STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 17: (STERIL: Last Child)


__ADS_3

Bintang kecil di langit yang biru.


Amat banyak menghias angkasa


Lalala ....


Suara cempreng lagi ceria terdengar di lorong Atlantis. Sebuah benda putih bulat melayang di udara dengan penuh suka cita. Dia Dorry. Dia baru saja selesai bertugas sesi pertama bersama tim-nya Hideo dan kini dia sedang iseng berkeliling Atlantis untuk mencari sahabat ayahnya. Sebagai robot dengan kecerdasan buatan, Dorry termasuk ciptaan yang hampir mendekati sifat manusia.


Berbicara tentang ayah Dorry, beberapa tahun lalu, ada seorang pendatang di Kota Lazar. Dia jenius dan sedikit tidak masuk akal. Bisa dibilang pria ini gila karena di usia produktifnya bisa mengalahkan ilmuwan senior. Pemuda bernama Gillian itu tidak hanya ahli merancang bangunan, melainkan juga seorang ilmuwan robotik. Dialah si pembuat robot kamera untuk pertama kali. Setiap rancangannya lalu menjadi maha karya dan dipakai hingga kini.


Gillian menjadi ilmuwan pertama paling berpengaruh di Kota Lazar dan mendapat penghargaan dari walikota untuk beberapa karyanya. Sayangnya setelah peperangan melawan zombie beberapa tahun lalu, dia menghilang secara misterius. Hingga sekarang tidak ada yang tahu pria itu hidup atau mati.


Setelah Gillian menghilang, beberapa hasil rancangannya yang tertera pada cetak biru dilanjutkan oleh rekan-rekannya. Mereka bekerja sama menghasilkan banyak robot kamera untuk kepentingan militer, membangun dinding tebal berlapis baja, dan membangun kembali gedung-gedung hancur. Dari sekian banyak karya Gillian, Atlantis lah yang paling unik karena gedung itu didirikan menggunakan konsep sarang lebah.


Sekian lama waktu berlalu, robot-robot kamera menganggap Gillian adalah ayah mereka, termasuk Dorry.


[Bintang kecil di langit yang biru.] Dorry menyanyi lagi.


[Oh~suaraku bagus, tapi kenapa Komandan selalu marah-marah dan menyuruhku diam?] Dorry terbang naik-turun mengikuti irama nyanyian. Jangan lupakan dua mata bulatnya yang berubah-ubah bentuk di layar. [Ah! Aku mau mengadu pada Profesor Hartman. Siapa tahu paman profesor mau mendengarku menyanyi.]


Suasana program hati Dorry kembali bersemangat, tapi tidak lama karena tiba-tiba suara Komandan Hideo terngiang pada memori di programnya.


'Suaramu membuat telingaku sakit.' Kira-kira begitu komentar Komandan Hideo jika sudah mendengar suara Dorry. Biasanya robot kamera itu akan mengadu pada profesor Hartman atau Leony.


[Tidak! Suaraku bagus! Komandan saja yang tidak mengerti seni. Biar saja! Akan kuadukan pada Profesor.] Sambil berteriak, Dorry terbang semakin cepat dan tanpa sadar menabrak sesuatu.


DUAGH


Dorry seharusnya terpental akibat bertabrakan dengan sesuatu tadi, namun tidak. Dia malah tidak bisa bergerak. Setelah sadar dari rasa terkejut, kini dia malah berhadapan dengan seseorang berkulit pucat. Sosok pucat itu tengah menahannya di kedua sisi.


"A ... pa i ... ni?"


[Wa! Zombie!] teriak Dorry begitu komputernya mengidentifikasi identitas Tahta. Robot kecil itu berusaha memberontak juga mencoba melepaskan diri.


"Eh? Ja ... ngan pel ... gi!"


[Wa! Tolong! Aku akan jadi zombie!]


"Wuhuhu ... ma ... mu lu ... cu. Ma ... in, yuk."


Tahta mengejar Dorry yang melesat cepat. Dia kira Dorry sedang mengajaknya bermain kejar-kejaran, jadi dia menuruni anak tangga demi mengikuti si robot kamera. Dari lantai atas hingga lantai dasar, tanpa sadar telah Tahta lewati. Ini kali ke dua Tahta kabur setelah kejadian waktu lalu, namun sekarang gara-gara mengikuti Dorry.


Tahta hanya berlari kecil dan pasti kalah oleh kekuatan melarikan diri dari Dorry, namun robot kamera itu seperti pobia disentuh zombie. Bisa jadi dia terlalu berhalusinasi dan menganggap virus akan menularinya juga. Padahal material tubuhnya yang keras tidak akan bisa ditembus oleh virus zombie. Harap maklum. Dia masih anak-anak. Imajinasinya terlalu tinggi.


Kegaduhan terjadi di halaman Atlantis kala itu. Bukan karena perkelahian antara militer dengan mayat hidup, melainkan Tahta yang berusaha menangkap Dorry.


"Ada apa ini?" tanya Hideo yang datang untuk melihat keributan. Sebenarnya dia akan pergi bertugas lagi, namun tertunda karena mendengar suara teriakan Dorry dari dalam van dinasnya. Hideo bahkan bisa melihat mobilnya bergoyang-goyang karena sesuatu di dalamnya bergerak-gerak agresif.


"Komandan, sepertinya Dorry dikejar-kejar zombie!" seru salah seorang anak buahnya yang berlari tergesa.


"Dikejar zombie?!"


"Ya. Dan sepertinya zombie itu berhasil menangkapnya."


"Kalau begitu----mundur!"


"Siap, Komandan!"

__ADS_1


Hideo meletakkan tangan di belakang punggung di mana senapannya disimpan. Dengan waspada dia berjalan mendekati van. Hideo berdoa semoga zombie itu tidak ganas. Ketika dia sampai di pintu yang terbuka, senapannya telah siap teracung untuk berjaga-jaga dari serangan tiba-tiba, tapi begitu melihat sepasang mata polos itu, senjatanya langsung turun.


"Sayang, sedang apa kau di sini?"


"Deo ... um. Tha a ... gi main."


"Main? Kenapa kau main di luar?Jangan bilang kalau kau kabur?" selidik Hideo sambil menaruh senapannya di punggung.


"Tha nda kabul. Tha mau ma ... in."


[Komandan, tolong aku! Dia akan mengubahku jadi zombie.] Dorry masih terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Tahta. Ketika ada kesempatan, robot kamera itu keluar dari dalam van.


"Ck. Tidak akan ada yang mengubahmu jadi zombie." Hideo mengulurkan tangan untuk membujuk Tahta. "Ayo, kuantar kau kembali ke kamar."


Tahta diam di tempat, lalu dia menggeleng, "Nda mau."


"Ayolah, sayang. Sekarang Leony pasti sedang mencarimu, lagipula aku harus bertugas."


Tahta menggeleng lagi. Dia lebih memilih merangkak ke pojok dan meringkuk seperti anak kucing.


Hideo menghela napas, "Ha-ah. Kau mau ikut denganku?"


Tahta mengangguk.


"Tapi di sana berbahaya, nanti kau terluka."


"Tapi ... tapi Tha mau itut. Ka ... lau ada olang ja'at ... nanti Tha pukul dengan... tong ... kat aja ... ib. Tha 'kan bica jadi ... peli." Tahta mengepalkan tangan berpura-pura sedang memukul.


Salahkan Nuki yang memberi Tahta tontonan animasi Peri dan Penyihir Jahat.


Melihat reaksi sang komandan, anak buahnya langsung bungkam meski sulit sekali melewati situasi ini tanpa bersuara lepas. Ingatkan jika mereka lupa, bahwa Komandan Hideo orang yang galak kepada pasukannya, namun tak berdaya di hadapan kekasihnya sendiri. Adakah hal lebih menarik dari sekadar melihat harimau kewalahan menghadapi kucing? Rasanya tidak.


"Cana! Tha nda mau pelgi! Deo caja yang pelgi." Tahta menahan dan mendorong Hideo di pintu. Hampir saja dahi Hideo terbentur atap mobil. Astaga.


"Sayang, menurutlah! Nanti kubawakan oleh-oleh untukmu."


"Tha mau itut! Tha mau itut!"


Van itu kembali bergoyang karena Hideo berusaha masuk. Hideo sedang berusaha membujuk kekasihnya dan segera menjadi tontonan menarik. Hideo tak peduli. Melihat Tahta bersikukuh tidak mau masuk ke Atlantis, Hideo lantas membopong----kekasih bandel tapi imutnya----keluar dari van.


"Tha mau itut! Itut! Itut! Itut!" Tahta terus berteriak dibelakang Hideo. Dia tidak bisa kabur.


"Pasukan! Kita berangkat sekarang!"


"Ke-kekasihmu bagaimana, Komandan?" Anak buahnya bergeming. Mereka asik mengamati pemimpin mereka yang berjalan dari satu van ke van lainnya sambil membopong Tahta di pundak. Jika ada popcorn, mungkin mereka merasa seperti sedang menonton adegan film menarik.


"Dia terpaksa kubawa. Kalau tidak, aku takut dia akan berbuat aneh-aneh lagi." Hideo sadar jika anak buahnya tak juga beranjak dari tempat mereka. "Apa yang kalian tunggu? Laksanakan sekarang!" sentak Hideo.


"Siap, Komandan!"


Anak buah Hideo bergerak seperti semut yang kejatuhan air. Mereka kocar-kacir setelah dibentak Komandannya sendiri. Sebagian dari mereka masuk ke mobil utama dan sebagian lainnya ke van khusus yang digunakan untuk membawa zombie. Mereka telah siap di posisi masing-masing. Dorry tidak mau bergabung bersama Tahta, karena itu dia memilih untuk berada di van belakang.


Hideo mengambil sebuah jaket militer miliknya lalu memakaikannya ke tubuh Tahta. Meski Tahta hampir tenggelam karena tertutup oleh jaket, tapi penampilannya masih lebih baik. Dengan kepala, tubuh bagian atas, juga tangan yang tertutup, Hideo bisa leluasa menyentuh kekasihnya.


"Kau harus dekat denganku jika ingin aman."


Tahta menggeleng lalu mengangguk.

__ADS_1


"Ingat, kau harus mendengarkanku, mengerti?" tanya Hideo memastikan sambil membenarkan posisi topi tudung di kepala Tahta.


"Um?" Tahta tidak mengerti dengan perintah Hideo. Dia hanya mengetuk-ngetuk bibir dengan telunjuknya.


"Katakan iya!" Hideo gemas, jadi dia menangkup sisi wajah Tahta yang tertutup kain. Ingin rasanya dia cubit pipi Tahta. "Aku tidak akan mengajakmu sebelum kau bilang iya," kata Hideo sedikit memaksa.


"I-ya. Ish, Tha cebel cama Deo."


"Aku juga mencintaimu," jawab Hideo ngawur dibarengi senyuman lembut. "Kalau begitu, sini duduk di pangkuanku."


Tahta membiarkan Hideo menuntunnya ke dalam dekapan pemuda itu. Dia duduk nyaman dengan Hideo yang memeluknya dari belakang.


****


Tahta menunggu di dalam mobil sendirian. Van mereka berhenti di pemukiman kecil. Suasananya sangat sunyi. Tahta melihat lampu di atas kap mobil menyala, cukup sebagai penerang di dalamnya. Ini konsekuesi yang harus diterima karena memaksa ikut. Tahta ditinggal sendirian menunggu di sana sampai Hideo dan anak buahnya kembali.


Tadinya Tahta memaksa untuk pergi bersama Hideo, namun Hideo tidak bisa mengambil risiko Tahta terluka, jadi dia menyuruh kekasihnya tetap tinggal.


Kesunyian ini terasa menyiksa, terutama saat berada di dalam sebuah ruang sempit. Setidaknya itulah perasaan normal manusia, namun tidak bagi Tahta. Sunyi adalah dunia yang akrab. Sayangnya keheningan ini harus berakhir tatkala Tahta mendengar geraman disusul bunyi tembakan. Beberapa menit berlalu, seseorang atau sesuatu mulai berbicara. Suara serak penuh kesedihan berusaha masuk ke dalam pikiran Tahta.


'Tolong!'


'Tuan, tolong aku!'


Rintih mereka menyayat hati. Begitu banyak suara berdesakkan membuat Tahta gelisah. Terasa mau pecah saja kepalanya. Karena tak sanggup menahan, Tahta melompat keluar.


BRAK


Pintu mobil dibuka paksa. Tahta berlari entah ke mana. Instingnya memaksa pergi mencari Hideo, namun Tahta belum juga menemukan sosok itu. Dia tersesat.


Kaki Tahta lemas. Tubuhnya merosot perlahan di lantai berlapis semen. Sambil memeluk dirinya sendiri, dia hanya bisa menggumam memanggil nama seseorang, "Deo. Deo."


Srek


Terdengar langkah diseret. Tahta menatap ruangan di hadapannya. Ruangan itu gelap seperti lubang hitam tak berujung. Tahta tak bisa melihat apakah ada seseorang di dalam sana. Mungkin Hideo-nya datang mencarinya.


"Deo," panggil Tahta.


Srek


Makin lama suara tadi semakin jelas. Namun, itu bukan suara langkah kaki, melainkan kuku-kuku yang bergesekkan dengan lantai. Zombie datang dari dalam kegelapan. Dia kelaparan. Air liur bercampur darah meluber keluar dari mulutnya ketika dia menyeringai.


"Hargh," geram zombie yang terus mendekati Tahta.


Tahta tak bergerak. Bahkan ketika zombie itu telah sampai di hadapannya. Mereka saling bertatap muka. Dari sini jelas sekali perbedaan mereka. Tahta dengan tubuh hampir menjadi manusia dan 'dia' yang terkoyak.


'Kau hanya zombie kecil,' zombie itu mencengkram rahang Tahta dan menancapkan kukunya di sana. Dia berbicara melalui telepati yang hanya bisa dipahami oleh sesama mayat hidup.


"Aku ...."


'Berikan kehidupanmu untuk kami.'


Dengan ekor matanya, Tahta melihat beberapa zombie berdatangan dan beberapa di antaranya merayap di dinding.


****


To be continue

__ADS_1


__ADS_2