
satu minggupun telah berlalu selama ini ghatan kerja dari rumah supaya bisa memastikan dan menjaga istri dan anaknya sendiri.
hari ini seperti biasa tia tak melakukan apapun dirumah kecuali merawat anaknya dan menemani suaminya bekerja.
"halo sep ada apa?"tanya tia menjawab panggilan dari septy sahabatnya.
"huhuhu...tia aku sedih banget"ucap tia mengadu.
"sedih kenapa?kok lu nangis?"tanya tia khawatir.
"pacar gue putusin gue huhu..."adu septy sambil menangis.
"lo sekarang ada dimana?jangan aneh aneh ya"ucap tia yang tahu betul sifat sahabatnya itu ketika sedih pasti pergi sedirian dan melamun.
"dimall gue baru aja diputusin trus ditinggal gitu aja huhu..."ucap septi tetap menangis.
"lo kirim lokasi sekarang,gue bakal susul lu"ucap tia khawatir septy berbuat nekad.
setelah mengakhiri panggilan dan mendapat alamat septy,tia pun beranjak dari kamar ghibran lalu pergi keruang kerja suaminya.
sesampainya didepan ruangan ghatan tia pun masuk dengan cepat.
ghatan yang sedang fokus pada pekerjaannya pun kaget dengan kehadiran istrinya yang tiba tiba.
__ADS_1
"sayang kenapa kok kamu buru buru gitu?"tanya ghatan pada sang istri.
"sayang aku mau ijin pergi sebentar boleh ya"ucap tia meminta izin.
"mau pergi kemana sayang?terus nanti siapa yang jagain ghibran?"tanya ghatan.
"septy habis diputusin pacarnya sekarang dia lagi ada dimall dan aku tahu banget pasti septy mau berbuat nekat kalau gak ada orang didekatnya trus soal ghibran aku bakal bawa dia aku cuma sebentar kok"jawab tia cepat.
"gak sayang kalau kamu bawa ghibran bahaya sayang diakan masih kecil,kamu mau ghibran kenapa napa"ucap ghatan tegas.
"ya trus akunya harus gimana dong?"tanya tia dengan wajah memelasnya.
"kamu gak usah pergi ya sayang,kamu emang gak kasian sama ghibran nantinya?"tanya ghatan sambil membujuk sang istri supaya tetao berada dirumah.
"sayang tapikan...."ucapan ghatan terhenti karna melihat wajah tia yang murung.
"yaudah sayang kamu boleh pergi tapi janji ya cuma sebentar aja dan juga ghibran jangan dibawa biar aku yang jagain dia dirumah"ucap ghatan memberi izin karna tak tega melihat sang istri sedih.
"makasih sayang tapi kamu yakin bisa jagain ghibran?"tanya tia ragu ghatan bisa menjaga anaknya.
"bisa sayang kan ada bimo farel juga mereka bisa kok bantuin aku"ucap ghatan yakin.
"yaudah aku percaya sama kamu,ghibran nanti kamu pindahin kekamar kita aja biar kamu bisa jagain ghatan dengan leluasa,asinya ghibran ada dikulkas nanti kalau dia mau minum kamu hangatin dulu susunya dan kalau asinya masih kurang atau ghibran masih nangis kamu kasih aja susu formula,susunya ada didapur kamu tahukan cara buatnya?"tanya tia sambil menberitahu apa saja keperluan ghibran nantinya.
__ADS_1
"tahu kok sayang aku bakal jagain ghatan kamu tenang aja,kamu jangan lama lama ya perginya,aku udah suruh supir buat anterin kamu"jawab ghatan walau pun dia sebenarnya tidak terlalu memperhatikan ucapan tia.
"hmm oh iyo nanti popok ghibran ada dilemari dan satu lagi tolong mandiin ghibran trus............"ucap tia memberitahu sang suami dan dijawa anggukan oleh ghatan yang sebenarnya tidak paham.
"yaudah aku pergi dulu sayang titip ghibran ya"pamit tia sambil mencium pipi sang suami lalu pergi beranjak menuju keluar.
tia sudah dalam perjalanan menuju mall tempat septi sekarang berada,dan benar dugaannya dia disana sendirian dan melamun tak memperhatikan sekitar sedikit pun.
sementara dirumah ghatan sekarang sedang ada perang antara bos dan asistennya karna mereka binggung melihat ghibran yang tak berhenti menangis.
"tuan kita harus gimana sekarang?"tanya farel binggung karna mereka sama sekali tak mempunyai pengalaman menjaga bayi.
sebenarnya dirumah itu banyak pelayan tapi ghatan tak mau menyuruh orang lain untuk mengurus sang putra.
"ghibran pasti haus bentar saya ambil asinya dulu kalian jagain anak saya"ucap ghatan sambil beranjak.
ghatan membuat kehancuran didapur hanya karna ingin memanasi asi.
"biar saya saja tuan"ucap salah satu pelayan menawarkan bantuan.
ghatan tak mau ambil pusing dia memberikan asi itu pada pelayan.
setelah selesai dia kembali kekamar lalu memberikan asi itu pada anaknya,ghibran pun kembali terdiam,mereka bertiga akhirnya merasa lega karna ghibran sudah berhenti menangis dan kembali tertidur dengan pulasnya.
__ADS_1