Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XLII


__ADS_3

Rafael menunggu istrinya di luar pintu kamar setelah ia selesai membersihkan diri. Saat Delia keluar dari kamarnya, wanita itu sudah memakai gaun malam yang sangat cantik di tubuhnya. Rafael sudah menduga wanita itu akan memakai gaun yang seharusnya tidak ia pakai untuk malam ini karena Rafael sudah menyiapkan kejutan di luar Villa.


Namun Rafael sudah berjaga-jaga dan menyiapkan mantel tebal untuk istrinya. Pria itu hanya tersenyum lebar saat melihat wajah cantik Delia, seketika Rafael mencium pipi Delia dengan lembut.


"Kau sangat cantik sayang," ucap Rafael.


"Terima kasih, dan kau juga sangat tampan suamiku," balas Delia.


"Aku memang sejak dulu sudah tampan."


"Astaga... aku menyesal mengatakannya, aku lupa jika suamiku memang sangat narsis."


Rafael terkekeh geli, pria itu langsung melangkahkan kakinya dan berdiri tepat di belakang Delia.


"Aku ingin memberi kejutan untukmu. Untuk itu, kau harus menutup mata dengan kain ini," ucap Rafael seraya mengikatkan sebuah kain untuk menutupi mata istrinya.


"Apa yang ingin kau lakukan sayang?" tanya Delia.


Jantung Rafael berdebar dengan keras saat kata sayang akhirnya terus-menerus keluar dari mulut istrinya, namun pria itu harus mengendalikan dirinya sampai kejutannya berhasil dilakukan.


"Kau akan tahu nanti setelah sampai di sana," jawab Rafael.


"Setelah sampai di sana? Bukankah kita ingin makan malam?"


"Kita memang ingin makan malam dan kejutannya ada di sana," ujar Rafael.


"Kau membuatku penasaran."


Rafael menggenggam tangan Delia, perlahan-lahan pria itu membimbing Delia untuk melangkahkan kakinya. Keduanya ternyata menuju pintu belakang untuk keluar dari Villa. Delia memang belum tahu jika di belakang Villa tersebut, terdapat sebuah pantai yang indah dan di sanalah Rafael menyiapkan makan malam mereka sebagai kejutan untuk Delia.


Angin dingin seketika menyapu tubuh Delia membuat wanita itu bergidik kedinginan.


"Apa kita sedang keluar dari Villa? Anginnya dingin sekali," kata Delia.


Rafael tersenyum lebar, "kita memang sedang keluar dari Villa sayang, kau tenang saja... aku sudah menyiapkan mantel untukmu agar kau tidak kedinginan."


"Sebenarnya kita kemana sayang?"


"Nah... kita sudah sampai. Apa kau sudah siap untuk membuka matamu?"


Delia menganggukkan kepalanya, lalu Rafael pun membuka penutup mata istrinya. Seketika Delia terbelalak lebar saat melihat pantai yang ada di depan matanya, lalu ia pun melihat sebuah meja yang dihiasi lilin lilin indah di sekitarnya. Suasana benar-benar terasa romantis. Entah bagaimana bisa lilin lilin tersebut tidak mati saat diterpa angin kencang.


"Ya Tuhan... kau yang menyiapkan semua ini? Lalu pantai ini bagaimana bisa ada di sini juga?" tanya Delia kebingungan.

__ADS_1


Rafael tertawa mendengar pertanyaan istrinya, pria itu mengambil mantel yang sudah disiapkannya lalu menutupi tubuh Delia yang memang sedang menggunakan gaun malam miliknya.


"Tentu saja pelayan yang menyiapkannya, aku hanya memberi mereka perintah untuk melakukannya Delia dan soal pantai ini, aku tidak bisa memindahkan sebuah pantai nona, tapi lihatlah di belakangmu," jawab Rafael.


Delia membalikkan tubuhnya, ia terkejut melihat Villa yang ada di belakang tersebut.


"Jadi di belakang Villamu ada sebuah pantai indah seperti ini?"


"Bukan Villaku sayang, tapi Villa kita. Dan ya, pantai ini tepat di belakangnya."


Delia mulai berkaca-kaca karena terlalu bahagia, ia ingin sekali menangis dalam kebahagiaan tersebut. Rafael yang melihat perubahan wajahnya seketika memeluk Delia.


"Jangan menangis, jangan merusak suasana romantis ini sayang," pinta Rafael.


"Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku benar-benar beruntung bisa memilikimu Raf. Aku terlalu bahagia hingga ingin menangis."


"Aku lebih suka melihatmu tertawa dari pada menangis Delia, jadi aku mohon dengan sangat tahan air matamu itu."


Delia berusaha menahan air matanya, ia pun menganggukkan kepalanya sambil melepaskan pelukan Rafael. Pria itu kembali tersenyum, ia membawa Delia menuju meja, Delia kembali terkejut saat melihat isi meja tersebut. Makanan itu dipenuhi dengan seafood kesukaannya.


Delia menutup mulutnya dengan tangan, air matanya pun tak bisa ia tahan lagi.


"Oh ya ampun..." ucap Rafael.


Delia langsung memeluk suaminya lagi sambil terus mengucapkan kata terima kasih padanya. Kejutan itu terus berlanjut, saat mereka sudah mulai makan malam, Rafael mengambil sebuah kotak dari bawah meja. Kotak perhiasan yang berisi kalung berlian sudah ia siapkan untuk Delia.


"Ya Tuhan... sangat cantik saat kau yang memakainya sayang. Kalung ini semakin berkilau di lehermu."


"Ini sangat mahal untukku, apa aku..."


"Aku sudah bilang berhenti mengatakan yang tidak-tidak sayang," sergah Rafael, "jika rantai kapal berlapis berlian dan kau menginginkannya pun, pasti akan aku berikan," imbuhnya.


Akhirnya Delia tertawa mendengarnya. Setelah mereka menyelesaikan makan malam tersebut. Keduanya pun menikmati pemandangan pantai yang indah.


Hari semakin larut malam, Rafael mengajak Delia kembali ke Villa mereka. Sudah tidak ada aktivitas pelayan di Villa tersebut, justru terkesan sangat sepi.


"Kemana mereka?" tanya Delia.


"Aku meliburkan mereka malam ini, aku tidak ingin diganggu lagi seperti tadi sayang."


Sontak wajah Delia merona karena malu. Rafael tersenyum sambil terus membawa Delia menuju kamar utama mereka. Kejutan lagi untuk Delia, kamar sebelumya kini berubah seketika. Delia terkejut saat melihat lilin lilin menghiasi kamar itu, bahkan kelopak bunga mawar merah sudah bertebaran di karpet lantai dengan indahnya. Ranjang besar di sana pun sudah dihiasi bunga-bunga yang indah.


Delia terkesiap karena Rafael tiba tiba mengangkat tubuhnya, pria itu tidak membiarkan istrinya terus mengagumi kamar mereka. Rafael melangkahkan kakinya sambil menggendong Delia menuju ranjang, pria itu merebahkan tubuh Delia ke ranjang besar itu dengan lembut.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu sayang, dan aku tak sanggup lagi menahannya," ucap Rafael seraya menci um kening Delia.


Tak berhenti sampai di situ, pria itu terus menyentuh wajah Delia tanpa terlewat sedikitpun. Hawa panas mulai terasa. Keduanya saling membalas sentuhan mereka. Kelopak bunga di atas ranjang mulai berantakan.


Rafael sangat tidak sabaran, pria itu justru merobek gaun indah milik Delia.


"Ya Tuhan... kau merusaknya," ucap Delia dengan suara parau.


"Aku akan membelikannya lagi, jika perlu aku akan membeli toko itu sekaligus untukmu," jawab Rafael membuat Delia justru terkekeh geli.


Namun tak berlangsung lama, suara tawa Delia berubah menjadi suara des*han saat Rafael justru mencicipi puncak gunung kembar miliknya. Pria itu mencicipinya satu per satu, bahkan ada gig itan lembut yang membuat Delia semakin menggila. Banyak kiss*mark yang tertinggal di sekitar pay**ranya.


Rafael meninggalkan gunung kembar tersebut, ia justru terus menyentuh hingga ke bagian bawah milik Delia. Rafael mengangkat kedua kaki Delia, pria itu langsung melepaskan cela na dal*m istrinya. Tanpa ampun lagi, Rafael langsung menundukkan kepalanya tepat di bagian inti Delia.


"Aaakk***khhh..." ucap Delia saat lid*h Rafael memasuki lubang goa miliknya.


Rafael menggelitik bagian itu membuat Delia semakin menggila, wanita itu melenguh sambil menarik rambut Rafael dengan lembut.


"Raf... ini gila sayang..."


Rafael masih belum puas, pria itu terus menggelitik bagian itu membuat hawa panas terasa ingin meledak di perut Delia. Delia mer*mat seprai dengan erat. Tubuhnya mulai bergetar hebat, dan keluarlah klim*ks pertamanya sambil meneriakkan nama suaminya.


Rafael tersenyum saat tahu istri sudah mencapai puncaknya. Pria itu segera membuka pakaiannya sendiri. Delia segera mengatur nafasnya yang memburu, wanita itu justru tiba-tiba bangun dan membalas perbuatan suaminya.


Rafael terbelalak, "Delia... aaakk***khhh..." teriaknya.


Rafael sangat terkejut saat mendapat balasan kenikmatan tersebut, dengan mahir Delia melakukannya. Rafael tak menyangka wanita polos seperti Delia cepat belajar darinya.


"Sayang... aku tidak sanggup lagi," ucap Rafael.


Pria itu memaksa istrinya agar naik ke atasnya, keduanya pun saling meny*tukan diri. Ini baru untuk Delia karena ia main di atas suaminya, namun kenikmatan itu tidak ada bedanya. Tubuhnya terus diajak bergerak seirama dengan gerakan Rafael. Suara des*han mereka saling bersahutan.


Gerakan demi gerakan terus dipercepat, Rafael membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan penyatuan mereka, pria itu langsung bergerak cepat. Menarik dan mendorong tubuhnya hingga berkeringat.


Gerakan gila itu mampu membangkitkan hasr*t Delia kembali, Rafael yang terus menambah kecepatan gerakannya membuat Delia kembali ingin mencapai puncaknya.


"Raf... sayang... aku ingin..." teriak Delia.


"Aku juga sayang," jawab Rafael sambil terus mempercepat gerakannya.


Dan teriakan menggila keduanya terlepas saat mereka mencapai klim*ks bersama. Rafael pun terkulai lemas sambil memeluk tubuh istrinya.


*****

__ADS_1


Hayooo... siapa yang panas dan basah...


Happy Reading All...


__ADS_2