
Delia sama sekali tidak bisa tidur, ia terus membalik balikkan tubuhnya di ranjang milik Huda. Sudah hampir subuh, Rafael belum juga menghubunginya lagi setelah terakhir mendapatkan kabar soal lokasi penemuan mobil penculiknya.
Ingin sekali ia menghubunginya terlebih dahulu, tapi mungkin ia akan mengganggu Rafael. Kepala Delia sangat pusing karena belum bisa beristirahat juga. Ia terus berusaha memejamkan matanya, namun tetap saja tidak bisa.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering, Delia langsung terduduk dan segera menjawab panggilan itu.
"Bagaimana? Apakah ayah dan ibu sudah ditemukan?" tanya Delia.
"Ya Tuhan, mendengar dari suaramu, pasti kau belum tidur, bagaimana kalau kau sakit?" ujar Rafael.
"Aku tak bisa tidur. Katakan, apa kau sudah menemukan ayah ibu?"
"Maafkan aku Delia, ayah dan ibu belum bisa kami temukan."
"Ya Tuhan... Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka?" ucap Delia sedih.
"Kami sedang berusaha Delia, sepertinya rencana penculikan ini sudah tersusun dengan matang, ada mobil lain yang membawa ayah dan ibu dari sini. Tapi motif dan pelakunya belum kami ketahui. Aku akan pulang ke rumah dan bertanya pada Hartanto Widjaja. Jika memang ia pelakunya, aku juga tidak akan segan segan menghukumnya," kata Rafael.
"Bagaimana jika itu bukan ayahmu, bagaimana kalau penculik tidak meminta tebusan, hanya ingin membunuh dan mengambil organ dalam ayah ibu, bagaimana aku bisa menghadapinya?" kata Delia kembali terisak.
"Itu tidak akan terjadi Delia, kau tenanglah. Jangan membuatku khawatir," kata Rafael, "dengarkan aku, jika kau ingin segera bertemu ayah dan ibu, kau harus mengikuti keinginanku. Sekarang kau tidur, setelah bangun nanti, kau harus makan makanan yang diberikan Huda padamu, jika kau tidak menurut padaku, aku tidak akan membantumu mencari ayah ibu," ancamnya.
"Aku akan mengikuti ucapanmu, tapi kau harus janji untuk membawa mereka kembali hari ini."
"Aku akan berusaha Delia, sebisa mungkin aku akan membawa mereka kembali hari ini. Sekarang kau beristirahat, aku akan menghubungimu lagi jika ada kabar terbaru," ujar Rafael seraya menutup teleponnya.
Setelah Rafael menutup teleponnya, ketakutan Delia kembali. Ia menangis dengan keras karena sangat mengkhawatirkan orang tuanya, ia pun akhirnya bisa tidur setelah kelelahan.
*****
Rafael berpisah dengan sahabatnya. Pria itu langsung pulang ke rumah besar Widjaja.
Sesampainya di rumah, Rafael langsung menuju kamar Hartanto Widjaja. Pria itu mengetuk pintu kamar itu dengan keras.
"Keluarlah pak tua, dimana kau menyembunyikan mertuaku? Aku tahu kau berniat untuk memisahkan aku dan Delia. Tapi tidak serendah ini," teriak Rafael dengan penuh amarah.
"Cepat keluarlah...!" teriak Rafael lagi.
Helena membuka pintu kamarnya dengan cepat. Melihat wajah Rafael yang penuh amarah membuat Helena kebingungan.
"Ya Tuhan... ada apa pagi pagi begini kau sudah berteriak, Rafael?" tanya Helena.
"Bangunkan Hartanto, berani sekali ia tertidur setelah melakukan kejahatan ini," bentak Rafael.
Hartanto memang sudah bangun setelah mendengar teriakan putranya, ia segera turun dari ranjangnya lalu menghampiri pintu kamar.
"Kau anak yang tidak tahu sopan santun, teriakanmu sudah membangunkan seisi rumah ini. Apalagi yang kau inginkan, haaah!" bentak Hartanto.
__ADS_1
"Jangan pura pura, lepaskan mertuaku. Kau yang telah menculik orang tua Delia kan? aku tahu kau berniat mencari cara untuk memisahkan aku dengannya. Tapi haruskah dengan cara kriminal seperti ini?" ujar Rafael.
"Kau sudah gila, aku tidak serendah itu. Untuk apa aku menculik mertuamu, apa untungnya buatku melakukan hal kriminal seperti itu. Widjaja mempunyai harga diri dan reputasi yang tinggi, apa kau pikir aku akan menghancurkan reputasiku sendiri, bukankah sudah cukup kau yang menghancurkannya," bentak Hartanto lagi.
Mendengar ayahnya bicara seperti itu, ada benarnya juga. Mana mungkin Hartanto merusak reputasinya sendiri dengan melakukan penculikan. Pria tua itu sangat menjunjung tinggi martabatnya. Ia tidak mungkin melakukan hal serendah ini.
"Kalau bukan Hartanto, lalu siapa yang akan bertindak sejauh ini?" pikir Rafael.
"Kau pagi pagi berteriak dan membangunkan orang tuamu hanya untuk memberikan tuduhan seperti ini. Kau benar benar sudah dibutakan oleh wanita itu," ujar Hartanto.
Rafael menggertakkan giginya, "kali ini aku percaya ucapanmu. Tapi ingat, jika sampai kau terlibat dalam hilangnya orang tua Delia, aku tidak akan melepaskan kalian," jawabnya seraya meninggalkan mereka.
Hartanto merasakan sesak di dadanya. Putra kesayangannya yang telah tumbuh semakin dewasa, semakin tak mempercayainya. Hartanto memang salah di masa lalu karena tidak memberitahukan alasan yang sebenarnya. Tapi tak bisakah Rafael memaafkannya.
Helena yang melihat suaminya nyaris tumbang, langsung membantu Hartanto beristirahat kembali di kamarnya.
*****
Rafael terus memikirkan siapa pelaku sebenarnya yang menculik keluarga Laros. Ia sama sekali tak habis pikir, kenapa satu hari setelah pernikahannya justru akan terjadi hal hal seperti ini.
Ponsel Rafael berdering, Rafael mengambil ponselnya dan segera mengangkat panggilan itu. Detektif yang ia bayar benar benar sangat cepat mendapatkan informasi.
"Bagaimana?" tanya Rafael.
"Tuan bos, aku menemukan keberadaan preman itu di daerah Bogor, disana ada keluarga besarnya, aku sudah menyelidikinya, pria itu masih ada disana saat ini," ujar detektif.
"Baik tuan."
Rafael menutup teleponnya, hanya beberapa menit alamat itu sudah dikirimkan oleh detektif tersebut. Rafael segera menghubungi pihak kepolisian, kepolisian pun segera menanggapi laporan Rafael dan bergegas menyelidiki keberadaan preman tersebut.
Setelah menghubungi polisi, Rafael segera menghubungi Huda.
"Halo Raf," jawab Huda.
"Apa Delia masih tidur?" tanya Rafael
"Sepertinya... Ia belum keluar dari kamarnya. Apa kau ingin bicara dengannya?" tanya Huda.
"Tidak perlu, aku takut mengganggu istirahatnya. Semalaman sepertinya ia tidak bisa tidur. Tolong sampaikan saja saat ia sudah bangun Hud, aku menemukan pria penculik orang tuanya, aku bersama polisi akan segera ke Bogor, mereka juga sudah menginformasikan ke anggota kepolisian di Bogor," kata Rafael.
"Raf, kau yakin kesana sendiri? Lebih baik kau pergi dengan Jodhi, kau juga belum tidur dari semalam. Bahaya mengendarai mobil sendirian. Kau tak perlu mengkhawatirkan Delia, aku yang akan menjelaskannya, ia juga pasti aman disini," kata Huda.
"Terima kasih Hud, aku percayakan Delia padamu. Kau benar, aku harus meminta Jodhi untuk menemaniku."
"Kau hati hatilah di jalan, hubungi aku kapan saja jika membutuhkan sesuatu."
"Oke..." jawab Rafael seraya menutup teleponnya.
__ADS_1
Kemudian Rafael menghubungi Jodhi agar menemaninya ke Bogor.
*****
Rafael menjemput Jodhi di rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Rasa lelah dan mengantuk sama sekali tidak ia rasakan. Yang ia pikirkan hanya cepat menemukan mertuanya. Ia tak ingin membuat Delia terus khawatir.
Jodhi terkejut melihat wajah atasannya yang begitu lelah saat ini. Rafael menyerahkan kunci mobilnya pada Jodhi.
"Langsung menuju Bogor, Jod..." perintah Rafael.
Jodhi menganggukkan kepalanya, "pak sebaiknya anda tidur, nanti aku akan membangunkan anda ketika sudah tiba disana," ujar Jodhi.
Rafael mengangguk. Mereka pun berangkat menuju Bogor. Seperti yang diinginkan Jodhi, Rafael pun memejamkan matanya selama perjalanan.
*****
Derry membangunkan istrinya yang terlelap di pangkuannya, "Emili... bangun... sepertinya ini sudah pagi. Kita harus cari cara agar bisa keluar dari sini," ujar Derry.
Emili berkali kali mengerjapkan matanya seraya bangun dari tidurnya.
"Apa tempat ini benar benar jauh dari pemukiman warga? Kenapa anak anak kita masih belum menemukan kita? Aku benar-benar takut suamiku."
"Sepertinya memang begitu. Kita harus bersabar, Tuhan masih bersama kita Emili. Kau bisa membuka ikatan tanganku tidak?" tanya Derry.
"Sini... biar aku coba," jawab Emili.
Keduanya saling berusaha membuka ikatan tangan mereka, namun ikatan tali tersebut begitu kuat hingga keduanya kelelahan dan menyerah.
"Apa kau lapar? Makanan semalam belum kau makan," tanya Derry.
Emili menggeleng, "lebih baik aku mati dari pada harus makan dengan cara seperti ini," jawab Emili.
Derry menatapnya sedih, "Jangan katakan itu sayang. Maafkan aku, aku sudah mulai tua sehingga aku tidak bisa berbuat apa apa. Seharusnya aku bisa melindungimu," ujar Derry penuh penyesalan.
"Apa kau pikir kau menua sendirian, aku juga sudah tua. Tapi lihat, sekarang kita berada persis seperti di dalam sinetron. Ini bukan salahmu suamiku," jawab Emili seraya terkekeh.
Derry ikut terkekeh, "memiliki seorang putri yang cantik ternyata menakutkan ya?"
Kali ini Emili melepaskan tawanya, "aku rindu saat saat kita masih muda suamiku. Dan saat kita memiliki Delia, perasaan bahagia bisa memiliki putri yang cantik itu tak terhingga, namun kau benar sungguh menakutkan," ujarnya.
Derry tersenyum seraya mencium kening istrinya, "aku yakin Tuhan bersama kita, aku yakin kita akan selamat sayang."
Emili menganggukkan kepalanya, mereka kembali merenungi nasib saat ini dan terus berdoa kepada Tuhan agar Rafael dan Delia bisa segera membebaskan mereka.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1