Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXIX


__ADS_3

Rafael sangat panik, kini ia bingung harus mana dulu yang diselesaikannya. Keadaannya semakin kacau saat ini. Urusan perusahaan masih belum selesai, kini ayahnya dibawa ke rumah sakit. Ia sangat enggan menghubungi ibu tirinya, akhirnya Rafael terpaksa menghubungi istrinya.


Cukup lama telepon itu diangkat, mungkin karena Delia masih di dalam kelasnya. Rafael terus mondar-mandir di kantor Firdaus sambil memegang ponsel di telinganya.


"Halo Raf..." jawab Delia.


Terdengar suara wanita itu berbisik disana.


"Sayang, aku minta maaf mengganggu kuliahmu. Tapi aku benar benar butuh bantuan saat ini... Bisakah kau ke rumah sakit sekarang, papi terkena serangan jantung. Aku bingung sekarang harus bagaimana karena perusahaan masih dalam keadaan kacau," kata Rafael.


"Ya Tuhan... Baiklah aku akan segera ke rumah sakit. Kau tenang saja Raf, aku akan mengurus papi mu. Kau selesaikan saja urusan di perusahaan."


Rafael menghela nafasnya, "maaf sayang, aku terus saja mengganggu pendidikanmu. Demi Tuhan, saat ini aku benar benar kacau."


"Tidak masalah, tenangkan dirimu Raf, jangan emosi. Aku bisa mendengar dari suaramu jika saat ini kau sedang tidak terkendali. Selesaikan masalah apapun dengan kepala dingin Raf."


"Iya sayang, kau berhati hatilah saat ke rumah sakit, aku tutup dulu teleponnya," kata Rafael.


"Oke...!" jawab Delia.


"Ya Tuhan... sepertinya keadaan Rafael benar benar kacau. Semoga ia bisa mengatasinya, bantulah suamiku, Tuhan..." pikir Delia.


Delia menatap dosennya yang sedang menjelaskan materi kuliah. Untung saja dosen saat ini bukan dosen killer. Delia mendekati Santi lalu membisikkan masalahnya. Santi menganggukkan kepalanya mengerti dengan kondisi Delia. Saat dosen itu lengah, Delia pun segera keluar dari kelasnya. Lalu ia segera menuju rumah sakit.


Satu jam kemudian...


Delia pun sampai di rumah sakit, ia segera menanyakan keberadaan Hartanto pada perawat disana. Ternyata mertuanya masih berada di ruang ICU. Delia segera menuju ruangan tersebut, ternyata di sana sudah ada Melia sekertaris Rafael yang pernah ditemuinya di perusahaan Rafael. Delia pun menghampiri wanita itu.


"Nona Melia, bagaimana keadaan pak Presdir?" tanya Delia.


Melia mendongakkan kepalanya, "nyonya muda Widjaja, dengan siapa anda kemari?"


"Aku naik taksi dari kampus," jawab Delia.


"Pak Presdir baru saja masuk ke dalam ruangan ICU, dokter masih menanganinya," kata Melia.


Delia menghela nafasnya, "jika kau memiliki pekerjaan di perusahaan, kau bisa meninggalkan kami. Aku yang akan menjaganya."


"Nyonya muda yakin bisa sendirian disini?"


"Tentu..."


"Baiklah jika seperti itu, aku pamit langsung ke perusahaan karena keadaan perusahaan pasti masih kacau."


Delia menganggukkan kepalanya dan membiarkan Melia meninggalkannya. Delia hanya bisa terus berdoa kepada Tuhan, agar semuanya baik baik saja.


*****


Di perusahaan...


Rafael mengadakan rapat dengan pemegang saham perusahaan. Beberapa dokumen pembelian lahan yang dilakukan Firdaus sudah diatasi Rafael dan menyerahkannya pada yang lain. Rafael menjelaskan lahan lahan itu sudah ditolaknya. Dan ia akan segera mengurus pengembalian lima triliun yang diambil Firdaus.


"Tapi bagaimana kita membayar kompensasi?" tanya salah satu pemegang saham disana.


Jodhi menyerahkan dokumen yang diminta Rafael.

__ADS_1


"Untung saja saat itu kalian setuju dengan rencana pak Rafael. Sampai saat ini sebenarnya masih dibawah kendali," ujar Jodhi.


"Karena jabatan CEO belum resmi dipegang oleh Firdaus, maka semua keputusan selalu diserahkan padaku. Jodhi dan Melia selalu mengirimkan dokumen yang ditandatangani oleh Firdaus sebelum di serahkan pada klien. Jadi aku bisa mengatasi masalah ini dengan pengacara," kata Rafael.


"Saham kita semakin merosot setelah mendengar kabar pak Presdir masuk rumah sakit. Bagaimana jika perusahaan kita tetap mengalami kebangkrutan?" tanya staf yang lain.


"Aku rasa itu tidak mungkin terjadi, kalian lihat dokumen yang ada di depan kalian," pinta Rafael.


Mereka semua melihatnya dan terbelalak saat membacanya.


"Apa kalian masih belum yakin dengan kinerja pak Rafael?" tanya Jodhi.


"Luar biasa pak Rafael, anda memang CEO yang bisa diandalkan. Sebelumnya kami benar-benar ketakutan karena masalah ini. Tapi setelah melihat dokumen ini, kami sekarang lebih tenang."


"Walaupun dua minggu aku tidak berada di perusahaan, tapi aku tetap bertanggung jawab di belakang sebagai seorang CEO. Karena sejak awal aku yakin akan terjadi kekacauan seperti ini. Walaupun aku sedikit kecolongan soal lahan di Jepang, tapi aku yakin bisa mengembalikannya seperti semula. Jika aku gagal, maka aku akan mundur sebagai seorang CEO," ucap Rafael.


"Kami percaya pada anda pak Rafael. Kami berharap kita bisa segera menaikkan harga saham perusahaan lagi."


Rafael menganggukkan kepalanya, "beri aku waktu paling lama seminggu untuk mengatasinya. Untuk sementara rapat sampai disini dulu karena aku harus mengatasi masalah lainnya."


Mereka semua setuju dan menganggukkan kepalanya. Rapat pun selesai, Rafael segera menemui Firdaus yang masih terkunci di kantornya.


"Apa kau sudah siap tidur di dalam penjara?" tanya Rafael.


"Kakak maafkan aku, aku tidak paham. Aku hanya disuruh mama melakukan ini," jawab Firdaus.


"Ciiiih...!!! Sejak kapan aku menjadi kakakmu? Aku tidak sudi punya adik sepertimu. Kau sedang berada di perusahaan, apa kau pikir dengan hubungan keluarga, kau terbebas dari hukumanmu. Panggil aku dengan benar Firdaus," bentak Rafael.


Firdaus terkesiap mendengar bentakan Rafael, tubuhnya gemetar ketakutan.


"Pak Rafael... aku tidak ingin masuk penjara, aku tidak mengerti masalah ini," ujar Firdaus.


Firdaus gemetaran saat mengambil ponsel yang diberikan Rafael. Ia segera menghubungi ibunya dan menekan tombol pengeras suara, pria itu langsung mengatakan kegagalannya. Firdaus juga mengatakan soal Hartanto yang masuk ke rumah sakit hingga membuatnya syok.


"Jangan berpura-pura terkejut Helena, kau harus mengakui semuanya. Aku beri waktu kalian selama dua hari untuk melakukannya," ujar Rafael.


"Tapi Raf... aku benar benar tidak tahu..." ujar Helena.


Tapi Rafael tidak mendengarkan lagi, ia langsung menutup teleponnya dan meninggalkan Firdaus kembali. Rafael segera menghubungi istrinya, kali ini Delia langsung mengangkatnya.


"Halo sayang, bagaimana keadaan di sana?" tanya Rafael.


"Syukurlah kau menghubungiku, dokter baru saja keluar dari ruangan ICU, ia memintaku untuk menandatangani surat persetujuan operasi. Aku tidak bisa melakukannya sebelum mengatakannya padamu Raf," jawab Delia.


"Dengarkan aku Delia, kau tandatangani surat itu. Aku percayakan semuanya padamu, aku akan segera kesana."


"Kau yakin aku boleh melakukannya?"


"Apa kau lupa jika sekarang kau adalah istriku?"


"Baiklah, aku akan melakukannya. Segeralah kemari Raf, aku takut sendirian."


"Tentu sayang," jawab Rafael seraya menutup teleponnya.


Rafael pun segera keluar dari perusahaan menuju rumah sakit.

__ADS_1


*****


Dua jam telah berlalu, akhirnya Rafael tiba di rumah sakit. Pria itu segera menuju ruangan operasi. Delia sedang duduk di ruangan tunggu, Rafael pun segera menghampirinya.


"Sayang..." ucap Rafael.


Delia segera beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk suaminya.


"Syukurlah kau akhirnya tiba, aku benar benar takut sendirian."


"Maafkan aku, jalanan sangat macet. Bagaimana operasinya?" tanya Rafael.


Delia menggelengkan kepalanya, "sampai sekarang belum selesai. Bagaimana dengan perusahaan?"


"Sementara masih bisa aku atasi, walaupun belum selesai masalahnya, tapi setidaknya aku bisa menenangkan pemegang saham yang lain."


"Raf... Helena..." ucap Delia.


Rafael mengikuti tatapan istrinya, ia mengepalkan tangannya saat melihat wanita itu dengan langkah cepat mendekati ruangan operasi.


"Tahan emosimu, ini rumah sakit," pinta Delia.


Rafael menghela nafas panjang, "aku tak mengharapkan ia ada disini."


"Bagaimanapun ia adalah istri ayahmu. Kau tidak bisa mengusirnya."


"Aku tahu sayang. Bukankah sebelumnya aku meminta Melia ke rumah sakit?"


"Saat aku baru tiba, aku memintanya kembali ke perusahaan. Mungkin saja kalian selisih jalan."


Rafael menganggukkan kepalanya, "aku minta maaf karena membuatmu kembali bolos kuliah."


"Tidak apa-apa, sekarang urusanmu menjadi urusanku."


"Terima kasih sayang," ucap Rafael seraya menatap Helena dari kejauhan, "aku sangat sulit mengendalikan emosiku jika melihat wanita itu," imbuhnya.


"Duduklah, tenangkan dirimu. Pikirkan ayahmu yang sedang melakukan operasi saat ini," pinta Delia.


Rafael menghempaskan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya karena lelah. Ia menyenderkan kepalanya pada pundak istrinya. Rafael benar benar membutuhkan ketenangan sekarang. Delia mengelus kepala suaminya mencoba menenangkannya.


Empat jam telah berlalu. Lampu ruang operasi mati, menandakan operasi telah selesai. Rafael menghampiri pintu saat dokter keluar dari ruang operasinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Rafael sebelum Helena bertanya.


"Serangan jantung hampir meregang nyawanya, tapi untunglah operasinya berjalan dengan lancar. Saat ini pasien bisa melewati masa kritisnya, pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan, tapi jangan sampai ia mendengar kabar buruk lagi selama masa pemulihan," jawab dokter.


"Terima kasih dokter," kata Rafael.


Dokter pun meninggalkan mereka. Rafael kembali menatap Helena dengan tajam.


"Aku tidak ingin melihat wajahmu saat ini, jadi lebih baik kau pergilah," celetuk Rafael.


"Tapi Raf..."


Rafael segera menarik Delia untuk meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2