Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB VII


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju hotel Aston, Rafael tidak mengajak Delia berbicara. Entah apa yang ada di pikiran Rafael sekarang, Delia tidak memahaminya sama sekali. Tapi wajah pria itu masih terlihat sangat marah. Delia sama sekali tak berani bertanya padanya. Delia sekarang tahu bagaimana sikap suaminya jika ada yang mengganggunya.


Sesampainya di hotel Aston, Rafael turun dari mobilnya lalu ia membukakan pintu mobil Delia.


"Kau masih ingat kamar ayah dan ibu kan?" tanya Rafael.


Delia menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak bisa mengantarmu ke dalam sayang, aku terburu buru ke perusahaan," sambung Rafael.


"Tidak apa apa, kau pergilah dan hati hati di jalan."


"Maaf untuk kejadian hari ini, istirahatlah yang cukup, besok kita harus ke gereja. Aku tidak mengharapkan kehadiran keluarga Widjaja, keluargamu sudah cukup untukku. Jika aku sempat, aku akan kesini untuk makan malam, tapi jika tidak, kita akan bertemu di Gereja Santani besok pagi," kata Rafael seraya menci um kening Delia.


Lagi lagi perlakuan lembut itu membuat Delia bingung.


"Masuklah..."


Delia kembali menganggukkan kepalanya seraya meninggalkan Rafael. Pria itu pun kembali masuk ke dalam mobilnya seraya mengendarainya menuju perusahaan.


*****


Sesampainya di perusahaan, Rafael segera menuju kantornya. Pria itu memanggil Jodhi dan Melia kembali. Keduanya pun segera masuk ke dalam ruangan Rafael.


"Melia... hubungi para pemegang saham sekarang juga. Kita adakan rapat mendadak," perintah Rafael.


"Baik pak," jawab Melia seraya kembali keluar dari ruangan Rafael.


"Sepertinya terjadi sesuatu dengan anda pak Raf, apa yang dilakukan pak Presdir?" tanya Jodhi.


Rafael menghela nafasnya, ia menceritakan semuanya pada Jodhi.


"Mana mungkin anda dipecat begitu saja, anda juga memiliki saham besar disini," ucap Jodhi terkejut.


"Ikuti saja permainan mereka. Jangan lupa amankan semua dokumen dokumen penting agar tidak jatuh ke tangan Firdaus, ia sama sekali tidak mengerti bisnis properti. Perusahaan ini bisa bangkrut hanya dalam hitungan hari Jod, jika kita menyerahkannya pada Firdaus."


"Siap pak, aku akan mengikuti saran anda. Tapi apa yang akan anda lakukan selama tak ada di perusahaan?"


"Kau tenang saja, aku keluar bukan berarti aku membiarkan perusahaan ini hancur begitu saja. Kau tetap laporkan segala gerak gerik Firdaus padaku. Kau tetap laporkan semua pekerjaan seperti biasanya. Kau temui aku di tempat biasa."


Jodhi bernafas lega, "tentu pak, aku akan melakukannya. Anda tenang saja, aku juga tidak akan membiarkan perusahaan ini hancur di tangan orang yang tidak kompeten."


Rafael tersenyum mendengar ucapan Jodhi, ia membiarkan tangan kanannya itu segera bertindak untuk mengamankan semua dokumen penting milik perusahaan.


*****


Satu jam kemudian...


Rapat dadakan pemegang saham tanpa seorang Presdir pun dilakukan, mereka semua bertanya ada apa sebenarnya. Rafael dengan tenang menjelaskan semuanya. Mereka semua tidak setuju keputusan Presdir yang mengganti CEO tanpa persetujuan mereka, tetapi Rafael menjelaskan rencananya diluar walaupun ia sementara tidak berada di kantor. Dan akhirnya mereka semua setuju dengan keputusan Rafael.


Pemegang saham memang sangat mempercayai Rafael Widjaja, itu karena pekerjaannya yang sangat baik memajukan perusahaan selama ini. Setelah ia berhasil meyakinkan semua pemegang saham, ia pun pamit pada mereka semua untuk meninggalkan perusahaan sementara.


Melia sebagai sekertaris Rafael masih tak menyetujui keputusan atasannya yang akan meninggalkan perusahaan. Wanita itu terus meminta Rafael untuk mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Aku janji paling lama hanya satu bulan Melia, aku tidak pergi selamanya. Kau ikuti saja apa yang aku katakan tadi," ujar Rafael meyakinkan sekertarisnya.


"Tapi pak, aku tidak ingin menjadi sekertaris pak Firdaus."


"Oh ayolah, bantu aku menjalankan rencana ini. Jika kau terus protes, bagaimana aku bisa membuka mata pak Presdir."


Melia menghela nafasnya, "baiklah pak, aku harap rencana ini berhasil, sampai bertemu di hari pernikahan anda besok."


"Aku bukannya tidak ingin kau hadir, tapi besok Firdaus sudah ke perusahaan. Jadi tetaplah disini untuk mengawasinya."


Melia ingin sekali protes lagi, tapi sepertinya mengawasi Firdaus memang lebih penting demi perusahaan. Wanita itu pun menganggukan kepalanya.


"Bagaimana dengan dokumen penting itu Jod?" tanya Rafael.


"Sudah siap semua pak," jawab Jodhi.


"Bagus," ucap Rafael.


Pria itu segera menghubungi kedua sahabatnya, Tyar dan Huda. Tyar adalah seorang pengusaha lahan, sedangkan Huda adalah pemilik Cafe ternama di Jakarta, Rafael mengajak mereka bertemu di Cafe Huda karena Rafael ingin bantuan kedua sahabatnya.


Setelah mereka setuju, Rafael pun mengajak Jodhi menuju cafe nya.


*****


Cafe Huda memang selalu ramai, namun kebanyakan tamunya adalah wanita wanita mulai dari yang muda hingga paruh baya. Bagaimana tidak, Huda terkenal memang sangat tampan. Pria itu tak kalah tampannya dari Rafael, namun sayang Huda dianggap pria pecinta wanita alias playboy.


Dan benar saja, saat Rafael sampai disana, Huda sedang ditemani tiga orang wanita sekaligus di ruangan VIP nya. Rafael menggelengkan kepalanya saat masuk ke dalam ruangan tersebut bersama Jodhi.


Huda mendongakkan kepalanya, "ini hal yang paling menyenangkan tuan muda, kau tahu lah sehari tanpa wanita di hidupku, bagaikan puasa selama satu tahun," jawab Huda sambil terkekeh.


"Aku ingin bicara serius dengan kalian," kata Rafael.


Seketika Huda menyuruh para wanitanya keluar meninggalkan mereka.


"Dimana Tyar?" tanya Rafael.


"Sepertinya ia terjebak kemacetan. Raf, benarkah gosip yang aku dengar jika kau akan menikahi wanita yang baru kau kenal? Lalu bagaimana dengan Katrina Dowell? Dan yang lebih mengejutkan lagi, menurut gosip wanita itu adalah simpanan, seleramu berubah atau kau hanya memanfaatkannya untuk memutuskan pertunanganmu dengan Katrina?" tanya Huda penasaran.


"Cari tahu sendiri jika penasaran," kata Rafael datar.


"Sialan... bikin penasaran saja. Kapan kau akan mengenalkannya kepada kami?" tanya Huda lagi.


"Besok kau harus datang jika kau ingin melihatnya. Bukan ini yang ingin aku bahas dengan kalian, kau ini seperti ibu ibu tukang gosip saja Hud," ejek Rafael.


Seketika Huda kembali mengumpat membuat Rafael terkekeh geli.


Lima belas menit kemudian, Tyar pun datang dan langsung bergabung dengan mereka.


"Maaf aku terjebak kemacetan, semakin lama semakin parah saja jalanan ibukota ini," gerutu Tyar.


"Tidak apa apa Tyar, kami juga belum mulai bicara tentang masalahnya," kata Rafael.


"Sebenarnya ada apa Raf? Kau tidak biasa biasanya seperti ini," tanya Tyar.

__ADS_1


Rafael menjelaskan semua kekacauan yang terjadi pada Huda dan Tyar sampai pertemuannya dengan Delia Laros. Setelah ia selesai bercerita, ia menyerahkan dokumen yang dibawa oleh Jodhi pada Tyar.


"Sampai kapan hubunganmu dan ayahmu seperti ini Raf? Ayahmu itu semakin tua. Kau harusnya bisa memaafkannya," kata Tyar.


"Itu tidak akan terjadi, sampai ia sadar siapa istri dan anak tirinya itu," ujar Rafael.


"Lalu benarkah soal pernikahanmu itu?"


"Aku juga menanyakan hal yang sama, tapi ia tidak mau menjawabnya," sahut Huda.


"Kami bahkan sudah sah menjadi suami istri, aku mendaftarkan pernikahanku ke kantor sipil," jawab Rafael.


Kedua sahabatnya terkejut.


"Aku benar benar penasaran seperti apa wanita yang bisa menikahi seorang Widjaja," ucap Huda.


"Kau akan meneteskan air liur Hud, percayalah padaku. Para wanitamu tidak ada yang sebanding dengannya," jawab Rafael.


"Benarkah? Aku bisa mati penasaran, apakah kau punya fotonya?" tanya Huda.


"Ckckck... kalau soal wanita saja kau paling depan Hud. Lalu bagaimana dengan tunanganmu Raf?" tanya Tyar.


"Kapan aku menganggap pertunangan itu ada? Aku sama sekali tak pernah menganggap Katrina sebagai tunanganku. Dan kau Hud, aku tidak akan membiarkanmu menatapnya lebih dari satu menit."


"Woah... pria posesif sialan..." ejek Huda membuat semuanya tertawa.


Setelah menghentikan tawa mereka, mereka kembali berbicara dengan serius.


"Kau yakin dengan rencanamu ini?" tanya Tyar.


"Aku sangat yakin Tyar, anak bodoh itu akan hancur di mata Hartanto dan akan segera menendang mereka keluar dari keluarga Widjaja," jawab Rafael.


"Jangan terlalu sadis, mereka sudah masuk dalam hidupmu selama sepuluh tahun. Setidaknya Helena juga ikut membesarkanmu Raf," kayaTyar mengingatkan.


"Saat itu aku sudah 18 tahun, sudah tidak perlu dibesarkan lagi. Aku sudah mandiri sejak mamiku keluar masuk rumah sakit, sedangkan Hartanto terus asyik bersama wanita simpanannya," celetuk Rafael kesal.


"Jadi karena itu kau juga memilih wanita simpanan untuk membalas dendam pada ayahmu?" tanya Huda.


"Aku tertarik dan menginginkan istriku. Dan kenapa kau terus mengatakan istriku itu wanita simpanan Hud, aku belum mencari tahu tentang masalah ini, jika kau salah menilainya, aku akan memotong lidahmu itu," ancam Rafael.


"Woah... ngeri sekali. Seorang Widjaja membela seorang wanita di depan kami," ejek Huda.


"Kau memang harus menjaga mulutmu Hud. Bukankah tadi Rafael sudah menceritakan bagaimana ia bertemu dengan istrinya. Kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti," sahut Tyar.


"Oh baiklah... oke... aku salah. Maaf Raf, yang jelas aku ikut bahagia dengan pernikahanmu. Kau berhasil melepaskan masa lajangmu, dan aku tidak sabar ingin punya ponakan," ucap Huda.


"Keponakan kepalamu, masalahku begitu banyak. Belum saatnya sampai ke arah itu."


Huda dan Tyar kembali melepaskan tawa mereka.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2