Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XLIII


__ADS_3

Selama satu bulan berada di Jepang, Delia nyaris tidak bisa turun dari ranjangnya. Hasrat Rafael begitu luar biasa hingga ia pun harus melayani suaminya hampir setiap hari. Namun di sela bulan madu mereka, Rafael juga bekerja. Pria itu terus bernegosiasi dengan pemerintah Jepang untuk menjual lahan miliknya.


Setelah berhasil mencapai kesepakatan, Rafael pun akhirnya melepaskan aset perusahaan itu dengan harga yang fantastis. Pencapaian tersebut membuat para pemegang saham yang menantikannya sangat senang. Perusahaan mereka semakin membaik seiring berjalannya waktu di tangan Rafael Widjaja.


Namun sejak seminggu sebelum pekerjaan Rafael berhasil, Delia sudah merasakan tubuhnya tidak baik. Wanita itu terkadang memuntahkan apapun yang ia makan. Delia masih merahasiakan kondisi tubuhnya agar Rafael tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Setelah bulan madu dan pekerjaan Rafael berhasil, keduanya pun kini bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia. Delia terus memaksakan senyumnya di depan Rafael walaupun ia sudah semakin tak sanggup menahannya.


Rafael baru menyadari kondisi tubuh istrinya saat Delia kembali memuntahkan makanannya saat baru selesai sarapan pagi. Wanita itu berlari ke kamar mandi sambil terus mengeluarkan isi perutnya.


"Kau kenapa Delia?" tanya Rafael sambil mengejar istrinya ke kamar mandi, "buka pintunya sayang, kau baik baik saja kan?" imbuhnya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Delia pelan.


Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam seraya membuka pintu kamar mandi. Wajahnya sangat pucat hingga membuat Rafael ketakutan. Pria itu segera memeriksa dahi istrinya.


"Aku tidak apa apa," ujar Delia sambil memegang tangan suaminya.


"Wajahmu pucat sayang, kita harus ke rumah sakit terlebih dahulu."


Seketika Delia menggelengkan kepalanya, ia tak ingin mengetahui kondisi tubuhnya. Ia hanya ingin segera kembali ke Indonesia.


"Lebih baik kita berangkat ke bandara sekarang, aku sudah merindukan negaraku sendiri sayang," kata Delia.


"Kau yakin tidak apa-apa?"


Delia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kita berangkat sekarang. Tapi jika kau merasa semakin sakit, tolong segera katakan padaku."


"Iya... aku pasti akan mengatakannya."


Rafael terus menatap Delia, pikirannya tidak tenang karena wajah Delia terus memucat. Tapi ia tidak bisa berdebat lagi, karena Delia sangat keras kepala. Setelah berpamitan pada pelayan Villa. Keduanya pun diantarkan oleh penjaga Villa ke bandara.


*****


Di bandara, pesawat pribadinya sudah menunggu kedatangan mereka. Rafael membantu Delia naik ke dalam pesawat sambil terus bertanya tentang kondisinya.


Delia dengan keras kepala terus mengatakan bahwa ia baik baik saja. Rafael membantu Delia agar tidur di sana, pria itu mengambil selimut lalu menutupi tubuh Delia.


"Kau yakin baik baik saja sayang?" tanya Rafael lagi.


"Aku hanya butuh tidur saja Raf, berhentilah bertanya. Kau justru membuatku semakin pusing," jawab Delia.


"Aku minta maaf sayang, aku hanya mengkhawatirkanmu."


"Aku tahu, tapi biarkan aku tidur saja."


"Baiklah, kau tidurlah."


Rafael segera memanggil pramugari untuk menjaga Delia, sedangkan ia segera menemui pilot untuk meminta waktu sebelum take off, karena pria itu ingin menghubungi asistennya terlebih dahulu.


"Halo pak Raf, apa anda sudah dalam pesawat?" tanya Jodhi.

__ADS_1


"Aku memang sudah di bandara dan naik pesawat Jod. Tapi pesawat belum take-off. Aku sengaja menghubungimu terlebih dahulu."


"Ada apa pak? Apa anda butuh bantuan?"


"Benar, aku butuh bantuanmu Jod. Sepertinya kondisi Delia tidak baik saat ini, tapi ia keras kepala dan tak mau ke rumah sakit. Ia memaksaku untuk segera kembali ke Indonesia. Aku sangat bingung saat ini, jadi bantu aku menghubungi dokter pribadiku. Bawa ia ke bandara saat kami tiba di sana. Aku ingin Delia langsung menerima perawatan. Demi Tuhan, aku benar benar takut saat ini."


"Seharusnya anda memaksa nyonya ke rumah sakit dulu pak."


"Aku sudah mencobanya, tapi aku tetap kalah. Ikuti saja perintahku, tujuh jam lagi kami akan tiba."


"Baik pak," jawab Jodhi.


Rafael pun menutup teleponnya, ia pun segera meminta pilot untuk memulai perjalanan mereka.


*****


Perjalanan mereka sudah 4 jam. Melihat Delia yang semakin pucat, membuat Rafael semakin panik. Rafael berkali kali memeriksa tubuh istrinya, namun suhu tubuh Delia justru semakin dingin. Keringatnya mengucur deras hingga membuat pakaiannya basah.


"Tubuhmu dingin namun berkeringat begitu banyak sayang. Kau benar benar menakutiku. Delia... kau masih bisa mendengar suaraku?" tanya Rafael.


Delia hanya bergumam, wanita itu sudah tidak mampu lagi membuka matanya. Tubuhnya begitu lemas tanpa daya. Berkali-kali pramugari mengingatkan Rafael untuk duduk dengan baik di tempatnya, namun pria itu tidak mendengarkan, ia justru terus berjongkok di depan Delia.


"Delia, jika kau tak sanggup lagi, aku akan meminta pilot untuk mendarat di bandara terdekat sayang. Katakan sesuatu, aku bisa gila jika kau seperti ini."


Delia memaksakan diri untuk membuka matanya, namun ia justru merasa pandangannya berputar. Rasa mual kembali datang. Delia bangun dengan cepat seraya berlari meninggalkan Rafael menuju kamar mandi.


Rafael terkejut lalu mengejarnya, di sanalah Delia kembali mengeluarkan isi perutnya. Rafael panik, ia berteriak memanggil pramugari untuk membantunya mencarikan obat yang ada. Sedangkan ia terus menepuk punggung Delia dengan lembut.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Delia katakan sesuatu."


"Delia..." teriak Rafael.


"Aku pusing," ucap Delia.


Rafael mengangkat tubuhnya lalu segera membawanya kembali ke tempat tidurnya. Pramugari memberikan beberapa obat pada Rafael termasuk minyak angin. Wajah Delia semakin memucat, Rafael mengoleskan minyak angin di seluruh tubuh istrinya. Rafael menggenggam tangan Delia yang dingin.


"Aku mohon bertahanlah sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu."


Delia justru tersenyum lemah, "aku tidak akan mati semudah itu tuan."


"Kau masih saja bercanda, sebenarnya kapan kau merasakan tubuhmu tidak sehat. Mengapa kau jadi seperti ini?"


Delia bergeming, wanita itu justru memejamkan matanya lagi.


"Obat apa ini?" tanya Rafael pada pramugari.


"Itu obat anti mabuk tuan, lainnya obat pusing dan sakit perut."


Rafael menyipitkan matanya, Delia tentu saja bukan sedang mabuk. Tapi ia tak ingin memberikan obat sembarangan pada istrinya.


"Delia, kau mendengarku? Kau ingin minum obat yang mana?"


Delia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Oh ya ampun, aku bisa gila jika seperti ini. Berapa jam lagi kita akan mendarat? Bisakah pilot mempercepatnya?" pinta Rafael.


"Jika berjalan normal, kita baru sampai tiga jam lagi tuan. Tapi aku akan bertanya pada pilot."


Pramugari tersebut langsung menuju ke ruangan pilot untuk bertanya perjalanan mereka. Namun mereka harus tetap terbang dengan kecepatan normal, paling cepat mereka akan tiba di bandara Soekarno-Hatta dua setengah jam lagi.


Dengan penuh kesabaran dan perasaan yang bercampur aduk, Rafael pun berusaha tenang. Namun ia terus berjongkok di depan Delia. Saat akhirnya pesawat akan mendarat, Rafael pun dipinta agar duduk di tempatnya. Dengan terpaksa Rafael kembali ke tempat duduknya agar aman.


Pesawat pribadinya mendarat dengan aman, sebuah mobil ambulan sudah siap di landasan. Rafael segera mengangkat tubuh Delia, dengan cepat ia membawa Delia keluar dari pesawat.


"Sayang, kau mendengarku..." ucap Rafael.


Delia bergeming, bahkan tak ada suara gumaman sedikitpun.


"Delia... bangun sayang, jangan menakutiku," teriak Rafael.


Sontak Jodhi dan dokter pribadi Rafael berlari mengejarnya.


"Bagaimana kondisi nyonya, pak?" tanya Jodhi.


Rafael menggelengkan kepalanya dengan panik, "dok... tolong istriku," pintanya.


Bed sick turun dari mobil ambulan, Delia segera direbahkan di sana. Lalu Delia pun dinaikkan ke mobil ambulan. Dokter pribadi Rafael segera memeriksa kondisi tubuh Delia, para perawat pun segera memasangkan selang infusnya dan juga alat bantu pernapasan.


Rafael segera ikut masuk ke dalam mobil ambulan, pria itupun akhirnya tak bisa menahan air matanya saat melihat kondisi Delia.


"Bagaimana dengan istriku dok?" tanya Rafael panik.


"Kenapa kalian melakukan perjalanan jauh jika kondisi nyonya seperti ini? Ia kehabisan banyak cairan, dan saat ini keadaannya sangat lemah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," jawab dokter.


"Jod... tolong hubungi keluargaku, aku akan segera ke rumah sakit," teriak Rafael pada Jodhi.


"Baik pak," jawab Jodhi.


Ambulan pun segera pergi menuju rumah sakit. Rafael terus menggenggam tangan Delia dan memintanya untuk sadar. Tapi Delia masih bergeming di tempat tidurnya. Rafael terus terisak membuat dokter pribadinya sangat terkejut. Pria seperti Rafael Widjaja terlihat sangat lemah di depan istrinya.


*****


Sesampainya di rumah sakit, Delia segera dilarikan ke ruangan UGD. Cukup lama pemeriksaan itu dilakukan. Rafael terus mondar-mandir di depan ruangan UGD sambil berdoa agar Tuhan menyelamatkan istrinya.


Hartanto dan Helena pun akhirnya tiba di rumah sakit, mereka justru terus menyalahkan Rafael karena membiarkan kondisi Delia seperti ini. Seharusnya Rafael bisa memaksa Delia ke rumah sakit sebelum melakukan perjalanan jauh. Rafael menerima kemarahan kedua orang tuanya, karena memang seharusnya ia bisa memaksa Delia.


Dokter yang menangani Delia pun akhirnya keluar dari ruangan UGD, seketika mereka mendekati dokter tersebut untuk mengetahui kondisi Delia.


"Nyonya muda sangat beruntung, ia bisa melewati masa kritisnya. Walaupun saat ini masih lemah, tapi ia akan kembali sadarkan diri. Dan yang lebih beruntung lagi, janin yang ada di kandungannya dalam kondisi sehat," ujar dokter.


Mereka terkejut mendengar kabar bahagia tersebut.


"Istriku hamil?" tanya Rafael.


"Sepertinya ia muntah muntah karena kehamilannya tuan muda. Kandungannya sekarang baru berusia 3 minggu, cukup rentan sekali. Namun ia sangat beruntung, karena mampu mempertahankannya. Selamat untuk anda, dan tuan besar Widjaja anda akan segera punya cucu."


Seketika Rafael berlari masuk ke ruangan UGD untuk menemui Delia tanpa berpamitan pada mereka. Kebahagiaannya tak bisa terbendung lagi hingga melupakan segalanya.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2