
Hanya Huda yang membantu Rafael bertukar pikiran, karena Tyar masih ada pekerjaan yang sulit ia tinggalkan. Rafael terus mondar-mandir di ruangan VIP cafe tersebut sambil terus memikirkan cara lain untuk menyelamatkan kedua orang tua Delia.
"Hud, apakah kau bisa membantuku mendapatkan surat cerai palsu?" tanya Rafael tiba tiba.
"Surat cerai palsu?"
"Benar, pria brengsek itu menginginkan bukti perceraianku dengan Delia. Aku tidak mungkin menceraikan istriku, hanya memalsukan surat cerai adalah solusi terbaik untuk saat ini."
"Kau benar, kenapa aku tidak memikirkannya sejak tadi. Kau tenang saja, aku akan segera mendapatkannya," ujar Huda seraya meninggalkan Rafael.
Rafael mendekati Delia yang masih duduk termenung di sofa, pria itu menggenggam tangan istrinya dengan lembut seraya berjongkok di depannya.
"Dengarkan aku sayang, kita akan membuat surat cerai palsu. Lalu aku juga akan memasang alat pelacak dalam jam tanganmu. Kau temuilah Bethran setelah semuanya sudah siap. Ikuti rencana pria itu tanpa membuatnya curiga. Ulurlah waktu selama mungkin ketika kau bertemu dengan ibu. Kau tak perlu takut saat menghadapinya, kami akan menuju lokasi dan segera menangkapnya."
"Kau yakin kali ini akan berhasil?"
"Rencana Rafael Widjaja seharusnya tidak pernah gagal. Jika kau percaya padaku, maka ikuti rencanaku."
Delia menganggukkan kepalanya.
Tak lama Huda kembali masuk ke dalam ruangan VIP tersebut.
"Beres Raf, kita akan mendapatkan surat itu setengah jam lagi. Aku sudah menyuruh orang suruhanku untuk mengambilnya," ujar Huda.
"Lebih baik aku saja yang mengambilnya Hud, aku juga akan membawa jam tangan Delia untuk memasang alat pelacak," jawab Rafael.
"Kau memang cerdas Raf, baiklah. Aku akan menjaga Delia disini," ujar Huda.
Rafael menganggukkan kepalanya lalu meminta jam tangan istrinya. Pria itu meminta Delia tetap berada di cafe, sedangkan ia sendiri akan memulai rencananya ini.
*****
Hari semakin sore...
Rencana Rafael mulai dijalankan, seperti yang sudah diduga, Bethran meminta Delia datang sendirian dan mengikuti arahannya. Pria itu melarang Delia membawa ponselnya, karena ia telah meletakkan beberapa ponsel di beberapa lokasi untuk memberikan informasinya pada Delia.
Bethran benar benar tak main main, ia terus mengancam Rafael agar tidak mengikuti Delia. Pria itu akan melakukan perbuatan yang paling buruk jika sampai ia melihat Delia diikuti atau bersama polisi. Delia mulai mengikuti arahan Bethran, wanita itu berkali kali berhenti di lokasi yang diberitahukan oleh Bethran. Di tempat tempat tersebut memang selalu ada satu ponsel milik Bethran untuk berkomunikasi dengannya.
Lokasi terakhir yang Delia kunjungi adalah sebuah mini market. Di depan mini market ternyata sudah ada sebuah mobil berwarna hitam. Delia diarahkan untuk segera masuk ke dalam mobil tersebut.
Saat masuk ke dalam mobil, Delia langsung diperintahkan untuk menutup matanya dengan sebuah kain agar wanita itu tidak tahu lokasi dimana ibunya berada. Mobil pun mulai bergerak menuju lokasi pertemuan mereka.
Di lain sisi...
Rafael, Tyar dan Huda bersama pihak kepolisian, mulai melacak keberadaan Delia. Mereka memang tidak bisa langsung bergerak untuk menghindari kecurigaan Bethran. Saat alat pelacak tersebut berhenti di satu titik, tepatnya pinggiran kota Tanggerang. Mereka semua segera bergerak menuju lokasi tersebut.
Rafael berharap istrinya bisa mengulur waktu selama mungkin sampai mereka semua tiba menyelamatkan mereka.
*****
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Delia berhenti, wanita itu membuka ikatan matanya dan terkejut melihat lokasi yang sangat kumuh tersebut. Delia keluar dari mobilnya, dengan kaki yang gemetar ia terus melangkahkan kakinya mencari keberadaan Bethran.
"Bethran... aku sudah disini...!" teriak Delia.
Suara tawa Bethran terdengar dengan keras, pria itu keluar dari salah satu pintu gudang. Keduanya pun dipertemukan kembali.
"Dimana ibuku?" tanya Delia.
"Kau sungguh tidak sabaran cantik. Setidaknya kita harus berbincang terlebih dahulu. Bukankah kita sudah lama tidak bertemu."
"Sebenarnya apa maumu Bethran?"
"Tentu saja aku menginginkanmu," jawab Bethran seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati Delia.
Delia mundur, "jangan coba coba mendekatiku Bethran. Apa kau pikir cara ini baik, kau pikir aku akan terkesan jika kau melakukan ini?" tanya Delia mulai kesal.
Bethran kembali melepaskan tawanya, "kapan aku bilang ingin membuatmu terkesan? Hanya saja satu satunya cara agar kau mau menikah denganku adalah dengan mengancammu. Aku tak bisa melupakan caramu menolakku Del, aku masih tidak bisa melupakan cinta pertamaku," ujarnya.
"Kau gila, apakah cinta bisa dipaksakan?" ujar Delia, "kau sangat bodoh melakukan ini. Ayah dan ibu adalah orang yang paling berharga untukku, seharusnya kau ikut menghargai mereka," imbuhnya.
"Apakah jika aku menghargai mereka, kau bisa melihat ketulusanku?" bentak Bethran, "kau yang membuatku seperti ini, kau menolakku tanpa memikirkan perasaanku. Kau tak tahu betapa aku malu saat itu, dan langsung pindah sekolah karenamu. Apa kau sekali saja mencariku?"
Delia terkejut mendengar ucapan pria itu. Jadi sejak kejadian itu, Bethran pindah sekolah.
"Kau pindah sekolah hanya karena masalah itu? saat itu kita masih remaja, mana mungkin memikirkan hal hal seperti cinta atau pacaran. Dan aku juga tidak mengenalmu, bagaimana aku bisa menerima perasaan pria yang tidak aku kenal."
"Aku paling benci ditolak, apalagi caramu menolakku seperti itu. Kau langsung meninggalkanku begitu saja tanpa mendengarkanku lagi."
"Mudah sekali kau menyuruhku melupakan hari itu. Saat aku tahu kau kuliah di kampus yang sama denganku, aku berharap kau bisa menerimaku, kau bisa melihatku sebagai pria yang sudah dewasa. Tapi tiba-tiba saja kau menikahi pria yang asing juga untukmu. Kau tidak mau menerimaku karena aku asing bagimu, lalu bagaimana dengan Rafael Widjaja?" teriak Bethran.
"Kau lah yang membuatku terjerat dalam pernikahan ini, aku sudah tahu apa yang kau lakukan padaku, aku sudah tahu wanita yang menghinaku saat di restoran adalah orang suruhanmu. Kau sendiri yang mengantarkan pernikahanku pada pria asing," bentak Delia.
Terkejut dengan ucapan Delia. Bethran sedikit terguncang, lalu ia melepaskan tawanya.
"Rafael Widjaja memang luar biasa, ia bisa menyelidiki semuanya. Tapi bukankah seharusnya kau lari darinya, bukan malah menikahinya."
"Cukup...! Ini surat cerai yang kau inginkan. Dimana ibuku?" tanya Delia seraya melemparkan surat cerainya.
"Tentu saja ia ada disini. Tapi aku harus memastikan apakah kau diikuti orang atau tidak. Jika itu terjadi, aku akan memotong tangannya dan memberikannya padamu," ancam Bethran.
Delia bergetar saat mendengar ucapan Bethran. Ia tidak ingin ibunya terluka. Delia berharap Rafael bisa berhati hati agar tidak ketahuan.
"Jangan sentuh ibuku... Jika kau menginginkanku, lepaskan ia. Mengapa kau mau melukainya. Itu malah akan membuatku semakin membencimu. Kau bisa melihat, aku sama sekali tidak diikuti oleh siapapun."
Bethran mengambil surat cerai yang dilemparkan Delia lalu ia tersenyum, "kalian akhirnya benar benar bercerai, jadi sekarang aku sudah bisa memilikimu. Tentu saja aku akan melepaskan ibumu, karena aku sudah tidak membutuhkannya."
"Lalu bagaimana dengan ayahku?"
"Aku sudah memisahkan mereka, ayahmu berada di tangan Katrina. Sejak awal pun aku sudah mengatakannya padamu, jika aku hanya bisa melepaskan ibumu."
__ADS_1
"Apa kau sama sekali tidak takut akan hukum Bethran, yang kau lakukan ini adalah perbuatan kriminal."
Bethran menggelengkan kepalanya, "aku juga terlahir dari keluarga yang berpengaruh Delia. Menangkapku paling lama hanya 2 jam, lalu mereka akan melepaskanku kembali."
"Ya Tuhan, pria ini benar-benar menakutkan perasaan cintanya berubah menjadi obsesi. Rafael aku mohon, segeralah datang dan menyelamatkan kami," pikir Delia.
Delia harus mengulur waktu lebih lama lagi, agar Rafael dan polisi segera menemukan mereka.
"Aku sudah mengikuti keinginanmu. Jika memang kita menikah nanti, apakah kau akan memperlakukanku dengan baik?"
"Tentu saja... kau akan menjadi ratu seumur hidupmu. Aku akan mencintaimu selamanya."
"Jika kau mencintaiku, pasti kau mau kan menuruti keinginanku?" pinta Delia.
"Apapun Delia. Jika kau menginginkan sebuah gunung pun, aku pasti akan memberikannya untukmu," jawab Bethran.
Merasa Bethran mulai melunak, Delia pun memberanikan dirinya.
"Aku ingin melihat ibuku, jika ia benar-benar baik baik saja, aku tidak akan ragu lagi untuk bersamamu."
"Ya Tuhan... itu sangat mudah."
Bethran memanggil anak buahnya untuk mengeluarkan Emili dari dalam gudang. Delia terkesiap saat melihat keadaan ibunya yang lusuh dan begitu lemah.
"Apa yang kau lakukan padanya?" teriak Delia.
"Delia..." ucap Emili lemah.
"Jangan salahkan aku, ibumu yang tidak mau makan," jawab Bethran.
Delia menahan air matanya, "ibu... kau baik baik saja kan?"
Emili menganggukkan kepalanya.
"Mari kita mulai bertukar Bethran. Kau harus melepaskannya," pinta Delia.
Bethran melepaskan ikatan tangan Emili, "ibumu bisa naik mobil hitam itu untuk pulang. Dan kau kemari lah."
Keduanya mulai melangkahkan kakinya ke depan. Delia melihat sekeliling area itu, harapannya terkabul, semuanya sudah mengepung tempat itu. Saat Delia bertemu mata dengan Rafael, seketika pria itu memberi kode agar ia memeluk ibunya dan langsung menunduk.
Delia menelan salivanya, ia berharap kali ini mereka benar-benar berhasil. Dan ketika Delia dan Emili berdekatan, seketika Delia memeluk ibunya dan menundukkan tubuh mereka.
Dor... Dor... Dor...
Suara tembakan terdengar memekakkan telinga, polisi berhasil melumpuhkan Bethran dan anak buahnya. Hanya suara teriakan kesakitan terdengar dari mulut pelaku.
"Sialan... kalian menipuku," teriak Bethran.
Rafael segera menghampiri istri dan mertuanya. Pria itu memeluk keduanya. Lalu Delia histeris saat ibunya jatuh pingsan.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...