
"Kau pasti lelah," kata Delia pada Rafael yang harus mengendarai mobilnya sendiri ke Bogor.
"Kau mau menggantikan aku?"
"Aku bukan orang kaya sepertimu, mana bisa aku menyetir."
"Kau mulai lagi sayang. Aku sudah bilang, aku tidak suka mendengar ucapan seperti itu. Kau sekarang istri Rafael Widjaja, jadi berhentilah merendahkan diri sendiri. Sekarang milikku sudah menjadi milikmu."
Delia menyeringai, "tapi aku benar benar tidak bisa menyetir Raf."
"Aku akan mengajarimu nanti."
"Kau yakin ingin aku mengendarai mobil sendiri kemanapun?"
Rafael terbelalak, "tentu saja tidak. Baiklah, aku mengurungkan niatku untuk mengajarimu menyetir."
Seketika Delia melepaskan tawanya, "posesif sekali."
"Aku tidak ingin membayangkan saat kau keluar dari pintu kemudi lalu ditatap oleh banyak pria yang mengagumimu. Membayangkannya saja sudah membuatku kesal setengah mati."
"Kau sangat mencintaiku."
"Tentu saja, aku sudah mengatakannya berulang kali. Aku juga sudah membuktikannya padamu, apa kau butuh bukti lagi? Aku akan melakukannya saat sampai di Villa."
"Pasti pikiranmu kotor lagi."
Rafael terkekeh geli, "karena Bogor sangat dingin, jadi aku tidak akan membiarkanmu turun dari ranjang."
Delia terbelalak, "kita bisa kelaparan."
Rafael melepaskan tawanya karena Delia sangat lugu, "aku yang akan mengambil makanannya untuk kita. Aku kan bilang tidak membiarkanmu turun dari ranjang, artinya aku yang bebas kemanapun."
"Egois sekali."
"Bukan egois sayang, tapi percayalah, kau pasti tidak sanggup untuk berjalan," goda Rafael.
"Ya Tuhan, aku baru tahu jika seorang pria arogan itu ternyata berotak mesum sepertimu."
"Pria yang kau maksud itu suamimu Delia."
"Sayangnya memang iya."
"Kau menyesal?"
"Pertanyaan bodoh, aku justru sangat bahagia bisa memilikimu Raf."
"Aku mencintaimu Delia."
"Aku juga mencintaimu Raf. Sekarang fokuslah menyetir, kita memasuki jalan tol."
"Siap nyonya," jawab Rafael.
Keduanya memasuki gerbang tol, setelah membayar kartu tolnya, Rafael segera menambah kecepatan mobilnya.
"Raf... aku takut dengan kecepatanmu."
Seketika Rafael mengurangi kecepatan mobilnya, "tapi jika kita jalan lambat, pasti akan ditertawakan oleh pengendara lain sayang."
"Aku tidak menyuruhmu jalan lambat juga, maksudku standar saja. Ini demi keselamatan kita."
"Baiklah, tapi bolehkah aku menyalip kendaraan di depan itu?"
"Terserah padamu saja, tapi kau harus tetap berhati-hati."
Rafael mengedipkan sebelah matanya dengan genit, pria itu pun mulai menyalip kendaraan di depannya.
__ADS_1
"Bukankah berhasil," ucap Rafael.
Delia menghela nafasnya dalam-dalam, namun beberapa kilometer di depan mereka ada sebuah mobil truk yang sedang mogok.
"Rafael awas... di depan ada mobil truk mogok," ujar Delia.
"Oh ya Tuhan..." ucap Rafael.
Pria itu segera mengambil lajur kiri, untung saja tidak ada kendaraan lain hingga mereka berhasil selamat.
"Tadi menakutkan sekali, nyaris saja kita..."
Braaaaakkkkk...
Keduanya sama sama terkejut mendengar suara tabrakan keras itu. Rafael melihat spion mobilnya sedangkan Delia langsung menoleh ke belakang.
"Oh ya Tuhan..." teriak Delia.
Terdengar suara tabrakan keras secara beruntun di belakang mereka. Rafael segera mengurangi kecepatan mobilnya lalu menepikannya.
"Ya Tuhan..." ucap Rafael sambil melihat ke belakang.
Setelah itu ia melihat Delia yang mulai ketakutan, sontak pria itu langsung memeluk istrinya yang syok akibat apa yang dilihatnya.
"Kita selamat sayang," kata Rafael.
"Beberapa detik saja kita nyaris... Raf, jika tadi kita ada di belakang..."
"Ssstttt... kita selamat. Berhentilah berpikir yang macam macam."
Tubuh Delia bergetar, wanita itu akhirnya melepaskan tangisannya. Memang hanya beberapa detik saja kejadian itu terjadi setelah mereka berhasil melewati mobil truk mogok tersebut. Rafael terus menenangkan istrinya yang sangat syok.
Suasana malam yang mengerikan itu benar benar terasa. Setelah Delia mulai bisa tenang, Rafael ingin melihat para korban.
"Kau tunggu disini sayang, aku akan membantu mereka," ujar Rafael.
"Kau masih takut?"
Delia mengangguk, "bisakah kita tunggu sampai polisi datang saja?"
Rafael kembali memeluk Delia, "kau tak perlu takut, aku hanya ingin melihat situasi saja. Apa kau mau ikut denganku?"
Delia menggeleng, "baiklah, kau saja yang melihatnya. Hati hati Raf, ini jalan tol. Mobil yang lain masih dalam kecepatan tinggi. Dan ini sudah mulai malam, aku hanya takut..."
"Berhentilah mengatakan hal hal yang menakutkan, kau bisa semakin stress memikirkannya. Sebentar saja, oke."
Akhirnya Delia pun mengizinkan suaminya untuk melihat keadaan para korban kecelakaan. Wanita itu berkali-kali menoleh ke belakang untuk melihat Rafael.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara sirine polisi dan ambulan mendekati kecelakaan tersebut. Delia menghela nafas lega, wanita itu segera keluar dari mobilnya namun tetap tak berani mendekati mobil mobil kecelakaan tersebut.
Mobil pertama yang menyebabkan kecelakaan beruntun tersebut adalah mobil sport merah. Mobil tersebut terlihat rusak parah di bagian depan, nyaris tak membentuk mobil lagi karena sangat ringsek. Dan tentu saja pengemudinya terjepit di sana dan tak mungkin akan selamat jika terlihat dari kerusakan tersebut.
Delia bergidik dari kejauhan, namun Rafael justru terpaku di mobil tersebut. Pria itu terlihat mengusap wajahnya dan menepuk dahinya sendiri.
"Kate... Katrina...!!! Kau bisa mendengarku...!"
Terdengar teriakan Rafael dari kejauhan. Seketika Delia memberanikan diri dan berlari ke arah suaminya.
"Ada apa Raf?" tanya Delia.
"Untuk apa kau kesini sayang? Kembalilah ke mobil," pinta Rafael.
"Kate... Kate... Kau masih bisa mendengarku..." teriak Rafael lagi.
Delia terbelalak mendengar nama itu, kakinya melemah dan nyaris pingsan.
__ADS_1
"Delia..." teriak Rafael sambil menangkap tubuhnya.
Seketika Rafael mengangkat tubuh Delia lalu membawanya lagi kembali ke mobilnya.
"Sayang... sadarlah..." ucap Rafael sambil menepuk pipi Delia.
"Itu... Katrina..." jawab Delia dengan suara lemah.
"Aku ingat plat mobilnya, aku juga bisa melihat sedikit wajahnya. Sepertinya ia memang Katrina."
Seketika Delia pun benar benar pingsan membuat Rafael semakin panik.
"Delia... sayang... bangunlah... jangan menakutiku."
Rafael segera mengambil kotak obat di bagasi mobilnya, ia mencari minyak angin untuk menyadarkan istrinya. Rafael semakin panik saat melihat Delia semakin memucat. Pria itupun akhirnya berteriak minta pertolongan pada petugas medis.
Untung saja ada petugas medis yang segera mendekati mereka, Delia pun dibawa ke dalam mobil ambulan dan diberi pertolongan. Rafael terus mondar-mandir karena bingung, tangannya gemetaran saat mengambil ponselnya.
Pria itu menghubungi keluarganya, juga menghubungi Frans Dowell. Setelah itu ia menanyakan pada petugas medis tentang korban yang ada di dalam mobil sport merah tersebut. Petugas itu menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa Katrina tidak tertolong lagi. Tubuh Rafael ikut melemah mendengarnya.
"Raf..." panggil Delia lemah.
Rafael segera masuk ke dalam mobil ambulan, "sayang, kau tidak apa-apa?"
"Bagaimana dengan Katrina? Kenapa ia ada di jalan tol ini? Ia tepat di belakang mobil kita kan?" tanya Delia.
Rafael menggeleng dengan lemah, "ia tidak tertolong lagi Del."
Seketika Delia histeris, sontak Rafael memeluk istrinya.
"Tenangkan dirimu sayang, kau sangat syok."
"Ia mengikuti kita kan?"
"Sepertinya memang seperti itu. Jangan membahas ini sekarang sayang, ia sudah tiada. Aku sudah menghubungi ayahnya, mungkin ia akan segera datang kemari."
"Kita batalkan saja perjalanan ke Bogor, aku tak sanggup lagi."
Rafael menganggukkan kepalanya, "berhentilah menangis sayang, jangan menakutiku lagi."
"Maaf, aku sangat terkejut."
"Aku tahu itu, kau lelah ditambah dengan kejadian ini. Apa kau bisa turun dari mobil ambulan ini? Mereka pasti ingin mulai mengevakuasi korban."
Delia menganggukkan kepalanya, Rafael membantu Delia turun dari mobil ambulan. Tanpa diduga, pria itu mengangkat tubuh Delia lagi, ia mengucapkan terima kasih pada tim medis yang menjaga Delia lalu melangkahkan kakinya kembali sambil membopong Delia menuju mobil mereka.
"Tetaplah di sini, aku akan melihat evakuasi Katrina yang terjepit. Minumlah airnya agar kau bisa tenang. Jika kau berani keluar lagi, aku benar benar akan marah," ancam Rafael.
Delia menganggukkan kepalanya dan membiarkan Rafael kembali meninggalkannya. Evakuasi korban cukup lama, apalagi saat mengevakuasi Katrina. Sudah hampir dua jam masih juga belum selesai, sebuah mobil mewah berhenti dari kejauhan, derap langkah kaki terdengar mendekati mereka.
Frans Dowell lah yang datang, pria itu langsung histeris melihat keadaan mobil putrinya yang hancur sedangkan Katrina masih terjepit di dalam.
"Kate... ini papa nak, bangunlah... Kate..." teriak Frans.
"Pak Frans, tenanglah..." ujar Rafael.
"Raf... bagaimana bisa Katrina di sini? Kau juga, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku dan istriku akan ke Bogor pak, soal Kate aku sama sekali tidak tahu," jawab Rafael.
"Kate... kau mendengar papa... Kate..."
Seorang tim medis juga polisi mengatakan jika korban sudah tiada, Frans Dowell kembali histeris setelah mendengar kabar tersebut. Pria itu nyaris terjatuh di aspal jika Rafael tidak menahannya.
"Kate... kembalilah pada papa nak... bagaimana papa bisa hidup tanpamu... Kate...!!!"
__ADS_1
*****
Happy Reading All...