
Hanya suara tangisan yang terdengar di dalam ruangan itu. Baik Hartanto, Rafael dan Delia, mereka terus terisak di sana. Hartanto berusaha bicara kembali, namun semakin ia banyak bicara, Rafael semakin tak bisa menahan tangisannya. Pria itu terus memukul dadanya sendiri yang terasa sesak.
"Raf... berhentilah menyakiti diri sendiri," pinta Delia sambil terus memeluk suaminya.
"Dosa apa yang telah aku perbuat selama ini, akulah yang menghancurkan keluarga Widjaja. Akulah orangnya Delia," ujar Rafael disela tangisannya.
"Tidak Raf, ini bukan salahmu... berhentilah menyalahkan dirimu."
"Benar nak, ini bukan kesalahanmu. Semuanya adalah kesalahanku, akulah yang membawa karma dalam keluarga ini," sahut Hartanto.
Rafael meraung keras, rasa sakit di dadanya semakin terasa. Delia tak tahu lagi harus berbuat apa saat ini. Ia hanya bisa memeluk suaminya dan mengusap punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya.
Suasana haru itu berlangsung cukup lama, saat keadaan mulai tenang dan hening. Hartanto mulai bicara lagi.
"Aku juga minta maaf padamu Delia. Aku terlalu menyayangi putraku, hingga takut kau akan menyakitinya. Aku takut karmaku masih berlaku padanya, aku tak ingin Rafael menderita lagi. Tapi setelah aku tahu kau wanita yang sangat baik. Aku mulai merestui pernikahan kalian. Maafkan aku pernah merendahkan dan menghinamu saat baru pertama datang ke dalam keluarga Widjaja," ujar Hartanto.
Delia mendongakkan kepalanya, ia melihat wajah mertuanya dan melihat senyuman pertama kalinya pada pria tua itu. Delia hanya bisa mengangguk karena Rafael memeluknya semakin erat akibat ketidakberdayaannya. Pria itu berusaha menenangkan diri di pelukan istrinya.
Beberapa menit kemudian, Rafael pun bisa tenang, ia bangun dari lantai dibantu oleh Delia lalu kembali menatap Hartanto.
"Akibat keserakahanmu, aku dan mami yang harus menanggung semuanya. Walaupun aku ikut merasa bersalah dalam masalah ini, namun aku masih ingat seperti apa mami menderita sendiri karena penyakitnya. Kau pria yang sangat kejam Hartanto," ucap Rafael.
Hartanto terlihat sangat sedih, "Aku tahu itu, kau benar, tidak seharusnya kalian menanggungnya. Tapi inilah kenyataannya. Aku tidak bisa memutar waktu lagi," kata Hartanto menyesal, "tapi kau harus tahu Raf, seberapa besar rasa sayang dan cintaku pada kalian berdua," sambungnya.
Rafael menghela nafas panjang, ia tak tahu lagi harus menghadapi masalah ini seperti apa.
"Lalu apa yang harus aku lakukan pada Helena dan putranya? Aku sudah mengumpulkan begitu banyak bukti kejahatannya. Dan kau mengatakan kau mengetahuinya sejak lama, kau bahkan membiarkannya karena perasaan bersalah itu. Kau membuatku bekerja keras dalam membangun perusahaan, tapi kau malah membiarkan Helena yang menguras harta Widjaja, kau seperti tak punya hati," ujar Rafael.
"Rafael... Helena hanya mengambil haknya sebagai istriku. Ia tidak akan mungkin melakukan lebih dari pada ini. Ia melakukannya untuk mengembalikan kejayaan orangtuanya, harta Widjaja sebagian adalah hartanya juga," jawab Hartanto.
"Kau salah, ia melakukan semuanya melebihi dari haknya. Apa kau tahu tentang pemalsuan tanda tanganmu untuk mengambil lima triliun dari rekeningmu?" tanya Rafael.
Hartanto mengangguk, "aku tahu semuanya."
Rafael terbelalak, "kau memang sudah gila."
"Itu belum seberapa Raf, aku membuat keluarganya bangkrut lebih dari itu. Lima triliun belum bisa mengembalikan kerugian yang pernah aku perbuat padanya. Satu hal lagi, ia bahkan belum melakukannya, ia terus ragu mengambil uangku," ucap Hartanto kembali sedih.
"Ya Tuhan... sepertinya perbuatanmu benar benar melebihi bayanganku. Mengapa aku memiliki ayah sejahat dirimu Hartanto?"
Hartanto kembali menangis, "aku menipu perusahaan Helena demi perusahaanku sendiri. Aku memindahkan hampir seluruh hartanya demi kejayaan perusahaan Widjaja. Aku memang berdosa," katanya sambil terisak.
__ADS_1
Rafael menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Perusahaan yang berkembang pesat saat ini adalah hasil dari mencuri harta keluarga lain. Ayahnya sungguh keterlaluan, pria itu mampu melakukan hal kotor padahal ia sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga Widjaja.
Suara kegaduhan di luar ruangan membuat mereka terkejut. Terdengar suara teriakan seorang wanita yang tak lain adalah Helena.
"Hartanto itu suamiku, aku merindukannya, aku ingin bertemu dengannya," teriak Helena.
Sepertinya orang suruhan Rafael masih menahan wanita itu.
Rafael menghela nafasnya lagi, ia menatap Delia penuh tanya.
"Biarkan ia masuk Raf, sudah saatnya masalah ini selesai," bisik Delia.
Rafael menganggukkan kepalanya, "biarkan wanita itu masuk," teriak Rafael memberi perintah pada anak buahnya.
Helena pun menerobos masuk ke dalam ruangan setelah diizinkan. Wanita itu ketakutan saat melihat Rafael. Namun wajahnya terlihat cerah saat melihat suaminya sudah dalam keadaan sadar saat ini. Wanita itu tersenyum seraya menghampiri Hartanto.
Delia memperhatikan wajah Helena, ia tahu tatapan Helena pada Hartanto benar benar tatapan cinta bukan sandiwara. Rafael bergeming, ia membiarkan wanita itu mendekati suaminya.
"Ya Tuhan, apa kau baik baik saja?" ucap Helena seraya menangis dan memeluk Hartanto.
Hartanto membalas pelukan istrinya, "aku baik baik saja Helena."
"Aku... aku ingin menjelaskan sesuatu. Aku mohon jangan marah padaku," kata Helena sambil terisak, "Rafael benar, aku harus melakukan ini sebelum semuanya terlambat," imbuhnya.
*****
Delia mengikuti Rafael keluar, namun ternyata suaminya itu terus membawanya keluar dari rumah sakit. Delia tak berani bertanya kemana mereka akan pergi. Sepanjang perjalanan Rafael sama sekali tidak berbicara dan Delia juga tidak ingin memulainya.
Ternyata Rafael membawa Delia menuju rumah Widjaja bukan apartemen. Entahlah apa yang ingin dilakukan Rafael. Delia kini mengerti, dibalik sikap arogan seorang Rafael Widjaja ternyata semua itu akibat dari masa lalunya yang kelam.
Rafael menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah besar itu, ia tak memarkirkan mobilnya ke dalam halaman rumah besar Widjaja.
"Kau tunggu disini, aku akan segera kembali," kata Rafael.
Delia belum sempat menjawab ucapan Rafael, pria itu langsung keluar dari mobilnya seraya masuk ke dalam rumahnya. Delia makin bingung karena Rafael memintanya menunggu di dalam mobil. Cukup lama wanita itu menunggu suaminya, membuat Delia menguap berkali-kali.
Setengah jam kemudian, Rafael membawa setidaknya empat koper yang dibantu oleh para pembantunya keluar dari rumah itu. Rafael langsung memasukkan koper koper itu ke dalam bagasi mobil. Lalu ia pun masuk ke dalam mobil lagi.
Rafael menatap istrinya yang kebingungan.
"Bicaralah apa yang mau kau tanyakan. Aku takkan menggigitmu disini sayang, aku akan menggigitmu di apartemen nanti," goda Rafael.
__ADS_1
"Kau masih saja berpikiran mesum," jawab Delia, "apa itu yang kau masukkan ke dalam bagasi mobil?" tanyanya.
"Tentu saja barang barangku dan milikmu," jawab Rafael.
"Maksudmu?" tanya Delia.
"Kita keluar dari rumah besar Widjaja selamanya sayang, rumah kita yang sebenarnya sedang direnovasi. Sementara kita tinggal di apartemen dulu sambil menunggu renovasinya selesai, ini adalah kejutan untukmu," jawab Rafael.
Tentu saja Delia sangat terkejut, "rumah kita?" tanyanya kebingungan.
"Kau pikir aku tak membeli rumah setelah kita menikah? Aku sudah memikirkan semuanya saat memutuskan untuk menikah denganmu sayang. Hanya saja aku tak bisa meninggalkan ayahku karena masalah yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Tapi sepertinya masalah ini telah selesai. Dan aku harus membawamu keluar dari rumah Widjaja selamanya untuk membangun rumah tangga kita sendiri," jawab Rafael.
Air mata Delia merebak, ia merasa menjadi wanita yang sangat bahagia saat ini. Rafael menarik Delia ke dalam pelukannya.
"Don't cry baby, aku sudah janji pada ayah dan ibu akan membahagiakanku."
"Terima kasih banyak Raf, aku benar benar bahagia."
Rafael melepaskan pelukannya, seraya menarik tengkuk leher istrinya. Pria itu langsung menci um bibir istrinya penuh kerinduan.
"Ya Tuhan, aku tak bisa menahannya lagi. Lebih baik kita kembali ke apartemen sekarang. Aku ingin menghabiskan malam ini di atas ranjang kita," goda Rafael.
Wajah Delia berubah merah padam, "kau tak pernah bisa berubah, tetap saja pria yang mesum."
Rafael terkekeh, "kau membuatku selalu menginginkanmu sayang, kau seperti bantal, guling dan kasur yang siap aku tiduri kapan saja aku menginginkannya," godanya lagi.
Delia mengerucutkan bibirnya, "kau jahat sekali menyamakan aku dengan barang-barang ranjang."
"Karena ketiganya bisa membuatku nyaman," kata Rafael seraya terkekeh geli.
Delia akhirnya bisa membuat suaminya tertawa lagi, "terserah padamu tuan. Asal setelah bosan, kau tidak membuangnya," ujar Delia.
Rafael menghentikan tawanya, wajahnya kembali serius sambil menatap Delia. Pria itu menarik tangan Delia dan meletakkannya tepat di dadanya.
"Kau sudah berada disini. Tak mudah bagiku membuang sesuatu yang sudah berada disini," ujar Rafael.
Delia tersenyum lebar, ia percaya bahwa suaminya benar benar mencintainya.
"Ya Tuhan, jika aku tak segera membawamu ke apartemen, bisa bisa aku melakukannya di sini," ucap Rafael seraya menyalakan mesin mobilnya.
Rafael segera mengendarai mobilnya menuju apartemen mereka. Delia hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi pikiran kotor Rafael. Tapi ia pun tidak bisa menampiknya, ia juga sangat merindukan sentuhan lembut suaminya itu.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...