
Delia sedang menyiapkan sarapan pagi, ia membuat nasi goreng karena cuma itu yang bisa ia lakukan sekarang, mengingat tidak ada bahan makanan yang cukup di dalam kulkas apartemen tersebut.
Rafael keluar dari kamarnya, seketika ia menuju dapur lalu mendekap tubuh istrinya dari belakang.
Delia pun seketika terkesiap, "apa yang kau lakukan Raf?" tanyanya.
"Tentu saja memeluk istriku," jawab Rafael seraya menyeringai.
"Ya Tuhan aku tahu. Tapi kau tidak lihat aku sedang apa," ucap Delia.
"Aku tahu sayang, apa kau bisa memasak? Kau yakin tidak meracuni suamimu?" goda Rafael.
Sontak Delia melayangkan spatula yang ada di tangannya pada Rafael.
Rafael langsung mundur, "ampun nyonya, aku tidak akan mengganggumu lagi," ujarnya seraya meninggalkan Delia di dapur.
Pria itu menuju ruang makan sambil menunggu istrinya selesai memasak.
Delia akhirnya menyelesaikan masakannya, wanita itu segera menyajikannya ke meja makan.
Rafael mengendus makanannya, "sangat harum, tapi aku tidak yakin dengan rasanya."
Seketika Delia menarik piringnya, "lebih baik kau sarapan di luar, dari pada terus mengejek masakanku."
Wajah Delia pun langsung memberengut membuat Rafael terkekeh geli. Rafael kembali mengambil piringnya lagi dari tangan Delia.
"Kau sangat cantik jika sedang marah," goda Rafael.
"Berhentilah terus menggodaku, cepatlah makan," jawab Delia.
Rafael menganggukkan kepalanya seraya mencicipi masakan Delia, pria itu langsung membelalakkan matanya.
"Kenapa? Apa rasanya sangat buruk?" tanya Delia saat melihat ekspresi wajah suaminya.
Rafael mengangguk, "rasanya sangat asin."
Sontak saja Delia terbelalak, ia langsung mengambil sendoknya dan mulai mencicipi nasi goreng yang ada di piringnya sendiri. Wanita itu mengerutkan keningnya karena tidak asin sama sekali. Karena ia penasaran, ia pun langsung mengambil satu sendok nasi goreng yang ada di piring suaminya.
Melihat Delia yang seperti itu sontak saja membuat Rafael tertawa dengan keras.
"Kau mengerjaiku," ucap Delia kesal.
Rafael menghentikan tawanya, "maaf sayang, aku hanya bercanda. Masakanmu ini sangat lezat. Darimana kau belajar memasak?" kata Rafael senang.
"Kau menyebalkan Raf, apa kau lupa jika Emili Laros yang kau puja masakannya adalah ibuku," jawab Delia.
Rafael kembali terkekeh geli, "kau benar sayang, aku hampir lupa jika kau memiliki seorang ibu yang pintar memasak. Dan aku senang ia bisa melahirkan peri cantik ini," godanya.
"Ciiiih... kau terus saja menggombal, cepatlah makan nanti kita terlambat."
__ADS_1
"Sebenarnya aku lebih suka mengajakmu kembali ke ranjang," goda Rafael lagi.
"Ya Tuhan Rafael... Kau tidak akan aku beri jatah jika masih seperti ini," celetuk Delia.
"Kau bisa membunuhku sayang. Baiklah nyonya tukang perintah aku akan menghabiskan makanannya lalu kita berangkat," jawab Rafael.
Keduanya pun menghabiskan sarapan mereka dan akan kembali beraktifitas masing masing.
*****
Rafael mengantarkan Delia ke kampusnya, sesampainya di sana. Rafael langsung mencium pipi istrinya.
"Aku tidak janji bisa menjemputmu nanti. Tapi jika aku benar benar tidak bisa, aku akan mengirimkan sopir untuk menjemputmu, jadi jangan pulang dengan kendaraan umum. Aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi denganmu," perintah Rafael.
"Sekarang siapa yang tukang perintah tuan Widjaja yang terhormat?" ejek Delia.
Rafael kembali terkekeh, "hari hariku benar benar berwarna karenamu sayang, aku mencintaimu." ujar Rafael.
Seketika Delia keluar dari mobilnya tanpa menjawab ucapan suaminya.
"Heiii... Nyonya Widjaja, aku benar benar mencintaimu," teriak Rafael.
Sontak Delia terbelalak, "ya Tuhan... berhentilah berteriak."
"Aku akan terus berteriak sampai kau membalasnya."
"Aku juga mencintaimu," kata Delia seraya berlari meninggalkan suaminya.
Rafael melepaskan tawanya saat melihat istrinya berlari ke dalam kampus.
"Aku benar benar beruntung bisa menikahi wanita sepertimu Delia. Kau mampu mengisi hari hariku yang sering membosankan ini," gumam Rafael seraya mengendarai mobilnya lagi menuju perusahaannya.
*****
Kabar baik yang Rafael inginkan akhirnya datang juga, pembebasan properti yang di Jepang akhirnya dimenangkan oleh pengacara perusahaannya. PT. Sinar Abadi kembali normal setelah properti tersebut kembali di tangannya.
Hari ini juga Hartanto Widjaja keluar dari rumah sakit setelah keadaannya semakin membaik, Rafael membiarkan Helena merawat ayahnya. Firdaus akhirnya dikirimkan ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya agar lebih mengerti soal bisnis. Rafael bernafas lega karena satu per satu masalahnya terselesaikan.
Saat ini Hartanto Widjaja meminta Rafael dan Delia untuk menemuinya karena ada yang ingin ia bicarakan. Namun karena kesibukan mereka, Rafael belum bisa menjanjikan kapan bisa pulang bersama Delia.
"Maaf pi, pekerjaan di perusahaan sangat banyak. Banyak sekali dokumen yang tertunda akibat masalah yang ditimbulkan oleh Firdaus. Aku harus mengurusnya terlebih dahulu, Delia juga sering sekali meninggalkan kuliahnya. Kami janji akan mengatur waktunya nanti," ucap Rafael di telepon.
"Ini sangat penting Raf, aku benar benar ingin kalian cepat pulang. Aku akan mengatakannya tanpa menyita waktu kalian lebih lama. Jadi cepatlah pulang," pinta Hartanto.
"Kami akan mencari waktu yang tepat untuk pulang."
"Aku tahu perusahaan sudah kembali stabil Raf, jadi jangan mencari alasan lagi," ujar Hartanto.
"Papi benar, perusahaan memang sudah stabil. Tapi tetap saja masih banyak yang belum diselesaikan. Papi lebih baik beristirahat terlebih dahulu. Bersabarlah..."
__ADS_1
"Papi akan tenang jika sudah bicara dengan kalian. Ayolah Raf, mengapa kau tidak ingin menemuiku. Bukankah kita sudah meluruskan kesalahpahaman selama ini."
"Ya Tuhan... baiklah, kami akan mengatur waktu secepatnya," jawab Rafael seraya menutup teleponnya.
*****
Katrina Dowell mengurung dirinya di kamar, ayahnya memintanya tidak keluar rumah atau berkeliaran di luar. Seminggu lagi ia harus berangkat ke Inggris. Namun Katrina masih memikirkan bagaimana caranya ia bisa membuat Rafael dan Delia menderita. Surat kabar akhir akhir ini memberitakan kebahagiaan pasangan baru itu, membuat Katrina semakin frustasi.
"Sialan... mereka bahagia di atas penderitaanku... Aku takkan membiarkan mereka begitu saja, kalian tidak boleh bahagia selama aku masih hidup," pikir Katrina.
Katrina melemparkan semua barang barangnya di kamar dan membuat keributan lagi, saat itu tepat di saat Frans Dowell baru pulang ke rumahnya. Pria setengah baya itu sontak langsung menuju kamar putrinya. Ia mengetuk pintu kamar dengan keras.
"Apa yang kau lakukan lagi, Kate? Apa kau ingin aku mempercepat perjalananmu ke Amerika?" tanya Frans.
"Tidak pa," jawab Katrina.
"Buka pintunya, papa ingin bicara," pinta Frans.
Katrina membuka pintu kamarnya dan menghambur ke pelukan ayahnya.
"Kate tidak sanggup pa, mereka bahagia sedangkan Kate menderita," ujar Katrina.
Frans mengelus punggung putrinya. Ia sangat mengerti apa yang dirasakan putrinya saat ini. Sebenarnya ini juga adalah kesalahannya karena perjodohan itu di atas bisnis mereka.
"Dengarkan papa Kate, kau itu putriku yang cantik, kau bisa mendapatkan pria yang lebih dari Rafael. Lupakan pria itu, kita tidak bisa berurusan dengan keluarga Widjaja. Kau jangan berbuat kebodohan lagi nak, lepaskan Rafael. Hiduplah dengan baik sekarang. Saat pertunanganmu dibatalkan secara sepihak, aku sedang berusaha membelamu, aku mengancam Hartanto Widjaja untuk mengembalikan semuanya. Tapi kaulah yang merusak rencana papa," ujar Frans.
"Kate sangat mencintainya pa, bertahun tahun Kate memendam perasaan ini. Kate terus bersabar saat berpura pura menjadi sahabat baiknya. Saat ada kesempatan, malah dirusak oleh wanita sialan itu. Kate jadi tidak sabar sehingga melakukan ini semua," jawab Katrina.
"Dari awal Rafael tidak mencintaimu. Ia terpaksa bertunangan demi ayahnya. Tapi papa justru bersyukur kau batal menikah dengannya. Papa tak ingin melihatmu menderita berumah tangga dengan pria yang tak mencintaimu. Itu akan melukaimu sedikit demi sedikit, sayang. Dan kau jangan terus menyalahkan istrinya, wanita itu tidak tahu apa apa, papa tahu Rafael justru yang memaksanya demi memutuskan pertunangan kalian," ujar Frans.
"Tapi aku benci melihatnya bahagia pa, mengapa ia menyiram lukaku dengan air garam, itu sangat menyakitkan," ucap Katrina seraya menangis.
Frans menghela nafasnya, "kau sudah dewasa Kate, kau seharusnya bisa mengambil sisi positif dari masalah ini. Kau sangat manja selama menjadi anakku. Papa menginginkan kau menjadi lebih baik Kate, belajarlah dari kesalahanmu kemarin," kata Frans kembali menasehatinya.
"Sebenarnya papa menyayangiku atau tidak sih? Mengapa papa lebih membela mereka?" tanya Katrina kesal.
"Tentu saja sayang, kau putriku satu satunya. Papa tidak membela siapapun Kate, papa justru mengatakan ini untuk kebaikanmu," jawab Frans.
"Penghinaan ini membuat Kate malu pa, seharusnya papa bertindak sesuatu untuk membalas rasa malu Kate."
"Ya Tuhan... kau masih tak mengerti. Kate, papa lelah. Kau pikirkanlah apa kata papa tadi. Dewasalah anakku, jangan membuat papa kembali kasar padamu," jawab Frans Dowell seraya meninggalkan kamar Katrina.
Katrina semakin geram, ayahnya sama sekali tidak membantunya. Ayahnya justru terkesan terus menyalahkannya dan membela Rafael dan Delia.
"Kali ini aku harus berhasil menghancurkan mereka," pikir Katrina.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1