Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XIV


__ADS_3

Setelah mendiskusikan masalah ini dengan teman temannya, Rafael segera menuju kamar Delia. Wanita itu terlihat sedang duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututnya, Delia masih saja terisak disana. Rafael segera melangkahkan kakinya mendekati Delia.


"Delia..." panggil Rafael lembut.


Delia mendongakkan kepalanya.


"Ya Tuhan... jika kau seperti ini, bisa bisa sakit sayang," imbuh Rafael.


"Bagaimana keadaan ayah ibu sekarang? Apa mereka akan baik baik saja?" tanya Delia kembali terisak.


Rafael duduk di samping ranjangnya lalu menarik Delia ke dalam pelukannya.


"Mereka pasti baik baik saja Del. Aku janji akan membawa mereka kembali dengan selamat. Aku dengan teman temanku sudah membicarakan ini, kami semua akan segera mencari keberadaan mereka. Pihak kepolisian dan juga detektif yang aku kenal sudah bergerak juga. Jadi aku mohon tenangkan dirimu," pinta Rafael.


"Aku hanya takut, aku takut kehilangan mereka."


"Ssstttt... itu tidak akan pernah terjadi. Aku yang membawa mereka kemari, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Aku akan menemukan mereka tanpa kekurangan apapun. Tapi bagaimana aku bisa mencari mereka dengan tenang, jika kau terus seperti ini. Aku nanti tidak bisa fokus jika terus memikirkan keadaanmu."


Delia segera menghentikan tangisannya, ia melepaskan pelukan Rafael.


"Aku janji akan tenang, aku janji tidak akan mengganggumu. Tolong temukan ayah ibu, tolong bawa mereka pulang."


Rafael menganggukkan kepalanya seraya mengecup kening Delia.


"Aku janji. Aku akan mencari mereka sekarang juga. Selama aku tidak ada disini, kau harus istirahat dengan baik, makan yang banyak, dan jangan menangis lagi. Aku akan mengabarimu setiap kali ada informasi tentang keberadaan mereka. Kau harus melakukan itu jika ingin aku membawa mereka kembali."


Delia menganggukkan kepalanya. Rafael pun membantu istrinya membaringkan tubuhnya ke ranjang. Pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Delia.


"Aku pergi sekarang," ucap Rafael.


Delia menggenggam tangan Rafael, "kau, ayah dan ibu harus kembali dengan selamat."


Rafael pun menganggukkan kepalanya seraya meninggalkan Delia.


*****


Di sebuah gudang tua, Bethran Markes dan Katrina Dowell menyekap keluarga Laros. Derry dan Emili dibuat pingsan, ponsel mereka pun disita.


Beberapa menit kemudian, Derry tersadar lebih dulu dari istrinya. Ia menyadari bahwa ada yang tidak beres saat tahu kaki dan tangannya terikat, ia menggeser tubuhnya mendekati istrinya dan berusaha membangunkan wanita itu.


"Sayang... Emili... bangunlah... kita disekap," bisik Derry Laros.

__ADS_1


Emili mengerjapkan matanya, ia pun akhirnya tersadar. Wanita itu terkejut saat melihat sekitar gudang yang gelap itu.


"Kita dimana, suamiku?" tanya Emili.


"Aku tak tahu Emili. Ya Tuhan... Mengapa kita percaya saja pada pria yang menjemput kita?" ujar Derry menyesal.


Emili mulai ketakutan, "apa ini seperti di berita berita televisi, kita akan dibunuh dan diambil organ dalamnya," ucapnya seraya terisak.


"Ssstttt... tenanglah sayang. Aku yakin Delia dan Rafael sudah menyadari kita menghilang. Mereka pasti akan menyelamatkan kita. Untuk itu kita harus tetap tenang agar para penculik ini tidak membunuh kita," ujar Derry menenangkan istrinya.


Emili menghentikan tangisannya seraya menganggukkan kepalanya.


Terdengar suara pintu gudang terbuka, seseorang melangkahkan kakinya masuk mendekati Derry dan Emili.


"Kalian sudah sadar rupanya," kata Katrina, "aku benar benar penasaran melihat wajah wanita murahan itu kehilangan orang tuanya," imbuhnya.


"Siapa kau? Dan apa maksudmu?" tanya Derry.


"Ya ampun tuan Laros, kau begitu percaya pada putrimu. Apa kau tahu, Delia adalah seorang pelakor? Ia merebut tunanganku dan menikahinya. Wanita sialan, gara gara putrimu itu, aku dipermalukan. Semua menghinaku dan menyebutku tunangan yang terbuang. Kalian pikir saja, bagaimana perasaanku saat ini," imbuhnya.


Derry dan Emili terbelalak.


"Berani beraninya kau menghina putriku. Delia anak kami yang sangat baik," bentak Emili.


"Anak kami tidak mungkin seperti itu, jika banyak yang tertarik padanya itu karena putri kami memang cantik. Lepaskan kami, mengapa kau mengikat dan menyekap kami disini, apa tujuanmu?" bentak Derry.


Tiba tiba terdengar suara tawa seorang pria, pria itu pun mendekati mereka.


"Kau membuat calon mertuaku marah Kate," ujar Bethran, "aku seharusnya tidak melakukan ini kepada calon mertuaku, tapi tidak ada cara lain lagi. Aku melakukan ini untuk mendapatkan Delia. Kalian tenang saja, kami hanya menjadikan kalian sebagai alat pertukaran," imbuhnya.


"Siapa lagi kau?" tanya Derry.


"Aku Bethran Markes om, pria yang paling mencintai putri anda," jawab Bethran.


"Ciiihhh... pria yang mencintai putriku justru menculik orangtuanya, apa kau sudah gila? Pria pengecut sepertimu tidak pantas untuk putriku," ejek Derry seraya tertawa.


Bethran terbelalak, "sialan... aku bukan pengecut, sepertinya lidahmu memang harus ku potong agar diam. Tapi sepertinya aku tidak bisa melakukan itu, bagaimanapun kau adalah ayah dari wanita yang aku cintai."


"Sampai mati pun, kami tidak sudi menjadi mertuamu. Mana ada pria menginginkan wanita dengan cara seperti ini. Kalian benar benar pengecut," ucap Emili.


"Ckckck... sepertinya kalian sudah bosan hidup. Apa kalian tidak ingin bertemu dengan putri kalian lagi? Jika memang seperti itu, aku sangat mudah mengabulkannya," ancam Katrina.

__ADS_1


"Kalian lihat gudang ini, gudang ini sangat jauh dari pemukiman warga, aku sangat mudah membakarnya tanpa ada yang tahu. Pilihan ada di tangan kalian, kalian ingin mati atau membantu rencana kami," sahut Bethran.


"Kami tidak takut ancaman kalian. Apa kalian pikir, kematian kami bisa membuat kalian bebas? Kalian justru akan membusuk di dalam penjara," ujar Derry.


Bethran menodongkan pisau pada Derry, membuat Emili berteriak.


"Kalian benar benar menguji kesabaranku, bukan hanya kalian yang akan mati. Aku juga akan membunuh Rafael dan Delia jika kami tidak bisa mendapatkan mereka, apa ini yang kalian inginkan?" ancam Bethran.


"Jangan pernah menyentuh putri dan menantuku," bentak Derry, "kalian akan menyesal berurusan dengan keluarga Widjaja," imbuhnya.


"Kalian akan merasakan akibat perbuatan kalian, ini adalah tindakan kriminal. Menantu kami akan memberi pelajaran buat kalian berdua," sahut Emili.


Katrina melepaskan tawanya, "kalian pikir hanya keluarga Widjaja yang berpengaruh? keluargaku pun memiliki koneksi pemerintahan dan kepolisian, jadi tidak semudah itu menangkap kami. Pikirkanlah dengan matang apa pilihan kalian. Jika kalian menyetujui rencana kami. Besok kita akan menghubungi mereka. Kami juga tidak ingin berlama lama mengurus orang tua bawel seperti kalian."


Bethran melemparkan makanan pada mereka.


"Kalian makanlah, kalian harus tetap hidup sampai besok. Aku tak mau melihat mayat kalian sebelum aku mendapatkan Delia," ujar Bethran.


Bethran dan Katrina meninggalkan gudang dan kembali menguncinya. Emili melepaskan tangisannya, sedangkan Derry begitu marah sambil berusaha menenangkan istrinya.


*****


Tyar berhasil mendapatkan informasi tentang pria yang membawa orang tua Delia. Pria itu memang biasa mendapat bayaran untuk melakukan kejahatan, pria itu adalah preman pasar tanah abang.


Rafael meminta bantuan detektif yang kemarin untuk mencari keberadaan preman tersebut. Sedangkan pihak kepolisian juga sudah mendapatkan beberapa informasi dari cctv jalan. Rafael dan Tyar segera menuju lokasi yang diinformasikan polisi. Namun sayang, setelah polisi dan Rafael sampai di lokasi tersebut, mobil itu sudah ditinggalkan disana.


Mobil tersebut berada di lokasi yang bebas cctv. Rafael sangat frustasi, ia berkali-kali memukul mobil tersebut membuat Tyar berusaha menenangkannya.


"Tenanglah Raf, ini petunjuk yang bagus untuk kita. Mereka pasti tidak jauh dari daerah sini," ujar Tyar.


"Aku tidak bisa tenang, aku memikirkan Delia. Ia pasti akan sedih saat tahu kita belum bisa menemukan orang tuanya," jawab Rafael.


"Aku tahu, tapi kita akan terus mencari keberadaan mereka Raf. Jika kau pun tidak tenang, kita pasti kesulitan mendapatkan informasi lagi."


Rafael menghela nafasnya, "aku akan menghubungi Delia."


Tyar menganggukkan kepalanya.


Rafael menjauhi Tyar seraya menghubungi istrinya. Pria itu berusaha menenangkan Delia lewat teleponnya. Setelah selesai, Rafael kembali mengajak Tyar untuk menelusuri jalanan sekitar lokasi tersebut.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2