Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXXIV


__ADS_3

Helena bersimpuh di kaki suaminya sambil menangis setelah Rafael dan Delia meninggalkan mereka, wanita itu mulai mengatakan semua tentang tujuannya mau menikahi Hartanto. Bahkan ia juga mengakui perbuatannya selama ini yang terus terusan menguras harta Hartanto untuk mengembalikan kejayaan orang tuanya.


Tangisannya semakin keras saat menjelaskan semua pada suaminya. Ia terus-menerus meminta maaf, meminta pengampunan pada Hartanto atas perbuatannya selama ini.


"Aku sudah tahu semuanya Helena, dan aku selalu memaafkanmu," ujar Hartanto membuat Helena terkejut.


"Kau sudah tahu semuanya, apa maksudmu?" tanya Helena.


Hartanto menarik nafasnya dalam-dalam, "kau pikir aku tak tahu siapa kau Helena. Aku merasa bersalah atas perbuatanku kepada keluargamu di masa lalu. Saat itu, istriku memintaku menebus segala dosaku dan menyuruhku menikahimu. Istriku yang sangat aku cintai malah membuatku tak berdaya dengan permintaannya."


Helena membelalakkan matanya, "jadi selama ini kau tahu siapa aku, itu tidak mungkin. Kau membiarkan aku masuk ke dalam keluargamu sudah direncanakan sejak awal? Jadi semua ini..."


"Benar Helena," potong Hartanto, "itulah yang sebenarnya. Aku menikahimu karena ingin membuatmu bahagia dan bertanggung jawab atas anakmu yang ditinggalkan ayahnya karena ulahku. Aku juga selama ini mengetahui seberapa banyak kau memindahkan uangku ke rekening palsumu. Aku tahu segala perbuatan kalian selama ini. Aku diam, itu karena aku merasa hartaku memang milikmu," imbuhnya.


Helena menggelengkan kepalanya, ia masih tak bisa mempercayai semuanya. Wanita itu menatap Hartanto penuh tanya.


"Inilah rahasia terbesar yang selama ini aku pendam Helena. Aku menikahimu karena suruhan istriku, ibu Rafael adalah wanita yang sangat baik. Ia tak ingin keluarga Widjaja hidup di dalam karma keluargamu."


Helena kembali melepaskan tangisannya, "mengapa kau membiarkan aku menjadi istri yang jahat? Mengapa kau tidak mengatakannya dari awal?"


Hartanto menghela nafasnya, "pesan istriku adalah merahasiakan semua ini dari kalian, ia ingin aku menerimamu, ia ingin aku menerima apapun yang kau lakukan untuk menebus dosaku, pesan itu tak mungkin aku ingkari Helena. Hartaku sebagian memang milikmu," jawabnya.


Helena memeluk Hartanto, "aku menyesali perbuatanku, aku tak tahu kapan perasaanku muncul, tapi aku benar benar mencintaimu. Dan aku ingin menua bersamamu. Jangan suruh aku menceraikanmu Hartanto, aku takkan sanggup hidup tanpamu. Aku tak perduli lagi tentang harta itu, aku hanya ingin bersamamu selamanya," ujarnya sambil menangis.


Hartanto membalas pelukan istrinya, pria itupun menangis, "aku sudah tahu perasaanmu, aku tahu semua yang kau lakukan padaku bukanlah perbuatan yang palsu. Aku takkan menceraikanmu Helena, sudah lebih dari sepuluh tahun kau menemaniku. Aku juga ingin kau menua bersamaku," jawabnya.


"Maafkan aku dan terima kasih suamiku, aku janji tidak akan pernah melakukan kebodohan ini lagi, kita akan memulainya dari awal di sisa usia kita," ujar Helena.


Hartanto melepaskan pelukannya seraya menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan Rafael?" tanya Helena.


"Kau tak perlu khawatir, putraku itu sangat dewasa, ia menyerahkan semua keputusan ini di tanganku. Aku sangat bangga padanya. Dan satu hal lagi jika kau menyetujuinya, lebih baik kita kirim Firdaus ke Amerika agar ia bisa belajar di Harvard tentang bisnis. Putramu sekarang putraku juga, aku ingin ia kelak bisa bekerja sama dengan Rafael. Itu lebih baik dari pada Rafael menyerahkannya ke kantor polisi," kata Hartanto.


Helena terkejut mendengar keputusan suaminya, ia tak menyangka Hartanto dan Rafael akan mengampuni Firdaus juga.


"Tentu saja aku setuju, kalian bukan hanya memaafkannya, tapi kalian juga memberikan keputusan yang terbaik untuk masa depannya. Perbuatan Firdaus sebenarnya karena perintahku, ia tidak bersalah dalam masalah ini. Sekarang waktunya ia mandiri dengan melanjutkan pendidikannya di luar negri. Ia harus tahu seberapa pentingnya mengetahui tentang bisnis. Akulah yang salah mendidik putraku, sejak aku masuk dalam rumahmu, aku yang menanamkan kebencian padanya," ujar Helena kembali sedih.


Hartanto menggenggam tangan istrinya, ia mencoba menenangkan wanita itu, "kita belum terlambat Helena, aku yakin Firdaus masih bisa berubah menjadi anak yang baik. Ada satu hal lagi yang harus kita lakukan untuk Rafael dan Delia," ujarnya.


"Untuk Rafael dan Delia? Apa yang harus kita lakukan? Kau tidak berniat untuk membuat mereka berpisah kan? Aku bisa melihatnya, sepertinya wanita itu pantas untuk Rafael. Delia adalah wanita yang baik dan memiliki sopan santun, ia juga yang merawatmu saat aku tidak diizinkan menemuimu. Jangan memisahkan mereka suamiku," pinta Helena.

__ADS_1


Hartanto tersenyum, "apa yang kau pikirkan istriku? Aku sudah merestui mereka, aku ingin menebus kesalahanku karena tidak menghadiri pernikahan mereka. Aku ingin kau menyiapkan pesta pernikahan semegah mungkin untuk keduanya. Mereka belum melakukan acara resepsi, pernikahan keduanya terlalu sederhana untuk keluarga Widjaja," jawab Hartanto.


Helena akhirnya bernafas lega, wanita itu tersenyum lebar pada suaminya.


"Kau yakin menyerahkan semua ini padaku? Apa kau tidak takut aku memiliki rencana jahat setelah semua yang telah aku lakukan?" tanya Helena.


"Aku sangat percaya padamu, kau bukanlah wanita yang jahat, pernyataan cintamu sudah bisa meyakinkan perasaanku sayang. Aku tahu kau sebenarnya sangat menyayangi Rafael seperti putramu sendiri. Dan rumah besar Widjaja selama ini kau rawat dengan baik tanpa mengubah peninggalan istriku terdahulu. Aku yakin kau bisa melakukannya," jawab Hartanto.


"Kau benar suamiku, Rafael selalu membuatku bangga. Walaupun aku pernah ingin memiliki harta Widjaja, tapi aku tak pernah memiliki niat untuk menyingkirkan Rafael. Aku ingin Rafael sekali saja memanggilku dengan sebutan ibu, walaupun sepertinya itu tidak mungkin. Tapi aku tetap bahagia bisa melihatnya tumbuh tampan dan cerdas seperti sekarang ini. Aku benar benar ingin menjadi bagian dari keluarga Widjaja yang utuh," ujar Helena.


"Bersabarlah menghadapi sikap keras Rafael. Aku yakin suatu saat ia akan memanggilmu ibu."


Helena kembali memeluk suaminya. Ia berharap ini adalah awal kebahagiaan untuk mereka.


*****


Rafael dan Delia sampai di parkiran apartemen.


"Kau masuklah ke apartemen duluan, aku akan membawa koper koper ini," ucap Rafael.


Delia menggeleng, "kau membawa empat koper, itu tidak mungkin Raf. Biar aku membantumu," jawabnya.


Delia menghela nafasnya, namun ia tidak takut lagi ancaman suaminya. Wanita itu mendekati Rafael dan mengambil dua kopernya.


"Kau menantangku nyonya," ucap Rafael.


Delia menatap Rafael dengan tajam, "kau lah yang keras kepala Raf, ayo jalan..."


Rafael menghela nafasnya. Ia benar benar akan tunduk pada istrinya yang keras. Entah kenapa ia justru takut pada tatapan tajam Delia.


"Baiklah nyonya... aku bukan kalah tapi mengalah," jawab Rafael.


Delia terkekeh geli, keduanya pun akhirnya melangkahkan kaki mereka menuju apartemen. Sesampainya di dalam apartemen itu, Delia pun langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Bersihkan dirimu lalu tidur jika lelah sayang," ujar Rafael.


"Aku ingin merebahkan kepalaku di pundakmu, bolehkah?" tanya Delia.


"Pertanyaan bodoh apa itu sayang," ucap Rafael seraya duduk di samping Delia.


Seketika Delia pun merebahkan kepalanya ke pundak Rafael.

__ADS_1


"Biarkan aku memejamkan mataku sejenak," ujar Delia.


Rafael menci um puncak kepala Delia, "seharusnya kau berbaring saja di ranjang, aku tahu hari ini sangat melelahkan. Besok kau harus kuliah dan aku pun harus kembali bekerja," ujarnya.


Delia mengangkat kepalanya lalu menatap suaminya.


"Baiklah, ayo kita tidur saja di ranjang," ajak Delia.


"Jangan menggodaku di saat lelah seperti ini sayang. Aku takkan menanggung konsekuensinya jika aku terpancing," goda Rafael.


Delia terbelalak, "kapan aku menggodamu. Aku hanya mengajakmu tidur?" jawab Delia.


Rafael terkekeh, "oke baiklah, kau hanya mengajakku tidur. Ayo..." ajaknya.


Delia menautkan kedua alisnya, pasti yang dipikirkan Rafael mesum lagi. Keduanya pun akhirnya masuk ke dalam kamar mereka. Delia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri seraya mengganti pakaiannya.


"Kau mau mandi?" tanya Delia.


Rafael menganggukkan kepalanya, "ikutlah denganku."


"Aku sudah selesai."


"Tapi aku baru mau, jika ada kau, aku tidak perlu menyalakan air hangat. Air itu justru akan menjadi sangat panas," goda Rafael.


Wajah Delia merona merah, "berhentilah menggodaku Raf, sudah sana mandi."


Rafael melepaskan tawanya seraya beranjak ke kamar mandi. Pria itu menghentikan langkahnya saat sampai di pintu lalu melihat istrinya lagi.


"Delia..." panggil Rafael.


"Ada apalagi Raf?" tanya Delia.


"Kau yakin tidak ingin ikut?" goda Rafael lagi.


"Ya Tuhan... tuan mesum..." jawab Delia seraya melemparkan bantalnya pada Rafael.


Rafael kembali tertawa, ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2