Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXXI


__ADS_3

Rafael sudah tak mampu lagi untuk menahan kerinduannya. Pria itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan menemui Delia di kampusnya. Jalan terasa sangat lama akibat kemacetan ibukota. Rafael semakin frustasi saat melihat jam tangannya, ia tidak ingin menghubungi Delia agar kedatangannya menjadi kejutan untuk istrinya. Tapi ia juga takut Delia pulang lebih dulu sebelum ia tiba disana.


Berkali kali ia menekan klakson mobilnya, ia sangat tidak sabaran agar bisa segera sampai di kampus Delia. Rafael bernafas lega saat berhasil keluar dari kemacetan ibukota, ia menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di sana.


Seperti biasa, kedatangannya pasti menghebohkan seisi kampus, namun ia tak memperdulikannya. Rafael hanya fokus pada sosok yang dicarinya. Dan beberapa menit kemudian, wanita yang ia rindukan muncul sedang asyik berbicara dengan sahabatnya. Rafael menunggu saat Delia bisa melihatnya, dan saat inilah tatapan keduanya bertemu.


Rafael tersenyum lebar saat istrinya menyadari kehadirannya. Jantung Rafael berdebar dengan keras saat melihat wanita itu. Entah kenapa, hanya Delia yang bisa membuatnya seperti itu.


Rafael terus menunggu istrinya yang terlihat terpaku dari kejauhan. Entah apa yang dikatakan wanita yang ada di sebelah Delia, hingga membuat wanita itu akhirnya melangkahkan kaki untuk menghampirinya.


Delia semakin dekat dengannya, wanita itu akhirnya tersenyum, "hai..." sapa Delia.


Rafael tidak menjawab sapaan istrinya, ia justru langsung menarik Delia ke dalam pelukannya. Delia langsung terkejut, namun wanita itu pun membalas pelukan suaminya.


Rafael menci um puncak kepala Delia dengan lembut.


"Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu sayang. Demi Tuhan, aku sangat-sangat merindukan," ucap Rafael.


"Aku juga merindukanmu Raf. Sudah dua hari ini kita sulit bertatap muka," jawab Delia.


"Aku minta maaf, aku benar benar sibuk mengurus pekerjaanku," ujar Rafael, "apa kau tahu, hari ini aku sangat sulit berkonsentrasi pada pekerjaanku. Itu karena aku tidak sanggup lagi menahan kerinduanku padamu. Sehari lagi aku bisa gila sayang," imbuhnya.


"Em... apa kau sedang merayuku tuan Rafael Widjaja?"


Rafael melepaskan pelukannya seraya menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan rayuan nona cantik, ini gambaran nyata dan ungkapan hatiku," jawab Rafael.


Delia tersenyum lalu menatap mata suaminya, ada kesungguhan saat pria itu mengatakannya.


"Untuk itu, kau tidak boleh menahannya sehari lagi, karena kau tidak boleh menjadi gila. Aku tidak ingin kehilangan suamiku," kata Delia.


Rafael tersenyum, "aku sangat rela jika menjadi gila karenamu."


"Kau benar-benar pintar menggombal tuan. Lalu bagaimana pekerjaanmu?" tanya Delia.


"Aku tak mau membahas pekerjaan, aku hanya butuh dirimu sekarang," ucap Rafael seraya membuka pintu mobilnya.


Rafael pun mengajak Delia masuk ke dalam mobilnya. Delia masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Rafael. Pria itu segera mengendarai mobilnya keluar dari kampus.


"Kita mau kemana?" tanya Delia.


Rafael menatap Delia sekilas, "tentu saja hal pertama yang harus kita lakukan, ya makan siang, aku akan membawamu ke sebuah restoran seafood langgananku. Bukankah kau sangat suka seafood?"


Delia menyunggingkan senyumnya seraya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"I like seafood. Tiba tiba saja aku menjadi sangat lapar Raf," jawab Delia.


Rafael tersenyum melihat wajah bahagia Delia. Pria itu menambah kecepatan mobilnya seraya menuju restoran yang ternyata sudah ia pesan sebelumnya.


Sesampainya di restoran, beberapa pelayan langsung menyiapkan makanan mereka tanpa harus dipesan. Itu karena Rafael sudah mengaturnya terlebih dahulu. Delia terbelalak melihat meja yang dipenuhi oleh makanan kesukaannya.


"Raf... Siapa yang akan menghabiskan semua ini? Ini terlalu banyak, kita bisa mengundang puluhan orang untuk menghabiskannya," bisik Delia.


Rafael terkekeh geli, "tentu saja kau sayang, tak mungkin aku menyuruh orang lain untuk menghabiskannya," jawab Rafael.


"Tapi ini terlalu banyak."


"Aku yakin kau bisa menghabiskannya. Lihatlah... semuanya makanan kesukaanmu."


"Kau gila, perutku hanya mampu memakan satu piring. Kau kira lambungku sebesar karung? Kau ingin aku benar benar berubah seperti seekor babi," gerutu Delia.


Rafael kembali terkekeh geli, "kau benar benar mampu menghilangkan stress ku sayang. Aku sama sekali tidak memaksamu untuk menghabiskannya. Nikmatilah sebisamu."


Delia bernafas lega, lalu ia pun menganggukkan kepalanya dan mulai menikmati makan siangnya dengan antusias. Rafael terus memperhatikan istrinya yang tanpa sadar nyaris menghabiskan semua hidangannya.


"Semuanya sangat lezat Raf, apa aku terlihat sangat rakus?"


Rafael menggelengkan kepalanya, "tidak sayang, hanya saja ucapanmu sebelumnya berbeda dengan kenyataannya."


Delia menatap meja yang ada di depannya, seketika ia menutup mulutnya dengan tangan.


Sontak saja Rafael melepaskan tawanya, "untuk ukuran tubuh kecilmu, ternyata makanmu banyak juga," godanya sambil terus tertawa.


Delia mengerucutkan bibirnya, "salahmu menyajikan seafood di depanku," jawab Delia, "aku sangat menyukainya, jika aku makan lagi, bisa bisa aku tak bisa jalan karena kekenyangan," ujarnya.


Rafael benar-benar tak bisa menahan tawanya, istrinya terus saja membuatnya tertawa dengan tingkahnya yang polos dan lucu.


"Berhentilah mengejekku tuan Widjaja," ujar Delia.


"Kau tenang saja sayang, jika kau tidak bisa jalan, maka aku akan menjadi kakimu. Sekarang lanjutkan makanmu," pinta Rafael.


"So sweet sekali... tapi aku harus berhenti sekarang. Bukan hanya takut tak bisa jalan, tapi kolesterol ku bisa bisa naik."


"Makan banyak hanya sekali-sekali saja. Ini tidak akan berbahaya."


"Bagaimana jika aku ingin makan seafood setiap hari?"


"Maka aku akan menurutinya. Untuk menjaga kesehatanmu, aku akan memanggil dokter pribadi untuk memeriksanya setiap minggu sekali."


Delia terkekeh, "itu pemborosan Raf, aku hanya bercanda."

__ADS_1


"Untukmu semua akan aku lakukan Delia. Maafkan aku beberapa hari ini tidak memperhatikanmu, masalah Helena dan Firdaus benar benar membuatku pusing."


"Berhentilah minta maaf. Aku cukup memahami keadaanmu Raf. Kau jangan membahas mereka disini, aku takut melihat ekspresi wajahmu saat mengucapkan nama mereka," ujar Delia.


Rafael mendekati Delia, "apa kau tahu, aku ingin mencumb*mu di sini," bisik Rafael.


Delia terkejut karena Rafael mengalihkan pembicaraannya. Wajah wanita itu merah padam karena malu.


"Kau memang mesum. Pikiranmu selalu saja kotor," jawab Delia.


Rafael terkekeh lagi, "kau istriku, tentu saja aku ingin mencumb*mu. Apa kau mengizinkan aku mencumb* pelayan restoran?" godanya.


Delia melebarkan matanya, "jika kau berani, kau akan melihatku pulang kampung dan tak akan kembali lagi," ancam Delia.


"Kau akan membunuhku jika melakukan itu sayang."


"Jadi jangan coba coba Raf."


Rafael menggelengkan kepalanya, "aku janji itu tidak akan terjadi sayang."


Ponsel Rafael berdering, membuyarkan canda gurau mereka, kali ini telepon itu dari rumah sakit. Ayahnya tersadar dan ingin bertemu dengannya.


"Dari siapa?" tanya Delia saat Rafael sudah selesai berbicara di teleponnya.


"Rumah sakit," jawab Rafael.


"Ada apa? Ayahmu baik baik saja kan?" tanya Delia panik.


Rafael menghela nafasnya, "sebenarnya aku ingin membawamu ke apartemen hari ini, aku ingin melepaskan kerinduanku padamu sayang, tapi semuanya batal karena kita harus ke rumah sakit sekarang. Papi sudah sadar, ia ingin bertemu denganku," jawab Rafael.


Delia menghela nafas lega, "puji Tuhan, akhirnya ia sadar juga. Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit Raf," ajaknya.


Rafael melihat meja makannya, "selesaikan dulu makanmu, baru kita berangkat," pinta Rafael.


Delia mengelus perutnya, "aku sudah kenyang, sudah tidak muat lagi di perutku. Bagaimana jika kita membawa pulang saja sisanya?" bisiknya.


Rafael menyipitkan matanya, "kau begitu menyukainya, tapi kita akan membawa pulang hidangan yang baru, bukan yang ini sayang."


"Tapi ini... kau tahu, aku bisa makan seperti ini harus mengumpulkan uang sakuku selama sebulan lebih. Jadi ini akan sia sia, jika dibuang," ucap Delia.


"Delia Widjaja, kau bukanlah Delia Laros yang dulu. Selama kau menjadi istri Rafael Widjaja, aku akan menuruti semua keinginanmu. Kau tak perlu mengumpulkan uang untuk makanan lezat seperti ini, aku akan menyiapkannya setiap hari untukmu. Aku akan membuatmu bahagia di sisiku, berhentilah membuat hatiku sedih, itu perintah Rafael Widjaja."


Delia menghela nafasnya, ia tahu berdebat dengan suaminya takkan ada gunanya. Uang untuk makan seafood bagi Rafael hanya memakai uang receh saja. Dunia sekarang yang ia jalani memang sangat terbalik dengan dunianya yang dulu.


Rafael membayar tagihannya sambil memesan beberapa makanan untuk dibawa pulang. Mereka menunggu pesanan datang. Setelah itu mereka berangkat ke rumah sakit untuk bertemu dengan Hartanto Widjaja.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2