
Dua hari kemudian...
Pemakaman Katrina Dowell baru dilakukan di pemakaman elite San Diego Hills. Tepat di hari pemakaman itu juga, pihak kepolisian mengungkap hasil penyelidikan dari kecelakaan naas tersebut.
Ada beberapa rekaman cctv juga rekaman pada dasbor mobil Katrina yang telah diselidiki oleh anggota kepolisian. Rekaman suara pada dasbor tersebut justru membuat siapapun terkejut. Katrina memang sudah merencanakan pembunuhan terhadap Rafael dan Delia. Wanita itu memang sudah menunggu dan mengikuti mobil Rafael dari apartemen.
Frans Dowell yang mengetahui kabar tersebut sangat terpukul. Ia tak menyangka putrinya akan lebih gila setelah ia memberi jaminan agar Katrina keluar dari penjara. Rencana untuk mengirim Katrina ke luar negeri digagalkan oleh putrinya sendiri yang keras kepala. Dan perbuatan tercela itu justru berbalik kepadanya sendiri. Katrina justru diberi hukuman oleh Tuhan atas perbuatannya.
Keluarga Widjaja juga diberitahu oleh pihak kepolisian tentang penyelidikan tersebut membuat mereka benar benar terkejut. Tebakan Rafael dan Delia yang diikuti oleh Katrina, benar adanya. Namun Tuhan masih melindungi mereka hingga rencana Katrina benar benar gagal total.
Demi kemanusiaan, keluarga Widjaja tetap datang saat prosesi pemakaman tersebut. Terlihat Frans Dowell masih menangis sambil memeluk foto Katrina. Tentu saja pria itu sangat terpukul karena harus kehilangan putri satu-satunya.
Frans Dowell sangat terkejut saat melihat kedatangan keluarga Widjaja. Ia tak menyangka jika mereka tetap menghadiri prosesi pemakaman Katrina yang nyaris membunuh mereka. Frans meletakkan foto Katrina lalu mendekati keluarga Widjaja. Pria itu sontak memeluk Hartanto Widjaja sambil menangis.
"Aku turut berduka cita Dowell," ucap Hartanto.
"Aku tak punya putri lagi Widjaja, bagaimana aku bisa hidup sendiri di masa tuaku ini?" kata Frans sambil terisak.
"Bersabarlah, semua ini sudah takdir dari Tuhan. Kau harus menerimanya dengan ikhlas."
Frans melepaskan pelukannya lalu melihat ke arah Rafael, pria itu pun langsung memeluknya.
"Raf... aku minta maaf atas semua perbuatan putriku padamu dan istrimu. Aku mohon maafkan Katrina agar ia bisa tenang di sana."
"Anda tenang saja, kami memang sudah memaafkannya. Anda harus sabar dan ikhlas atas kepergian Kate," jawab Rafael.
"Om Frans, aku juga sudah memaafkan Katrina," sahut Delia.
"Terima kasih, kalian memang orang baik. Malam sebelum kejadian itu, ia izin padaku untuk ke pemakaman mama nya. Aku tak menyangka jika ia justru sudah merencanakan hal gila ini. Seharusnya ia sudah berada di Amerika, kenapa ia justru berada di sini. Kate ku benar benar menerima balasan atas perbuatannya, aku masih tak percaya jika ia bisa merencanakan semua ini."
"Berhentilah mengatakan hal yang buruk pak Frans, kita hanya bisa berdoa agar Kate bisa tenang. Lupakan semua kejadian ini, kami benar-benar sudah memaafkannya," kata Rafael.
Frans menganggukkan kepalanya, prosesi pemakaman pun segera di mulai. Terdengar suara isak tangis dari keluarga Dowell juga para sahabat Katrina. Keluarga Widjaja menyaksikan prosesi tersebut hingga selesai. Setelah itu mereka pun segera berpamitan untuk pulang.
*****
Siang harinya, keluarga Laros sudah bersiap-siap untuk kembali ke Bandar Lampung. Kedua orang tua Delia tak henti-hentinya memberikan pesan dan nasehat pada anak dan menantunya. Emili berkali-kali terisak saat meminta Rafael untuk melindungi Delia, wanita itu sangat takut jika hal hal yang dilakukan Katrina akan terulang lagi pada musuh musuh Rafael.
"Ibu tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Delia. Aku akan terus melindunginya bu," ucap Rafael.
"Bukan hanya Delia saja nak, kau juga harus menjaga dirimu. Kalian berdua harus saling menjaga agar kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi," kata Derry.
Rafael menganggukkan kepalanya, "jika kami ada waktu, pasti kami akan sering menjenguk kalian."
"Kau jangan terlalu memikirkan hal itu. Oh ya, kapan kalian akan berangkat ke Jepang?"
"Minggu depan yah, jika pekerjaan Rafael segera selesai mungkin akan dipercepat."
"Kalian harus berhati-hati, selalu mengabari ibu setiap hari," pinta Emili.
Delia menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Rafael. Setelah mereka berbincang-bincang, keluarga Laros pun berpamitan menuju bandara. Rafael dan Delia, juga Jodhi dan dua staf sebelumnya sudah siap untuk mengantarkan orang tua dan saudara Delia. Mereka pun segera berangkat menuju bandara.
Sesampainya di bandara, seperti biasanya Delia dan Emili selalu menangis sambil berpelukan. Ada kebahagiaan sekaligus ketakutan yang mereka rasakan setelah menghadapi banyak masalah akhir akhir ini. Namun Rafael terus meyakinkan mertuanya untuk tidak mengkhawatirkan keselamatan Delia selama berada di sampingnya. Akhirnya keluarga Laros pun masuk ke dalam pesawat, sedangkan Rafael dan Delia segera kembali ke apartemen mereka.
*****
Rafael dan Delia akhirnya sampai di apartemen. Keduanya sama sama menghempaskan tubuh mereka ke sofa.
"Sungguh hari yang melelahkan sayang," ucap Rafael.
"Kau benar, hari ini sangat lelah," jawab Delia.
__ADS_1
"Apa kau ingin makan?"
Delia menggelengkan kepalanya, "Raf... ada yang ingin aku katakan padamu."
Rafael menatap Delia, "ada apa Del?"
"Aku ingin berhenti kuliah."
Sontak Rafael sangat terkejut mendengarnya, "tidak boleh, pendidikan itu sangat penting sayang."
"Aku tahu, tapi aku sangat lelah. Aku lelah mengejar ketertinggalan mata kuliah. Aku sulit berkonsentrasi karena banyak sekali masalah yang kita hadapi."
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi berhenti bukanlah solusi terbaik. Aku minta maaf atas masalah yang terjadi padamu. Aku lah yang memulai permasalahan ini sejak mengenalmu."
"Aku sama sekali tidak menyalahkanmu Raf. Aku berhenti bukan selamanya, setelah semua masalah ini selesai, aku akan kembali kuliah."
"Masalah kita sudah selesai."
Delia menggelengkan kepalanya, "kita bahkan akan pergi berbulan madu, aku akan meninggalkan kuliahku lagi. Mengertilah Raf, aku benar-benar tidak sanggup lagi."
Rafael menarik nafasnya dalam-dalam, melihat wajah Delia yang benar benar berharap padanya membuat Rafael tidak tega. Pria itu pun akhirnya menyetujui permintaan Delia.
Seketika Delia memeluk Rafael, "terima kasih."
"Kau harus mengucapkan terima kasih dengan benar," kata Rafael.
Delia melepaskan pelukannya, "terima kasih dengan benar? Maksudmu?"
"Maksudku ini..."
Rafael langsung mencium bibir Delia, pria itu membangunkan hasrat pada tubuh Delia.
Delia menyetujuinya, wanita itu mengangguk. Seketika Rafael mengangkat tubuh Delia dan membawanya langsung ke kamar mereka. Sentuhan lembut itu berubah menjadi sentuhan yang panas. Namun tiba-tiba Delia mengernyit kesakitan. Perutnya kram dan nyeri.
"Oh tidak... jangan sekarang," pikir Delia.
"Kau kenapa sayang, kau tidak apa apa kan?" tanya Rafael panik.
Wajah Delia semakin pucat karena rasa nyeri itu semakin terasa.
"Apa aku menyakitimu? Delia, katakan sesuatu," kata Rafael kembali panik.
"Raf..."
"Katakan kau kenapa? Jangan membuatku takut."
Delia bangun dari ranjangnya seraya berbisik pada Rafael, "sepertinya tamuku datang."
Rafael mengerutkan keningnya, "tamumu? Siapa?"
Delia beranjak dari tempat tidurnya, ia turun dari ranjang dan merasakan jika tamu itu benar benar datang. Rafael menatap Delia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Delia..."
"Ya Tuhan, kau masih saja tak mengerti. Aku datang bulan bodoh," celetuk Delia seraya berlari ke kamar mandi.
Rafael tercengang, namun setelah menyadari ucapan istrinya, sontak Rafael melepaskan tawanya dengan keras.
"Stop it...!!!" teriak Delia dari dalam kamar mandi.
Alih alih diam, Rafael justru semakin tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Rafael... kau membuatku semakin malu," ucap Delia.
Rafael mengendalikan tawanya, ia beranjak dari tempat tidurnya seraya mendekati pintu kamar mandi.
"Kenapa harus malu sayang? Aku suamimu yang sah."
"Karena tamuku ini datang di saat waktu yang tidak tepat."
Rafael terkekeh geli, "sepertinya kita memang harus melakukan bulan madu di Jepang. Kau tenang saja, aku akan sabar menunggu. Sayang, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa perutmu masih sakit? Buka pintunya."
Delia membuka pintu kamar mandinya, seketika Rafael memeluk istrinya lagi.
"Maafkan aku," ucap Delia.
"Gadis bodoh, kau tidak perlu minta maaf untuk hal seperti ini. Apa masih sakit?"
Delia menganggukkan kepalanya, Rafael mengelus perut Delia dengan lembut.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku hanya perlu berbaring saja, nanti juga sakitnya akan hilang. Tapi aku perlu memakai itu."
Rafael menyipitkan matanya, namun ia segera mengerti maksud Delia.
"Aku akan mengambilnya, dimana kau meletakkan itu?"
"Seingatku di lemari pakaian, dekat baju dalam."
Rafael menganggukkan kepalanya, "tunggu sebentar."
Rafael segera mengambil pembalut wanita yang dimaksud Delia. Setelah menemukannya, Rafael segera kembali mendekati istrinya.
"Apakah ini?"
Delia menganggukkan kepalanya, "terima kasih."
"Berhentilah mengatakan terima kasih dan maaf padaku."
"Haisssss iya."
Delia langsung masuk ke kamar mandi lagi untuk memakainya. Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi lagi dan terkejut saat Rafael langsung mengangkat tubuhnya lagi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Delia.
"Melayani ratuku," jawab Rafael seraya merebahkan tubuh Delia ke atas ranjang, "masih sakit?" imbuhnya.
Delia menganggukkan kepalanya, seketika Rafael ikut naik ke atas ranjang lalu tangan pria itu memijat perut Delia dengan lembut. Delia terus menatap suaminya, ia sangat bahagia diperlakukan seperti itu.
"Apa suamimu begitu tampan?" goda Rafael.
Delia mengangkat tangannya lalu mengelus wajah Rafael, "sangat tampan dan aku sangat mencintaimu."
Rafael mengecup kening Delia dengan lembut, "dan kau sangat cantik, aku pun sangat mencintaimu."
Delia memeluk Rafael, "berhenti memijat perutku, aku ingin tidur di pelukanmu."
Rafael menghentikan pijatannya, pria itu pun memeluk Delia dengan erat. Keduanya akhirnya terlelap.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1