STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 35: (STERIL: Mirror)


__ADS_3

Cermin ... bisakah kau tetap utuh? Aku ingin melihat bayang wajah penuh kebahagiaan dalam pantulan bayanganmu.


Aku ingin riasan ini tetap cantik tanpa air menetes dari pelupuk mataku.


Aku ingin jadi wanita paling beruntung di dunia. Wanita yang memiliki kehidupan sempurna bersama orang yang dikasihi.


Cermin, tidakkah kau melihat wajah ini? Wajah manusia yang dianggap telah mati kini hidup kembali.


Hati yang telah dingin kini menghangat lagi.


Aku tidak berharap bahwa bunga yang tumbuh mekar, kembali layu.


Jangan!


Jangan lagi.


Tapi ... nyatanya cermin----kau tetap patah----hancur----seperti hatiku.


"Argh! Lepaskan, Tha?!"


Dada Tahta berderu naik turun seolah dia baru saja naik rollercoaster yang sangat tinggi. Tahta terus berteriak sambari menangkup kedua telinga dengan dua tangannya. Seakan sedang berusaha agar tetap tersadar pada kenyataan.


"Tahta!"


Tahta tidak menggubris panggilan itu. Dia hanya ingin menghalau mimpi buruk. Ya, ini mimpi buruk! Dia tidak ingin terpisah dari Hideo.


"Hideo!" teriak Tahta kencang.


"Tahta, sadarlah!" Leony berteriak semakin kencang. dia berusaha mengguncang-guncang tubuh Tahta, membuatnya tersadar, karena sejak beberapa menit lalu Tahta seperti patung. Tiba-tiba Tahta menjerit histeris, membuat semua orang panik.


"Tahta, sadarlah! Ada apa denganmu?!"


"Leony?" ucap Tahta dengan bola mata yang hampir melompat dari bingkainya.


Tahta menatap seorang perempuan yang dikenalnya telah berdiri dihadapannya dengan raut wajah cemas. Jilly juga tak kalah khawatir. Bahkan dia jauh lebih mencemaskan Tahta dibanding yang lain. Wajahnya berubah lebih pucat dari mayat hidup.


"Kenapa kau? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Leony. Dia kini berada tepat di hadapan Tahta hanya untuk memastikan bahwa si pengantin baik-baik saja.


"Hm, Tha barusan ... melihat ada pasukan ... menyerbu tempat ini. Tangan Tha ... diborgol." Tahta memalingkan wajahnya ke kiri-kanan, lalu melihat ke arah tangannya sendiri. Dia pun tersadar jika semua hanya ilusi.


"Tidak ada militer di sini," kata Leony.


"Sungguh?" tanya Tahta memastikan.


"Ya. Sejak tadi kau hanya diam saja. Apa kau baik-baik saja?" tanya Leony lagi.


"Syukurlah," Tahta menghela napas perlahan.


"Memang tidak ada," Leony menghela napas, melepas ketegangan.


"Tadi ... kau melamun," ujar Jilly.


"Tha melamun?" Tahta memiringkan kepalanya, antara heran dan tidak percaya.


"Bisa-bisanya kau ... melamun di saat ... seperti ini," kata Jilly.


"Wajar saja, mungkin dia canggung karena sebentar lagi dia akan menikah," Leony terkekeh.


Jilly melirik Tahta dan dia mencoba melakukan komunikasi rahasia bersama Tahta.


'Apa kau sedang melihat masa depan?' Dalam pikirannya, Jilly mencoba memasuki pikiran Tahta.


'Apa maksudmu dengan melihat masa depan?', tanya Tahta tidak mengerti. Alisnya pun mengerut.


'Maksudku seperti kau membayangkan kejadian yang akan datang.'


Tahta memiringkan kepalanya, tampak berpikir keras.


'Ah, sudahlah. Lupakan!' Sepertinya akan sulit berbicara dan menjelaskan pada Tahta di saat seperti ini. Jilly memutuskan untuk berhenti mengulik.


Di sisi lain raut wajah Leony terlihat senang.


"Kalian berdua bersiaplah! Akad nikah akan segera dimulai. Pengantin pria-nya sudah datang."

__ADS_1


Tahta melihat arah pandangan mata Leony.


Dua pria berpakaian stelan jas hitam baru saja terlihat di kejauhan. Mereka berjalan beriringan layaknya seorang model yang berjalan di atas catwalk.


Hideo dan Mark lebih sering berpenampilan dengan pakaian militer. Kalaupun mereka bergaya ala warga sipil, keseharian mereka pun hanya mengenakan pakaian dengan tampilan membaur seperti yang lainnya, jika tidak sedang bertugas. Terutama Hideo, dia lebih senang memakai kaus dan jaket kulit karena lebih nyaman.


Hideo memiliki beberapa kaus anti peluru yang sering dipakainya dan tampilan dari kaus itu biasa saja. Dia juga tertarik untuk membeli beberapa jaket anti gores. Orang pasti tidak akan menduga jika pakaian itu harganya hampir menyamai harga sebuah motor.


Akhirnya, acara yang ditunggu semua orang pun terlaksana. Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam kehidupan umat manusia. Di mana manusia menikah dengan setengah zombie. Manusia yang dianggap sakit itu hidup kembali dengan cara yang berbeda.


Sedikit lagi Tahta dan setengah zombie yang lain akan sembuh dan menjadi manusia seutuhnya.


Itulah harapan yang ditunggu oleh semua orang.


***


Tahta dan yang lainnya tidak ada yang tau mengapa Hideo dan Mark datang terlambat.


Beberapa saat yang lalu, mereka berdua sedang berada di tempatnya masing-masing dan bersiap-siap untuk acara pernikahan. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi.


Di depan cermin, seorang pria sedang memasukkan sebuah bulatan ke dalam lubang kecil. Gerakannya tidak cepat juga tidak lambat. Beberapa kali dia mengusapkan tangan agar tidak ada debu di atas bahunya yang lebar. Sepasang stelan jas abu-abu gelap melekat pas, membalut tubuh kekarnya.


Hideo telah beberapa kali menghela napas, lalu menghembuskannya. Dalam hati, dia grogi. Bagi siapa saja yang akan menikah, canggung pasti dirasakan oleh semua orang. Rasanya sangat luar biasa.


Pada akhirnya, Hideo akan bersatu dengan kekasihnya yang menggemaskan.


Di rumah dinas, Hideo hidup seorang diri. Tidak lama lagi tempat tinggalnya akan terasa hidup berkat hadirnya seorang pasangan. Hideo mengulas senyum di bibir membayangkan dia dan Tahta ada di ruangan itu, bersenda gurau dan melakukan hal menyenangkan bersama-sama.


Namun, semua bayang keharmonisan itu teralih ketika sudut matanya melihat pantulan bayangan di cermin. Sepertinya ada seseorang di luar. Hideo melihat sebuah benda hitam di balik tanaman.


Dash


Prang


Cermin yang pecah membuyarkan mimpi-mimpi. Hideo berguling dan bersembunyi di balik tempat tidur. Dia mengintip dan melihat seseorang telah mengincarnya dengan senapan. Beruntung Tuhan masih melindunginya karena peluru itu berhasil dihindari.


'Apa itu pembunuh bayaran?' tanyanya dalam hati.


Hideo menerjang pria berpakaian hitam, membuang senjatanya lalu meninjunya hingga tumbang.


Tembakan datang bertubi-tubi, Hideo mengambil senjata lawan yang telah terkapar lalu dia pun berguling. Hideo menghindari serangan dan bersembunyi dibalik dinding. Dia diam sesaat, mengumpulkan tenaga dan berniat untuk membalas.


Dash Dash


Hideo berhasil melumpuhkan beberapa musuh.


Seorang pria asing nekat datang dari ruang tengah ingin menghabisi Hideo, tetapi----salah lawan. Hideo yang telah lebih dulu bersembunyi, menyergap pria asing itu dengan meraih lehernya, memelintirnya hingga jatuh.


Pria lainnya datang dari arah belakang dan berhasil meninju Hideo. Setetes darah merembes di sudut bibir Hideo, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk melawan. Hideo dan pria itu terlibat baku hantam. Untuk beberapa saat, mereka seri, tetapi Hideo lebih gigih dari yang dikira.


Hideo meninju lawannya beberapa kali, lalu menendangnya hingga ke luar jendela.


Tanpa diduga, seorang pria yang tadinya terkapar telah sadar, dia berusaha bangkit sambari memegang belati dari saku. Tangannya terangkat ingin menyerang Hideo, tetapi niatnya urung karena dia telah lebih dulu pergi ke alam lain.


Hideo berpaling dan melihat pria yang ingin menyerangnya barusan telah mati. Di punggung pria itu ada sebuah belati tak dikenal.


Siapa yang sudah membantunya?


"Apa kau baik-baik saja?"


"Tuan Altar?!"


Hideo terkejut melihat calon mertuanya ada di tengah-tengah kekacauan. Rupanya dia yang telah menolong barusan.


"Aku menyusul karena kau terlambat datang ke acara pernikahan. Kukira kau kabur. Aku berniat untuk menghajarmu karena telah mempermainkan anakku. Bila perlu menyeretmu ke Atlantis. Ternyata ini sebabnya. Maaf sudah berburuk sangka," kata Tuan Altar menjelaskan.


Hideo mencelos seolah berkata 'yang benar saja?' atau 'ayah mertuaku galak.'


"Aku tidak mungkin kabur di acara pernikahanku sendiri."


"Pikiran orang siapa yang tau. Kadang seseorang bisa berubah di saat detik-detik terakhir. Tapi sekarang aku yakin padamu, kau tenang saja. Anggap saja ini terapi sebelum kau benar-benar menikah dengan anakku." Tuan Altar menepuk pundak Hideo, lalu melihat pria yang menyerang Hideo.


"Sepertinya mereka orang-orang terlatih," lanjut Tuan Altar.

__ADS_1


"Pasti ada yang telah mengirim mereka," timpal Hideo.


"Dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka telah terorganisir."


Ponsel Hideo berdering, lalu dia langsung mengangkatnya.


"Hei, Mark," jawab Hideo.


[Hideo, apa kau diserang?] todong Mark tanpa basa-basi.


"Ya. Aku baru saja kedatangan tamu yang tak diundang. Mereka berpakaian hitam dengan senjata api."


[Kukira cuma aku saja. Aku juga mendapat serangan dari kelompok yang sama. Sepertinya mereka sengaja dikirim oleh seseorang. Aku sudah melumpuhkan mereka dan mencoba bertanya, tetapi mereka malah bunuh diri.]


"Kau serius?!" Hideo tidak percaya.


[Aku tidak mungkin bercanda! Sebaiknya kita tunda dulu membahasnya. Sekarang aku sedang menuju ke Atlantis. Acara pernikahan kita sudah hampir terlambat! Cepatlah datang!]


"Oke. Aku ke sana sekarang."


[Baiklah! Jaga dirimu dan berhati-hati!]


Hideo mengakhiri panggilan.


"Ternyata, Mark juga diserang oleh sekelompok orang. Mereka bersenjata api."


Tuan Altar terkejut dibalik wajah diamnya.


"Rupanya ada orang yang sengaja mengirim mereka."


"Tapi ... Kenapa mereka menyerangku dan Mark?"


"Menurut firasatku, dia sengaja ingin mencelakai kalian agar kalian tidak jadi menikah. Dia ingin pernikahannya gagal."


Hideo menganggukkan kepala. Semuanya masuk akal juga. Hideo kemudian tersadar.


"Ayo ayah mertua, kasihan kekasihku Tahta sudah lama menunggu!" Hideo melompati tanaman dan berlari menuju mobilnya.


"Kita pergi dengan mobilku agar aman," kata Tuan Altar.


Di depan mobil Tuan Altar, asistennya, Kalilo, telah siap dengan setrika uap di tangan.


"Tuan Hideo, biar aku bantu rapikan jas anda," ujar asisten Tuan Altar.


"Wah, dari mana setrika itu?" tanya Hideo iseng sekaligus terkejut. Dia melihat ada goresan bekas lipatan samar di lengan jasnya. "Kejadian tadi membuat penampilanku buruk."


"Karena Tuan Altar orang penting dan harus selalu tampil prima, dia selalu menyiapkan setrika di dalam mobil."


"Oh, iya. Ayah mertuaku memang orang penting. Benda itu sangat berguna," kata Hideo sambari melirik Tuan Altar.


"Berhenti membual, Anak muda! Ayo cepat, kita sudah terlambat!"


Tuan Altar dan Hideo memasuki mobil. Dengan Kalilo yang menyetir, mereka telah sampai di Atlantis dalam beberapa menit.


Begitu sampai, sosok yang paling ingin dilihatnya hanyalah Tahta.


Dia----di sana berdiri dengan wajah anggun nan rupawan. Gaun pengantin yang dipakainya membuat Tahta terlihat seperti putri.


Ketika Tahta tersenyum, Hati Hideo semakin naik ke awan.


Akhirnya Dia dan Tahta bersatu.


***


Maaf lama menunggu, karena ada suatu hal😌


Mau mulai lagi eh .... ga jadi-jadi.😆


Tadinya mau mau coba nulis tapi ternyata aku kena writer block. Lama mantengin layar tapi ga tau harus mulai dari mana. 😭


Solusinya ternyata harus nulis pake tangan. 😭 Dua kali kerjaan😭


Tapi it's oke lah. Demi Tahta dan Hideo😌😆 Kasihan kan kalo mereka ga nikah-nikah. Apalagi Hideo yang bucin😂

__ADS_1


__ADS_2