Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB XLIV ( TAMAT )


__ADS_3

Rafael menghampiri Delia yang masih belum sadarkan diri, pria itu terus menggenggam erat tangan istrinya sambil berharap Delia bisa segera bangun.


"Sayang... aku mohon bangunlah. Kita punya kabar bahagia sayang. Kau harus mendengarnya. Jangan seperti ini, kau membuatku sangat takut Delia," ucap Rafael.


"Nyonya muda sudah tidak apa apa tuan, ia sebentar lagi pasti akan sadar," ujar seorang perawat.


"Terima kasih sus," jawab Rafael.


Perawat tersebut menganggukkan kepalanya, "jika ia sudah sadar, baru kita pindahkan ke ruang perawatan."


Rafael menganggukkan kepalanya. Ia kembali menatap wajah Delia yang saat ini sudah tidak pucat lagi. Pria itu pun melihat ke arah perutnya yang masih rata. Dengan lembut Rafael mengusap perut Delia sambil tersenyum lebar.


"Aku akan menjadi seorang ayah, di sini ada Rafael junior," gumamnya.


Tanpa terasa Rafael kembali meneteskan air matanya karena terlalu bahagia. Hartanto dan Helena menghampiri mereka setelah selesai berbicara dengan dokter. Seketika Rafael beranjak dari tempat duduknya dan tanpa di duga pria itu justru memeluk ibu tirinya.


"Aku akan menjadi seorang ayah ma," ucap Rafael sambil terisak.


Helena menepuk punggung Rafael, "selamat nak, aku juga akan menjadi seorang nenek. Aku sangat bahagia bisa memiliki kalian."


"Kalian berdua melupakan aku, aku juga akan menjadi seorang kakek," sahut Hartanto.


Rafael melepaskan pelukannya dari Helena, ia pun akhirnya memeluk ayahnya.


"Kau lemah setelah menikah Raf," ejek Hartanto.


Rafael tergelak, "aku tak tahu mengapa jadi seperti ini menyangkut Delia pi. Aku nyaris ingin mati saat melihat keadaannya yang tidak baik, aku sibuk dengan bisnis di Jepang selama seminggu terakhir hingga aku tidak memperhatikan istriku sendiri. Aku menyesal telah membuat Delia seperti ini."


"Berhentilah menyalahkan diri sendiri Raf. Kalian berdua pengantin baru, mana mungkin tahu jika tanda-tanda kehamilan seperti itu. Istrimu juga cukup keras kepala hingga merahasiakan kondisi tubuhnya sendiri. Sekarang lihatlah, Delia sudah baik baik saja. Mungkin ia hanya butuh tidur lebih lama karena lelah," kata Hartanto.


"Apa yang dikatakan papi benar Raf, yang penting saat ini Delia dan janinnya baik baik saja. Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri," sahut Helena.


Rafael menganggukkan kepalanya, "ma, apa aku bisa minta tolong?"


"Tentu saja, apa yang harus mama lakukan untukmu Raf?"


"Aku tak tahu ponselku ada dimana karena terlalu panik, bisakah mama menghubungi ayah dan ibu di Lampung tentang kabar bahagia ini?"


"Oh... tentu saja. Mama akan mengabari mereka. Kau tak perlu khawatir."


"Terima kasih ma."


"Aku akan menyuruh Jodhi untuk mencari ponselmu. Kemungkinan masih ada di dalam pesawat," kata Hartanto.


Rafael kembali menganggukan kepalanya, kedua orang tua Rafael pun segera keluar dari ruangan UGD lagi untuk menghubungi mereka. Sedangkan Rafael dengan sabar menunggu istrinya sadar.


Beberapa menit kemudian...


Delia mengerjapkan matanya, pandangannya yang berputar sebelumnya sudah menghilang. Wanita itu melihat sekeliling ruangan dan mendapati Rafael yang masih menggenggam tangannya sambil menundukkan kepalanya.


"Sayang..." ucap Delia pelan.


Rafael sontak terkejut mendengar suara Delia, pria itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat istrinya sadarkan diri.


"Sayang... kau sudah sadar. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih sakit? Apa masih mual atau pusing? Katakan padaku apa yang kau rasakan saat ini sayang," kata Rafael.


"Pertanyaan yang mana dulu yang harus aku jawab? Kau membuatku bingung."


Seketika Rafael memeluk Delia, "kau membuatku ketakutan setengah mati Delia. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan bisa hidup lagi."

__ADS_1


"Ini dimana?"


"Kita sudah sampai di Jakarta, kita sudah kembali ke Indonesia. Dan sekarang kau sedang di ruangan UGD rumah sakit. Kau tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Aku benar benar ketakutan."


"Apa yang terjadi padaku Raf? Aku tidak ingat sama sekali. Lalu apa kata dokter, sebenarnya aku kenapa?"


"Kau sepertinya pingsan setelah muntah di dalam kamar mandi pesawat. Karena aku menghubungi Jodhi sebelum pesawat take-off, saat pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Jodhi sudah membawa dokter pribadiku dan juga mobil ambulan. Aku tahu kondisimu sangat tidak baik. Karena pertolongan pertama sangat cepat, akhirnya kondisimu membaik. Kau lemah dan terus memuntahkan isi perutmu karena..."


Rafael menghentikan ucapannya seraya mengelus perut Rafael dengan lembut.


"Sayang... aku akan menjadi seorang ayah, kau akan menjadi seorang ibu. Kita akan segera menjadi orang tua. Kau sedang mengandung buah cinta kita," imbuh Rafael.


Delia terbelalak, air matanya seketika tumpah saat mendengar ucapan suaminya.


"Aku sedang hamil? Aku benar-benar hamil sayang?" tanya Delia.


Rafael menganggukkan kepalanya. Delia pun tak kuasa menahan tangisannya. Wanita itu terisak karena lagi lagi kebahagiaan menghampiri mereka. Rafael membangunkan Delia seraya memeluknya lagi.


"Terima kasih Delia, kau memberiku kebahagiaan yang tiada hentinya. Berhentilah menangis, kondisimu harus tetap dijaga," ucap Rafael.


Delia menganggukkan kepalanya seraya menghapus air matanya sendiri. Rafael melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Delia dengan lembut.


"Aku mencintaimu Delia, aku harap kau tidak lagi membuatku takut seperti ini."


"Aku minta maaf, aku minta maaf karena membuatmu khawatir."


Rafael dan Delia kembali berpelukan, keduanya benar-benar bahagia setelah sebelumnya banyak masalah yang terjadi dalam hubungan mereka.


*****


10 bulan kemudian...


Rafael dan Delia sudah tinggal di rumah baru mereka sejak usia kandungan Delia memasuki bulan ke tujuh. Jadi rumah tersebut baru ditempati mereka beberapa bulan saja.


Bastian kembali menangis dengan keras.


"Ya Tuhan... sebentar Tian, mami sedang membuat susumu. Suamiku, bisakah kau melihat Tian di kamarnya," teriak Delia.


"Sebentar sayang, aku sedang memakai dasi. Aku benar benar terlambat ke perusahaan," jawab Rafael.


"Ya ampun, kau sulit sekali dibangunkan, sekarang kau sibuk sendiri karena terlambat."


Tak ada jawaban dari Rafael, ternyata pria itu segera masuk ke kamar Bastian. Ia segera mengangkat tubuh mungil Bastian sambil menenangkan putranya.


"Putraku yang tampan, kenapa menangis? Jagoan tak boleh cengeng," kata Rafael.


Bastian terkekeh, namun tiba-tiba tubuh Rafael terasa hangat. Sontak Rafael mengumpat dengan keras.


"Mengapa kau tidak memakaikan pempers pada Tian, sayang. Ia mengotori bajuku. Ya Tuhan... aku semakin terlambat," teriak Rafael.


Teriakan Rafael membuat Bastian terkejut, bayi itu seketika kembali menangis dengan keras. Delia segera masuk ke dalam kamar putranya sambil menatap suaminya dengan tajam. Seketika wanita itu mengambil Bastian dari tangan ayahnya. Delia menepuk punggung Bastian hingga ia bisa tenang.


"Kau membuat putra kita takut. Aku kehabisan pempers, makanya menyuruh pengasuh untuk membelinya di mini market. Begitu saja kau sudah marah," gerutu Delia.


"Kau lihat bajuku, ia membasahinya. Aku ada rapat penting pagi ini, dan sekarang aku benar benar sangat terlambat," keluh Rafael.


"Salah siapa itu? Kau sulit dibangunkan. Bukankah perusahaan itu milikmu, kau bisa menghubungi pak Jodhi agar menunda rapatnya. Baru kotor seperti itu saja kau sudah mengeluh."


"Ya Tuhan... aku pasti tetap salah jika menyangkut putra kita," gerutu Rafael seraya keluar dari kamar putranya dengan kesal.

__ADS_1


Delia menghela nafas panjang, ia segera mengganti popok putranya lalu memberikan susu yang ia buat tadi. Saat pengasuh kembali, ia segera menyerahkan Bastian. Delia pun segera menuju kamarnya.


Rafael menekuk wajahnya, pria itu sudah berganti pakaian dan sedang memasang dasinya kembali. Seketika Delia menghampiri suaminya sambil membantu memakaikan dasinya.


"Kau merajuk tuan?" goda Delia.


"Kau tidak mencintaiku lagi sejak Bastian lahir. Kau mengabaikan aku dan selalu sibuk dengan putra kita," keluh Rafael.


Delia terkekeh geli, "kau sedang cemburu dengan putramu sendiri? Kau sangat kekanak-kanakan sayang, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengabaikanmu."


"Setidaknya beri aku waktumu sedikit, aku juga masih ingin diurus olehmu, Delia."


"Baiklah, aku minta maaf. Tersenyumlah, suamiku sangat tampan saat tersenyum."


"Lakukan sesuatu agar aku bisa tersenyum," pinta Rafael.


Delia mencium pipi suaminya.


"Tidak cukup," ucap Rafael.


Delia kembali mencium wajah Rafael, sontak pria itu menarik istrinya lalu mencium bibirnya.


"Lebih baik aku tidak ke perusahaan, aku lebih suka menyentuhmu agar ada Delia Junior," ucap Rafael di sela ciu mannya.


Delia menarik diri, "Tian masih kecil, aku belum siap hamil lagi."


"Baiklah, tapi izinkan aku menikmati prosesnya."


"Rafael Widjaja, kau sudah menjadi seorang ayah, berhentilah berotak mesum."


Rafael melepaskan tawanya, "aku tidak bisa selama kau ada di sampingku."


Delia mencubit kedua pipi Rafael dengan gemas, "bukankah rapatnya sangat penting."


Rafael melihat jam tangannya sendiri seraya menghela nafas panjang.


"Sayangnya aku benar benar harus berangkat sekarang. Tapi kau harus tahu sayang, setiap kali aku bekerja, aku selalu ingin segera pulang. Karena tujuan utamaku sekarang adalah kembali ke rumah untuk menemui istri dan anakku."


Delia memeluk suaminya, "tetaplah seperti itu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kami."


"Itu tidak akan pernah terjadi sayang."


"Rafael, suamiku... aku sangat mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu istriku," jawab Rafael.


Keduanya kembali saling berpelukan dengan erat. Sampai akhirnya Rafael benar benar harus berangkat bekerja. Sebelum keluar dari rumah, Rafael kembali menemui putranya. Pria itu meminta maaf pada Bastian karena berteriak di depannya tadi. Delia dan pengasuhnya justru terkekeh geli.


Rafael tidak sempat lagi untuk sarapan, karena Delia tahu suaminya akan langsung berangkat ke perusahaan, wanita itu sudah menyiapkan bekal untuknya dan memberikannya pada Rafael.


"Kau menyiapkannya?" tanya Rafael.


"Tentu saja, jadi jangan pernah berpikir aku mengabaikanmu sayang," jawab Delia.


Rafael tersenyum lebar seraya mencium kening Delia lagi, "kau memang istriku yang terbaik."


Delia hanya menyeringai seraya mengantarkan suaminya keluar rumah. Seperti itulah kehidupan rumah tangga mereka yang akhirnya berakhir dengan bahagia.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2