Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXXII


__ADS_3

Perjalanan menuju rumah sakit cukup memakan waktu, keduanya akhirnya tiba di sana nyaris saat matahari terbenam. Rafael dan Delia pun segera masuk ke dalam rumah sakit. Saat baru sampai di ruang perawatan Hartanto, seketika Delia menghentikan langkahnya. Wanita itu takut menghadapi mertuanya.


"Kenapa sayang?" tanya Rafael.


"Aku lebih baik menunggu di luar saja Raf, aku takut kehadiranku justru memperburuk kesehatan ayahmu," jawab Delia, "temuilah ayahmu dulu, aku tak apa apa jika harus menunggumu," imbuhnya.


Rafael menggelengkan kepalanya karena ia tak setuju dengan pendapat Delia, pria itu menarik tangan Delia dan menggenggamnya dengan lembut.


"Kau istriku Delia, tetap berada di sampingku agar aku bisa mengendalikan emosiku saat menghadapi papi. Kau tak perlu takut, aku akan melindungimu," ujar Rafael.


Delia mendesah, ia tak bisa berdebat dengan suaminya saat ini. Ada benarnya ucapan Rafael, ia harus menenangkan suaminya saat bertemu dengan Hartanto. Delia pun melanjutkan langkahnya, mengikuti Rafael masuk ke dalam ruangan.


Di tempat tidur itu, Hartanto sudah membuka matanya, pria tua itu terlihat sedih. Ia menatap Rafael dan Delia saat keduanya masuk. Tak ada lagi wajah pria menakutkan sebelumnya. Delia melangkahkan kakinya bersama Rafael, namun wanita itu nyaris berada di belakang suaminya karena masih takut. Keduanya mendekati Hartanto yang masih menatap mereka.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rafael.


Hartanto mengangguk lemah, "sudah lebih baik. Bagaimana keadaan perusahaan Raf?" tanyanya.


"Jangan pikirkan masalah perusahaan dulu, kau fokuslah pada kesehatanmu. Aku sudah menangani sebagian masalah yang ditimbulkan anak tirimu," jawab Rafael.


"Dimana mereka?" tanya Hartanto.


"Mengapa kau masih saja ingin bertemu para pengkhianat itu? Berhentilah memperdulikan orang yang berusaha menghancurkan keluarga Widjaja," kata Rafael kesal.

__ADS_1


Seketika Delia menggenggam tangan Rafael untuk menenangkannya. Rafael menghela nafas panjang seraya mengangguk pada istrinya. Ia tak ingin membuat Delia khawatir saat ini. Rafael kembali menatap ayahnya.


"Aku tidak ingin menambah pikiranmu sekarang, istirahatlah yang cukup. Masih banyak yang harus aku ungkapkan tentang keduanya. Tapi nanti setelah keadaanmu benar benar membaik, jangan memancing amarahku lagi," imbuh Rafael.


"Raf... seburuk apapun keduanya, tapi mereka masih tanggunganku. Helena istriku dan Firdaus anaknya yang harus aku urus. Itu janjiku saat menikahinya," ujar Hartanto keras kepala, "aku melakukan kesalahan di masa lalu pada keluarganya, aku tahu Helena masuk dalam hidupku untuk membalas dendam. Perasaan bersalahku membiarkannya melakukan kejahatan padaku selama bertahun tahun. Aku terus berusaha membuatnya jatuh cinta, agar perasaan dendam dan rasa bersalahku hilang seiring berjalannya waktu. Mungkin sampai saat ini, Helena tidak tahu jika aku mengetahui siapa sebenarnya dirinya. Kau tahu Widjaja banyak koneksi handal dalam menyelidiki latar belakang orang. Awalnya aku memang terkejut, tapi aku harus menebus segala kesalahanku di masa lalu," imbuh Hartanto menjelaskan pada putranya.


Rafael membelalakkan matanya, rahasia apa yang disembunyikan oleh ayahnya selama ini. Rafael sangat terkejut mendengarnya. Delia yang ikut mendengarkan ucapan Hartanto, menatap Rafael yang masih terkejut.


"Sepertinya ini rahasia di balik masalah keluarga Widjaja, melihat ekspresi wajah Rafael, sepertinya suamiku juga tak mengetahuinya," pikir Delia.


"Kesalahan? Kesalahan apa maksudmu? Apa hubungannya masa lalumu dengan pengkhianatanmu pada ibuku," ujar Rafael.


Rafael mulai mengeraskan suaranya membuat Delia semakin takut.


"Cukup Hartanto," bentak Rafael, "jangan coba coba mencari alasan untuk membela anak dan istrimu itu," imbuhnya.


"Raf... tenanglah... kau harus mendengarkan ayahmu terlebih dahulu," pinta Delia.


Hartanto menarik nafasnya dalam-dalam, "aku tahu kau pasti masih menuduhku seperti itu, tapi dengarkan aku Raf. Setelah itu kau bisa memutuskan untuk mempercayaiku atau tidak. Aku melakukan kesalahan besar pada keluarga Helena dan membuatnya bangkrut, aku menari nari diatas penderitaan keluarga itu dengan kesuksesan perusahaan Widjaja. Lalu aku menikahi ibumu dan memilikimu sebagai hadiah terbesarku. Namun seiringnya waktu, kau terus saja sakit sakitan saat masih kecil, dan ibumu pun akhirnya terkena penyakit karena seringnya memikirkan kesehatanmu. Kehidupan kami seperti kena karma karena kesalahanku. Aku menceritakan semua kejadian sebelum menikah pada ibumu. Ibumu awalnya terkejut, namun ia akhirnya menyuruhku menebus segala kesalahanku. Aku mencari tahu tentang keluarga itu dan Helena yang paling menderita disana. Ia memiliki putra yang masih bayi, namun ia ditinggalkan suaminya akibat kemiskinannya, itu semua akibat ulahku. Aku menceritakan kembali pada ibumu dan ibumu memang gila, ia menyuruhku menikahi wanita yang tidak aku cintai yaitu Helena untuk menebus kesalahanku. Kau masih kecil saat itu untuk memahami masalah keluarga. Aku berkali kali menolak permintaan ibumu, namun setiap hari ia mendesakku dan menangis agar karma dalam keluarga Widjaja berakhir. Dan kau bisa segera sehat dan tumbuh besar layaknya anak anak pada umumnya. Aku mendekati Helena dan mengatakan kebohongan bahwa ibumu sakit sakitan dan aku perlu hiburan. Dan itu cukup meyakinkannya untuk menikah denganku. Dan saat aku menikah, aku mendengar ibumu masuk rumah sakit dan koma. Aku segera ke rumah sakit, namun aku tak mampu menghadapi kenyataan saat dokter mengatakan ibumu sudah tiada. Aku kalut dan menggila saat itu, aku berusaha mendekatimu tapi kau begitu marah padaku hingga sampai kau dewasa kau tak bisa memaafkanku," ujar Hartanto menjelaskan semuanya.


Rafael mundur, tubuhnya gemetaran akibat penjelasan ayahnya. Delia sudah mulai menangis mendengar kisah itu. Ucapan Hartanto terdengar sangat meyakinkan. Pria tua itu bahkan mulai mengeluarkan air matanya saat menceritakan rahasia yang sebenarnya.


"Tidak mungkin, ini pasti taktik ayahku saja agar aku bisa memaafkan mereka," pikir Rafael masih tak percaya.

__ADS_1


"Kau jangan membohongiku Hartanto, ibuku tak mungkin berbuat seperti itu hanya untuk melepas karma keluarganya. Kau pikir aku akan percaya," ucap Rafael sambil menggelengkan kepalanya.


"Demi Tuhan Rafael, aku menyayangi kau dan ibumu lebih dari nyawaku. Aku terus terusan mengunci diriku karena aku tak ingin membuatmu semakin marah, aku membiarkan anak berumur belasan tahun menangani perusahaan Widjaja. Apa kau pikir aku sengaja melakukannya. Itu semua karena kau yang bersikeras menghindariku, tak mau menatapku. Rasa sakit kehilangan kedua kalinya dalam hidupku adalah saat kehilangan kepercayaanmu Rafael. Disaat aku kehilangan istri yang aku cintai, anak kesayanganku pun meninggalkan aku. Namun aku terima semuanya karena aku yakin itu karma atas perbuatanku. Dan aku menyiksa diriku sendiri dengan hidup bersama Helena. Wanita itu baik di depanku, tapi ia mengkhianatiku di belakang. Tapi aku terima semuanya, sebagai hukuman atas rasa sakit yang kalian rasakan," kata Hartanto kembali menjelaskan.


Rafael tertawa tidak percaya, namun air matanya akhirnya keluar saat mengingat saat saat kecilnya dulu. Begitu sakit saat mengingat semuanya.


"Lalu mengapa kau memukulku saat aku melihatmu bersama wanita berkali kali di rumah, sedangkan ibuku sedang terbaring di kamarnya?" tanya Rafael.


Hartanto memejamkan matanya sejenak lalu kembali menatap putranya, "kau sangat kecil saat harus memahami siapa dan sedang apa aku bersama orang lain. Aku memukulmu agar kau berlaku sopan pada orang lain, wanita yang aku ajak ke rumah adalah sekretaris dan beberapa staf perusahaan Widjaja. Ia yang membantuku bekerja di rumah, karena aku takkan meninggalkan ibumu yang sedang terbaring sakit. Aku berbulan bulan meninggalkan perusahaan demi merawat ibumu, itulah mengapa membuat beberapa orang dari perusahaan termasuk sekretaris untuk datang ke rumah mengantarkan beberapa laporan penting padaku," jawab Hartanto.


Kaki Rafael melemah, pria itu terjatuh ke lantai tanpa daya, selama ini ia salah paham pada ayahnya. Membencinya bertahun tahun. Ia mengumpulkan beberapa ingatan dari masa lalunya yang melihat beberapa orang selalu sibuk di ruangan ayahnya.


Ternyata itu ruangan kerja ayahnya. Karena sampai detik ini pun Rafael sangat enggan menginjak ruangan itu karena kesalahpahamannya sendiri. Saat ia mengingat wajah mereka kembali, ia pun akhirnya menyadari mereka memang staf lama perusahaan Widjaja.


"Helena bukan wanita simpanan dan murahan seperti yang kau katakan, Helena juga bukan dari keluarga miskin sebelum aku hancurkan usaha orang tuanya. Itulah mengapa aku marah padamu saat kau menghinanya Raf," ujar Hartanto lagi.


Delia memeluk Rafael yang mulai menangis di lantai. Pria arogan yang selama ini terlihat, kini benar-benar melemah seperti seorang anak kecil yang butuh kasih sayang. Tubuh Rafael terus gemetar akibat tangisan penyesalannya.


Delia berusaha menenangkan suaminya, Delia tahu seberapa sakit yang ditanggung suaminya saat itu. Rafael tak mempercayai kenyataan tersebut. Ini semua seperti mimpi baginya. Mengapa ayahnya baru memberitahu semuanya, setelah masalahnya semakin rumit seperti ini.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2