
Sesampainya di Bogor, Jodhi masih belum berani membangunkan Rafael. Ia masih menunggu beberapa anggota kepolisian di lokasi tersebut. Sejam kemudian, anggota kepolisian terlihat dan Jodhi baru membangunkan atasannya.
"Pak Rafael, kita sudah sampai," ujar Jodhi.
Rafael mengerjapkan matanya lalu menatap keluar jendela.
"Sudah berapa lama kita sampai?" tanya Rafael.
"Dari satu jam yang lalu pak, tapi aku sengaja tidak membangunkan anda sambil menunggu kepolisian datang," jawab Jodhi.
"Terima kasih Jod."
Rafael dan Jodhi keluar dari mobilnya lalu mendekati anggota kepolisian. Mereka menjelaskan pada Rafael jika akan melakukan penangkapan terhadap tersangka. Tim mereka pun sudah siap melakukan penggerebekan di kediaman preman tersebut.
Rafael dan Jodhi kembali masuk ke dalam mobilnya. Mereka hanya tinggal menunggu dari hasil penggerebekan tersebut. Hampir 3 jam lamanya Rafael menunggu di dalam mobil, baku tembak terdengar dari kejauhan.
"Sepertinya ada perlawanan," ucap Rafael.
"Sepertinya begitu pak," jawab Jodhi.
"Semoga saja mereka berhasil menangkapnya, aku sangat mengkhawatirkan orang tua Delia."
Jodhi hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan keras dari beberapa orang. Rafael dan Jodhi mencari asal suara, saat melihatnya ternyata anggota kepolisian sudah menangkap tersangka. Darah mengucur dari kaki tersangka tersebut, sepertinya tertembak timah panas karena berusaha kabur.
Rafael segera keluar dari mobilnya lalu mendekati polisi. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah saat melihat tersangka. Pria itu segera dibawa mobil patroli polisi sebelum mendapat amukan dari seorang Rafael Widjaja.
Jodhi mendekati Rafael.
"Pak Raf, tersangka sudah diamankan. Sebaiknya anda makan sesuatu terlebih dahulu," ujar Jodhi.
"Tidak. Aku sama sekali tidak lapar Jod, sebaiknya kita langsung ikuti polisi saja. Setelah sampai disana, jika kau yang lapar. Kau bisa meninggalkanku untuk sarapan," jawab Rafael seraya kembali masuk ke dalam mobilnya.
Jodhi hanya menghela nafas panjang, melihat wajah Rafael yang benar-benar kelelahan membuatnya tidak tega. Namun pria arogan seperti Rafael Widjaja mana bisa diatur olehnya.
*****
Sesampainya di kantor polisi, tersangka dibiarkan duduk di lantai begitu saja. Walaupun kakinya masih mengucur darah, tapi tak ada satu pun anggota kepolisian yang memperlakukannya dengan baik. Tentu saja itu karena tersangka melakukan perlawanan saat ditangkap, ia harus menerima konsekuensinya.
Kesabaran Rafael telah habis, ia terpaksa bertindak sendiri dengan mendekati tersangka. Namun tak ada satu pun anggota kepolisian yang melarangnya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Rafael tidak sabar.
Tersangka bergeming, seketika Rafael menginjak kaki tersangka yang terluka itu hingga membuat pria itu berteriak kesakitan. Tindakan Rafael justru membuat anggota kepolisian tersenyum.
"Apa kau pikir aku memiliki kesabaran untuk mendengar jawabanmu yang lama itu," bentak Rafael.
"Ampun pak... iya ampun... aku akan mengatakannya," jawab tersangka.
__ADS_1
Rafael mengangkat kakinya.
"Jadi siapa yang membayarmu untuk menculik mertuaku, hah?" teriak Rafael.
"Aku tak pernah bertanya pada orang yang membayarku pak. Tapi saat itu aku mendengar mereka berbicara, seingatku pria itu memanggil nama Kate, dan wanita itu memanggil Bet... Bethran," jawabnya tergagap.
Rafael mundur dan sangat terkejut. Ia tahu siapa yang dimaksud tersangka. Jadi mereka berdua bekerjasama. Sungguh pengecut, mereka melakukan tindakan kriminal untuk memisahkan Rafael dan Delia.
Rafael menjelaskan siapa orang yang dimaksud pada polisi. Mereka menerima penjelasan Rafael dan segera bertindak atas pengakuan tersangka.
*****
Ponsel Rafael kembali berdering, namun kali ini nomor tersebut tidak dikenalnya. Rafael menyipitkan matanya seraya mengangkat teleponnya.
"Halo... Siapa ini?" jawab Rafael.
"Rafael Widjaja... bagaimana rasanya kehilangan mertuamu satu hari setelah kau menikah?" ujar Bethran sambil tertawa.
Rafael yakin pria yang menghubunginya adalah Bethran Markes. Ia menatap kepolisian seraya menekan tombol loud speaker ponselnya.
"Jadi kau yang telah menculik mertuaku. Sepertinya kau yang bernama Bethran Markes," ujar Rafael datar.
Bethran kembali tertawa, "jadi kau sudah tahu siapa aku, kalau begitu aku tak akan berbasa-basi lagi. Aku tak berniat menyakiti kedua orang tua Delia, karena selanjutnya mereka akan menjadi mertuaku. Aku hanya ingin kau menceraikan Delia dan menyerahkannya padaku, dan kau bisa menikahi Katrina Dowell. Tunangan yang seharusnya memang kau nikahi. Jika tidak, tentu saja niat awalku akan berubah dan bisa saja aku menyakiti mereka," ancamnya.
"Kau pikir setelah aku menceraikan istriku, ia mau denganmu, hah?" bentak Rafael, "jika kau berani menyentuh mertuaku, kau akan menyesal telah berurusan dengan Widjaja," ancam Rafael balik.
Kepolisian segera melacak sinyal ponsel yang menghubungi Rafael, tapi sinyal nomor tersebut langsung hilang. Sepertinya itu nomor yang hanya digunakan sekali pakai oleh Bethran Markes. Rafael sangat geram. Ia menyerahkan segala penyelidikan tersangka pada kepolisian. Dan Rafael kembali menuju Jakarta.
*****
Delia terbangun dari tidurnya, Huda langsung memberitahu keberadaan Rafael saat ini. Delia sangat mengkhawatirkan Rafael karena akan langsung menghadapi tersangka penculikan. Wanita itu terus mondar-mandir di kamarnya sambil menatap layar ponselnya.
Ponselnya kembali berdering, ia senang saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo Raf, bagaimana kabarnya?" tanya Delia.
"Kabar baik sayang, tersangka pertama sudah tertangkap. Dan siapa yang menyuruhnya pun sudah diketahui, aku akan segera kembali ke Jakarta dan menjelaskannya padamu," jawab Rafael.
"Ya Tuhan, syukurlah. Apa kita bisa segera menemukan keberadaan ayah dan ibu?"
"Tentu saja. Delia, ada yang ingin aku katakan padamu nanti. Kau tunggulah aku kembali."
"Baiklah, aku tunggu kau kembali. Berhati-hatilah di jalan Raf."
"Apa kau sudah makan?" tanya Rafael.
Delia terdiam karena memang belum menyentuh makanannya sama sekali.
__ADS_1
"Jika kau tidak makan, maka aku tidak mau mengatakan masalah ini padamu," ancam Rafael.
Padahal Rafael sendiri sama sekali belum menyentuh makanan.
"Iya oke," jawab Delia.
Rafael pun menutup teleponnya. Ia dan Jodhi segera kembali ke Jakarta untuk mendiskusikan masalah ini kembali.
*****
Bethran kembali ke dalam gudang, ia terkejut saat melihat makanan yang ia berikan semalam tidak mereka sentuh sama sekali.
"Mau sampai kapan kalian tidak makan," bentak Bethran pada Derry dan Emili.
Dengan kasar, Bethran membuka mulut mereka secara bergantian seraya menjejalkan makanan tersebut ke dalam mulut mereka. Keduanya menyemburkan makanan itu ke wajah Bethran.
"Sialan...!" umpat Bethran, "dasar tua bangka sialan. Aku bisa saja membunuh kalian dan memaksa Delia untuk menikah denganku. Tapi ini belum saatnya," bentaknya.
"Kalian pikir aku tak bisa memaksanya menikah denganku, hah? Aku sudah muak menunggu menantumu yang sok berkuasa itu," imbuhnya.
Katrina datang dan menghampirinya, "kau sudah gila Bethran, mereka adalah calon mertuamu. Kau sangat kasar," ujarnya.
"Sepertinya aku tidak membutuhkan mereka Kate. Aku bisa menikahi Delia walaupun tanpa mereka," jawab Bethran.
"Lalu bagaimana denganku bodoh. Jika kau mampu, mengapa kita harus melakukan semua ini? Kau jangan lupa, kita sedang bekerja sama," ucap Katrina.
Bethran menggertakkan giginya, "aku sudah kehilangan kesabaran Kate. Orang tua ini sangat keras kepala."
"Bersabarlah... kita hanya menunggu kabar dari Rafael saja."
"Terserahlah... urus kedua orang tua itu, aku sudah muak melihatnya," celetuk Bethran lalu ia keluar meninggalkan gudang.
"Kalian menurutlah, sebenarnya aku tidak tega menyiksa orang tua," kata Katrina.
"Kalian bunuh saja kami, tapi jangan pernah mengusik putri kami," bentak Derry.
"Ya Tuhan, pantas saja Bethran tidak tahan, ayah wanita murahan ini sangat keras kepala," ujar Katrina.
"Bebaskan kami, kau tidak bisa memaksakan cinta dan memisahkan mereka berdua," pinta Emili.
"Brengsek kau ibu tua, aku bicara baik baik, kau malah membuatku marah. Anak sialan kau itu tiba tiba datang dan merusak segalanya," bentak Katrina lagi.
Katrina mengambil ember berisi air dan menyiramkannya pada orang tua Delia, "kalian sangat bau, kotor dan menjijikan," teriaknya seraya meninggalkan gudang lagi
Emili menangis diperlakukan seperti itu, Derry hanya berusaha menenangkan istrinya yang ada di sampingnya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...