Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXVI


__ADS_3

Delia menyelesaikan mandinya, ia memakai pakaian tidur yang dibeli suaminya dan terkejut karena pria itu membelikan pakaian tidur yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Namun Delia tetap memakainya karena tak ada baju ganti lagi.


"Aku seperti orang orangan sawah," gumam Delia sambil terkekeh sendiri saat melihat dirinya di cermin.


Rafael membelikan pakaian tidur panjang namun ukurannya melebihi tubuh Delia. Delia menggulung lengan baju dan celananya. Ia pun keluar dari kamar untuk menghampiri Rafael.


Rafael yang sedang menyesap tehnya seketika menyemburkannya saat melihat Delia keluar dari kamarnya, pria itu tertawa terbahak bahak.


Dengan kesal Delia melemparkan bantal sofa pada Rafael.


"Menyebalkan sekali... Kau malah mengejekku," gerutu Delia, "kau yang membelikannya. Kau juga yang tertawa melihatnya, kau beli dengan ukuran wanita mana? Apa kau tidak tahu tubuh istrimu sendiri?" imbuhnya.


Rafael menghentikan tawanya, "maaf sayang, aku hanya membelinya asal saat menuju kemari. Aku belum pernah melihatmu tanpa pakaian, jadi bagaimana aku bisa tahu ukuran tubuhmu?" godanya.


Wajah Delia merah padam karena malu, "berhentilah menggodaku Raf."


"Oke... oke... Sorry my honey," ujar Rafael.


Pria itu menarik Delia kembali, lalu membantu wanita itu merapikan baju tidurnya.


"Tapi baju ini lebih baik dari pada kau terlihat sexy sayang. Nah, ini sudah lebih baik. Ayo... kita makan sekarang. Makanannya pasti sudah dingin, tapi aku sudah sangat lapar," ajak Rafael.


Delia menganggukkan kepalanya, keduanya pun menuju ruang makan. Mereka menikmati makan malamnya yang terlambat, namun Rafael terus saja menatap wajah Delia.


"What do you see?" tanya Delia.


"My Wife... She is beautiful without make up," jawab Rafael.


"You're teasing," ucap Delia.


"No... I'm serious honey," balas Rafael.


"Oke thanks," jawab Delia acuh.


Rafael hanya tersenyum dengan tanggapan itu. Mereka melanjutkan makan malamnya bersama. Setelah keduanya selesai, Rafael mengajak Delia ke ruang santai.


"Apa kau mau menonton film? atau ingin langsung tidur?" tanya Rafael.


"Aku baru makan, mana mungkin langsung tidur. Nonton film boleh juga, kau punya film apa?" ujar Delia.


"Kau carilah di laci lemari. Ada banyak DVD film disana," jawab Rafael.


Delia menuju lemari dan mencari DVD di lacinya, "iiissss... ini semua film romantis. Pantas saja pikiranmu sangat kotor," ejek Delia.


Rafael tertawa mendengar ucapan istrinya, "lalu film apa yang kau cari sayang?" tanya Rafael.


"Horor... aku suka film seperti itu," jawab Delia.


Rafael terkejut, "pantas saja tidak mau tidur sendiri disini. Kau sudah ketakutan sendiri karena keseringan nonton yang horor," ujarnya.

__ADS_1


"Itu beda lagi ceritanya. Apartemenmu ini memang menakutkan," bantah Delia.


"Perhatikan apartemenku lagi, menakutkan dari mananya?"


Delia melihat isi apartemen Rafael, tentu saja apartemen mewah itu tidak menakutkan sama sekali. Rafael beranjak dari tempat duduknya seraya mendekati Delia. Pria itu mengambil DVD film horor yang Delia minta.


"Ini yang kau minta sayang," kata Rafael seraya memberikan DVD itu kepada istrinya, "aku ingin melanjutkan pekerjaanku, jadi kau harus tenang saat menontonnya. Jika kau berteriak, aku akan menghukummu sayang," ancamnya.


"Iya aku akan tenang. Tapi kau tetap disini," pinta Delia.


"Kalau takut, untuk apa kau menontonnya?"


"Aku tidak takut, hanya saja..."


Rafael terkekeh, "Baiklah, aku akan tetap di sampingmu sambil bekerja."


Delia tersenyum, ia mulai menonton film horornya. Wanita itu mulai menikmati dan serius dengan filmnya itu. Sekali sekali Delia menutup matanya saat hantu muncul di filmnya. Rafael memperhatikan istrinya yang sangat menggemaskan saat menonton film itu.


Delia tidak bersuara tapi tingkahnya benar benar lucu. Terkadang ia bersembunyi dibalik bantal sofa, terkadang ia menggigit bibirnya, yang lebih lucu saat istrinya naik diatas sofa sambil memeluk kedua lututnya. Tentu saja tingkahnya membuat Rafael sulit untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya.


Kejahilan dalam diri Rafael tiba tiba muncul. Ia ingin sekali mengerjai istrinya. Rafael pelan pelan meninggalkan Delia lalu masuk ke kamar untuk mengambil selimut putihnya. Ia keluar lagi menggunakan selimut yang menutupi sekujur tubuhnya dan mendekati Delia.


Istrinya yang sangat serius belum menyadari kejahilan Rafael. Pria itu menepuk pundak Delia dengan pelan. Seketika wanita itu menoleh ke belakang, lalu Delia pun berteriak dengan keras. Delia histeris dan memukulkan bantal sofanya pada Rafael.


Rafael tertawa terbahak bahak karena berhasil menakuti istrinya. Tapi itu adalah kesalahan terbesar Rafael, istrinya menangis dan berlari masuk ke kamar meninggalkan Rafael. Wanita itu bahkan mengunci pintu kamarnya.


Rafael menyesal atas perbuatannya, pria itu segera mengejar istrinya.


Pintu itu tetap terkunci, Rafael bingung harus bagaimana, ia pun kembali usil agar istrinya membuka pintunya.


"Delia, jika kau tidak membuka pintunya, mungkin saja hantu yang nyata ada di dalam," ujar Rafael.


"Tidak lucu... Kau membuatku jantungan... Kalau aku mati bagaimana?" teriak Delia sambil melemparkan bantalnya ke arah pintu.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, aku minta maaf sayang, please open the door," pinta Rafael, "baiklah, jika kau tak mau membukanya. Tapi apa kau yakin bisa tidur sendiri di kamar itu?" goda Rafael lagi.


"Rafaeeeellll...!!!" teriak Delia semakin marah.


Rafael terkekeh, "Oke... aku menyerah sayang. Jika sudah tidak marah, tolong buka pintunya. Aku tidak mau kedinginan di luar. Apartemen ini benar benar dingin sayang."


"Aku tidak perduli. Nikmati saja udara dingin itu," jawab Delia.


Rafael menghela nafasnya, ia menyerah dan kembali ke tempat duduknya lagi. Pria itu membuka laptopnya dan meneruskan pekerjaannya. Ia sekali sekali menatap pintu kamar berharap Delia membuka pintunya. Namun tidak ada tanda tanda itu.


Rafael kembali menghela nafas panjang, ini pertama kalinya ia bersikap kekanak-kanakan di depan orang lain. Sikapnya yang terkenal arogan itu sama sekali tidak berlaku di depan istrinya sendiri.


Sementara Delia terus saja gelisah di atas ranjangnya. Ia tahu Rafael hanya bercanda, tidak seharusnya ia marah sampai seperti tadi. Wanita itu melihat kamarnya yang sangat sepi, tubuhnya tiba-tiba bergidik. Ia pun tak ingin tidur sendirian di dalam kamar, ia turun dari ranjang dan membuka pintunya pelan pelan. Ia melihat Rafael masih sibuk dengan laptopnya.


"Rafael..." panggil Delia pelan.

__ADS_1


Rafael mendongak dan bernafas lega saat melihat istrinya. Pria itu segera menutup laptopnya dan menghampiri istrinya.


"Kau sudah tidak marah padaku?" tanya Rafael.


Delia menggelengkan kepalanya.


Rafael memeluk Delia, "aku yang keterlaluan tadi. Maaf sayang... aku tidak biasanya bersikap kekanak-kanakan. Aku hanya terlalu bahagia karena kau berada disini, menemaniku malam ini."


Delia tersenyum, "aku baru melihat sisi lain dari pria sepertimu. Aku hanya tahu kau pria mesum, narsis, arogan dan suka memerintah," ejeknya.


Rafael membelalakkan matanya, "heiii...!!! dimana sisi baikku? Mengapa semuanya keburukan?"


Delia melepaskan tawanya, "aku akan berpikir dulu untuk mencari sisi baikmu," ejeknya.


Rafael melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya, "apa aku benar-benar tidak ada baiknya di matamu?


"Ya Tuhan... Aku hanya bercanda Raf. Kau sangat baik dan bertanggung jawab. Kau membantuku untuk menyelamatkan orang tuaku. Kau sangat perhatian, kau pria terbaik saat ini yang aku miliki," ucap Delia kembali tertawa.


Rafael menatap wajah Delia, "aku tak tahu wanita cantik akan semakin cantik ketika tertawa," godanya.


"Kau malah melihat hal lain. Aku sedang berbicara serius," ucap Delia.


"Aku serius sayang. Aku mendengarmu namun aku tak bisa konsentrasi karena tawamu yang membuatmu terlihat semakin cantik," jawab Rafael.


"Benarkah? Sepertinya pria sepertimu memang sangat hobi gombal?" ejek Delia.


"Kau sangat salah, walaupun aku tampan tapi aku bukan pria penggombal," kata Rafael percaya diri.


"Ciiiih... kau mulai narsis lagi," ujar Delia.


Rafael menariknya lebih dekat, keduanya saling bertatapan. Malam ini Rafael ingin sekali menembus batas yang ada.


"Delia..." ucap Rafael lembut.


"Iya Rafael," jawab Delia.


Rafael menarik tengkuk leher istrinya, lalu ia pun langsung ******* bibir wanita itu. Cukup lama keduanya saling memanggut hingga nyaris kehabisan nafas mereka.


"Sayang..." ucap Rafael.


"Katakan Raf..."


Rafael menggigit bibirnya sendiri, bagaimana ia bisa mengatakan perasaannya lagi. Sangat memalukan baginya, namun ia ingin sekali Delia melepaskan batasan itu. Rafael kembali memeluk Delia.


"Delia... aku... aku mencintaimu..." ucap Rafael.


Delia memeluknya dengan erat, "aku juga mencintaimu Raf," balasnya.


*****

__ADS_1


Akankah mereka melakukan hubungan suami istri yang sebenarnya?


Happy Reading All...


__ADS_2