Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXX


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Waktu yang ditentukan Rafael buat Helena dan Firdaus sudah habis. Helena berkali kali meyakinkan Rafael bahwa ia tidak ada hubungannya dengan rekening dan tanda tangan palsu yang dituduhkan Rafael. Berbeda dengan Firdaus, pria itu justru mengatakan yang lebih banyak dari yang Rafael tanyakan.


Beberapa lahan yang dibeli Helena justru lebih banyak dari perkiraan Rafael. Entah bagaimana Hartanto bisa memberikan uang hingga berjumlah milyaran rupiah padanya.


Helena berkilah itu uang nafkah yang diberikan Hartanto padanya selama ini. Hartanto sudah melewati masa kritis, namun sudah dua hari ini ia belum sadarkan diri. Delia yang mengurus Hartanto karena Rafael sama sekali tidak memperbolehkan Helena mendekati ayahnya.


Helena sering kali memohon pada Rafael untuk mengizinkannya menemui suaminya. Namun Rafael tetap tidak mengizinkannya. Ia tidak ingin masalah yang dilakukan Helena akan membuat kesehatan ayahnya semakin memburuk. Dan hari ini pun, Helena kembali memohon padanya.


"Aku mohon Raf. Bagaimanapun ia suamiku, dan kau juga seperti anakku sendiri Rafael, tolong izinkan aku setidaknya untuk menemuinya," pinta Helena sambil terisak.


"Sejak kapan kau menganggapku sebagai anakmu? Kau hanya menginginkan harta Widjaja. Kau masuk ke rumahku tanpa memperdulikan ibuku yang masih berstatus istri Widjaja, wanita macam apa seperti itu? Pantaskah kau disebut sebagai seorang ibu?" bentak Rafael.


"Aku tidak bersalah, ayahmu yang mencariku. Ia bilang istrinya sering sakit sakitan. Ia minta hiburan," jawab Helena.


Rafael mengepalkan tangannya, ia bahkan menggertakkan giginya menahan amarahnya.


"Jadi kau adalah wanita penghibur?" ejek Rafael.


"Setidaknya aku bisa melayani ayahmu dari pada ibumu, salahku dimana?"


Rafael tak bisa lagi menahan emosinya, ia pun melayangkan tamparan keras tepat di pipi wanita itu. Helena langsung jatuh ke lantai sambil menangis dengan keras.


"Baru kali ini aku kehilangan kendali di depan wanita, itu karena kau berani menghina ibuku. Helena, aku cukup sabar menunggu pengakuan kalian, tapi kau terus saja mencari alasan. Lihatlah semua ini..." ujar Rafael seraya melemparkan dokumen yang ia selidiki selama dua hari pada Helena, "aku sudah memiliki bukti tentang kejahatanmu, kau tidak bisa berdalih lagi Helena," imbuhnya.


Tangan Helena gemetaran saat membuka dokumen yang dilempar Rafael. Ia melihat semua bukti bukti itu, bahkan ada fotonya saat melakukan transaksi di sebuah bank.


"Ini... kau salah paham Raf. Aku sedang mengirimkan uang untuk kedua orang tuaku. Bukan untuk menguras rekening ayahmu, demi Tuhan... aku tidak melakukannya."


Rafael mengambil vas bunga yang ada di meja, dengan emosi ia melemparkan vas itu dan nyaris mengenai Helena.


"Kau pikir aku bodoh, hah...! bentak Rafael, "masihkah tidak jelas semua bukti yang aku dapatkan itu," imbuhnya.


Helena bersimpuh di kaki Rafael, ia menangis histeris pada pria itu.

__ADS_1


"Aku akui, aku salah Rafael. Tapi aku benar benar mencintai ayahmu. Kau boleh ambil semuanya, tapi jangan pisahkan aku dengan ayahmu. Aku sudah menemaninya selama belasan tahun. Aku tak butuh lagi hartanya, aku ingin melihat keadaan suamiku," ujar Helena.


Rafael melepaskan tawanya, "sandiwaramu memang luar biasa Helena. Kau pantas menjadi artis terkenal, dan seharusnya kau diberi anugerah artis antagonis terbaik."


"Aku tidak bersandiwara, itulah kenyataannya. Aku benar benar mencintai suamiku," jawab Helena.


Rafael menggelengkan kepalanya, ia benar benar tak habis pikir wanita yang dihadapinya bak ular berkepala dua.


"Jika kau mencintainya, lalu apa tujuanmu menguras harta ayahku dengan memalsukan tanda tangannya?" tanya Rafael.


Pertanyaan itu mencambuk Helena. Wajahnya berubah pucat karena takut dan rasa malu atas kenyataan ini. Ia memang berniat menghabiskan harta Hartanto Widjaja, tujuannya adalah membalaskan dendam orang tua Helena yang dibuat bangkrut oleh Hartanto, namun seiringnya berjalan waktu perasaannya tumbuh menjadi rasa cinta. Ia tidak bisa menampik perasaan itu. Walau ia terus saja berniat membuat suaminya bangkrut sampai sekarang, namun ia tak berniat meninggalkan Hartanto.


"Berhentilah bersandiwara, aku benar-benar muak mendengarnya. Aku hanya ingin kau mengembalikan semua yang bukan milikmu dan mengakui semuanya di depan ayahku, tinggalkan keluarga Widjaja, bercerailah dengan ayahku. Jika kau setuju, aku akan melepaskan kalian," ujar Rafael.


"Aku tak sanggup berpisah dari ayahmu. Aku akan mengembalikan semuanya padamu, tapi jangan ambil ayahmu dariku Raf," pinta Helena lagi.


"Kau bukan tak sanggup meninggalkan ayahku, tapi kau tak sanggup meninggalkan kemewahan yang ada disini," bentak Rafael, "aku akan menunggumu di rumah sakit saat ayahku sadarkan diri," imbuhnya.


Dengan kasar Rafael menyingkirkan tangan Helena dari kakinya. Pria itu meninggalkan Helena yang menangis semakin keras di rumahnya. Rafael segera menuju perusahaan karena masih banyak yang harus diselesaikannya.


*****


Walaupun perusahaannya kembali normal, namun pengembalian aset Jepang sangat sulit diselesaikannya. Harga saham berangsur angsur membaik. Tapi lahan yang ada di Jepang itu belum menemui titik temu. Pengacaranya mengatakan ini sulit karena pengusaha itu susah dihubungi.


Untuk mengatasinya, Rafael akan langsung terbang ke Jepang jika sampai satu minggu nanti tidak ada hasil. Tapi ia tidak sanggup membayangkan akan meninggalkan istrinya. Dua hari ini Rafael selalu lembur dan kembali ke rumah saat Delia sudah terlelap. Ia tak pernah mengganggu waktu istirahat istrinya.


*****


Delia menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik di kampusnya. Ia mengejar semua pelajaran yang dosen berikan tanpa kendala apapun. Delia sengaja menyibukkan dirinya, karena selalu saja merindukan Rafael yang selalu mengganggunya sebelum terjadi masalah ini.


Pria itu selalu saja menjadi bayangan saat Delia berada di tempat yang pernah mereka habiskan bersama. Kali ini pun ia merindukan suaminya yang suka mengantarkan makanan ke kampusnya.


"Kau melamun lagi, Del," ujar Santi.


"Tidak, aku hanya berpikir," jawab Delia.

__ADS_1


"Apa bedanya melamun dengan berpikir? Kau pasti merindukan suamimu kan?"


Delia menganggukkan kepalanya, "kami sama sama sibuk San. Kami sulit bertemu, saat aku pulang, ia belum pulang. Saat aku berangkat kuliah, ia sudah pergi bekerja. Aku tidur seperti orang mati, aku tak pernah terbangun saat ia pulang larut malam."


"Kau benar benar mencintainya Del, wajahmu terlihat sangat sedih saat ini."


"Aku memang mencintainya San. Tapi aku justru memiliki pemikiran lain."


"Pemikiran seperti apa?"


"Mungkinkah seorang pria setelah mendapatkan tubuh wanitanya, ia akan acuh dan sama sekali tidak merindukannya?" tanya Delia.


"Kau sudah gila Del. Walaupun suamimu kaya dan arogan, aku yakin ia tidak seperti itu. Aku bisa melihat dari tatapan matanya saat menatapmu. Ia benar benar mencintaimu Del, bukankah ia sedang mengatasi masalahnya?" ujar Santi.


Delia menghela nafasnya dengan berat, "itu hanya pemikiran bodohku saja San. Aku tahu ia sedang ada masalah, tapi ia bahkan tak menghubungiku seperti biasanya. Aku hanya takut itu semua terjadi padaku San. Aku ditinggalkannya, lalu siapa yang mau dengan wanita yang tidak suci lagi?" tanya Delia.


Kali ini Santi melepaskan tawanya, wanita itu tertawa dengan keras membuat Delia kesal.


"Ya Tuhan Del... mengapa kau sepolos ini? Tidak... kurasa kau bukan polos tapi bodoh. Apa kau pikir wanita zaman sekarang semuanya masih perawan?" ucap Santi seraya terkekeh lagi.


"Jika kau tak perawan pun, masih banyak yang mengejarmu, apalagi statusmu jika seorang janda. Sudah jelas kau tak perawan karena pernah menikah," imbuh Santi.


"Amit amit deh... Kau malah mendoakanku jadi janda. Sialan..." umpat Delia kesal lalu mencubit Santi.


"Awwww... sakit tahu...!!!"


"Rasakan itu."


"Aku hanya bercanda nona, tapi aku rasa kau tidak akan menjadi janda Del, lihatlah kesana... Seorang pangeran menjemputmu," kata Santi.


Delia mengikuti pandangan Santi, dan saat itulah jantungnya berdebar dengan keras. Pria tampan yang sangat ia rindukan berdiri menunggunya. Pria itu tersenyum lebar saat Delia melihatnya. Tanpa di duga Rafael Widjaja datang ke kampusnya, setelah beberapa hari mereka sangat sulit bertemu satu sama lain.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2