STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 27: (STERIL: Paranoid)


__ADS_3

"Deo!"


Suara seseorang bagaikan angin segar di tepi pantai, andaikata tempat itu masih ada. Bayangkan angin berembus, membelai rambut dan wajahmu perlahan. Dengan senangnya kau sambut hangat mentari yang menyinari Bumi di kala pagi. Kau mengajak seseorang untuk jalan-jalan bertelanjang kaki menikmati sensasi lembutnya pasir putih, lalu kau duduk dan menatap kilau pantulan cahaya matahari di atas laut bersama sang terkasih.


Sungguh menyenangkan.


Jika bisa diabadikan dengan sebuah foto, kau akan memajangnya di tempat teristimewa. Pejamkan matamu 'tuk resapi sejenak----hei! Jantungmu bergerak lembut dan hatimu menghangat sehingga mau tak mau kau akan terlihat seperti orang gila. Ya, orang gila!


Lihatlah! Kau senyum-senyum sendiri.


Namun sayangnya, begitu gencatan senjata antara mayat hidup dengan manusia ditembakkan, semua berubah, seakan mimpi. Ketika kau membuka mata, suasana yang kau ingin ini lenyap, layaknya butiran debu beterbangan tertiup angin.


"Deo."


Beruntungnya ada dia di sini.


"Deo."


Itulah panggilan yang ingin Hideo dengar. Penggalan nama khusus yang ditujukan untuknya, hanya dirinya. Kehangatan yang merasuk ke jiwa, lebih dari segalanya. Hideo memperhatikan Tahta. Sepasang kaki kecilnya bergerak seirama, membawa tubuh yang tingginya tak lebih dari dagu sang pecinta mendekat.


Tak ayal Hideo ingin menyambut juga jika saja tidak ada militer di sekelilingnya.


Genggaman pada senjata semakin kencang, tetapi Tahta tidak peduli. Tanpa takut tertembak dia mendekati pusat kerumunan dan membuat pasukan keamanan Atlantis menyebar membuka jalan. Tahta melompat lalu menerjang Hideo dengan pelukan sebagai ungkapan rasa cemas bercampur rindu.


"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Hideo lirih.


"Deo. Deo," ucap Tahta berulang kali. "Akhirnya Deo pulang."


Kedua tangan Tahta melingkar di leher, sedangkan kedua kakinya mengelilingi pinggang Hideo. Tahta tak ingin lepas dari Hideo. Sepasang mata bulat milik Tahta menatap lekat pria di depannya, seakan dia tahu bahwa kekasihnya baru saja berjuang menghadapi maut.


"Tentu aku pulang, karena aku mau bertemu Tahta."


"Mereka bilang ... Deo sakit. Tha tidak mengerti. Deo ... sakit apa?"


Kedua tangan besar Hideo meraih dua sisi pipi Tahta. Dia bingung bagaimana menjelaskannya? Situasinya runyam dan dia sendiri tidak bisa mengambil kesimpulan sebelum berbicara dengan Leony. Hideo pun menarik napas perlahan. Dadanya agak sakit walaupun kondisi tubuhnya stabil.


"Aku baik-baik saja," Hideo memilih untuk memasang wajah gembira meski dalam pikirannya penuh dengan pertanyaan. "Apa Tahta jadi anak baik?"


Tahta menganggukkan kepala, membuat poni rambutnya bergoyang lembut. "Ehm, Tha ... jadi anak ... baik."


Melihat Tahta dalam pelukan, Hideo tak tahan ingin memeluknya erat. Kedua tangan kekar yang semula digunakan untuk mengangkat senjata kini merengkuh Tahta. Jangan khawatir soal berat badan. Tubuh Tahta ringan dalam gendongan Hideo.


Sejenak pria itu miris, karena menurut Leony berat badan Tahta tidak bertambah dari sejak beberapa hari lalu. Yah, lagi-lagi soal masalah pencernaan. Oke, untuk masalah ini Hideo perlu sedikit cemas.


Hideo meraih kekasihnya. Dalam balutan kasih sayang serta dipenuhi rasa cinta, dua bibir mereka saling menyatu, meniadakan jarak di antara mereka. Benarlah jika ada pepatah mengatakan 'cinta membuat orang buta'. Mereka tidak sadar jika ada berpasang-pasang mata yang tengah menatap panik, atau mungkin iri.


"Kau menciumnya, Hideo?!"


Kelopak mata Leony yang terbuka lebar menandakan dia sangat terkejut. Sebagai seorang ilmuwan tentu dia ingat akan kata-kata Profesor Hartman, bahwa ada virus di air liur Tahta. Profesor telah mewanti-wanti supaya dia tidak membiarkan Hideo berada dekat-dekat dengan Tahta. Tetapi apa yang nampak di depan ke dua matanya telah melampaui batas.


Ada sesuatu yang Leony lewatkan selama ini.


Leony kecolongan.


"Hideo, menjauhlah darinya! Jauhi Tahta!" larang Leony pada sahabatnya.

__ADS_1


"Kenapa dan ada apa?" Hideo balas bertanya tanpa melepaskan Tahta walau sedetik pun.


"... pokoknya jauhi dia!"


Hideo terperanjat karena Leony bersikeras melarang, padahal tadinya sahabatnya itu sudah merestui meski masih ada sedikit rasa cemas. Dari raut wajah Leony tidak menunjukkan tanda-tanda santai atau wanita itu sedang bercanda. Hideo jadi bertanya-tanya 'ada apa ini sebenarnya? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.'


"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Hideo menuntut jawaban, namun Leony malah mengalihkan pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan lain.


"Harusnya aku yang tanya----sejak kapan kalian sedekat dan seintim itu? Apa kau lupa tentang peraturannya? Apa kau lupa kalau----"


"Ya! Aku tahu peraturannya. Aku tahu kalau Tahta----Tahta masih belum sembuh, tapi aku tidak bisa menahan diriku sendiri."


"Kau seorang militer, harusnya kau paham dan tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan! Seharusnya kau bisa menahan dirimu sendiri, bukan terbawa hawa nafsumu."


"Memangnya apa yang sudah kulakukan? Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Tahta."


Leony berhenti sejenak dan menunggu penjelasan panjang dari Hideo. Namun Hideo diam dan malah justru melangkah maju. Leony hanya bersikap waspada, jadi dia merebut senapan milik salah satu anggota militer, lalu menodongkannya ke arah Hideo. Ketidakjelasan ini sungguh mengerikan. Dia takut sahabat baiknya juga terinfeksi virus zombie.


Sejak wabah virus merajalela, semua orang seperti mendapat mimpi buruk. Mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Mereka saling curiga, menarik diri dari lingkungan, bersembunyi, serta mengunci pintu rumah rapat-rapat. Ada kalanya ketika mereka bertemu tanpa sengaja, yang terucap bukan 'hai, apa kabar? Bagaimana keadaanmu?'


Bukan.


Bukan itu, melainkan 'kau manusia atau zombie?'


Sejak saat itu, saling menodongkan senjata sudah lumrah terlihat di keseharian mereka. Kebiasaan ini tercipta karena ungkapan rasa takut. Mereka takut tertular makhluk kecil yang bahkan tak terlihat oleh mata telanjang.


Gangguan kesehatan mental berupa kecemasan yang kuat mulai menganggu aktivitas mereka sehari-hari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh adanya masalah pada fungsi otak yang mengatur rasa takut dan emosi. Bertahan di tengah-tengah kepungan mayat berjalan tentu tidak mudah. Manusia akan melakukan apapun demi bertahan hidup.


Lantas mereka pun akhirnya  mengidap gangguan kepribadian eksentrik----paranoid.


"Diam di situ! Kau belum menjelaskan apa-apa padaku." Leony masih tidak percaya. Dia masih menodongkan senjata pada pria berpakaian militer yang tengah mendekap seseorang berambut pirang pucat.


"Leo?" Alis Hideo mengerut sejenak, karena tidak habis pikir atas tindakan sahabatnya.


"Kubilang diam! Jangan maju selangkah pun! Statusmu sekarang masih belum jelas 'apakah kau manusia atau zombie,'  jadi----jangan dekat-dekat atau kutembak!"


"Le-o-ny, ja-ngan tembak De-o!" larang Tahta.


Leony tersenyum pada Tahta "Tahta, sini! Jangan dekat-dekat dengan Hideo! Dia akan menularimu lagi," bujuk Leony pada Tahta.


"Um." Tahta menggelengkan kepala. "Tha mau sama, Deo. Ja-ngan tembak Deo!" Tahta semakin mengeratkan pelukannya dan tidak mau meninggalkan pria itu.


Melihat Tahta justru semakin lengket, Leony beralih kepada sahabatnya. "Hideo, kalau sampai kau menulari Tahta----aku bersumpah akan memasukanmu ke dalam ruang isolasi paling ujung dari tempat ini dan akan kukunci, sehingga kau tidak bisa datang menemui Tahta lagi."


"Apa?! Kau tidak bisa melakukannya!" seru Hideo terkejut.


"Jangan! Le-o-ny nakal! Tha ma-u sa-ma Deo."


"Jika Hideo berubah jadi zombie, kau tidak akan bisa bersamanya, kecuali ..." Leony menatap Hideo " ... kecuali dia diisolasi dan direhabilitasi."


"Jangan! Deo nda ... sakit. Deo baik-baik ... saja!"


"Tahta, kau tidak mengerti."


"Le-o-ny, jahat!" teriak Tahta. Kedua matanya menatap Leony nyalang. Dia menggeram marah.

__ADS_1


Hideo menangkap ada indikasi sikap agresif pada Tahta. Pria itu merasakan punggungnya diremas kuat. Untungnya Tahta tidak punya kuku panjang. Jika saja punya, maka punggung Hideo pasti terluka. Hideo menepuk-nepuk pelan kepala Tahta untuk membuatnya tenang.


"Tidak apa-apa, Tahta. Leony hanya khawatir denganmu."


Raut wajah Tahta kembali seperti semua, tidak tersenyum atau marah.


"Leo-ny, jahat. Dia mau bawa ... Deo pergi. Deo ja-ngan per-gi!"


"Leony tidak jahat. Dia hanya mau memeriksa keadaanku. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, aku janji. Apa kau mengerti?"


Tahta memiringkan kepala. Dia menatap Hideo dengan mata bulat yang membuat orang lain luluh. Tahta hanya diam sambari mencerna kata demi kata. Perlahan-lahan dia mengerti bahwa sesungguhnya dia ingin selalu berada di dekat Hideo. Perkataan dari pria itu bagai melodi lembut yang menenangkan, hingga dia pun merasa nyaman dalam pelukannya.


"Um, Tha ngerti, tapi Deo ja-ngan per-gi!" ucap Tahta sambari mengangguk perlahan. Tahta kembali memeluk Hideo, kali ini lebih erat.


"Hideo, apa kau tidak mau mengatakan sesuatu? Aku hampir menembakmu dan Tahta terus merengek agar aku tidak menyakitimu, tapi kau malah diam saja."


"Melihat reaksimu----aku jadi bingung dari mana aku harus memulainya." Perlahan otot yang menegang mulai mengendur. Hideo memang harus menjelaskan sesuatu sebelum salah paham ini berlanjut.


Leony diam dan mendengarkan.


"Baiklah----aku memang digigit. Aku nyaris mati, tapi seperti yang kau lihat sekarang aku masih hidup. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku bermaksud untuk bertanya, karena kau yang paling mengerti tentang ini," lanjutnya. Hideo terdiam sejenak. Pria itu melihat para militer masih tegak berdiri seperti patung-patung prajurit. "Jadi---- bisakah kau membantuku untuk menjelaskan kepada mereka agar mereka menurunkan senjatanya?"


Hideo merujuk pada para militer yang bertugas untuk menjaga Atlantis. Sejak dia datang hingga saat ini, mereka tidak mau beranjak seincipun dari sekeliling Hideo. Mereka berkumpul dan memblokir jalan agar Hideo tidak bisa masuk ke Atlantis. Senjata-senjata mereka teracung tepat mengarah ke wajah Hideo. Hanya tinggal sedikit lagi, maka peluru akan keluar dari moncongnya.


"Tolong turunkan senjata kalian!" perintah Leony.


"Ini prosedur kami demi keamanan tempat ini. Komandan Hideo mungkin saja akan berubah."


"Aku bisa menjamin komandan akan diawasi dan ditangani langsung olehku."


Seorang petugas medis pria berpakaian putih-putih datang mendekati Leony. Dia memberikan sebuah gawai dan Leony langsung menerimanya. Setelah dicek, ternyata Dorry telah mengirim laporan. Data yang baru masuk ini akan bisa membebaskan Hideo dari tuduhan.


"Aku telah menerima laporan. Data terbaru yang dikirim oleh robot kamera Dorry menyatakan bahwa Komandan Hideo masih manusia. Jika kau tidak percaya, lihatlah ini!"  Leony menunjukkan gawai yang dipegangnya kepada pemimpin pasukan keamanan, sehingga Hideo diperbolehkan masuk.


****


Hideo mengikuti Leony menuju ruang pemeriksaan. Karena Tahta tidak mau ditinggal, akhirnya Hideo membawanya serta. Hideo membiarkan Tahta duduk manis di atas pangkuannya selagi dia diperiksa. Tampaknya Leony pun tidak keberatan karena Tahta bukan hanya tenang tetapi malah tertidur.


"Diam-diam dia sangat perduli padamu, Hideo," kata Leony membuka percakapan. Tangannya dengan lihai dan penuh kehati-hatian mengambil sampel darah Hideo. "Sejak tadi Tahta gelisah. Dia terus-menerus menanyakan dirimu. Aku bisa menyadari, perlahan-lahan dalam diri Tahta mulai tumbuh perasaan manusiawi," lanjutnya.


"Ah, mungkin kau benar. Aku senang sekali kalau Tahta perduli padaku," ujar Hideo dengan diselipi kekehan.


Leony memutar bola matanya. "Ya. Tentu saja kau senang, karena itu yang kau harapkan. Lalu----apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak melihat tanda-tanda adanya virus zombie di dalam darahmu."


Leony menggunakan mikroskop untuk melihat dengan lebih teliti sampel darah milik Hideo. Hasilnya, nihil virus zombie. Namun dia heran, karena yang terlihat di darah Hideo justru virus jenis lain. Anehnya virus itu belum teridentifikasi dan tampak jinak.


"Apa kau yakin telah digigit?" tanya Leony tidak percaya.


"Aku yakin aku digigit, karena aku mengeluarkan darah dari sini. Kau bisa lihat ada bekas luka gigitan di tanganku." Hideo mengembuskan napas lelah dan mengangkat salah satu tangannya untuk menunjukkan luka. Di antara hidup dan mati, dia tau apa yang baru saja dialaminya dengan sangat jelas.


Ketika mereka sedang mencoba memecahkan masalah, seseorang datang dengan mendobrak pintu.


DUAGH


"Hideo!"

__ADS_1


****


__ADS_2