STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 16: (STERIL: Last Name)


__ADS_3

BRAK


Suara meja yang dipukul Jilly mengagetkan dua orang dewasa yang sedang berdebat. Baik Leony maupun Mark sama-sama tak menyangka bahwa Jilly akan bersikap di luar kendali. Tadinya Jilly hanya menghujani Mark dengan tatapan seperti ingin mengulitinya. Namun begitu sifat agresif telah mengambil alih kesadaran, zombie berambut merah itu berdiri dan menarik pedang dari sarungnya.


Dia menyeringai, menggeram penuh permusuhan.


Jilly marah pada siapapun yang menyentuh dan membawa kabur pedangnya. Pedang kebanggaannya.


Dulu, ketika dia lulus menjadi seorang pengawal, pedang samurai ini adalah bukti kelulusan sekaligus tanda bahwa dia telah berada pada posisi jade. Sebagai jade, dia disumpah untuk selalu bersama pedangnya hingga akhir. Kini kenangan itu terbawa hingga sekarang dia berubah menjadi zombie, karena hanya benda itulah yang paling berharga.


"Kubilang juga apa?! Dia dan pedangnya berbahaya!" Mark menghindari serangan Jilly. Di Atlantis dia tidak bisa bergerak bebas. Selain karena dia tidak sedang memegang senjata, ketika Mark ingin membalas sikap bar-bar Jilly, Leony justru melarang.


"Jangan pukul dia!"


"Aku sedang diserang dan kau melarangku untuk membalas? Aku tidak percaya aku punya sahabat sepertimu."


TRANG


Untunglah di dekatnya ada kursi, jadi Mark bisa menggunakannya untuk menangkis serangan zombie si rambut merah. Bisa saja dia menendang Jilly, tapi sekali lagi 'dia harus menahan diri.'


"Dia pasien, jelas kau tidak boleh membalas apalagi memukulnya. Gunakan cara lain."


Meski sedikit menggerutu dan memaki, Mark berhasil menahan samurai dengan dua telapak tangannya yang dibalut sarung tangan. Beruntungnya dia jadi militer. Sarung tangan seluruh anggota STERIL dibuat khusus agar tidak bisa terkoyak dengan mudah termasuk saat terkena sayatan pedang. Bolehkah Mark sedikit bersyukur?


"Daripada menyerangku---- bagaimana kalau kita kencan saja?" tanyanya dibarengi senyum seringai.


"Dasar gila," celetuk Leony sambil memutar bola matanya. Dia tahu jika sahabatnya terkenal suka menggoda. Tapi menggoda zombie? Ayolah. Itu hal ke seratus yang bisa Leony bayangkan dari seorang Mark Lambert, mengingat beberapa mantan kekasih Mark yang semuanya cantik dan berlekuk tubuh aduhai. Jadi, jangan harap pemuda itu bersungguh-sungguh menggoda Jilly.


Beberapa staf dan perawat Atlantis akhirnya datang untuk membantu Komandan Mark yang terpojok antara dinding dan Jilly. Seperti peraturan Atlantis, zombie agresiv dibawa ke dalam ruang kosong agar kembali tenang. Hal ini berlaku juga untuk pasien yang telah menjalani tahap penarikan memori seperti Jilly.


"Jauhkan dia dariku!" saat para perawat menahan dan ingin membawa Jilly pergi, Mark masih meneriakinya. "Bila perlu rantai dia! Jangan sampai lepas! Jangan sampai aku bertemu dengannya atau aku akan ... akan ...." Tanpa sengaja Mark malah melihat pantulan wajahnya di kaca jendela dan raut wajahnya bertambah suram saja. "Hah? Lihat apa yang kau lakukan, Jilly! Dasar zombie! Tatanan rambutku jadi rusak!"


"Kau masih tetap tampan, astaga," keluh Leony sambil lalu. Lebih baik dia pergi sebelum mendengar ocehan narsis sahabat pirangnya.


****


Mark dan Jilly tampaknya tidak akur. Mereka punya sejarah pertemuan jauh dari kata 'baik.' Mereka seperti singa dan mangsa. Entah kenapa setiap bertemu dengan Mark, Jilly gemas ingin menarik pedangnya. Untung saja mereka jarang bertemu, jadi Atlantis tidak akan hancur hanya karena mereka berkelahi. Namun takdir berkata lain.


Semua penduduk Beltran Guido dicatat berdasarkan retina mata, lalu data mereka disimpan dalam sebuah database jaringan komputer, sehingga identitas keluarga mereka terekam secara rinci. Sama halnya dengan pasien zombie. Setelah mereka masuk ke Atlantis, semua zombie didata ulang. Meski mereka telah berubah, namun ternyata masih ada sisa dari retina matanya yang bisa diidentifikasi.


Khusus untuk pasien rehabilitasi, zombie diperbolehkan untuk mendapat nama keluarga baru, mengingat ada beberapa retina yang tidak bisa terbaca karena rusak. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang miliki nama belakang sama. Sistem ini mirip seperti adopsi dengan tujuan agar pasien Atlantis mendapat tempat di masyarakat. Sehingga ketika mereka dinyatakan sembuh, mereka akan berkumpul lagi dengan keluarganya atau keluarga yang baru.


Saat ini database Atlantis sedang diperbaiki sedangkan laporan harus segera dikirim ke pusat. Tidak ada cara lain selain menggunakan teknik manual. Mereka tetap bekerja mencatat pada jaringan offline, setelah itu data akan disimpan pada sebuah memori external dan dikirim oleh seorang kurir terpercaya.


"Perawat, apa nama keluarga Jilly sudah ditemukan?


Cepatlah! Waktuku tidak banyak," pinta salah satu staf Atlantis. Di atas mejanya penuh tumpukan kertas. Bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan jaringan internet, menggunakan cara manual ternyata sangat merepotkan.

__ADS_1


Seorang wanita berkacamata berulang kali melihat data pada buku tebal. Buku itu berisi nama-nama keluarga. "Sudah. Nama keluarganya Lamart,"


"Siapa? Bisa kau ulangi?" tanyanya pada si wanita berkacamata. Tiba-tiba telepon berdering. Setelah diangkat ternyata itu telepon itu dari pusat yang terus menagih catatan. "Maaf, Pak aku sedang berbicara dengan rekanku tadi. Baik, Pak. Datanya sedang kukerjakan dan akan segera dikirim." Wanita itu lantas berteriak pada temannya lagi. "Rim, siapa nama keluarganya?"


"Lamart!"


"Lam? Lambert?"


"Ya."


Konsentrasi wanita tadi terbagi antara mendengar informasi dari temannya dan ocehan dari pusat. Pusat kesal karena data yang seharusnya sudah dikirim malah lelet. Setelah meminta maaf berulang kali akhirnya data selesai disusun, tanpa dia tahu nama 'Lamart' yang seharusnya dia tulis berubah menjadi 'Lambert.'


Sehari setelahnya, Mark pergi untuk mengambil gaji. Dia berencana mengajak kekasih barunya makan malam. Tentu dia harus mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Dia ingin menyewa candle light dinner, makan makanan mewah, membeli buket bunga mawar, juga cokelat berbentuk hati. Mark sudah membayangkan akan menghabiskan malam romantis bersama kekasih barunya. Dia membayangkan mereka akan bermesra-mesraan juga melakukan hal-hal indah.


Namun, angannya pupus. Karena begitu dia melihat layar mesin ATM, gajinya berkurang. Uangnya lari ke Atlantis. Ada apa ini? Kenapa uangnya harus berpindah ke sana?


Merasa tidak terima akhirnya Mark langsung pergi ke Atlantis untuk bertanya.


"Maaf Komandan, kami menerima catatan transfer uang dari rekening anda untuk pasien atas nama Jilly Lambert. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan sandangnya yang tidak bisa disokong oleh Atlantis," salah satu staf di lobi Atlantis menjawab.


"Bagaimana bisa? Kenapa nama keluargaku ada di belakang namanya?"


"Mungkin dia kakak atau adik anda."


"Aku tidak punya kakak maupun adik. Aku anak tunggal."


"Memangnya dia bayi harus kuadopsi?!"


"Mungkin dulunya dia pasangan resmi anda."


"Sembarangan saja, kau! Pasti ada kesalahan." raung Mark tidak terima.


Staf tadi melihat lagi data di dalam komputer agar lebih yakin. "Tapi Komandan, di sini tertera kalau nama belakang Jilly sama dengan nama keluargamu. Kalau kalian tidak punya hubungan darah, maka itu artinya anda telah mengadopsi Jilly dan secara otomatis 30% gaji anda akan ditransfer untuk keperluan sehari-harinya seperti perangkat mainan, pakaian, selimut dan lainnya."


Kejadian ini mirip seperti seorang istri yang sengaja mencuri uang suami agar uangnya tidak dipakai untuk selingkuh.


Ingin rasanya Mark berteriak keras-keras. Dia tidak terima. Sebenarnya siapa orang yang sudah memasukkan nama keluarganya di belakang nama Jilly tanpa ijin? Mengadopsi Jilly----zombie gila yang ingin menebas lehernya? Apa dia ingin cari masalah dengan membiarkan Jilly menjadi anggota keluarganya? Semoga ini hanya prank!


Keluarga Lambert hanya terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak. Mark si anak tunggal. Saat dia lulus kemiliteran, dia ditempatkan di Kota Lazar. Setelah beberapa tahun mengabdi, Mark akhirnya ditarik untuk memimpin STERIL khusus Divisi Timur.


Di Kota Lazar hanya ada segelintir nama Lambert dengan latar belakang dan riwayat keuangan yang terdata di server. Begitu nama keluarga diajukan, maka mesin akan mencari kandidat si calon pengadopsi secara acak. Jika semua data memenuhi syarat maka keluarga terpilih harus bersedia menerima pasien.


"Apa bisa dibatalkan?" tanya Mark penuh harap.


"Bisa, tapi nama anda baru saja masuk sebagai anggota keluarga Jilly kemarin, jadi anda harus membayar denda sebesar 50 juta karena alasan menolak program pemerintah."


"Apa?!"

__ADS_1


****


Hideo datang untuk menemui Tahta seperti biasa. Seulas senyum terukir di wajahnya yang tampan tatkala melihat kekasihnya sedang duduk di depan televisi. Rasa lelah, letih, dan kantuk seolah sirna begitu saja. Pemuda itu lantas bergerak ke sofa dan bermaksud untuk duduk di samping kekasihnya.


"Beri jarak, Komandan. Ingat! Kau tidak boleh terlalu dekat dengannya."


Hideo berdecih. "Lalu kau bebas berdekatan dengannya, begitu? Kau juga harus beri jarak," sindir Hideo pada Nuki, perawat Tahta.


"Aku seorang perawat. Aku diberi wewenang untuk selalu memantau keadaan Tahta, karena itu aku diberi ijin untuk dekat dengannya."


Entah sadar atau tidak, jawaban Nuki ini sudah menyinggung sisi lain dari Hideo. Hideo tipikal pemuda yang jarang sekali bergonta-ganti kekasih apalagi bermain cinta. Tidak seperti Mark yang mudah sekali mengumbar asmara, Hideo justru selalu fokus pada satu sasaran. Jika dia sudah menargetkan seseorang yang baginya menarik, maka siapapun sebaiknya menjauh.


Karena kata-kata Nuki tadi sedikit menggelitik, Hideo pun berdiri dan langsung menarik krah baju yang dipakai Nuki. Tak kenal takut, pemuda itu bicara di depan wajah si perawat sebagai konfirmasi. Nadanya dingin, tegas, dan mutlak.


"Kuijinkan kau dekat dengan TAHTAKU tapi kau harus ingat bahwa dia kekasihku, jadi ... jaga mata, jaga hati, dan jaga pandanganmu darinya. Apa kata-kataku bisa dimengerti?"


Melihat bagaimana tatapan mata Komandan Divisi Utara yang mengintimidasi, Nuki menciut seketika. Jujur saja dia hanya menganggap Tahta sebagai teman. Kalaupun dia menyukai Tahta, harapannya tak akan bisa terwujud. Apalah daya, si manis sudah ada yang punya dan pemiliknya lebih mengerikan daripada singa. Lebih baik Nuki menjauhi masalah jika ingin selamat.


"Ba-baik, Komandan. A-anda tidak usah cemas. Aku hanya menjalankan tugas. Ha. Ha. Ha." Suara tawa Nuki lebih mirip hewan tercekik. Dia takut pada Komandan Hideo. Begitu Hideo melepaskan cengkraman, Nuki langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya seperti dia baru saja pergi ke ruang hampa udara.


"De ... o. De ... o," panggil Tahta mengalihkan dunia Hideo. Mata ungu keabu-abuan Tahta tampak sayu. Beberapa kali dia mengucek-ngucek matanya. Rupanya dia mengantuk.


"Ya, sayang. Apa kau ingin tidur?"


Tahta mengangguk sebagai jawaban.


Sekarang Tahta sudah bisa menyebut nama Hideo meski hanya sepenggal. Senang? Sudah pasti. Bahagia? Apalagi. Penantian serta usahanya selama ini tidak sia-sia. Hideo berhasil menyingkirkan Jeon dari memori Tahta. Perlahan-lahan namun pasti.


"Ambilkan aku selimut!" pintanya pada Nuki setelah dia duduk di sofa. Tak perlu diulang dua kali, Nuki lantas memberikan apa yang Hideo inginkan. Dengan telaten Hideo menggelar selimut tadi di atas pahanya sampai menutupi seluruh sofa. Setelah dipastikan semuanya siap dan nyaman untuk tidur, dia lantas memanggil kekasihnya.


"Sini! Tidurlah!" Hideo menepuk-nepuk sofa dan membujuk Tahta.


Tahta kali ini menurut. Tanpa perdebatan dia membaringkan tubuh rampingnya dengan posisi kepala di atas paha Hideo.


"Biar kumatikan televisinya," Nuki berinisiatif untuk membantu. Dia menekan tombol pada remote. Dalam dua detik, televisi yang semula menampilkan film kartun pembelajaran khusus anak-anak itu menggelap. "Kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Nuki setelahnya.


Hideo duduk diam di sofa. Di dalam kamar itu dia hanya berdua dengan Tahta----berteman sunyi. Sunyi yang menyenangkan. Dan Hideo tak ingin semuanya cepat berakhir.


Dia sungguh menyayangi Tahta. Sebenarnya Hideo sangat ingin mengganti nama belakang Tahta dengan 'Alexander,' namun Tahta masih memiliki ayah sehingga dia belum bisa mengganti nama keluarganya. Mungkin suatu saat nanti keinginan ini akan terwujud.


Hideo menunduk untuk melihat wajah polos kekasihnya. Tahta yang sedang tidur terlihat seperti bayi. Mau tak mau Hideo tersenyum saat tak sengaja menemukan Tahta sedang mengemut ibu jarinya.


"Sayang, kau lucu sekali. Aku berjanji akan membuatmu bahagia."


****


To be continue

__ADS_1


__ADS_2