
Hari ini adalah hari pernikahan Rafael Widjaja dan Delia Laros. Walaupun tamu undangan tidak terlalu banyak, hanya sahabat Rafael dan beberapa kolega bisnis terdekat serta sahabat Delia dan kedua orang tuanya, tetapi suasana Gereja Santani sangat terkesan mewah. Tentu saja Melia yang membantu persiapan pernikahan tersebut, tetap tidak bisa sembarangan memilih WO untuk atasannya.
Jodhi menjemput Delia dan orang tuanya di hotel Aston. Mereka langsung berangkat menuju gereja. Kedua orang tua Delia sudah mengenakan pakaian pesta yang sudah disiapkan di hotel, sedangkan Delia masih belum mempersiapkan diri. Ia bahkan bingung dimana baju pengantinnya sendiri atau mungkin Rafael tidak ingin ia menggunakan baju pengantin, karena pernikahan mereka tidak nyata.
Delia terlihat sangat murung saat memikirkannya.
"Kau baik baik saja nak?" tanya Emili.
Delia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Sudah biasa calon pengantin tegang bu," ucap Derry.
Emili memegang tangan Delia yang sangat dingin.
"Tersenyumlah, ini hari bahagiamu nak."
Delia kembali menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di gereja, Jodhi meminta bantuan panitia untuk membawa Delia ke ruang rias pengantin. Sedangkan Jodhi langsung membawa kedua orang tua Delia ke ruangan khusus.
Delia terkejut saat masuk ke dalam ruangan rias tersebut, setidaknya ada 5 orang perias disana. Dan gaun pengantin untuknya terpampang di dalam ruangan. Gaun indah itu dipenuhi banyak mutiara dan berlian, benar benar berkilauan. Mereka semua tersenyum lebar saat menyambut kedatangan Delia.
Mereka langsung membawa Delia ke depan meja rias. Dan langsung sibuk merias wajahnya. Setelah selesai, Delia dipersilahkan untuk memakai gaun pengantinnya, entah bagaimana Rafael mempersiapkannya, gaun itu benar benar pas pada tubuhnya. Pengantin wanita cantik pun kini siap menuju altar. Para perias pun meninggalkan ruangan agar pengantin bisa menenangkan dirinya.
"Aku tidak menyangka kau akan menikahi pria tampan yang kaya Del. Aku sangat iri padamu," ujar Santi seraya masuk ke dalam ruangan.
Delia terkejut mendengar suaranya, namun akhirnya tersenyum lega saat melihat sahabatnya masuk untuk menemaninya.
"Ya Tuhan... kau cantik sekali Del. Aku nyaris tidak mengenalimu. Kau seperti seorang ratu, sumpah deh," kata Santi lagi.
"Kau berlebihan San. Jika aku bisa memilih, aku ingin lari sekarang," bisik Delia.
Santi terkekeh, "apa kau masih memikirkan tentang cinta? Mau sampai kapan kau mencari cintamu yang tak kunjung datang itu?" ejek Santi, "lihatlah gaun pengantin yang kau kenakan ini, Rafael benar benar kaya. Gaunmu dipenuhi permata," imbuhnya.
"Kau benar, gaun ini memang indah. Tapi aku masih tetap berharap bisa mendapatkan suami yang mencintaiku."
"Kau bilang pria itu sangat melindungimu, aku rasa itu lebih dari cukup Del. Aku yakin seiring berjalannya waktu, ia akan mencintaimu."
"Aku tahu... Tapi pernikahan kami tanpa restu keluarga Widjaja dan aku merebut tunangan orang lain San, bukankah ini akan menjadi masalah untuk kami," jawab Delia sambil memejamkan matanya.
Santi menenangkan Delia, "kau terlalu banyak berpikir Del, jika ia memilihmu untuk menjadi istrinya, bukankah artinya ia memang tidak menginginkan pertunangan itu. Kau tidak merebutnya dari siapapun Del, justru pria itulah yang menginginkanmu."
"Tapi aku tetap takut San, selangkah lagi menuju pemberkatan. Kakiku rasanya sudah mati rasa dan gemetaran."
__ADS_1
Santi kembali terkekeh, "tenanglah Del, ingat ada kedua orang tuamu disana. Kau tidak boleh menunjukkan wajah seperti ini. Jika mereka tahu kau dipaksa menikah, mereka pasti akan sedih Del."
"Justru karena ada mereka, aku merasa semakin takut. Aku telah membohongi mereka dengan pernikahan palsu ini San, aku ini anak yang tidak baik."
"Kau sudah gila Del... ini nyata bukan palsu. Bahkan Rafael sudah mendaftarkan pernikahan kalian."
"Seharusnya itu tidak perlu, pria itu memang sudah gila," gerutu Delia.
Santi justru terus terkekeh geli mendengar keluhan sahabatnya. Seorang panitia acara menjemput mereka karena acara akan dimulai. Delia kembali menegang, namun Santi terus berusaha menenangkannya.
Santi membantu Delia beranjak dari tempat duduknya, mereka bersiap siap ingin keluar dari ruangan. Namun tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dengan kasar membuat keduanya terkejut. Seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi datang dengan wajah yang penuh amarah.
"Oh... jadi ini wanita murahan yang merebut tunanganku," bentak Katrina Dowell.
Delia terbelalak, wanita yang datang itu ternyata adalah tunangan Rafael.
"Katrina Dowell..." ucap Delia.
"Ckckck... kau bahkan tahu namaku. Artinya kau sudah tahu bahwa aku adalah tunangan Rafael Widjaja, lalu mengapa kau masih ingin menikahinya?" teriak Katrina.
"Pantas saja Rafael meninggalkanmu, kau wanita yang sangat mengerikan," ejek Santi.
"Kau jangan ikut campur masalahku, wanita yang mengerikan itu adalah wanita yang ada di sampingmu itu."
Katrina Dowell mendekati Delia setelah mengucapkan kata itu. Santi berusaha melindungi sahabatnya, namun Katrina menyingkirkan tubuh Santi dengan kasar hingga Santi terjatuh.
Katrina langsung menarik hiasan rambut Delia, wanita itu juga menarik rambut Delia dengan kasar.
"Lepaskan aku...!" teriak Delia kesakitan.
Santi berusaha bangun dan membantu Delia. Namun Katrina begitu kuat mencengkram rambut Delia.
"Tolong...!" teriak Santi.
Delia menangis karena tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya. Mendengar suara teriakan Santi, derap langkah kaki terdengar masuk ke dalam ruangan.
Ternyata yang masuk adalah pengantin pria bersama asistennya, Jodhi.
Rafael terkejut saat melihat pengantin wanitanya berantakan dan sedang disakiti oleh Katrina Dowell. Pria itu melepaskan tangan Katrina lalu menarik Katrina dengan kasar.
Plaaaaakkkk....
Suara tamparan keras mendarat di pipi Katrina. Rafael menampar seorang wanita karena emosinya tidak bisa dikendalikan lagi.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada istriku, hah...!" bentak Rafael penuh amarah, "aku tidak pernah memukul wanita, tapi kau memang pantas mendapatkannya," imbuhnya kasar.
Rafael segera menghampiri Delia setelah berteriak seperti itu.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Rafael.
Dengan marah Delia justru menepiskan tangan Rafael yang ingin mengelus kepalanya. Wanita itu begitu marah karena harus dipermalukan seperti ini.
Rafael melihat keadaan Delia yang berantakan, ia tahu Delia wanita kuat. Kalau saja gaun pengantin itu tidak menghalangi gerakannya, mungkin Katrina sudah dihajar lebih dulu, mengingat kejadian tiga hari yang lalu di restoran. Tapi yang dipikirkan Rafael sekarang justru kemarahan Delia padanya. Ia tak tahu kenapa wanita itu menghindarinya.
Rafael meminta Jodhi untuk menunda acara selama satu jam kedepan, ia juga menyuruh asistennya segera memanggil perias pengantin kembali. Jodhi segera keluar ruangan dan melaksanakan perintah atasannya.
Rafael kembali menatap Katrina dengan tajam.
"Bagaimana kau bisa masuk kesini dan membuat kekacauan? Pertunangan kita sudah batal sejak aku mengumumkan pernikahanku dengan Delia. Kau bukan wanita yang aku inginkan," bentak Rafael.
"Kau sudah gila Rafael, aku tidak mau putus denganmu. Kau memutuskan secara sepihak pertunangan kita, bagaimana aku harus menghadapi media? Aku..."
"Dari awal juga tidak ada apapun diantara kita kecuali bisnis. Aku sudah bilang padamu pertunangan kita hanya diatas kertas," sergah Rafael, "sekarang kau keluar sebelum aku memanggil polisi," ancamnya.
Katrina semakin marah, tapi ancaman Rafael pasti akan menjadi nyata, ia sangat tahu bagaimana sikap Rafael.
"Tunggu pembalasanku atas hinaan yang kau lakukan hari ini Rafael. Dan kau... wanita murahan, aku juga akan membalasmu," kata Katrina sambil keluar dengan marah.
Rafael menghela nafasnya seraya kembali mendekati Delia.
"Aku minta maaf karena datang terlambat, banyak sekali urusan diluar yang harus aku selesaikan sejak semalam. Sayang, aku mohon jangan marah," ucap Rafael.
Delia hanya terdiam, wanita itu bahkan menghindari tatapan Rafael.
Para perias pengantin masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. Rafael menatap mereka.
"Kalian seharusnya tidak meninggalkan pengantinku sebelum acara dimulai," bentak Rafael.
"Maafkan kami tuan," jawab mereka ketakutan.
"Tolong urus pengantinku, satu jam lagi acara akan dimulai," perintah Rafael pada para perias pengantin.
"Baik tuan," jawab mereka lagi.
Rafael kembali berbalik, "aku akan menunggumu di Altar," ucapnya seraya mengecup pucak kepala Delia dan keluar meninggalkan Delia.
Perias pengantin mulai merapikan riasannya kembali, mereka tak tahu apa yang terjadi hingga Delia berantakan seperti itu, sedangkan Santi terus menenangkan sahabatnya yang sedih. Delia masih tidak ingin bicara, pikirannya dipenuhi kejadian kejadian buruk yang terus menimpanya. Ia tahu mungkin menikah dengan Rafael adalah sebuah neraka untuknya.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...