zombie beberapa waktu lalu telah menyita perhatian negara, juga semua orang, terutama sang jenderal. Pasalnya hingga saat ini belum ada seorang pun yang selamat dari virus zombie. Sedikit gigitan saja akan merubah segalanya.
Mengapa Hideo tidak?
Bagaimana mungkin Hideo yang seorang manusia kebal terhadap virus?
"Lantas berita apa yang kau dapat selanjutnya? Apakah para ilmuwan Atlantis sudah menemukan penawar virus?"
[Untuk saat ini aku belum tahu pasti, karena sepertinya orang-orang Atlantis menutup berita ini rapat-rapat. Aku juga sudah menyusup ke dalam jaringan internet mereka, tapi keamanan data Atlantis dijaga ketat. Aku tidak dapat masuk.]
Jenderal Drake diam sejenak, tengah berpikir.
"Baiklah. Kalau begitu kau pantau mereka terus, lalu laporkan padaku!" katanya.
[Baik, Jenderal. Aku permisi.]
Bip
Setelah cahaya layar memudar dan berubah putih, jenderal mempersilahkan anak buahnya masuk. Dia berharap ada berita menarik yang dibawa oleh anak buahnya kali ini. Desas-desus mengenai manusia yang kebal pada virus menjadi topik paling menarik bagi Jenderal. Dia ingin tahu, sampai sejauh mana kemajuan penelitian STERIL.
"Ada apa?" tanya jenderal. "Aku harap ada berita bermutu, karena aku tidak mau waktuku terbuang percuma untuk hal-hal tidak penting."
"Lapor, Jenderal!" Si pria muda berseragam militer mengangkat salah satu tangan untuk memberi hormat. "Maaf sebelumnya jika aku mengganggu, ada berita dari Atlantis."
"Berita apa itu? Apa tentang penawar virus?" Jenderal Drake yang semula biasa saja lantas menarik kursinya agak maju.
"Bukan, Jenderal. Menurut orang suruhan yang jadi mata-mata kita, para ilmuwan telah menemukan bahwa para zombie berperilaku aneh. Waktu lalu, zombie yang berada di lantai 7 menyerang para perawat dan militer."
"Apa kau bilang? Zombie menyerang manusia?" Jenderal Drake menggenggam jemarinya kuat-kuat.
"Benar Jenderal. Kabarnya mereka sulit dikendalikan."
"Kurang ajar!" Jenderal Drake meremas pegangan kursi, menahan emosi. "Benar 'kan apa yang kubilang?! Misi STERIL itu berbahaya! Zombie yang disembuhkan hanyalah omong kosong. Mana mungkin makhluk yang sudah mati bisa disembuhkan dan dikembalikan menjadi manusia?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Jenderal? Misi STERIL kini semakin dipercaya dan pemerintah sendiri mulai yakin bahwa akan ada perubahan bagi 'mereka."
"Pada dasarnya mayat hidup tidak memiliki hati dan jiwa. Mereka itu sama saja dengan seonggok tubuh tak bernyawa. Bila kau pikir karena mereka bisa berjalan dan berpenampilan bagus lantas bisa dibilang manusia?" Jenderal berhenti sejenak, lalu menggoyang-goyangkan jari telunjuk.
"Bukan. Bukan. Mereka tetap saja makhluk mati. Semua kehidupan yang diberikan pada mereka hanya semu," lanjutnya.
Jenderal Drake lantas berdiri. Tubuhnya tegap meski sudah berusia paruh baya. Di seragam Jenderal Drake ada empat bintang emas di pundak, sebagai penanda bahwa dia memiliki pangkat dan disegani. Pria itu lantas berjalan mendekat ke dinding. Di dinding ada senapan yang digantung.
"Sejak dulu, manusia adalah manusia, bukan zombie. Keberadaan mereka mengganggu habitat kita sebagai penerima kodrat sebagai pemegang takhta tertinggi yang diberikan Tuhan. Mereka hanya akan merusak dan menebar teror." Jenderal Drake berbalik pada anak buahnya. "Apa kau sudah baca laporan dari warga yang keluarganya akan menjadi tempat tinggal zombie?"
"Ya, Jenderal. Aku sudah membacanya."
"Dia melaporkan apa?"
"Daripada melapor----hm, menurutku lebih tepat jika dibilang mengeluh. Dia mengeluh tentang dipaksa menerima pasien Atlantis, sedangkan dia sendiri sanksi apakah setengah zombie aman?"
Jenderal Drake menyunggingkan senyum.
"Itulah yang kumaksud. Warga sebenarnya ketakutan. Mereka takut setengah zombie menyerang. Mereka tidak mau merasa takut seumur hidup dengan membiarkan pasien Atlantis berada di rumah-rumah mereka."
"Aku juga sudah menduga akan ada keraguan, tetapi STERIL sudah dibantu dan didukung oleh pemerintah. Warga sipil tidak bisa melakukan apa-apa."
"Maka dari itu, kitalah yang akan melakukan sesuatu. Aku akan menghadapi petinggi Beltran Guido agar secepatnya menghentikan program STERIL. Jika ijin sudah didapat----" jenderal menekuk sikunya, memposisikan kepalan tangan ke atas. Dia pun bicara dengan semangat membara.
"----kita akan tumpas habis zombie di muka bumi," lanjutnya, tegas.
__ADS_1
"Baik, Jenderal. Aku bersamamu."
"Optimalkan mata-mata! Perintahkan mereka agar bekerja lebih keras untuk menggali informasi. Aku ingin semua data kuterima besok pagi!"
"Siap, Jenderal!" jawabnya dibarengi salam hormat.
****
Hideo berlari sendirian. Derap langkah dari sepatu boot menjadi satu-satunya suara yang dia dengar kala itu. Hideo ingat betul sedang bertugas bersama anggota STERIL lainnya, seperti biasa. Namun, entah mengapa tiba-tiba mereka terpisah oleh gelap tak berujung.
Hideo tidak dapat menemukan rekannya meski dia terus berlari dan mengedarkan seluruh pandangan ke arah manapun. Dia berharap ada secercah sinar yang memberitahukan keberadaan mereka. Alangkah sayangnya, kini Hideo harus berjuang sendiri. Sambari meraba-raba dinding dingin serta berbekal senapan di tangan, Hideo terus menyusuri lorong.
Goargh
DAR
Letusan senjata api dimuntahkan ketika salah satu zombie menghadang Hideo. Hideo lantas diam dan menunggu. Sialnya dia kehilangan kacamata khusus melihat dalam gelap, jadi yang dapat diandalkan hanya ketajaman pendengaran. Dalam beberapa detik dia tidak mendengar suara aneh dari zombie, tetapi justru suara berikutnya malah lebih mengkhawatirkan.
"Deo!"
Hideo mendengar teriakan Tahta dari kejauhan. Hideo heran, kenapa kekasihnya ada di tempat terpencil seperti ini? Bukan di Atlantis. Walau dia merasa aneh, tetapi karena rasa sayangnya pada Tahta, tak butuh waktu lama Hideo bergegas berlari menuju asal suara.
"Deo, tolong!"
"Tahta, kau di mana?"
"Aku di sini!"
Hideo melihat ada cahaya di depannya. Dia mengikuti cahaya itu. Siapa sangka, cahaya yang menuntunnya telah membawanya pada Tahta. Hideo sempat berhenti untuk memastikan apakah sosok itu benar-benar Tahta.
"Tahta?"
"Deo, tolong aku!" ratap Tahta mengiba.
"Sayang bagaimana bisa kau ada di sini?"
"Ya, sudah. Kalau begitu ikut aku!"
Baru saja Hideo akan mendekati Tahta, tetapi sebuah tembakan meletus. Tembakan itu jelas bukan berasal dari senapan Hideo, karena dia sama sekali tidak menekan tombolnya. Tembakan itu keluar dari sudut tersembunyi dan mengenai kekasihnya.
"D-Deo ...." suara Tahta tercekat di tenggorokan, karena sebuah peluru telah membuat rasa sakit di perutnya.
"Tahta!" teriak Hideo. Hideo mengulurkan tangan untuk meraih Tahta, tetapi tubuh kekasihnya lebih dulu jatuh terkulai, tak berdaya.
"Tahta!"
Hideo terbangun di atas ranjang. Keringat dingin mengucur deras dibarengi degup jantung tak beraturan. Ternyata dia hanya mimpi. Namun mimpi itu terasa amat nyata.
Hideo menengok ke samping tempat tidur. Saat itu, waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Sang pria pejuang itu lantas memaksakan tubuhnya pergi ke kamar mandi. Hideo memutar kran, lalu membasuh wajahnya dengan air berkali-kali. Dia membiarkan air berjatuhan menuruni dagunya, berharap kegelisahan sirna bersama tetesan air.
Dia tidak menyangka bahwa dunia mimpi bisa lebih mengerikan dibanding dunia nyata. Di alam mimpi tadi dia kehilangan Tahta. Itulah hal paling menakutkan dalam hidupnya. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintai untuk ke dua kali.
Setelah melihat pantulan wajahnya di cermin, Hideo kembali ke kamar untuk mengambil jaket, dompet, juga kunci motornya. Setelah itu dia pun segera pergi menuju Atlantis.
"Tumben kau datang pagi-pagi begini, Pak?" sapa salah seorang militer yang berjaga di sekitar tempat parkir.
"Hm, aku hanya ingin melihat Tahta," jawab Hideo sambari memperlihatkan kartu identitas.
"Baiklah, aksesmu terbaca, Pak. Silahkan masuk!"
"Terimakasih."
Sepanjang koridor, langkah Hideo rasanya berat. Jalan yang setiap hari dilalui terasa amat panjang, tak lain karena rasa cemas nan risau akan mimpi barusan masih membekas dalam ingatan. Sesampainya di kamar Tahta, dia pun menyalakan lampu dan menemukan kekasihnya tengah tidur pulas.
Senyum Hideo mengembang. Begitu melihat Tahta, barulah dia merasa tenang, seolah sebongkah es telah mencair. Hideo menarik kursi ke sebelah ranjang dan dia hanya duduk diam sambari mengamati wajah polos kekasihnya. Hideo meraih jemari Tahta, lalu mengangkatnya pelan-pelan.
__ADS_1
"Syukurlah kau baik-baik saja, sayang," ucap Hideo dengan suara pelan. Dia menundukkan kepala dalam-dalam karena sedang menata hati. "Kau tidak tahu aku sangat takut kehilanganmu."
Tahta tidak terusik sedikit pun. Dia tetap tidur pulas.
"Cepatlah pulih, karena dengan begitu aku lebih leluasa memberimu cinta seberapa banyak yang kau mau."
****
Rembulan berganti mentari, hari pun telah berganti. Tahta terusik oleh suara burung kecil bernyanyi dari alarm jam beker-nya. Tahta lalu mengusap-usap kedua matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas. Ada kebiasaan Tahta ketika dia terbangun pagi-pagi, yaitu apa lagi jika bukan mengamati miniatur burung kecil.
Beberapa hari lalu, perawat memberikan pasien setengah zombie di lantai 7 masing-masing satu buah jam beker. Jam beker itu berbentuk rumah-rumahan burung. Ketika jam itu berdering, maka boneka burung kecil akan keluar dari rumah sambil bernyanyi. Tahta senang, karena baginya burung kecil sangat lucu. Biasanya dia akan terus mengamati hingga berjam-jam.
"Um, kok ... Deo ... bobo di sini?" Tahta justru menemukan Hideo tengah tertidur di samping ranjang.
Tahta menggeser tubuh mungilnya dari tempat tidur. Dia mendekati Hideo yang masih terlelap. Karena Tahta tidak mengerti aktivitas orang dewasa, jadi dia tidak membangunkan Hideo, padahal Hideo harus berangkat dinas. Justru dia hanya berjongkok di samping Hideo dan terus menatap pria yang berstatus kekasihnya itu selama hampir 30 menit.
"De-o," panggil Tahta pelan dan bernada lucu.
Hideo tidak bangun.
"Deee-ooo," panggil Tahta lagi, kali ini dia sedikit iseng dengan meniup-niup wajah Hideo.
Di balik kelopaknya, mata Hideo mulai bergerak-gerak.
"Deeee-ooooo. Deo ... Deo ... Deo." Tahta menekan-nekan pipi Hideo.
"Aku sudah bangun." Hideo menangkap jari Tahta. "Caramu membangunkanku sangat iseng."
"Um, kenapa ... Deo ada ... di sini?"
"Hm----aku? Selamat pagi, sayang."
"Pagi, Deo. Uh, kenapa ... Deo bobo ... di kamar Tha?"
"Oh, itu karena ...."
Hideo tampak salah tingkah. Tidak mungkin kan kalau dia bercerita pada Tahta bahwa dia baru saja mimpi tadi malam? Memimpikan Tahta yang mati untuk kedua kali saja sudah membuat jantungnya ingin copot, apalagi menceritakannya. Biarlah mimpi itu hanya jadi bunga tidur. Hideo tidak ingin membuat Tahta bingung.
"... karena aku kangen Tahta."
"Oh, begitu." Tahta membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menggantinya dengan senyuman serta pipi yang memerah.
"Kenapa wajahmu merah? Apa kau sedang demam?"
"Bukan. Tha sehat, Deo. Tha nda sakit." Tahta menggeleng. "Tha senang, ... Deo ada di samping ... Tha. Jilly bilang ... Tha sudah menikah dengan Deo, ... jadi harus ... sama-sama."
Alis Hideo mengerut. Isu tentang pernikahan lagi? Bukankah kemarin Leony juga menggodanya dengan memberi selamat pernikahan? Lalu sekarang Tahta membicarakan hal yang sama.
Konsep tentang sebuah pernikahan antara zombie dan manusia jelas berbeda. Jika manusia, maka akan ada hiasan dekorasi pelaminan, mahar, penghulu, para saksi, makanan, juga para tamu undangan. Mungkin akan berbeda konsep jika zombie yang menikah. Hm, seperti apa kira-kira pernikahan mereka? Hideo tidak bisa bayangkan.
"Apa maksudmu dengan pernikahan?" tanya Hideo ingin tahu.
"Jilly bilang, kalau ... Tha sudah memilih ... pasangan dan berbagi ... cairan dengan Deo." Tahta meletakkan jari telunjuknya di bibir, sedang berpikir. "Um, Tha waktu itu ... ngasih Deo cairan ... dari mulut Tha, jadi ..." Tahta melirik Hideo malu.
"Jadi?"
Hideo memutar kembali ingatannya ke beberapa hari yang lalu. Dia ingat detail kejadian saat Tahta menggila, lalu menyerangnya. Pada waktu itu Hideo meminum sesuatu dari mulut Tahta tanpa sengaja. Menyadari titik temu ini, Hideo pun balas menatap Tahta lekat-lekat.
"Jadi seperti itu konsep pernikahan kalian?"
"Um," Tahta mengangguk.
"Tahta!" Hideo memanggil nama kekasihnya dengan suara keras sekaligus menepuk kedua bahunya.
"Hah? Apa? Ada apa?" Tahta bingung.
__ADS_1
"Meski rasanya aneh, tapi aku senang!" Hideo memeluk kekasihnya erat-erat.
****