Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XXVII


__ADS_3

Rafael terkejut dengan pengakuan istrinya, ia tak menyangka jika Delia juga mencintainya. Pria itu melepaskan pelukannya lalu menatap Delia dengan serius.


"What do you say?" tanya Rafael.


Delia tak menjawab pertanyaan itu, "aku ingin mendengar pengakuanmu saat menatap mataku Raf," pintanya.


Rafael menatap mata Delia dengan serius, "i love you my wife...! Aku benar benar mencintaimu," ucap Rafael dengan kesungguhan hatinya.


Delia meneteskan air matanya karena terharu.


"Oh no baby..." kata Rafael seraya memeluk istrinya lagi.


"Terima kasih kau mengatakannya lagi," kata Delia.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Rafael.


"Aku juga mencintaimu Raf, dan aku ingin menjadi istrimu yang sesungguhnya," bisik Delia.


Rafael terkejut, ia langsung mengecup kening istrinya. Inilah yang diinginkan oleh Rafael namun pekerjaannya masih sangat banyak, ia harus menyelesaikannya malam ini.


"Temani aku disini, aku harus menyelesaikan pekerjaanku," ujar Rafael.


Delia menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya Rafael tidak menyadari ucapanku, aku bermaksud melayaninya sebagai seorang istri. Tapi ia justru ingin aku menemaninya bekerja," pikir Delia.


Rafael serius dengan pekerjaannya. Tapi sekali sekali ia mengecup pipi Delia. Wanita itu sudah berkali-kali menguap karena mengantuk.


"Kapan kau menyelesaikan pekerjaanmu? Ini sudah sangat larut," ujar Delia.


"Sedikit lagi sayang, jika kau mengantuk, tidurlah di pundakku, nanti aku bangunkan jika sudah selesai. Masih ada satu dokumen lagi yang harus aku selesaikan," ujar Rafael, "dan aku akan menagih ucapanmu untuk menjadi istriku yang sesungguhnya," godanya.


Delia terbelalak, "jadi ia menyadari ucapanku, memalukan sekali," pikirnya.


"Mengapa wajahmu sangat merah sayang?" goda Rafael.


"Berhentilah menggodaku Raf. Bukankah aku tidur seperti orang mati, jadi bagaimana aku bisa melayanimu?"


Rafael terbelalak, istrinya menggodanya. Entah sadar atau tidak istrinya mengatakan hal itu. Mendapat undangan dari Delia seperti itu. Rafael segera menutup laptopnya.


"Sekarang pekerjaanku tidak penting lagi," ucap Rafael seraya mengangkat tubuh Delia.


"What are you doing, Rafael? Please put me down," teriak Delia.


Rafael menggelengkan kepalanya dan terus membawanya menuju ke kamar.


"Tonight you are mine, my wife," jawab Rafael.


Rafael menurunkan Delia di ranjang besar itu dengan lembut tapi wajah Delia berubah menjadi pucat.


"Apa kau takut? Aku takkan memaksamu sayang jika kau belum siap," kata Rafael lembut.


"Apa itu akan menyakitkan Raf?" tanya Delia polos.


Rafael menggelengkan kepalanya.


"Aku tak tahu sayang. Apa kau tak pernah bertanya pada ibumu atau bergosip? Biasanya wanita sangat suka membicarakannya, mengapa kau sangat polos Delia?" ujar Rafael.


Delia menggelengkan kepalanya, "aku tak pernah membicarakan hal seperti itu Raf, kau pikir semua wanita tak memiliki rasa malu seperti itu?" jawabnya.


Rafael akhirnya tertawa.


"Ya Tuhan... mengapa kau begitu polos sayang, aku hanya tahu sedikit bahwa itu akan sakit saat pertama kali, tapi itu hanya sebentar. Aku tak pernah tahu karena aku tak pernah tidur dengan perawan. Aku tak pernah mendapat keluhan ataupun makian saat melakukannya," ujar Rafael.


Delia cemberut, ia menjauhi suaminya, "jadi sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri?" tanya Delia kesal.


"Aku tidak akan membicarakannya, karena itu masa lalu. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi dengan wanita manapun kecuali Delia, istriku."


"Oh..." hanya itu ucapan yang terdengar dari bibir Delia.

__ADS_1


Rafael menarik Delia lagi, "apa kau sedang cemburu?"


Delia bergeming.


"Aku minta maaf karena perbuatan burukku. Tapi demi Tuhan sayang, aku janji tidak akan pernah berbuat seperti itu lagi. Lupakan masa lalu, sekarang hanya ada kau istriku. Dan aku tak pernah banyak melakukannya dengan banyak wanita sayang. Percayalah padaku, aku mengakuinya karena aku berusaha jujur pada istriku, aku tidak akan berpura-pura di depanmu sayang," ujar Rafael.


"Jangan pernah melakukannya lagi. Aku tak akan membiarkan kau menyentuh wanita lain selama aku masih hidup, atau kau akan merasakan akibatnya," ancam Delia.


"Ya Tuhan, itu tak mungkin terjadi sayang, hanya kau istriku untuk selamanya," jawab Rafael.


Rafael langsung memerangkap tubuh Delia di bawahnya, pria itu mulai menyentuh wajah istrinya dengan lembut.


"Apa kau sudah siap?" tanya Rafael.


Wajah Delia merona seraya menganggukkan kepalanya.


Rafael mulai menci um keningnya, lalu beralih ke kedua matanya, pria itu menghujani kecu pan demi kecu pan pada wajah Delia dengan lembut. Bibir mereka saling bertemu, keduanya saling memanggut. Kali ini lidah Rafael menerobos masuk ke dalam mulut Delia, menggelitik di sana hingga terdengar suara desa han indah dari mulut wanita itu.


Tangan Rafael mulai menelusuri setiap jengkal tubuh istrinya. Pria itu meraba perutnya hingga naik ke bagian dadanya. Delia terkesiap saat tangan Rafael menggenggam salah satu gunung kembar miliknya. Dengan cekatan Rafael membuka pakaian milik istrinya.


Delia menutup wajahnya karena kini tubuhnya terekspos di depan Rafael.


"Ya Tuhan... ini indah sekali," ucap Rafael dengan suara paraunya, "tatap aku sayang," pintanya.


Delia membuka tangannya dan menatap Rafael penuh damba. Pria itu tersenyum lebar padanya, seraya menundukkan kepalanya langsung menuju puncak gunung kembar miliknya.


"Aaarrrgghhh..."


Seketika Delia melenguh saat bibir suaminya menyentuh puncak itu. Rafael terus menggelitik bagian itu secara bergantian. Delia bahkan berkali-kali melengkungkan punggungnya ke atas sambil memejamkan matanya. Saat tangan Rafael mulai turun ke bawah, seketika Delia menahannya.


"Kau milikku sayang," ucap Rafael lembut.


Delia melepaskan tangannya, Rafael benar ia sudah menjadi miliknya. Delia kembali terkejut saat jari Rafael menyentuh inti miliknya.


"Raf..." ucap Delia dengan nafas memburu.


Pria itu tersenyum seraya kembali menundukkan kepalanya ke gunung kembar milik istrinya. Sedangkan tangannya mulai menggelitik bagian inti Delia. Wanita itu terus melenguh, mengeluarkan suara indah yang memancing hasrat Rafael.


Lagi lagi perbuatan itu membuat Delia menggila, ia bisa merasakan lidah suaminya mencicipi inti miliknya. Tanpa sadar, Delia meremat rambut Rafael. Ia semakin tak bisa menahan desa hannya sendiri.


"Raf... ini gila... aku tidak sanggup lagi," ujar Delia parau.


Rafael berhenti mencicipi milik istrinya, ia duduk tepat disana dan langsung mengarahkan rudal keras miliknya.


"Jika menyakitkan, katakan sayang," ucap Rafael dengan nafas memburu.


Delia hanya bisa menganggukan kepalanya. Setelah yakin Delia tenang, Rafael pun meneroboskan rudal keras miliknya ke gua milik istrinya. Seketika Delia terkesiap saat merasakan sakit yang luar biasa, wanita itu menggigit bibirnya sendiri dan meremat seprei dengan erat.


Tapi itu belum selesai, Rafael baru memasukkan setengah rudalnya. Pria itu memeluk tubuh Delia lalu menekan bok*ngnya dengan keras. Delia berteriak kesakitan, air matanya tak bisa ia tahan lagi. Selaput dara miliknya robek dan mengeluarkan darah.


"Sayang..."


"Jangan berhenti Raf," pinta Delia.


Sudah terlambat untuk mundur, Delia hanya bisa meringis menahan kesakitan. Namun ia tak ingin menghentikan suaminya, ia benar benar ingin menjadi istri sesungguhnya untuk Rafael.


Rafael menci um wajah Delia dengan lembut seraya mulai memainkan bok*ngnya. Pria itu menarik keluar masuk rudalnya disana dengan lembut. Delia kembali menemukan kenikmatan yang berbeda, ia melenguh kembali.


"Apakah masih sakit?" tanya Rafael lembut.


Delia menggelengkan kepalanya membuat Rafael tersenyum. Pria itu menambah ritme permainannya. Suara desa han mereka saling bersahutan, keduanya saling memanggil nama. Rafael terus mempercepatnya.


"Oh ya Tuhan Delia, aku mencintaimu..." teriak Rafael sambil menyemburkan cairan panasnya.


Delia ikut bergetar hebat di pelukan suaminya. Keduanya pun mencapai klim*ksnya bersamaan.


*****


Delia terbangun saat menjelang pagi. Ia merasakan sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Inikah yang disebut malam pertama?" pikir Delia sambil menatap suaminya.


Rafael masih terlelap di sampingnya. Delia membuka selimutnya dan melihat bercak darahnya disana. Delia menghela nafasnya. Kesucian yang ia jaga selama ini, akhirnya diserahkan pada suami yang mencintainya.


Delia memakai baju tidurnya kembali dan memaksakan dirinya berjalan ke kamar mandi. Sangat nyeri saat ia berjalan, perih sangat terasa saat ini. Baru saja ia sampai di depan pintu kamar mandi, Rafael mengejutkannya dengan mengangkat tubuhnya.


"Raf..."


"Mengapa kau tak menungguku bangun sayang. Aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku," ujar Rafael.


Rafael membawanya ke kamar mandi dan menurunkannya pelan pelan.


"Aku siapkan air hangat agar tubuhmu bisa cepat pulih," ujar Rafael.


Delia tersenyum mendapat perlakuan berbeda dari suaminya. Saat semuanya sudah siap. Rafael menci um keningnya.


"Mandilah, aku akan menunggumu di luar."


Delia menganggukkan kepalanya dan membiarkan suaminya keluar dari kamar mandi.


*****


Rafael menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Delia pun keluar memakai baju handuknya.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah lebih baik sekarang?" tanya Rafael khawatir.


"Aku baik baik saja, kau mandilah. Aku akan menyiapkan sarapan," jawab Delia.


"Jangan melakukan apapun sayang, aku sudah memesan makanannya. Kau istirahat saja. Aku tak ingin membuatmu lelah setelah apa yang aku lakukan semalam," ujar Rafael.


Wajah Delia memerah. Ia malu saat diingatkan kejadian semalam.


"Cepatlah kau masuk kamar mandi," ujar Delia sambil mendorong suaminya dengan lembut.


Rafael tertawa, "kau carilah baju ganti sementara di lemariku."


Setelah mengucapkan itu, Rafael pun masuk ke dalam kamar mandi.


*****


Delia mencari baju gantinya, dan hanya menemukan kemeja disana. Ia tak mungkin memakai celana panjang milik Rafael, jadi ia memutuskan untuk memakai kemeja itu saja.


Delia menuju dapur, benar saja tak ada bahan apapun disana. Hanya ada minuman dan buah buahan yang memenuhi lemari esnya.


"Benar benar apartemen khas pria lajang," pikir Delia.


"Apa yang kau cari sayang?" tanya Rafael.


Delia terkesiap, "ya Tuhan, kau mengejutkanku."


"Maaf sayang," ucap Rafael sambil menatap penampilan istrinya.


"Jangan menatapku seperti itu Raf, aku hanya menemukan kemeja di lemarimu."


Rafael mendekati Delia seraya memeluknya, "penampilanmu membuatku kembali menginginkanmu sayang."


"Berhentilah berpikiran mesum tuan, aku masih merasakan sakit akibat perbuatanmu," jawab Delia.


Rafael terkekeh, "aku yakin untuk selanjutnya, kau tidak akan kesakitan lagi."


"Raf... berhentilah menggodaku."


Rafael kembali terkekeh, "terima kasih telah menjadi istriku Delia. Aku semakin mencintaimu."


Delia tersenyum, Rafael semakin mudah mengucapkan kata cinta padanya. Bel pintu apartemen mengganggu kemesraan keduanya, Rafael melepaskan pelukannya.


"Kau tidak boleh menemui siapapun dalam penampilan seperti ini sayang, dan aku yakin ini makanan yang aku pesan. Biar aku saja yang membuka pintunya," kata Rafael.


Delia menganggukkan kepalanya, ia tersenyum lebar karena suaminya mulai terlihat posesif padanya.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2