Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXVIII


__ADS_3

Keduanya menikmati sarapan mereka, namun Delia terus menghindari tatapan langsung pada wajah suaminya. Ia terus saja merasa malu saat ingat kejadian semalam. Wanita itu lebih banyak menundukkan kepalanya.


"Kau kenapa?" tanya Rafael.


Delia mendongakkan kepalanya, "aku ingin berangkat kuliah," jawabnya asalan.


"Apa kau yakin hari ini berangkat kuliah? Lebih baik kau tidak banyak berjalan sayang, aku tahu kau masih..."


"Aku yakin, aku baik baik saja Raf," sergah Delia.


Rafael menghela nafasnya lalu menghampiri Delia, ia berjongkok di depan istrinya yang selalu menunduk. Rafael memegang tangan Delia.


"Ada apa sayang? Apa ucapanku ada yang salah? Apa aku menyakitimu?" tanya Rafael.


Delia menatap suaminya, ia menggelengkan kepalanya.


"Kau sama sekali tidak salah, hanya saja aku merasa malu jika ingat kejadian semalam. Aku sejak tadi menahan diri di depanmu Raf," jawab Delia.


Rafael terkekeh, "astaga istriku... Apa yang membuatmu malu sayang? Aku suamimu yang sah. Bahkan banyak pasangan kekasih terkadang melakukannya sebelum menikah," ujarnya.


Wajah Delia semakin merah padam, "kau pria mesum, bisa bisanya kau mengatakan hal itu dengan santai. Aku menghindari pembahasan itu. Kau malah membahasnya tanpa dosa," ujarnya.


Rafael tertawa lalu menci um punggung tangan Delia.


"Aku sangat senang menggodamu, aku sangat bahagia karena akulah orang yang pertama untukmu. Demi apapun sayang, aku sangat beruntung mendapatkanmu."


"Ucapanmu hanya untuk membuatku senang saja."


Rafael menarik Delia hingga berdiri, pria itu menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Aku sedang serius Delia, kehadiranmu benar benar membuatku bahagia. Aku tak akan ragu lagi untuk mengatakan aku mencintaimu. Semakin aku mengatakannya, hatiku semakin senang sayang. Jika perlu, kau boleh membelah dadaku dan melihatnya sendiri. Coba kau rasakan saat ini, bukankah debaran jantungku sangat keras?"


Delia memejamkan matanya seraya merasakan debaran jantung suaminya, namun yang terdengar adalah sahutan debaran jantung mereka. Delia tersenyum lebar, ia pun memeluk suaminya semakin erat.


"Apa kau tahu, aku sangat senang mendengar ungkapan perasaanmu."


"Maka aku akan mengatakannya terus agar kau merasa senang Delia. Berhentilah bersikap malu padaku, aku suamimu, kita tidak melakukan kesalahan apapun. Kita hanya saling membuktikan bahwa kita memiliki perasaan yang sama."


Delia menganggukkan kepalanya.


"Sejak tadi kau sarapan sangat sedikit, nikmatilah makanannya. Jika kau yakin ingin ke kampus, aku akan mengantarkannya," kata Rafael.


Delia kembali duduk di kursinya, wanita itu mulai tenang dan santai.


"Apa makanannya sesuai dengan seleramu?" tanya Rafael.


"Makanannya sangat lezat Raf."


"Habiskan makanannya jika memang lezat."


"Kau ingin aku gemuk seperti babi kan?" kata Delia.


Rafael tertawa, "jika babi itu sepertimu, maka sangat menggemaskan," godanya.


"Pria aneh, baru kali ini aku mendengar seorang suami menyamakan istrinya dengan seekor babi."


"Aku sudah bilang babi juga menggemaskan nona."


Delia bergidik mendengarnya.


"Tapi setidaknya sekarang aku sudah tahu ukuran pakaianmu. Jadi aku takkan membeli pakaian yang kebesaran atau kekecilan lagi untukmu. Aku sudah mengukurnya setiap jengkal tubuhmu semalam," goda Rafael.

__ADS_1


Seketika Delia tersedak makanannya, "kau mesum dan menyebalkan Rafael Widjaja."


Rafael hanya melepaskan tawanya mendengar kekesalan Delia.


*****


Sarapan pun sudah selesai. Delia mulai kebingungan karena ia tak ada pakaian untuk menuju ke kampusnya. Menyadari akan hal itu, Rafael mendekati istrinya.


"Lebih baik kita pulang ke rumah besar Widjaja sayang, tapi jika kau tidak ingin, kita bisa pergi ke butik saja," ujar Rafael.


"Lebih baik pulang saja Raf. Sudah banyak pakaian yang kau belikan sebelumnya."


"Kau yakin?"


Delia mengangguk.


"Baiklah, ayo berangkat sekarang," ajak Rafael.


Delia mengikuti suaminya keluar dari apartemen. Keduanya menuju mobil dan langsung berangkat menuju rumah besar Widjaja. Baru setengah perjalanan, ponsel Rafael berdering.


"Bantu aku mengangkatnya sayang," pinta Rafael.


Delia mengangkat ponsel Rafael lalu menekan tombol pengeras suara.


"Ada apa, Jod?" tanya Rafael.


"Gawat pak Rafael... pak Firdaus membuat keputusan sendiri tentang penyerahan lahan di Jepang untuk pembangunan kasino. Para pemegang saham marah, harga saham perusahaan kita anjlok hingga 45%," ujar Jodhi.


Seketika Rafael segera menepikan mobilnya. Ia memutuskan telepon Jodhi dan segera mengambil laptopnya dan umpatan demi umpatan kasar keluar dari mulutnya.


"Tenanglah Raf," ujar Delia.


"Aku naik taksi saja, kau bisa langsung ke perusahaan," ujar Delia.


Wanita itu bahkan bisa membaca pikiran suaminya.


"Tapi..."


"Aku tidak apa-apa Raf."


"Maafkan aku sayang. Kau tak perlu takut pada Helena. Aku yakin saat ini Hartanto sudah berangkat ke perusahaan setelah mengetahui hal ini. Jika pekerjaanku selesai, aku akan menjemputmu."


"Kau jangan pikirkan aku, kau selesaikan saja urusanmu," jawab Delia.


Rafael keluar dari mobilnya begitu juga dengan Delia. Pria itu menghentikan sebuah taksi di sana.


"Sayang, kau tidak boleh membuat ponselmu mati. Aku akan menghubungimu setiap saat," kata Rafael seraya menci um kening Delia.


Delia menganggukkan kepalanya seraya masuk ke dalam taksinya. Setelah wanita itu pergi, barulah Rafael kembali mengendarai mobilnya menuju perusahaan.


*****


Rafael menghubungi Hartanto dengan penuh amarah. Pria itu langsung menghardik ayahnya dengan kesal.


"Kau lihat kan apa yang anakmu lakukan?" bentak Rafael pada ayahnya.


"Kita harus mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu Raf," jawab Hartanto.


"Kau sudah gila, kau akan menghancurkan perusahaan yang aku bangun susah payah selama bertahun tahun, hanya karena keegoisanmu menyerahkan perusahaan pada anak bodoh seperti itu. Jika kondisi perusahaan tidak membaik, aku tidak akan melepaskan kalian," ujar Rafael semakin murka seraya menutup teleponnya.


Rafael kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia pun akhirnya sampai di perusahaannya. Pria itu mengabaikan setiap sapaan karyawan dan langsung ke ruang rapat yang sedang kacau. Ia menghambur masuk dan mencari keberadaan Firdaus.

__ADS_1


"Dimana Firdaus?" teriak Rafael.


Semua yang melihat kedatangannya sangat terkejut dan ketakutan.


Jodhi segera menghampiri Rafael, lalu membisikkan sesuatu. Rafael langsung bergegas menuju kantornya tanpa memperdulikan rapat yang sedang berlangsung.


Dengan kasar Rafael membuka pintu kantor itu, ia melihat Firdaus dengan santainya berbicara dengan Hartanto Widjaja. Rafael mengepalkan tangannya, ia mendekati Firdaus yang mulai ketakutan. Pria itu menarik kerah kemeja Firdaus dan langsung memukulnya berkali-kali.


Tidak ada perlawanan sama sekali, Firdaus jatuh ke lantai dengan wajah yang babak belur. Hartanto hanya bisa menghela nafasnya. Ia beranjak dari tempat duduknya seraya menahan tangan Rafael yang ingin melanjutkan pukulannya lagi.


"Cukup Rafael, ini perusahaan bukan ring tinju," teriak Hartanto.


Rafael berhenti dan menatap Hartanto dengan penuh amarah.


"Apa orang macam seperti ini yang kau andalkan?" bentak Rafael.


Firdaus mengerang kesakitan, "aku melakukan yang terbaik disini. Aku menjualnya seharga lima triliun. Salahnya dimana?" tanya Firdaus.


Rafael ingin menghajarnya lagi, namun kali ini ditahan oleh Jodhi yang ternyata mengikutinya.


"Jangan mengotori tangan anda pak. Semua sedang melihatnya," bisik Jodhi.


Rafael menatap sekeliling kantor. Jodhi benar, keributan itu sedang dilihat oleh semua karyawan perusahaan. Ia harus menahan emosinya.


"Apa kau tidak mempelajari aset perusahaan yang berharga?" tanya Hartanto pada Firdaus.


"Itu aku pelajari, dan penawaran yang ditawarkan sangat tinggi. Apa yang salah?" jawab Firdaus, ia masih belum paham. Baginya uang itu sudah sangat banyak.


Rafael menggertakkan giginya, "dasar bodoh... Kau tahu lahan itu senilai lebih dari seratus triliun dan kau melepasnya hanya dengan harga lima triliun, kau tidak memahami harga pasaran dan kau juga tidak melihat dimana letak aset yang kau jual," teriaknya.


"Lahan itu pernah ditawar pemerintah Jepang sampai seratus lima puluh triliun, karena letaknya yang berada di dekat kerajaan Jepang lama. Nilai aset itu sudah bisa mencapai tiga sampai lima ratus sekarang. Jadi lima triliun itu, apakah sangat besar sekarang?" teriak Rafael lagi.


Firdaus terbelalak mendengar penjelasan Rafael. Ia tidak tahu ternyata lahan itu yang selalu diperebutkan para pengusaha kaya di Jepang. Tapi ia sudah terlanjur menjualnya. Pantas saja semua mengamuk seperti ini.


"Kau tahu aset perusahaan terbesar adalah disana. Kau menjualnya dan sekarang saham perusahaan anjlok. Bagaimana caramu mengembalikan saham kita, hah?" bentak Rafael.


"Melia...!!!" teriak Rafael memanggil sekertarisnya.


Melia segera masuk ke dalam ruangan, "iya pak Raf."


"Mana dokumen yang pernah aku minta?" tanya Rafael.


Melia segera menyerahkan dokumen itu pada Rafael. Pria itu membuka dokumennya sebentar lalu membanting dokumen itu di depan Hartanto.


"Kau lihatlah dokumen dokumen itu, itulah yang dilakukan Firdaus selama dua minggu terakhir ini. Sudah berapa banyak uang perusahaan yang ia gunakan untuk membeli lahan palsu," ujar Rafael.


"Lahan palsu? Mana mungkin aku melakukannya, aku..."


"Kau diamlah Firdaus," bentak Rafael.


Seketika Firdaus menutup mulutnya. Hartanto melihat dokumen itu satu per satu, pria itu terus menatap dengan mulut menganga. Apa yang telah dilakukan Firdaus membuatnya gila. Perusahaan benar benar bisa hancur ditangannya. Tiba tiba saja Hartanto memegang dadanya dan ia pun jatuh pingsan.


"Papi...." teriak Rafael.


Untuk pertama kalinya Rafael memanggil ayahnya seperti itu setelah bertahun-tahun.


"Cepat panggil ambulan..." pinta Rafael.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2