Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXI


__ADS_3

Karena lokasi penyekapan Derry Laros tidak jauh dari lokasi Bethran menyekap Emili. Setelah mendengar pengakuan dari Bethran, polisi segera berkoordinir dengan anggota kepolisian yang masih berjaga di lokasi Bethran sebelumnya. Anggota kepolisian tersebut langsung bergegas ke lokasi penyekapan Derry.


Rafael bersama dengan sahabatnya juga segera bergegas ke lokasi yang disebutkan Bethran Markes. Mereka tak memerlukan waktu lama untuk mengetahui lokasi tersebut, karena dengan sebuah ancaman Bethran langsung mengakui dan memberitahu mereka semua.


Gudang penyekapan Derry Laros sudah kembali terkepung oleh polisi. Gudang tersebut terlihat sangat sepi seperti tidak ada aktivitas apapun di dalamnya. Namun mereka akhirnya bisa menemukan tepatnya lokasi Derry disekap, setelah mendengar beberapa kali seorang wanita berteriak di dalam gudang.


Anggota kepolisian yang sudah berada di sana terus berhati-hati. Mereka tidak ingin korban penculikan tersebut terluka jika mereka langsung menyergap ke dalam. Selama satu jam, anggota kepolisian terus mengamati pergerakan di dalam gudang.


Rafael bersama kedua sahabatnya pun sudah sampai di lokasi tersebut, mereka menanti gerakan dari anggota kepolisian untuk menangkap Katrina Dowell dan menyelamatkan Derry Laros.


Lagi-lagi terdengar suara teriakan wanita dari dalam gudang. Sepertinya situasi semakin tidak terkendali, entah apa yang membuat wanita itu sangat marah. Wanita itu sepertinya tidak lain adalah Katrina Dowell.


Pintu gudang tiba-tiba terbuka, seorang pria keluar seperti ketakutan. Tentu saja anggota kepolisian langsung menangkapnya. Pria itu mengakui adalah anak buah Katrina Dowell. Pria tersebut bahkan mengatakan jika Katrina Dowell saat ini sedang memegang senjata api.


Mendengar pengakuan dari anak buah Katrina tersebut, anggota kepolisian, Rafael dan sahabatnya segera bergegas masuk ke dalam gudang. Dengan hati-hati mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam, benar saja... Katrina sedang menodongkan pistolnya pada Derry Laros. Wanita itu tidak menyadari jika anggota kepolisian sudah mengepungnya. Saat Katrina nekat menarik pelatuk pistol tersebut. Seketika itu juga salah satu anggota kepolisian bergerak.


Dooorrrrr...


Pihak kepolisian menembakkan pelurunya ke arah pistol yang ditodongkan Katrina, hingga senjata api tersebut terpental dan membuat Katrina jatuh karena terkejut.


Katrina berusaha bangun, namun seketika beberapa anggota kepolisian langsung menangkapnya. Wanita itu berteriak histeris saat penangkapan itu terjadi. Ia tak bisa berbuat apapun saat polisi membekuknya dengan kasar.


Rafael dan kedua sahabatnya segera menghampiri Derry Laros. Mereka membantu melepaskan ikatan tangan dan kaki ayah pria itu.


"Ayah tidak apa apa kan?" tanya Rafael.


Derry mengangguk, "nyaris saja ayah tidak bisa bertemu kalian lagi. Katrina sangat nekat," jawab Derry.


"Maafkan Rafael datang terlambat yah," kata Rafael.


"Tidak nak... Kau sudah berjuang menyelamatkan ayah. Lalu bagaimana dengan ibu? Ayah dengar kalian sudah menyelamatkannya."


Rafael menganggukkan kepalanya, "puji Tuhan yah... ibu baik-baik saja. Saat ini ibu sedang dirawat di rumah sakit karena syok. Delia juga ada di sana sedang menemaninya, mereka sedang menunggu ayah kembali."


"Puji Tuhan, terima kasih. Selama penyekapan, ibu tidak mau makan sama sekali. Ayah sangat mengkhawatirkannya."


"Ayah tak perlu khawatir, ibu sudah diselamatkan. Saat ini pikirkan ayah sendiri, ayah juga harus ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan," ujar Rafael.


"Ayah tidak apa-apa nak, ayah hanya ingin bertemu dengan ibu dan Delia," jawab Derry.


"Itu sudah pasti, kita pasti berkumpul lagi. Tyar, Huda... bantu ayah ke mobil," pinta Rafael.


Tyar dan Huda membantu Derry Laros, sedangkan Rafael mendekati Katrina yang masih berontak saat di tangkap polisi.


"Lepaskan aku... Rafael... aku hanya menginginkanmu, mengapa kau melakukan ini padaku," teriak Katrina.


Rafael menghela nafas panjang, "yang kau lakukan ini salah Kate. Kau bahkan nyaris membunuh mertuaku, jika sampai kau melukainya, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu di depan polisi. Kau pikir aku takut masuk penjara, aku akan melakukan apapun untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi."


"Kau gila Rafael... kau baru saja mengenal wanita itu. Mengapa kau lebih membelanya dari pada aku. Aku tunanganmu..." teriak Katrina.

__ADS_1


Rafael meminta polisi segera membawanya, karena ia tidak ingin lagi melihat wanita itu. Polisi pun segera membawa Katrina, bahkan hampir menyeretnya karena wanita itu terus memberontak.


Rafael ikut keluar dari dalam gudang seraya mendekati mobilnya. Pria itu masuk ke dalam mobil dimana Derry dan kedua sahabatnya sedang menunggunya.


"Kita langsung ke rumah sakit saja," ucap Rafael.


Tyar segera mengendarai mobilnya meninggalkan gudang menuju rumah sakit.


"Kasihan sekali, ia tadi menghubungi ayahnya. Namun sepertinya ayahnya tidak ingin membantunya. Sebenarnya ia tadi mencoba bunuh diri, aku berusaha mencegahnya. Tapi malah ia menodongkan pistol padaku. Ia bilang lebih baik mati bersama, aku sangat kasihan pada wanita itu. Ia pasti sangat terguncang," ujar Derry.


"Seorang Katrina Dowell mencoba bunuh diri? Ia benar-benar sudah kehabisan akal," ucap Tyar.


"Kurasa wanita itu tertekan dengan tindakan kriminalnya. Tapi aku tak habis pikir, padahal Frans Dowell sangat menyayanginya. Tapi mengapa ia tidak mau membantu putrinya," sahut Rafael kembali mendekati mereka.


"Aku pikir Frans tidak mau terlibat dalam tindakan kriminal yang dilakukan putrinya, karena itu akan merusak perusahaan DowellKat. Tapi bukankah tetap saja media akan cepat menyebarkan berita ini dan menghancurkannya?" ucap Huda.


"Setidaknya Frans tidak terlibat dan itu tidak terlalu merugikannya. Perusahaan itu masih dipegang olehnya. Putrinya belum bisa mempengaruhi perusahaan itu. Ku pikir itulah yang dipikirkannya. Pria itu sangat egois sebagai seorang ayah. Hartanya diatas kasih sayangnya," ujar Rafael.


"Jika Frans tahu putrinya ingin bunuh diri dan jika tindakan itu berhasil membuat putrinya mati sia-sia, aku rasa Frans akan menyesal. Untung saja om Laros bisa menyelamatkannya," sahut Tyar.


"Mungkin Frans mengira anaknya takkan melakukan kebodohan lebih dari ini. Tapi ia tidak sadar, putrinya sudah tak terkendali. Dan senjata itu sepertinya Katrina mengambilnya diam diam, aku yakin itu milik Dowell," jawab Rafael.


Mereka terus membicarakan keluarga Dowell, hingga akhirnya mereka semua sampai di rumah sakit.


*****


Sebelum menemui Emili dan Delia. Rafael memaksa Derry untuk melakukan pemeriksaan. Sedangkan Tyar dan Huda berpamitan pulang.


Keduanya menuju ruang perawatan Emili Laros. Derry dan Rafael terkejut, saat melihat Emili dan Delia sedang tertidur di sana. Rafael mendekati istrinya.


"Sayang... bangun... ayah sudah kembali. Ia ada disini," bisik Rafael lembut.


Delia mengerjapkan matanya, ia menatap Rafael.


"Raf... kau sudah kembali? Apa yang kau katakan tadi?" tanya Delia.


Rafael menggeser tubuhnya, "lihatlah... siapa yang ada di belakangmu."


Delia menolehkan kepalanya, seketika ia bangun dan nyaris terjatuh karena sempoyongan. Rafael dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Delia seraya melepaskan tangisannya lalu memeluk ayahnya.


"Ayah... kau akhirnya kembali. Ayah maafkan Delia karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik," ucap Delia di sela tangisannya.


"Kau sama sekali tidak bersalah Delia, ini kecerobohan ayah dan ibu. Kami belum memahami situasi yang terjadi di antara kalian. Berhentilah menangis, setidaknya ayah dan ibu sudah kembali dengan selamat," jawab Derry.


"Benar sayang, berhentilah menangis. Mereka sudah bersama kita lagi," sahut Rafael.


Delia melepaskan pelukannya lalu ia menatap suaminya, "terima kasih kau menepati janjimu. Terima kasih kau mengembalikan mereka padaku,"


"Berhentilah mengucapkan terima kasih, sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu."

__ADS_1


Derry mendekati istrinya, ia menggenggam tangan Emili yang masih tertidur. Seketika Rafael mengajak Delia keluar agar kedua orang tuanya lebih leluasa.


*****


"Apa kau sudah makan?" tanya Rafael saat berada di ruang tunggu.


Delia menggelengkan kepalanya.


"Kau ingin membuatku marah?" ujar Rafael.


"Aku takut ibu terbangun lalu mencariku. Jadi aku tidak sempat keluar untuk makan," jawab Delia.


"Ini ruangan kelas 1 sayang, kau bisa meninggalkan ibumu. Perawat disini 24 jam mengurusnya," ucap Rafael saya beranjak dari tempat duduknya, "kita makan lalu membeli makanan juga buat ayah dan ibu," ajaknya.


Delia menganggukkan kepalanya, wanita itu mengikuti suaminya meninggalkan rumah sakit untuk mencari restoran terdekat.


*****


Di kantor polisi...


"Sialan kau Bethran. Mengapa kau membawaku ikut ke dalam penjara. Kau memang bodoh," teriak Katrina di kantor polisi saat keduanya disandingkan.


"Diam...! Kau kira ini hutan..." bentak salah satu polisi.


"Kau akan menyesal pak polisi telah menangkap anak Dowell," teriak Katrina lagi.


"Jika kau masih berteriak aku akan melakban mulutmu itu, kau kira hukum akan takut pada keluarga Dowell," jawab polisi itu lagi.


"Diamlah Kate... Aku akan cari cara agar kita terbebas dari sini," bisik Bethran.


"Kau bilang kita akan berhasil, tapi mana buktinya, hah! Kita malah tertangkap, dan sia sia sudah apa yang kita lakukan," bentak Katrina.


Bethran menggertakkan giginya, "ini karena Rafael Widjaja, ia berani menipuku," jawabnya geram.


"Kalian bisa tenang tidak," kata polisi tersebut, "kami sudah menghubungi keluargamu di Lampung, pak Surya Markes akan segera tiba di Jakarta. Begitu juga dengan Frans Dowell," ujarnya.


Ucapan polisi membuat Bethran terkejut, ayahnya sudah mengetahui perbuatannya. Ia hanya tinggal siap siap menerima amukan pria itu.


"Kalian akan dikenakan pasal berlapis tentang penculikan dan penyekapan, mencoba pembunuhan. Dan kau Katrina Dowell memiliki senjata api tanpa izin itu juga melanggar hukum," kata polisi lagi.


"Papa pemiliknya dan ia punya izin atas senjata itu," jawab Katrina.


"Apa kau sudah gila? Kau mencoba membunuhnya?" tanya Bethran.


"Itu karena..."


"Dengan alasan apapun, kalian berdua akan mendekam di dalam penjara," sergah polisi.


Katrina akhirnya tak bisa menahan air matanya lagi, membayangkan dirinya akan masuk penjara membuatnya sangat ketakutan.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2