
Saat usia Bastian baru satu setengah tahun, kabar gembira kembali datang dalam keluarga mereka. Delia akhirnya mengandung anak keduanya. Tidak seperti awal kehamilan, kali ini Delia tidak merasakan apapun. Tidak ada rasa mual, pusing atau ngidam sama sekali.
Itu membuat Rafael bisa bernafas lega karena ia memang selalu sibuk bekerja. Namun demikian, Rafael tetap memperlakukan Delia seperti seorang ratu.
Saat usia kehamilannya menginjak usia tujuh bulan, Rafael justru memperkejakan pelayan tambahan agar istrinya sama sekali tidak kelelahan. Pria itu juga tidak pernah pulang larut malam agar terus bisa menjadi suami siaga di dua bulan akhir menuju kelahiran.
Hasil USG seminggu yang lalu, ternyata Delia mengandung seorang putri yang sangat sehat. Itu membuat Rafael sangat bahagia karena sama persis seperti harapannya yang ingin memiliki seorang putri cantik seperti ibunya.
Tepat di hari kelahiran...
Delia merasakan sakit pada perutnya, saat itu sudah pukul 11 malam. Melihat Rafael yang tertidur karena kelelahan, Delia berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya. Wanita itu turun dari ranjangnya perlahan agar tidak membangunkan suaminya.
Delia terus mondar-mandir di kamar itu, sambil mengelus perut besarnya.
"Jangan malam ini sayang, kau lihat papi, sepertinya ia sangat kelelahan. Tahan sampai besok pagi, oke..." gumam Delia.
Rasa nyeri itu menghilang, namun beberapa saat kemudian kembali terasa. Keringat Delia mulai mengucur deras menahan rasa sakitnya.
"Ya Tuhan... kau benar benar sudah ingin melihat dunia ini. Kau tidak sabaran putriku," gumam Delia lagi.
Delia kembali menatap suaminya yang tertidur pulas. Delia mengigit bibirnya sendiri sambil terus meringis.
"Aku tidak tahan lagi," ucapnya sambil mendekati Rafael, "suamiku... Raf..." panggil Delia pelan.
Rafael bergeming membuat Delia akhirnya mengguncang tubuhnya lebih keras.
"Sayang... perutku sakit," keluh Delia.
Rafael seketika bangun dan terduduk di atas ranjangnya, "kau kenapa?"
"Putri kita... sepertinya ia tidak sabar lagi," jawab Delia.
Rafael terbelalak, ia turun dari ranjangnya dengan sempoyongan. Pria itu melihat wajah istrinya yang sudah dipenuhi dengan keringat. Delia meringis kesakitan namun ia masih saja sempat tersenyum pada suaminya.
__ADS_1
"Astaga... kenapa kau baru membangunkan aku," ucap Rafael seraya mengangkat tubuh Delia.
"Aku berat sayang, turunkan aku. Aku masih bisa berjalan," pinta Delia.
Rafael tidak menghiraukan istrinya, pria itu keluar dari kamar mereka sambil membopong tubuh Delia. Rafael berteriak memanggil pelayan. Karena para pelayannya memang belum tidur, mereka pun segera keluar.
"Ada apa tuan? Kenapa dengan nyonya?" tanya seorang pelayan.
"Bangunkan pak Parto, antar kami ke rumah sakit. Sepertinya Delia ingin melahirkan, dan tolong ambilkan barang barang Delia di kamar," pinta Rafael panik.
Para pelayan tersebut ikut sibuk, satu orang segera menuju kamar supir, satu lagi menuju kamar utama mereka untuk mengambil barang barang Delia yang memang sudah dipersiapkan saat akan melahirkan. Pengasuh Bastian pun akhirnya terbangun lalu mendekati Rafael yang masih membopong tubuh istrinya.
"Jaga Tian di rumah sampai ada kabar dariku," pinta Rafael.
"Baik tuan," jawab pengasuh tersebut.
Delia kembali meringis kesakitan, tanpa sadar wanita itu mencengkeram lengan suaminya dengan kuat.
Supir akhirnya berlari ke arah mereka. Mereka pun segera keluar dari rumah. Pak Parto mengeluarkan mobil dari garasi. Seketika Rafael masuk ke dalam mobilnya bersama Delia, sedangkan pelayan sudah memasukkan barang barang Delia ke bagasi mobil. Satu pelayan pun ikut bersama mereka menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Delia merebahkan kepalanya di pundak Rafael sambil menggenggam erat tangan suaminya. Rasa sakit itu semakin sering terasa hingga keringatnya mengucur deras.
"Sayang... kau masih bisa menahannya?"
Delia menganggukkan kepalanya. Rafael bingung harus bagaimana, pria itu hanya terus mengelus perut besar Delia.
"Pak Parto, lebih cepat lagi," pinta Rafael.
"Baik tuan," jawab pak Parto.
Walaupun ini anak kedua mereka, namun baru kali ini Delia merasakan sakit dari rumahnya sendiri. Saat mengandung Bastian, wanita itu sudah tinggal beberapa hari di rumah sakit atas permintaan Rafael sebelum kontraksi terjadi. Saat hamil kedua, Delia menolak untuk tinggal di rumah sakit karena memikirkan putra mereka yang baru berusia 2 tahun.
Jalanan di ibukota tidak terlalu padat karena sudah tengah malam. Mereka pun bisa segera sampai di rumah sakit. Rafael membantu Delia keluar dari mobilnya, saat baru keluar, ketuban kandungan Delia pun pecah. Seketika Rafael berteriak minta bantuan medis. Delia meringis kesakitan, kali ini rasa sakit itu semakin luar biasa.
__ADS_1
Beberapa perawat segera mendorong bed sick, sontak Rafael mengangkat tubuh istrinya dan merebahkannya ke atas ranjang tersebut. Dengan langkah cepat mereka membawa Delia ke ruang persalinan. Namun Rafael sama sekali tidak melepaskan istrinya, ia pun ikut masuk ke ruangan dan mendampingi Delia melahirkan anak kedua mereka.
Putri cantik yang diberi nama Cristina Widjaja akhirnya lahir ke dunia. Kebahagiaan keluarga besar Widjaja dan Laros semakin bertambah karena kehadiran cucu kedua mereka.
*****
Gambaran "Suamiku Tajir dan Arogan Season 2"👇🏻👇🏻👇🏻
Tiga tahun kemudian...
Bastian yang baru bersekolah di sebuah taman kanak-kanak semakin cerdas. Ia sangat menyayangi adiknya dan selalu menjaga Christina dengan baik.
Kedewasaan Bastian di usia lima tahun tersebut dipicu karena ayah dan ibunya yang sibuk. Delia memutuskan untuk berkuliah kembali, sedangkan Rafael sering pergi ke luar negeri untuk menangani bisnisnya. Bastian dan Cristina lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh juga kakek dan neneknya.
Kesibukan Rafael dan Delia justru memicu kesalahpahaman karena kurangnya komunikasi diantara mereka. Kecemburuan Rafael pun kerap terjadi saat Delia lebih sering bersama teman-teman kuliahnya.
Keributan yang kerap terjadi diantara mereka sampai terdengar ke telinga orang tua Delia. Derry dan Emili pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk membantu menjaga cucu-cucunya.
Di saat rumah tangga Delia dan Rafael goyah, di saat itu juga Bethran Markes keluar dari penjara. Pria itu geram saat mengetahui kematian Katrina Dowell yang tragis. Awalnya ia ingin melupakan masalah sebelumnya, tapi mendengar kematian tersebut mengubah segalanya.
Perasaan cinta Bethran Markes berubah menjadi kebencian kepada Delia, apalagi saat melihat kebahagiaan keluarga Widjaja tersebut. Ia berniat kembali untuk menghancurkan keluarga mereka. Niatnya diketahui oleh seseorang yang memang memiliki dendam pribadi pada Rafael.
Seiring berjalannya waktu, di saat Bethran dan orang itu mulai ingin membalaskan dendamnya, Bethran justru mengetahui kenyataan jika Rafael sama sekali tidak menghancurkan keluarganya. Seketika pria itu mengubah rencana balas dendamnya untuk membantu mereka dari dendam pribadi orang tersebut.
*****
Siapakah orang yang memiliki dendam pribadi pada Rafael tersebut? Berhasilkah mereka menghancurkan keluarga Widjaja?
Jika penasaran, silahkan lanjutkan ceritanya pada novelku yang berjudul "Suamiku Tajir dan Arogan Season 2"
Happy Reading All...
See You Next My Story...
__ADS_1