
Tibalah hari dimana acara resepsi pernikahan Rafael dan Delia dilaksanakan. Sepasang pengantin yang cantik dan tampan memasuki aula resepsi dengan setelan pakaian desainer ternama. Keduanya tersenyum lebar di depan ratusan bahkan ribuan tamu undangan yang memadati aula tersebut.
"Ya Tuhan Raf, ini seperti sedang ada acara konser. Mengapa padat sekali," bisik Delia.
Rafael menyeringai, "papi dan mama benar benar tidak main-main sayang. Mereka mengundang semua kenalan yang ada. Jadi seperti inilah keadaannya."
"Mau sampai kapan acara ini selesai?"
"Mungkin tujuh hari tujuh malam."
Seketika Delia mencubit pinggang suaminya membuat Rafael terkekeh.
"Bersabarlah, ini kebahagiaan kita Delia. Acara ini akan kita kenang seumur hidup," kata Rafael.
Delia menganggukkan kepalanya. Rafael pun mengajak istrinya untuk menyapa kolega-kolega bisnisnya. Sekali-sekali Delia melihat ayah dan ibunya yang sedang bersenda-gurau bersama mertuanya. Mereka terlihat sangat bahagia saat ini.
Dengan bangganya, Rafael memperkenalkan istri cantiknya pada para tamu. Tak ada satupun dari mereka yang bisa mengalihkan tatapannya dari pengantin wanita.
"Aku benci melihat tatapan mereka yang tak lepas darimu. Mengapa kau begitu cantik hari ini sayang," bisik Rafael.
Delia tersenyum, "bukankah kau yang mengenalkanku pada mereka. Berhentilah cemburu tuan."
"Aku tidak cemburu, hanya kesal saja."
"Apa bedanya?"
Rafael menghela nafas panjang, "Delia, aku mencintaimu."
Ucapan Rafael secara tiba-tiba membuat Delia sangat terkejut. Wanita itu tidak membalas pengakuan suaminya.
"Delia, aku ingin menghabiskan waktu malam ini hingga pagi. Aku ingin terus berusaha untuk mendapatkan..."
Delia mencubit pinggang Rafael lagi, namun kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Rafael meringis kesakitan sambil terkekeh geli.
"Berhentilah berpikiran kotor tuan mesum," kata Delia.
"Aku sudah tidak sabar ingin kembali ke rumah sayang, aku ingin menarik pengantinku ke atas ranjang," bisik Rafael lagi.
Kali ini Delia menginjak kaki suaminya agar diam.
"Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga," gerutu Rafael.
"Kau pantas mendapatkannya. Kau terus membuatku malu Raf."
Rafael terkekeh, "wajahmu memerah sekarang, bukankah kau juga menikmati setiap sentuhanku," godanya.
"Ya Tuhan, Rafael Widjaja... Aku benar benar malas dekat denganmu," ujar Delia seraya melepaskan tangannya dari lengan Rafael.
Seketika Rafael menahannya, "jika kau berani pergi dariku, aku akan melakukannya di depan para tamu undangan," ancamannya.
Delia terbelalak lebar, ia ingin membalas ucapan Rafael lagi, tapi ada tamu undangan yang mendekati mereka untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahannya. Delia pun menahan lidahnya, hanya tatapan tajam Delia yang akhirnya membuat Rafael terdiam.
Tamu undangan tak henti hentinya silih berganti menghampiri mereka. Akhirnya Delia pun mulai mengeluh karena lelah. Kakinya mulai terasa sakit karena seharian menggunakan high heels.
"Aku ingin kabur dari sini," ucap Delia.
Rafael menatap istrinya yang benar benar kelelahan, pria itu juga melihat gerak-gerik kaki Delia.
"Tunggu sebentar di sini sayang, aku akan segera kembali," kata Rafael.
__ADS_1
"Kau mau kemana?"
"Tunggu saja sebentar," jawab Rafael seraya meninggalkan Delia.
Delia memperhatikan Rafael, suaminya benar benar meninggalkan aula resepsi membuat Delia terkejut.
"Aku yang mau kabur, kenapa justru ia yang pergi duluan? Kenapa ia meninggalkan aku sendirian?" pikir Delia bingung.
Beberapa tamu undangan mendekatinya membuat Delia membuyarkan pikirannya. Namun tidak begitu lama Rafael justru kembali lagi masuk ke dalam aula. Pria itu tersenyum lebar sambil mendekati Delia.
Delia terkejut saat melihat Rafael membawa sepasang sandal cantik namun tidak berhigh. Pria itu langsung berjongkok di depan Delia sambil membantu istrinya melepaskan high heelsnya dan menggantinya dengan sandal yang ia bawa. Adegan itu tentu saja membuat para tamu terkejut dan iri melihat keromantisan mereka.
"Raf..."
Rafael mendongakkan kepalanya, "aku tahu kakimu akan sakit. Jadi aku sudah menyiapkannya, maaf aku meninggalkanmu sebentar tadi untuk mengambilnya."
Delia justru meneteskan air matanya, ia tak menyangka Rafael begitu memperhatikannya. Rafael berdiri kembali setelah selesai membantu istrinya, pria itu seketika menghapus air mata Delia.
"Kenapa kau menangis?" tanya Rafael.
"Kau membuatku bahagia, terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku," jawab Delia.
Seketika Rafael memeluk Delia, tiba-tiba para tamu undangan justru bertepuk tangan dan bersorak-sorai melihat kemesraan mereka. Delia langsung membenamkan wajahnya tepat di dada Rafael membuat pria itu tertawa.
"Jadi, apakah aku diizinkan untuk menghabiskan malam ini bersamamu hingga pagi hari," goda Rafael.
Sontak Delia memukul dada suaminya dengan manja membuat Rafael semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa kakimu sudah nyaman sekarang?" tanya Rafael sambil melepaskan pelukannya.
Delia menganggukkan kepalanya.
Delia kembali menganggukan kepalanya, mereka pun dengan sabar menyelesaikan acara resepsi tersebut hingga para tamu undangan satu per satu meninggalkan mereka.
Delia kembali melihat orang tuanya bersama keluarga Widjaja, ia ingat saat pulang ke Lampung dua hari yang lalu dan menjemput kedua orang tua dan keluarga besarnya.
*****
Flash Back On.
"Ibu... ayah...!!!" teriak Delia saat sampai di rumahnya.
Delia seketika memeluk kedua orangtuanya karena sangat merindukan mereka.
"Ya Tuhan, aku merindukanmu nak," kata Emili sambil memeluk Delia dan Rafael bergantian.
"Aku juga merindukan kalian, kalian sehat kan?" tanya Delia.
Kedua orang tuanya mengangguk.
"Benarkah kita akan kembali ke Jakarta? Acara resepsi akan dilaksanakan bersama keluarga Widjaja, lalu apa kami bisa hadir?" tanya Derry cemas.
"Tentu saja yah, dan keluarga Rafael ingin bertemu kalian sebelum acara resepsi," jawab Rafael.
Setelah mengatakan hal itu, akhirnya orang tua Delia menyetujuinya. Mereka dan saudara Delia yang diberitahu segera berkemas. Baru beristirahat beberapa jam, Rafael langsung mengajak mereka untuk berangkat ke Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, Jodhi dan 2 staff lain yang membawa 3 mobil untuk menjemput mereka di bandara, segera mengantar saudara Delia yang lain ke hotel yang telah Rafael pesan. Sedangkan orang tua Delia langsung dibawa oleh Rafael bertemu keluarga Widjaja.
Hartanto dan Helena yang sudah menunggu kedatangan mereka, langsung menyambut orang tua Delia dengan pelukan hangat. Kebahagiaan itu benar benar terlihat tanpa ada rasa terpaksa sama sekali. Kedua keluarga saling berbincang dan cepat akrab, hingga akhirnya Derry dan Emili tidak diperkenankan untuk tinggal di hotel. Mereka menyetujui permintaan Hartanto untuk menginap di rumah besar tersebut.
__ADS_1
Flash Back Off.
*****
Dan sekarang disinilah keluarga mereka saling bercengkrama tanpa rasa canggung lagi. Delia kembali meneteskan air mata kebahagiaannya.
"Ya Tuhan, jika kau menangis lagi, aku benar benar akan melakukan hubungan suami istri di depan mereka Delia," ancam Rafael.
Sontak Delia terbelalak, ia segera menghapus air matanya sendiri, "kau gila Raf."
"Aku memang gila, jadi jangan terus memancing kegilaanku."
"Ini air mata kebahagiaan, aku tak menyangka keluargamu akhirnya menerima keluarga yang miskin seperti kami."
"Ssstttt... aku tidak suka kau mengatakan hal itu. Berhentilah merendahkan diri sendiri sayang."
"Raf... Del... kemarilah nak," panggil Hartanto.
Keduanya langsung menghampirinya untuk berkumpul bersama keluarga yang lain karena para tamu undangan sudah nyaris tak ada di aula tersebut.
"Berangkatlah ke Bogor malam ini. Aku sudah menyiapkan kejutan di Villa untuk bulan madu kalian," ucap Hartanto.
"Astaga pi, kami sangat lelah hari ini. Bisakah kami bulan madu ke Jepang saja minggu depan," jawab Rafael.
"Ke Jepang adalah hal yang berbeda Raf. Bawalah istrimu malam ini ke villa kita. Kalian harus menikmati momen ini."
Rafael menatap Delia, "sayang..."
"Baiklah, kami akan ikuti keinginan papi," kata Delia.
"Kau yakin tidak lelah?" tanya Rafael.
"Sekalian semakin lelah," bisik Delia membuat Rafael menyeringai.
"Baiklah pi, kami akan berangkat. Terima kasih kejutannya," kata Rafael.
"Nah... itu lebih baik. Acara ini sudah selesai, beristirahatlah sebentar sebelum melakukan perjalanan. Urusan keluarga Delia, biar papi yang mengurusnya."
Rafael dan Delia menganggukkan kepala mereka. Keduanya segera berpamitan untuk beristirahat sebelum berangkat ke Bogor.
*****
Dua jam kemudian...
Tak jauh dari mobil Rafael terlihat mobil sport merah yang dikendarai Katrina Dowell. Saat itu Rafael dan Delia sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Bogor. Keduanya masih tidak menyadari jika ada mobil lain yang terus mengawasi gerak-gerik mereka.
Rafael dan Delia masuk ke dalam mobilnya, keduanya segera berangkat dari sana dan Katrina langsung mengikuti mereka. Katrina memang tak tahu kemana Rafael dan Delia akan pergi, tapi wanita itu memang sudah berniat untuk terus mengikuti keduanya untuk menjalankan rencananya yang gila.
Katrina tersenyum lebar saat tahu keduanya masuk ke pintu tol.
"Sepertinya rencanaku kali ini akan berhasil, Tuhan berada di pihakku. Aku akan membunuh mereka, aku tak takut jika harus mendekam dalam penjara. Setidaknya hukumanku akan ringan karena ini sebuah kecelakaan. Rafael... jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka siapapun tidak boleh. Pergilah kalian ke neraka," pikir Katrina.
Rafael menambah kecepatan mobilnya setelah memasuki jalan tol, begitu juga dengan Katrina Dowell. Rafael menyalip mobil di depannya, dan saat itulah waktu yang tepat bagi Katrina menabrak mobil Rafael dari belakang. Katrina menambah kecepatannya lagi hingga melebihi kecepatan yang diharuskan. Saat ada kesempatan untuk melakukannya, wanita itu kembali menginjak pedal gasnya hingga tak terkendali.
Ciiiiittttt.... Braaaakkkkkk......
Suara hantaman kendaraan bertabrakan terdengar sangat keras, kejadian tersebut justru mengejutkan pengendara lain hingga mereka semua menginjak rem mobilnya secara mendadak. Dan terjadilah kecelakaan beruntun yang mengerikan di jalan tol tersebut.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...