
Rafael akhirnya kembali ke Jakarta, ia langsung menuju cafe Huda, sebenarnya ia sangat lelah. Namun masalah mereka masih saja belum selesai. Sesampainya di cafe sahabatnya tersebut, ia langsung mencari keberadaan istrinya. Dan ternyata Delia bersama kedua sahabatnya sudah menunggunya di ruang VIP.
Delia mengejar dan memeluk Rafael yang baru saja masuk ke dalam ruangan, membuat Rafael terkejut. Delia tak sadar ia melakukan hal itu, seketika wanita itu melepaskan pelukannya namun Rafael menahan punggungnya.
"Ya Tuhan... ini obat terbaik untuk lelahku," ucap Rafael.
"Ehm... berhentilah menunjukkan kemesraan kalian di depan kami," goda Tyar.
"Aku jadi merindukan wanita wanitaku," sahut Huda.
Ejekan dan godaan sahabat Rafael membuat wajah Delia merona karena malu.
"Berhentilah menggoda kami, kalian membuat istriku malu," jawab Rafael.
Tyar dan Huda pun tertawa.
"Kau terlihat sangat lelah," kata Delia.
"Aku baik baik saja sayang. Kau sudah makan?" tanya Rafael.
Delia menganggukkan kepalanya, "bagaimana denganmu?"
"Jangan pikirkan aku, aku pria yang kuat."
"Pak Jodhi, apakah Rafael sudah makan?" tanya Delia pada asisten suaminya karena tak mendapat jawaban dari Rafael.
Rafael menatap Jodhi dengan tajam agar Jodhi menutup mulutnya. Namun demi kebaikan Rafael, Jodhi pun menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan, apa kau sudah gila, bagaimana jika kau sakit?" ucap Delia kesal.
Rafael tersenyum menenangkan istrinya. Ia tak ingin Delia marah padanya. Tapi Delia menatap tajam padanya, membuat Rafael seketika menundukkan kepalanya. Lalu Delia pun melihat ke arah Huda.
Huda mengerti tatapan itu, "oh baiklah nyonya Widjaja," katanya seraya memanggil pelayan agar membawakan makanan ke dalam.
"Bagus nyonya muda, tuan muda Rafael memang harus dikendalikan olehmu," ejek Tyar.
Rafael mendekati Tyar seraya menendang kakinya membuat semuanya tertawa. Pelayan pun kembali dengan cepat sambil membawa beberapa makanan untuk mereka.
"Jangan ada yang berani membahas masalah ini, sebelum Rafael selesai makan," celetuk Delia, "kau juga pak Jodhi, lebih baik makan," imbuhnya.
Mereka semua terkejut mendengar perintah Delia. Wanita itu sama persis seperti Rafael jika sedang memberi perintah, namun tanpa banyak kata-kata, mereka semua mengikuti keinginan Delia.
"Raf... aku memang sangat mengkhawatirkan orang tuaku, aku tahu kau sangat bertanggung jawab atas masalah yang terjadi ini. Tapi apakah kau harus menyiksa tubuhmu sendiri? Lihat lingkaran hitam di bawah matamu, aku yakin kau bahkan belum tidur sama sekali," kata Delia kesal.
Rafael yang terus diam karena mendapat omelan dari istrinya, membuat sahabatnya menahan tawa mereka. Sikap arogan seorang Rafael Widjaja, ternyata bisa kalah dengan istrinya.
"Aku minta maaf soal makan, tapi soal tidur setidaknya aku sudah memejamkan mataku beberapa jam saat berangkat ke Bogor sayang, kau bisa tanya Jodhi," ujar Rafael.
Delia menatap Jodhi minta penjelasan atas pengakuan Rafael.
"Hanya dua jam nyonya, sepertinya pak Rafael belum tidur dari semalam," jawab Jodhi.
Delia kembali menatap suaminya dengan tajam.
"Oh baiklah, aku mengaku salah. Setelah semua ini selesai, aku janji akan tidur sepuasnya," jawab Rafael.
Tyar dan Huda akhirnya terkekeh geli melihatnya, membuat Rafael ingin sekali memukul mereka.
__ADS_1
"Makanlah, habiskan... kau menyuruhku makan tapi kau sendiri melupakan perutmu," perintah Delia.
Rafael terkejut melihat sisi lain istrinya, Delia sangat mirip dengannya suka memerintah dan tatapannya benar benar menakutkan saat sedang marah. Entah kenapa ia tak bisa membantah ucapan Delia, Rafael hanya bisa menganggukkan kepalanya seraya memakan makanan di depannya. Sedangkan Jodhi lebih memilih makan di meja lain, ia sangat segan makan satu meja dengan atasannya.
*****
Dengan susah payah, Rafael menelan makanannya. Jika saja istrinya tidak menatapnya terus menerus, mungkin ia tak akan memakan makanan itu. Selera makannya tentu saja hilang karena masalah penculikan keluarga Laros.
Namun akhirnya, ia berhasil menghabiskan makanan itu membuat Delia tersenyum. Rafael tak ingin menunda lagi, ia langsung mendiskusikan masalah ini pada mereka. Ia mulai mengatakannya pada mereka apa yang baru saja diketahui dari preman tersebut.
"Sudah kuduga, ini pasti perbuatan mereka," ujar Huda sebelum Rafael menyebut nama Bethran dan Katrina.
"Perbuatan mereka? Siapa maksudmu?" tanya Delia.
Rafael menghela nafasnya, "ini yang ingin aku katakan padamu Del. Apa kau kenal Bethran Markes?"
Delia memikirkan nama itu, "aku sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi..."
"Pria itu teman sekolahmu, aku dengar ia pernah mengungkapkan perasaannya padamu saat di sekolah," imbuh Rafael.
Delia terbelalak saat akhirnya mengingat nama itu, "bagaimana kau bisa tahu dan apa hubungannya dengan pria itu?"
"Aku minta maaf karena diam diam menyelidiki masalahmu saat di restoran itu. Wanita paruh baya yang memakimu itu ternyata adalah orang suruhan Bethran."
Delia terkejut mendengarnya, "aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Bagaimana ia bisa melakukan hal ini?"
Rafael terkekeh, "istriku benar benar polos sekali. Kau benar benar tidak tahu jika pria itu kuliah di kampus yang sama denganmu?"
Lagi lagi ucapan Rafael membuatnya terkejut, Delia memang tidak tahu sama sekali. Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tidak bergaul di kampus nyonya muda? Bagaimana kau bisa tak tahu?" tanya Tyar.
"Istriku memang luar biasa. Delia, pria itu sengaja membayar orang untuk melakukannya, tentu saja agar reputasimu tercemar. Ia ingin tak ada satu pria pun yang bisa mendapatkanmu, jadi ia bisa mendekatimu dengan leluasa."
"Ya Tuhan, kenapa ia jadi seperti itu?"
"Itu karena ia terlalu mencintaimu, hingga perasaan cintanya berubah menjadi obsesi. Dan yang akan membuatmu lebih terkejut, sekarang ia dengan Katrina bekerja sama untuk menculik orang tuamu," ujar Rafael.
Kali ini tubuh Delia tiba tiba lemas mendengarnya. Ia tak menduga penculikan itu ternyata perbuatan mereka berdua.
"Jangan khawatir sayang, saat pria itu menghubungiku, ia bilang tidak akan menyakiti ayah dan ibu. Mereka hanya ingin melakukan pertukaran. Pria itu ingin aku menceraikanmu, lalu ia akan melepaskan mereka."
"Ckckck... mereka sudah gila," celetuk Huda.
"Tyar, aku butuh bantuanmu untuk menyelidiki perusahaan milik keluarga Bethran Markes," pinta Rafael.
"Itu sangat mudah Raf," jawab Tyar.
"Jod... bagaimana kabar perusahaan?" tanya Rafael.
"Untuk saat ini masih stabil pak, walaupun sempat beberapa klien menolak kehadiran pak Firdaus, tapi setelah kami meyakinkan akhirnya mereka paham. Namun Melia yang membantu pak Firdaus berbicara," jawab Jodhi.
"Pria bodoh itu bisa apa. Huda, apakah sudah ada kejanggalan pada dokumen yang aku serahkan kemarin?"
Huda menganggukkan kepalanya, ia menyerahkan dokumen yang sudah ia siapkan.
"Kau benar, properti itu sudah dialihkan atas nama Helena dan Firdaus. Tapi tanda tangan ayahmu dipalsukan pada dokumen itu. Jadi ayahmu..." jawab Huda.
__ADS_1
"Aku tahu..." sergah Rafael tidak senang.
"Aku juga sudah mendapatkan informasi, Helena akan membeli tanah di kawasan elit Australia, ia membelinya lewat agen perusahaanku. Tapi ia menundanya karena dana sekitar lima triliun itu harus didapatkan dari ayahmu. Ia menunggu Firdaus menguasai perusahaanmu terlebih dahulu, agar ia bisa mendapatkan kepercayaan dari ayahmu," sahut Tyar.
Delia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Kerja kalian sangat cepat, tapi sepertinya masalah mertuaku lebih penting saat ini," ujar Rafael.
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Delia.
"Kepolisian sedang melacak keberadaan Behtran dan Katrina, kita akan segera mengetahui keberadaan ayah dan ibu, sayang!" jawab Rafael meyakinkan.
Delia mengangguk, ia harus percaya pada suaminya saat ini. Tyar masih bergelut dengan laptopnya, lalu tiba tiba menyerahkan laptop itu pada Rafael.
"Sepertinya aku akan sangat mudah mengakuisi perusahaan milik keluarga Markes," kata Rafael.
Delia terkejut mendengarnya, "apa yang ingin kau lakukan?"
"Ini urusanku sayang, kau akan tahu setelah semua ini sudah berakhir. Setidaknya kita akan memberi mereka pelajaran karena telah menculik ayah dan ibu," jawab Rafael.
"Tapi jika kau melakukannya sekarang, keselamatan ayah ibu..."
"Aku tidak sebodoh itu Delia," sergah Rafael, "tentu saja keselamatan mereka saat ini lebih penting," imbuhnya.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk tidak percaya padamu."
"Kau terlalu khawatir, hingga sulit berpikir jernih. Serahkan semuanya padaku, aku sudah janji padamu."
"Ya ampun... Aku tidak tahan lagi melihat kemesraan kalian," celetuk Huda, "lebih baik aku keluar mengurus cafeku," imbuhnya seraya terkekeh sambil keluar dari ruangan.
"Aku juga harus kembali ke perusahaan pak. Melia sudah berkali kali menghubungiku, sepertinya pak Firdaus mencariku sejak tadi pagi," ujar Jodhi.
Rafael mengangguk, "pergilah Jod... Aku titip perusahaan padamu, terimakasih untuk hari ini."
Lalu Rafael menatap Tyar, "bagaimana denganmu?" tanyanya.
Tyar tertawa, "sialan... kau mengusirku."
Rafael ikut tertawa, "aku hanya bertanya saja."
"Baiklah tuan muda Widjaja yang terhormat, kebetulan aku masih banyak pekerjaan di perusahaan, hubungi aku jika kepolisian menemukan lokasi penculikan. Aku akan membantumu," ujar Tyar seraya ikut pamit.
Hanya tinggal Rafael dan Delia di dalam ruangan. Wajah Delia masih terlihat sangat cemas.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rafael.
"Haruskah kita bercerai?" tanya Delia.
Rafael terkejut, "pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja itu tidak akan terjadi, aku tidak akan pernah melepaskanmu apalagi untuk pria gila seperti Bethran. Kau tak perlu khawatir, kepolisian bergerak sangat cepat. Kita tunggu saja kabar dari mereka."
"Aku hanya..."
Rafael menarik kepala Delia lalu menci um wanita itu. Delia tidak menolaknya, wanita itu justru membalas ciu man suaminya.
"Ya Tuhan... aku benar benar menginginkanmu Delia. Aku... aku mencintaimu," ucap Rafael membuat Delia terbelalak mendengar pengakuan suaminya.
Rafael kembali menarik Delia yang masih terkejut seraya kembali menci umnya dengan intens. Tak ada kesempatan Delia bertanya tentang pengakuan pria itu. Ciu man itu justru semakin dalam hingga keduanya nyaris kehabisan nafas mereka.
__ADS_1
*****
Happy Reading...