
Dua hari kemudian, Rafael dan Delia mengunjungi kediaman Widjaja. Awalnya Delia menolak ikut karena takut menghadapi ayah mertuanya. Namun Rafael terus meyakinkannya, jika Hartanto melupakan ucapannya saat di rumah sakit dan kembali menghinanya, maka Rafael tidak akan pernah menginjak rumah itu lagi. Akhirnya Delia pun setuju setelah mendengar ucapan suaminya.
Tibalah mereka di kediaman Widjaja, kali ini Hartanto dan Helena menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang cerah. Keduanya mempersilahkan Rafael dan Delia duduk di ruang keluarga. Mereka pun saling berhadapan di sana.
"Bagaimana kabar kalian? Aku meminta kalian datang lebih cepat, kalian justru baru pulang sekarang," ucap Hartanto memecah keheningan.
"Kami baik pi, kami benar-benar butuh waktu yang pas untuk pulang. Bagaimana kondisi papi sekarang?" tanya Rafael.
Panggilan Rafael pada ayahnya kini mulai berubah setelah mengetahui kebenaran di balik masalah mereka. Rafael sudah tidak segan-segan lagi memanggil ayahnya dengan panggilan papi seperti saat kecil dulu. Hartanto semakin lega karena putranya akhirnya kembali padanya.
"Seperti yang kau lihat, papi sehat dan semakin tua," jawab Hartanto sambil terkekeh, "bagaimana dengan kuliahmu Delia?" tanyanya.
"Ah... aku... lancar om..." jawab Delia ragu.
Hartanto menyipitkan matanya, "om? Aku sekarang ayah mertuamu. Kau panggil aku papi bukan om."
Delia menatap wajah Rafael, pria itu menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan istrinya.
"Baik... pi..." jawab Delia canggung.
Helena menarik nafasnya dalam-dalam, "bolehkan aku bicara?" tanyanya.
Tentu saja Rafael sekarang mulai memaafkan wanita itu, ia pun menganggukkan kepalanya.
"Rafael, Delia... aku minta maaf jika perlakuanku tidak baik selama ini. Aku bersalah pada kalian, karena masalah pribadiku, aku menjadi wanita yang jahat. Tapi setelah aku tahu kebenarannya dari suamiku, kini aku benar benar menyadarinya, bahwa kita sekarang adalah keluarga. Kalian mau kan memaafkan kesalahanku?" tanya Helena.
"Kami sudah melupakan masalah sebelumnya, aku sangat berharap kali ini kau benar benar menganggap kami adalah keluargamu," jawab Rafael.
"Aku mencintai suamiku, aku juga menyayangimu Raf. Delia, kau kini adalah bagian dari keluarga Widjaja juga. Sebelumnya kami tidak menyambutmu dan orang tuamu dengan baik, tapi kali ini kami akan menebus kesalahan kami. Sebenarnya tujuan kami memanggil kalian adalah untuk membicarakan masalah ini. Delia, Rafael... kami ingin kalian mengadakan acara resepsi pernikahan minggu ini. Aku sudah menyiapkan semuanya. Pernikahan kalian sangat sederhana, jadi resepsi ini harus benar-benar mewah sekaligus untuk mengumumkan secara resmi tentang pernikahan kalian ke publik. Kami dengan bangga akan mengumumkan siapa menantu keluarga Widjaja yang sebenarnya," imbuh Helena.
Rafael dan Delia sama sama terkejut.
"Aku bukannya tidak memikirkan masalah resepsi pernikahan, aku juga ingin melakukannya dan mengumumkan ke seluruh dunia siapa istriku. Tapi aku berpikir untuk melakukannya setelah semuanya terselesaikan dengan baik. Aku tak menyangka kalian justru sudah menyiapkannya," ujar Rafael.
"Rafael, papi melakukan ini untuk menebus ketidakhadiran kami di acara pernikahan kalian. Bisakah kalian mempercayakan semuanya pada kami? Kami akan mengurus semuanya," pinta Hartanto.
Delia tak bisa lagi menahan air matanya. Ia tak menyangka kehidupannya akan membaik seperti ini. Rafael memeluk pundak Delia seraya tersenyum. Sudah waktunya ia memperbaiki hubungan yang sudah retak bersama ayah dan ibu tirinya.
"Kami percaya pada kalian," ucap Rafael.
Hartanto melepaskan tawanya namun tawa itu justru disertai dengan air mata. Hartanto berusaha menahan kesedihannya namun tidak mampu lagi. Rafael seketika berdiri, pria itu mendekati ayahnya seraya memeluknya. Ini adalah pelukan yang mereka rindukan selama bertahun-tahun.
Suasana pun terasa haru saat ini, seorang Rafael yang terkenal arogan itu ikut mengeluarkan air matanya. Setelah Rafael melepaskan pelukannya, Hartanto menatap menantunya.
"Maukah kau juga memelukku, Delia?" tanya Hartanto.
Seketika Delia terkejut mendengar permintaan itu, ia pun tanpa rasa takut lagi mendekati ayah mertuanya lalu memeluknya. Mereka kembali menangis bersama.
"Ya Tuhan... seharusnya ini yang kita lakukan sejak lama. Maafkan kekerasan hati papi nak," ucap Hartanto.
"Rafael juga minta maaf karena selalu keras kepala. Terima kasih pi karena selalu sabar dengan sikapku ini," jawab Rafael.
"Ini salah papi karena merahasiakan semua ini darimu Raf. Seharusnya papi sejak awal mengatakan yang sebenarnya padamu, papi minta maaf."
__ADS_1
"Berhentilah saling menyalahkan, apa kalian juga mau memanggilku mama?" tanya Helena penuh harap.
Rafael dan Delia saling bertatapan lalu menganggukan kepala mereka bersamaan. Seketika Helena pun memeluk mereka berdua.
"Ya Tuhan... terima kasih," ucap Helena.
"Maafkan sikap Rafael ma, dan terima kasih juga selalu berada di sisi papi," ucap Rafael.
Helena menangis, ia menatap Rafael lagi, "panggil aku lagi Raf," pintanya.
"Mama..." jawab Rafael.
Seketika tangisan Helena semakin meledak, Delia segera memeluknya untuk memberikan ketenangan pada wanita itu. Inilah yang sudah lama Helena inginkan, panggilan mama dari mulut Rafael.
Kehangatan keluarga Widjaja akhirnya kembali. Walaupun saat ini Firdaus sudah berada di Amerika, tapi Rafael yakin hubungan mereka akan membaik seiring berjalannya waktu. Rafael tidak mengantarkan Firdaus ataupun melepas kepergiannya, karena Rafael masih belum bisa memaafkan perbuatan adik tirinya tersebut.
Helena mengajak mereka makan malam karena hari semakin larut. Helena mempersiapkan makanan yang dimasaknya sendiri. Ia melakukannya karena sudah tahu hubungan mereka pasti akan membaik.
Mereka menikmati makan malam itu dengan penuh kehangatan, sekali sekali Hartanto mengajak Rafael berbicara dan tertawa. Kebahagiaannya sangat jelas terlihat setelah Rafael kembali ke pelukannya. Rafael dan Hartanto terlihat sangat akrab layaknya ayah dan anak pada umumnya.
"Mama sudah memesan baju pengantin di butik langganan mama, kau dan Rafael bisa mencobanya besok atau lusa sesempatnya kalian. Ini alamatnya," ujar Helena sambil menyodorkan kartu nama butik tersebut.
Delia mengambilnya, "terima kasih ma, tapi aku harus tanya Rafael."
"Ada apa sayang?" tanya Rafael.
Delia menyodorkan kartu nama itu, "mama sudah menyiapkan baju pengantin kita di butik itu," jawabnya.
Rafael mengambil kartu itu, "tentu saja kita akan kesana sayang, ini juga designer langgananku. Terima kasih ma."
"Kami percaya pilihan mama," jawab Delia.
"Apa kalian tidak berniat untuk tinggal bersama kami? Kami kesepian setelah Firdaus pergi," ujar Hartanto.
Seketika Rafael menggelengkan kepalanya, "Rafael sudah membeli rumah pi, kemungkinan dua minggu lagi selesai direnovasi. Rafael dan Delia ingin membangun rumah tangga kami tanpa mengganggu kehidupan kalian," ujarnya.
Hartanto terkejut, "kau membeli rumah seperti apa nak? Kalian tidak bisa tinggal di rumah biasa, kalian adalah keluarga Widjaja."
Rafael terkekeh, "papi lupa siapa putramu ini? Rafael CEO perusahaan properti. Tentu saja memilih yang terbaik untuk istriku. Papi tenang saja, aku sudah tahu seperti apa rumah yang akan kami tinggali nanti."
Mereka semua melepaskan tawanya.
"Ya Tuhan... aku semakin tua, hingga melupakan siapa putraku itu. Lalu dimana kau membeli rumah itu Raf?" tanya Hartanto.
"Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara," jawab Rafael.
Hartanto mengangguk-anggukkan kepalanya, "daerah itu cukup bagus, juga tidak jauh dari perusahaan. Pilihan yang bagus nak."
"Kawasan itu juga tidak jauh dari rumah kita, jadi aku bisa sering datang untuk mengobrol dengan Delia," sahut Helena.
Rafael beranjak dari tempat duduknya, pria itu tiba-tiba berlutut di depan Helena membuat mereka semua terkejut.
"Apa yang kau lakukan Raf, bangunlah..." ujar Helena.
__ADS_1
Rafael menggelengkan kepalanya, "aku minta maaf ma, Rafael pernah memukul mama dan bertahun tahun salah paham. Rafael yakin mami di surga menginginkan ini sejak lama, tolong ampuni kesalahan Rafael," ujarnya.
Helena memaksa agar Rafael bangun, wanita itu ikut beranjak dari tempat duduknya seraya memeluknya, tangis mereka kembali pecah.
"Sudah lebih dari sepuluh tahun aku mengagumi putraku, dan menginginkan kebahagiaan ini. Ya Tuhan... terima kasih. Ini hadiah terbaik di usiaku yang semakin tua," ujar Helena di sela tangisnya.
Rafael membalas pelukannya, "sepertinya Tuhan mencoba keluarga kita sangat lama, ini adalah hukuman buat Rafael yang tidak sopan pada orang tua."
Hartanto menyela, "Delia menjadi anggota keluarga baru, yang membawa keberuntungan untuk keluarga Widjaja. Jangan lupa menjemput orang tuamu Delia untuk acara resepsi nanti, aku juga ingin mengenal mereka, orang tua yang hebat telah melahirkan putri cantik dan baik sepertimu."
Delia mengulas senyumnya lalu menganggukan kepalanya. Delia juga tak kuasa menahan tangisannya saat melihat suasana haru itu kembali.
"Ya Tuhan, berhentilah menangis. Rumah ini bisa banjir air mata," goda Hartanto.
Rafael dan Helena saling melepaskan pelukan mereka. Mereka pun terkekeh geli sambil menghapus air matanya.
"Tak perlu khawatir sayang, aku akan menyuruh Jodhi dan beberapa pengawal untuk menjemput ayah dan ibu. Aku janji kali ini tidak akan membiarkan siapapun menyentuh mereka," ujar Rafael sambil menatap istrinya.
"Aku percaya padamu," jawab Delia.
Mereka pun melanjutkan makan malam mereka, hingga akhirnya Rafael dan Delia pun berpamitan setelah menyelesaikan makan malam mereka.
*****
Rafael terus tersenyum saat mereka melakukan perjalanan pulang.
"Kau sangat senang?" tanya Delia.
"Tentu saja sayang, berbaikan dengan papi dan mama ternyata membuat hatiku lega," jawab Rafael.
"Kau semakin berubah."
"Berubah seperti apa?"
"Sikap aroganmu semakin sedikit."
"Itu karena kehadiranmu Delia. Tapi aku harus segera memberi hadiah pada keluarga Widjaja," ujar Rafael.
"Hadiah? Mereka punya segalanya," jawab Delia.
Rafael terkekeh, "kau salah sayang, mereka belum punya segalanya. Satu hadiah besar untuk mereka adalah cucu. Anak kita sayang."
Wajah Delia seketika merona, ia lupa jika kebahagiaan suami istri pasti selanjutnya adalah kehadiran anak anaknya.
"Bagaimana jika aku tidak bisa hamil?" tanya Delia.
"Itu tantangan sayang, aku akan mencoba lagi, lagi dan lagi. Itu sangat seru," goda Rafael.
"Tuan Rafael Widjaja yang mesum, kau harus aku masukkan kedalam mesin cuci agar pikiranmu bisa bersih," ujar Delia.
Rafael tak bisa menahan tawanya. Ia terbahak bahak dan mendapat pukulan dari Delia berkali kali di lengannya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...