
Sepanjang perjalanan Rafael terus menghubungi Delia, namun ponselnya masih juga tidak aktif. Rafael mengendarai mobilnya lebih cepat untuk sampai ke Depok tempat Delia ngekos. Istrinya sungguh bodoh, ia lebih memilih kosan kecilnya dari pada apartemen Rafael yang ada di Kemang. Dengan alasan ia terlalu takut tinggal di apartemen sendirian karena apartemen itu jarang ditinggali Rafael.
Rafael semakin tidak sabar karena jalanan begitu macet, berkali kali ia menekan klakson mobilnya, menimbulkan suara bising di sekitarnya. Rafael kembali mencoba menghubungi Delia, lagi lagi diluar jangkauan.
"Kau kenapa sayang? Kau dimana? Mengapa ponselmu tidak aktif? Kau benar benar membuatku khawatir," gumam Rafael.
Hampir satu jam akhirnya Rafael bisa sampai di daerah tersebut. Mobil Rafael tidak bisa masuk ke gang kecil itu. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Rafael sedikit berlari ke arah kosan yang lumayan jauh dari jalan besar.
Sesampainya disana, penghuni kosan menatapnya kebingungan. Pria tampan di depan mereka sedang mencari cari sesuatu dengan bingung.
"Hei tuan tampan... ini kosan putri... pria dilarang masuk. Dan kau itu mencari siapa?" kata salah satu penghuni kamar.
"Mohon maaf. Apa kalian kenal Delia?" tanya Rafael, "aku Rafael Widjaja suami Delia Laros. Aku tahu ia kos di daerah ini, tapi aku tak tahu persis dimana tepatnya," ujarnya.
Penghuni kos tersebut membelalakkan matanya.
"Pria kaya menikahi wanita miskin yang ada di koran, jadi kau dan Delia penghuni kos sini. Apa kau yakin istrimu disini? Kami hanya tahu nama Delia tapi tidak tahu nama kepanjangannya. Tapi untuk apa Delia kemari jika suaminya sudah kaya? Apa kalian sedang bertengkar? Bukankah kalian dikabarkan sangat romantis," tanyanya.
Rafael malas sekali menjawab pertanyaannya. Wanita itu begitu ingin tahu tentangnya.
"Aku yakin Delia yang kau kenal memang istriku. Kamar yang mana? tolong tunjukkan jika kau mengenalnya," pinta Rafael.
"Ciiiih... tidak sabaran sekali jadi orang, kalau Delia yang kau maksud memang istrimu, noh kamar ketiga di lantai dua," jawab wanita itu.
"Terima kasih," jawab Rafael.
Pria itu segera menaiki tangga, ia melangkahi hampir dua anak tangga sekaligus, ia sangat mengkhawatirkan istrinya. Diketuknya pintu kamar kos itu namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Sayang... kau didalam kan? Ini aku Rafael. Del... kau baik baik saja kan? Sayang... buka pintunya," ujar Rafael nyaris berteriak.
Tapi tidak ada jawaban juga, membuat Rafael panik. Ia membuka pintu kos dan mendapati kamar tak dikunci. Kamar itu gelap, ia mencari sakelar listrik dan menyalakan lampunya. Ia menatap isi kosan istrinya. Tak ada barang yang memenuhi kamar itu, hanya matras lantai dan lemari pakaian. Dan di matras itulah Delia tertidur dengan lelapnya seperti bayi kucing yang sedang terlelap.
"Ya Tuhan... Delia Laros. Bagaimana kau bisa tertidur seperti ini? Bahkan kau tidak mengunci pintumu. Kau membuatku nyaris gila sayang," gerutu Rafael seraya mendekati istrinya.
Rafael menatap wajah Delia yang sedang tertidur, ia tersenyum lebar saat melihat wajah cantik yang polos itu. Pria itu menghela nafas panjang, ia mengambil tas istrinya dan melihat ponselnya ternyata mati.
"Pantas saja di luar jangkauan, aku harap hal seperti ini tidak akan terjadi lagi sayang. Kau harus mengganti ponselmu," pikir Rafael.
Rafael memasukkan ponsel Delia ke dalam tas, membereskan barang barang istrinya yang lain lalu ia mengangkat Delia yang sama sekali tidak bangun. Pria itu hanya bisa menyunggingkan senyumnya sambil membawa Delia keluar dari kamar kosnya.
"Wanita ini jika sudah tidur seperti orang mati. Untung saja ini kosan putri, tapi tetap saja bahaya jika wanita seperti ini tidur sendirian tanpa mengunci pintunya," pikir Rafael lagi.
Ia menuruni tangga dengan pelan, ia menjadi pusat perhatian karena mengangkat tubuh Delia seperti itu. Saat melewati wanita yang memberitahu keberadaan Delia tadi, Rafael pun menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Delia yang ini memang benar istriku. Aku akan membawanya pulang sekarang," ujar Rafael pelan.
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Ia sangat iri melihat Delia yang memiliki suami seperti Rafael Widjaja yang terlihat sangat mencintainya.
Rafael membawa Delia ke mobilnya dan menidurkannya di kursi belakang.
"Kau seperti kucing kecil sayang. Sangat lelah kah sampai tak bergerak sama sekali," gumam Rafael.
Delia hanya bergumam tidak jelas, Rafael menahan tawanya lalu kembali masuk ke kursi kemudi. Rafael menolehkan kepalanya ke belakang seraya kembali tersenyum.
"Aku menikahi wanita seperti ini, membuat hidupku penuh warna, entah kenapa benar benar membuatku bahagia saat melihatmu sayang, sepertinya aku benar benar jatuh cinta padamu, aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi," pikir Rafael.
Rafael mengendarai mobilnya, kali ini ia membawa Delia ke apartemennya. Ia sangat lelah jika harus berdebat dengan ayahnya lagi jika pulang ke rumah besar Widjaja dan membuat Delia terbangun dari tidurnya.
Perjalanan dari Depok ke Kemang memang tidak lama, hanya saja kemacetan yang membuatnya lama. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah sampai di apartemennya, ia kembali mengangkat tubuh Delia sambil menggelengkan kepalanya.
Istrinya sampai saat ini masih juga tertidur dengan lelap, semua gerakan yang ia lakukan tidak bisa membangunkannya. Rafael membawa masuk Delia ke dalam apartemennya. Dan menidurkannya seperti bayi di ranjang besarnya. Sedangkan Rafael segera membersihkan tubuhnya dan memesan makan malam untuk mereka, ia berharap Delia bangun saat merasakan perutnya lapar.
*****
Satu jam kemudian...
Delia akhirnya terbangun dari tidurnya, wanita itu terkesiap saat ia sadar sepenuhnya. Ia menatap kamar besar itu dengan kebingungan. Tempat tidur yang besar dan sangat empuk, bukanlah tempat dimana ia tidur sebelumnya.
Wanita itu segera turun dari ranjang besar itu. Ia keluar dari kamar dan mengintip keluar dengan hati hati. Ia akhirnya menghela nafas lega saat melihat seseorang yang dikenalnya sedang sibuk dengan laptopnya di ruangan.
"Ya Tuhan... Rafael," gumam Delia.
Delia menghampiri suaminya tanpa mengenakan alas kaki, hingga langkahnya benar benar tidak terdengar sama sekali.
"Kau yang membawaku kemari?" tanya Delia.
Seketika Rafael terkesiap, "ya Tuhan Delia... kau mengejutkanku sayang," jawabnya.
"Aku minta maaf, kau begitu serius dengan laptopmu sampai aku mendekatimu saja, kau tak mendengarnya," ujar Delia.
Rafael melihat kakinya, "dimana alas kakimu, bukankah aku sudah menyiapkannya di samping ranjang?"
"Aku terlalu terkejut saat terbangun, jadi aku tidak memperhatikannya."
Rafael terkekeh geli, "makanya jika tidur jangan seperti orang mati, kau bahkan tidak menyadari saat aku menggendongmu sampai kesini. Kau sangat berat sayang, apa aku berhasil membuatmu menjadi seekor babi yang gemuk?" ejeknya.
Seketika Delia menekuk wajahnya, "seharusnya kau membangunkanku. Dan aku bukan babi, aku masih kurus, tidak berat dan tidak gemuk."
__ADS_1
Rafael menutup laptopnya seraya menarik tangan Delia. Pria itu membawa Delia agar duduk di sampingnya.
"Jangan marah, aku hanya bercanda. Kau sama sekali tidak berat. Aku sangat menyukai tubuhmu," ujar Rafael.
"Tunggu dulu... kau menggendongku dari tempat kos, bagaimana kau bisa masuk kesana?" tanya Delia.
"Jangan panggil Rafael Widjaja jika tak bisa melakukan apapun. Hanya dengan kedipan mataku saja, mereka sudah mempersilahkan aku masuk," jawab Rafael.
"Ciiiih... kau mulai narsis lagi. Berhentilah menggoda wanita lain Raf."
"Kau cemburu?"
"Tidak..."
"Benarkah?"
"Berhentilah menggodaku, yang jelas aku tidak suka kau seperti itu."
Rafael melepaskan tawanya, "aku tidak melakukannya sayang, mana mungkin aku menggoda wanita lain. Aku masuk kesana dengan cara baik baik, aku meminta izin untuk membawa istriku pulang."
"Apa aku benar benar seperti orang mati saat tidur? Mengapa aku benar-benar tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai disini? Lalu ini rumah siapa Raf?" tanya Delia dengan wajah polos.
"Ya Tuhan, kau menggemaskan sekali sayang. Ini adalah apartemenku yang aku ceritakan sebelumnya padamu. Dan soal bagaimana kau bisa sampai disini, aku benar benar menggendongmu. Tapi kau sama sekali tidak bangun."
Wajah Delia merona merah, ia benar-benar malu saat ini.
"Jangan kau pikirkan nona cantik, setidaknya akulah yang melakukannya. Untuk apa kau malu di depan suamimu?"
"Aku hanya..."
Seketika Rafael membungkam mulutnya dengan sebuah ciu man. Pria itu melakukannya dengan sangat lembut membuat Delia benar benar menginginkannya. Namun tiba-tiba saja Rafael menarik diri dan melepaskan ciu man itu membuat Delia kecewa.
"Aku tahu kau lapar, sekarang mandilah terlebih dahulu. Aku sudah membelikan baju tidur dan makanan. Setelah itu, kita makan malam walaupun terlambat," pinta Rafael.
Delia menganggukkan kepalanya, dengan terpaksa wanita itu menahan hasratnya sendiri. Tubuhnya masih terasa panas karena sentuhan suaminya. Delia pun beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi. Rafael hanya bisa menatap kepergian istrinya.
"Aku sangat menginginkanmu sayang, bisakah malam ini kita melakukan hubungan suami istri yang sebenarnya? Tapi aku tak ingin membuatmu takut," pikir Rafael.
Rafael menarik nafasnya dalam-dalam seraya kembali membuka laptopnya sambil menunggu Delia selesai membersihkan diri.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1