Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XLI


__ADS_3

Selama satu minggu, Rafael terus berusaha mengembalikan kondisi perusahaan. Walaupun aset yang ada di Jepang sudah kembali ke tangannya, namun ia masih harus menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Firdaus sebelumnya. Rafael juga sedang berusaha bernegosiasi dengan pemerintah Jepang untuk penjualan lahan tersebut.


Sedangkan Delia yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya, selalu sibuk di dapur apartemennya. Wanita itu terus belajar memasak agar bisa menyajikan makanan yang berbeda setiap harinya untuk Rafael. Terkadang Delia juga menghubungi Emili untuk mengajarinya memasak.


Delia juga sering mengunjungi perusahaan Rafael untuk mengantarkan makan siangnya. Dan hari ini juga, wanita itu berniat untuk mengunjungi perusahaan Rafael kembali, namun ia tidak memberitahu Rafael terlebih dahulu karena ingin memberi kejutan untuk suaminya.


Kedatangan Delia ke perusahaan sudah menjadi biasa bagi karyawan perusahaan, bahkan karyawan perusahaan sangat senang karena setelah kehadiran Delia dalam hidup atasan mereka, sikap Rafael berubah drastis. Yang sebelumnya sangat arogan dan menakutkan, kini nyaris tidak ada lagi. Bahkan CEO mereka lebih ramah saat bertemu dengan karyawannya.


Delia di sambut oleh beberapa karyawan di perusahaan saat baru sampai di sana. Wanita itu mengulas senyumnya seraya segera menuju pintu lift. Ia langsung menuju lantai 8 dimana kantor suaminya berada. Saat lift sudah sampai di lantai 8, Delia segera melangkahkan kakinya keluar. Wanita itu melihat sekretaris Rafael yang masih sibuk dengan laptopnya hingga tidak menyadari kedatangannya.


"Siang Melia," sapa Delia.


Seketika Melia terkejut, wanita itu mendongakkan kepalanya lalu berdiri.


"Maaf nyonya, aku tidak tahu jika anda datang."


"Tidak apa-apa, santai saja Mel. Ia ada kan?"


Melia menggelengkan kepalanya, "pak Rafael pergi dengan pak Jodhi untuk menemui klien di luar. Apa anda tidak memberitahu jika akan datang?"


"Aku berniat untuk memberinya kejutan, tapi sepertinya tidak tepat."


"Aku akan menghubungi pak Rafael agar segera kembali."


"Jangan... jika kau menghubunginya, bukan kejutan namanya."


"Tapi bisa saja pak Rafael makan di luar. Lalu anda..."


"Tidak apa-apa, jika aku beruntung ia pasti kembali. Aku akan menunggunya saja di ruangan."


"Baiklah nyonya, jika anda membutuhkan sesuatu, panggil saja aku."


Delia tersenyum, "terima kasih Mel," ucapnya seraya menuju ruangan suaminya.


Setelah masuk ke dalam ruangan, Delia segera menata makanan yang ia bawa di atas meja. Ia sangat berharap suaminya kembali ke perusahaan sebelum makan siang. Wanita itu dengan sabar terus menunggu kedatangan Rafael.


*****


Dua jam telah berlalu...


Delia sangat kecewa karena harapannya pupus sudah, Rafael masih juga belum kembali. Wanita itu kembali membereskan makanannya untuk membawanya pulang.


"Aku lupa jika suamiku adalah orang yang sibuk, seharusnya aku tetap menghubunginya sebelum datang kemari. Kejutan? Aku berpikir terlalu berlebihan, akulah yang justru sangat terkejut karena ia tak juga kembali," gerutu Delia.


Wanita itu segera beranjak dari sana menuju pintu ruangan, saat ia ingin keluar justru pintu tersebut terbuka lebih dulu. Rafael kembali dan terkejut saat melihat istrinya berdiri di sana.


"Delia... kau datang..." ucapnya.


"Aku sudah mau pulang, kau lanjutkan saja pekerjaanmu," jawab Delia dengan wajah yang kecewa.


Rafael menatap tangan Delia yang sedang membawa makanan. Seketika Rafael memeluk istrinya.


"Ya Tuhan... seharusnya kau menghubungiku terlebih dahulu sayang. Aku menemui klien di luar. Aku minta maaf membuatmu menungguku lama di sini. Pasti kau juga menyuruh Melia untuk tidak menghubungiku kan?"


"Aku yang salah, aku lupa jika kau orang sibuk. Aku terlalu berpikir berlebihan karena ingin memberimu kejutan."


Rafael melepaskan pelukannya, "tapi kau berhasil Delia, aku benar benar terkejut melihatmu."


"Berhentilah menghiburku, aku ingin pulang sekarang."

__ADS_1


Rafael mengambil makanan yang ada di tangan Delia, "mengapa kau terburu-buru sebelum aku menyantap makanannya nona?"


"Kau pasti sudah makan siang, jadi jangan memaksakan diri Raf. Makanan yang aku bawa juga sudah dingin."


"Siapa bilang aku sudah makan? Aku sama sekali belum makan apapun," jawab Rafael berbohong.


Tentu saja pria itu sudah makan bersama Jodhi dan kliennya. Namun untuk membuat istrinya bahagia, ia harus berpura-pura belum makan apapun.


"Kau sudah gila, bagaimana jika kau sakit? Ini sudah jam berapa kau belum makan siang?" hardik Delia.


"Mungkin karena perasaanku mengatakan kau akan datang, jadi aku memutuskan untuk tidak makan di luar."


"Tapi makanan yang aku bawa pasti sudah tidak enak di makan karena dingin."


"Makananmu sedingin es pun pasti tetap lezat," kata Rafael sambil menarik tangan Delia menuju sofa.


Rafael segera membuka makanan itu dibantu oleh Delia.


"Wow... melihatnya saja pasti ini sangat lezat. Bagaimana mungkin aku melewatkan masakan istriku," ucap Rafael membuat Delia akhirnya tersenyum.


Rafael pun mulai mencicipi makanan tersebut, "kau semakin pintar memasak sayang, ini benar benar lezat. Terima kasih karena selalu menjadi istri terbaik untukku."


Delia tersenyum semakin lebar, "aku juga belum makan," ucapnya.


"Ya Tuhan... kau menghardikku, tapi kau juga nakal," kata Rafael seraya mulai menyuapi Delia.


Keduanya pun akhirnya menyantap makanan dingin itu. Rafael terus berusaha menghabiskan makanannya walaupun sebenarnya perutnya sudah tidak muat lagi. Tapi melihat kebahagiaan Delia, membuatnya ikut bahagia. Rafael selalu ingin menjadi suami yang luar biasa untuk Delia.


*****


Dua hari kemudian...


Perjalanan menuju Jepang pun akhirnya dilaksanakan. Setelah semua masalah selesai, mereka akhirnya berangkat untuk berbulan madu selama satu bulan penuh di negara tersebut.


7 jam telah berlalu, tepat pukul 5 sore waktu Jepang, pesawat akhirnya mendarat di bandara Haneda Jepang. Rafael segera membangunkan Delia. Seketika Delia pun mengerjapkan matanya lalu menatap keluar jendela pesawat.


"Kita sudah sampai di Jepang sayang," ucap Rafael.


"Ya Tuhan... cantik sekali," ucap Delia.


"Tetap kalah cantik jika dibandingkan dengan istriku," goda Rafael.


"Gombal sekali."


"Aku serius nona, kau lebih cantik dari apapun."


Delia hanya menyeringai menanggapi ucapan suaminya. Keduanya pun keluar dari pesawat setelah pesawat tersebut berhenti di landasan bandara. Mereka segera keluar dari landasan. Saat keluar dari ruangan, terlihat seorang pria mengangkat papan nama mereka. Pria itu tak lain adalah penjaga Villa milik Rafael di Jepang yang menyambut kedatangan mereka.


"Itu Akeno penjaga Villaku," bisik Rafael.


Delia menganggukkan kepalanya, keduanya pun menghampiri Akeno.


"Irasshaimase Widjaja San," sapa Akeno. (selamat datang tuan Widjaja)


"Arigatou gozaimasu Akeno San, kanojo wa boku no tsuma desu Delia," jawab Rafael. (terima kasih tuan Akeno, ini adalah istriku Delia)


"Irasshaimase Delia San," ucap Akeno lagi. (selamat datang nyonya Delia)


"Arigatou gozaimasu," jawab Delia. (terima kasih)

__ADS_1


Karena hanya itulah yang bisa Delia katakan, mereka pun langsung di bawa menuju Villa milik Rafael yang hanya berjarak satu jam dari bandara.


Satu jam kemudian, mereka sampai di Villa tersebut. Delia terbelalak lebar saat melihat bangunan indah itu, banyak pohon bunga sakura di halamannya, namun sayang saat ini bukan musim semi, jadi pohon tersebut belum berbunga. Delia tak menyangka villa yang dikatakan Rafael sebelumnya seluas itu.


"Ada apa Delia?" tanya Rafael.


"Ini benar-benar milikmu?"


Rafael menggelengkan kepalanya, "bukan, tapi ini milik kita."


"Apa kau tidak malu menikahi wanita sepertiku?"


Rafael terbelalak, "apa maksud ucapanmu Delia?"


"Aku sepertinya tidak pantas bersanding denganmu Raf."


"Jika kau berani mengatakannya lagi, aku benar benar marah Delia. Kau lebih dari kata pantas untukku. Kau baru melihat asetku di sini, aku bahkan memiliki banyak aset di beberapa negara lain. Dan semua itu juga sudah menjadi milikmu. Jangan pernah mengatakan jika kau tidak pantas untukku. Berhentilah berpikir yang tidak-tidak," kata Rafael seraya menggenggam tangan Delia dan membawanya masuk ke dalam villa.


Para pelayan villa menyambut kedatangan mereka, setidaknya ada 7 orang di sana. Setelah Rafael menyapa mereka, pria itu segera membawa Delia menuju kamar utama mereka. Lagi lagi Delia terbelalak lebar saat melihat kamar yang indah itu.


Saat Delia masih mengagumi kamar itu, Rafael justru memeluknya dari belakang. Pria itu mencium belakang leher Delia membuatnya bergidik.


"Aku menginginkanmu sekarang sayang," ucap Rafael dengan suara parau.


Pria itu ternyata sejak tadi sudah tidak bisa menahan hasratnya, Rafael membalikkan tubuh Delia seraya mencium bibirnya. Delia pun akhirnya ikut terhanyut dalam sentuhan itu. Wanita itu mulai membuka kancing kemeja Rafael dan meraba dada kekar tersebut.


Nafas Rafael semakin memburu saat tubuhnya disentuh oleh istrinya, saat keduanya nyaris kehilangan kendali justru suara ketukan pintu kamar menghancurkan segalanya. Sontak Rafael mengumpat dengan keras membuat Delia tertawa.


"Bukalah pintunya," kata Delia.


Rafael kembali mengumpat seraya segera mengancingkan kemejanya lagi. Pria itu segera membuka pintu kamarnya, dua orang pelayan mengantarkan barang barang bawaan mereka. Pelayan tersebut juga menawarkan menu makan malam pada Rafael. Delia terus mendengarkan percakapan mereka yang tidak ia mengerti karena menggunakan bahasa Jepang.


Setelah percakapan itu selesai, Rafael kembali menutup pintu kamarnya sambil membawa koper milik mereka. Saat Rafael kembali mendekati Delia, wanita itu menghentikannya.


"Kita harus berhenti," ucap Delia.


Rafael menghela nafas panjang, "sepertinya begitu, mandilah lalu kita bersiap-siap untuk makan malam sayang. Setelah itu baru kita melanjutkan apa yang tertunda."


Delia merona, seketika Rafael memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu istriku," ucap Rafael.


"Aku juga mencintaimu suamiku," jawab Delia.


Setelah puas berpelukan, mereka pun saling melepaskan diri.


"Bisakah aku minta sesuatu?" tanya Rafael.


"Katakan."


"Bisakah kau tidak terus memanggil namaku, maksudku kau bisa..."


"Aku mengerti sayang," sergah Delia.


Rafael terkejut mendengarnya, "katakan lagi Delia."


Wajah Delia kembali merona, "sayang... suamiku sayang."


Seketika Rafael menghujani kecupan demi kecupan ke wajah Delia membuat wanita itu terkekeh geli.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2