Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 1)
BAB VI


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rafael memperhatikan wajah Delia yang tiba tiba murung.


"Apa kau berubah pikiran?"


Delia menatap Rafael, "apa aku punya pilihan dan bisa mundur sekarang?" tanyanya.


"Tentu saja tidak," jawab Rafael seraya tersenyum.


Mendengar ucapan Rafael yang arogan membuat Delia seketika kesal.


"Apa kau pikir pernikahan itu hanya mainan, aku berkali kali bilang padamu, seharusnya kita saling mencintai," celetuk Delia.


"Apa sudah sejauh ini kau kira aku hanya main main? Dan satu lagi Del, ini bukan zaman purbakala yang hanya mengandalkan cinta untuk pernikahan, kecuali kalau kau memang terlahir dari sebuah batu," ejek Rafael.


"Aku memang dari zaman purbakala dan terlahir dari sebuah batu, jadi mengapa kau masih mau menikahiku?" jawab Delia semakin kesal.


Mendengar ucapan Delia, Rafael justru tertawa terbahak-bahak. Kekesalan Delia berubah saat melihat perubahan wajah Rafael saat tertawa, pria itu terlihat semakin tampan dan penuh kehangatan.


Rafael menghentikan tawanya, "apa aku setampan itu, hingga kau tidak bisa berkedip?"


"Ciiihhh...! pria arogan dan narsis..." kata Delia sambil memalingkan wajahnya keluar jendela mobil.


Rafael tertawa lagi. Entah kenapa ia sangat senang membuat wanita itu kesal.


Rafael menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah butik besar. Pria itu seketika keluar dari mobilnya dan menarik Delia keluar.


"Apa yang ingin kita lakukan disini?" tanya Delia.


"Makan..." jawab Rafael mengejek.


"Makan?"


"Ya Tuhan... apa kau bisa memakan pakaian yang ada di dalam butik? Tentu saja kita kemari untuk membeli pakaian Del."


"Benar benar menyebalkan," gerutu Delia.


Rafael terkekeh, ia membawa Delia masuk ke dalam butik dan berkeliling di dalam butik tersebut. Pria itu menunjuk hampir semua pakaian dan sepatu disana, ia meminta pelayan mencari ukuran sesuai dengan Delia.


Delia kelelahan mengikuti keinginan Rafael, mencoba beberapa pakaian dan sepatu. Setiap kali menolaknya, tatapan Rafael tajam padanya membuat Delia bergidik. Dan pakaian terakhir yang ia coba tak diizinkan untuk dilepaskan, pria itu menyuruh Delia tetap memakainya.


Bisa dibilang Rafael nyaris membeli semua yang ada di dalam butik tersebut.


"Ini terlalu banyak, kau boros sekali," ucap Delia setelah mereka kembali ke mobilnya.


"Itu hadiah buat istriku, apa ada masalah," jawab Rafael.


"Aku belum menjadi istrimu."


"Tinggal hitungan jam, apa bedanya. Sayangnya semua pakaian itu sangat cantik kau pakai, jadi jangan salahkan aku membeli semuanya. Atau kau lebih suka tidak mengenakan pakaian di depanku?"


"Dasar pria mesum, otakmu harusnya dicuci pakai detergen," celetuk Delia.


Rafael melepaskan tawanya kembali, "kau pintar membuatku tertawa sayang. Aku mengubah penampilanmu karena aku ingin orang melihat cantiknya istriku, tidak ada yang boleh menghinanya sekali pun itu keluarga Widjaja."


"Jadi ia ingin membawaku ke rumahnya," pikir Delia.


Tapi ternyata mereka mengunjungi kantor catatan sipil membuat Delia terkejut.


"Apa yang kita lakukan disini?" tanya Delia.


"Tentu saja mendaftarkan pernikahan kita," jawab Rafael.


Delia terkejut dengan ucapan Rafael.


"Bukankah pernikahan ini hanya sandiwara, untuk apa didaftarkan. Apa pria ini sudah kehilangan akalnya," pikir Delia.


"Apa yang kau pikirkan, walaupun kita baru menikah besok, tapi kita harus mendaftarnya sekarang. Kita butuh akta pernikahan sebelum menghadapi keluarga Widjaja," ucap Rafael.


"Jadi ini tujuannya," pikir Delia lagi.


Delia pun mengikuti keinginan Rafael hingga menyelesaikan prosedur yang ada disana. Pria itu tersenyum lebar saat berhasil mendapatkan akta pernikahan mereka. Keduanya kembali ke mobil lagi.


"Sekarang kau resmi menjadi istriku, nyonya muda Widjaja."


Delia melihat akta pernikahannya, air matanya seketika tumpah karena ia menjadi istri sesingkat ini. Bahkan ia tak diizinkan jatuh cinta pada suaminya. Rafael terkejut melihat Delia menangis.


"Apa aku menyakitimu? Aku tidak suka melihat wanita menangis Del."

__ADS_1


Delia menggelengkan kepalanya, "aku hanya..."


Wanita itu justru semakin menangis, seketika Rafael menarik Delia ke dalam pelukannya. Rafael berusaha menenangkan Delia dengan mengusap-usap punggungnya.


"Berhentilah menangis sayang. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku minta maaf, awalnya aku memang memaksamu dan memanfaatkanmu, tapi jujur... sebenarnya aku mulai tertarik padamu, itu sebabnya aku melakukan berbagai macam cara agar kau menyetujuinya," ujar Rafael.


Pengakuan Rafael mengejutkan Delia. Ini bukan pengakuan cinta, tapi setidaknya ia diinginkan pria itu. Delia melepaskan pelukannya.


"Kau hanya menenangkanku saja, mana mungkin kau tertarik padaku," ujar Delia.


Rafael ingin sekali berdebat dengannya, tapi ia tak ingin membuat Delia semakin menangis.


"Terserahlah bagaimana pemikiranmu," kata Rafael seraya menyalakan starter mobilnya.


"Berhentilah menangis, kita ke restoran terlebih dahulu. Aku benar benar sudah lapar. Setelah itu tujuan kita ke rumah besar Widjaja," sambung Rafael.


Delia menganggukkan kepalanya.


"Satu hal yang harus kau ingat, aku tidak meminta persetujuan mereka. Jadi apapun yang mereka katakan nanti, kau hanya perlu mendengarkan ucapanku."


Delia menatapnya penuh tanya.


"Sepertinya hubungan mereka tidak baik, aku tiba-tiba merasa takut," pikir Delia.


Rafael mengendarai mobilnya menuju restoran terdekat.


 *****


Setelah mereka makan siang di sebuah restoran, Rafael mengajak Delia menuju rumah besar Widjaja. Perjalanan yang begitu panjang akibat kemacetan ibukota Jakarta, menambah ketegangan pada wajah Delia. Rafael memperhatikan Delia dan menggenggam tangannya.


"Apa kau begitu takut?" tanya Rafael.


Delia hanya mengangguk.


"Kau istriku sekarang, kau tak perlu takut pada siapapun," kata Rafael.


"Aku tak pantas masuk ke dalam keluarga Widjaja, aku hanya wanita miskin."


"Kau yang aku inginkan. Tidak ada yang bisa mencegahnya."


Seorang pelayan membukakan pintu rumah itu, Rafael menggenggam tangan Delia dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Di ruang keluarga Hartanto sedang menunggu kedatangannya.


Hartanto Widjaja mendongak saat mendengar langkah kaki Rafael dan Delia.


"Akhirnya kau kembali, tapi aku tak menyangka kau membawa pulang wanita murahan itu kesini," ejek Hartanto sambil menunjukkan jarinya ke arah Delia.


Seketika Rafael memeluk pundak Delia. Pria itu melemparkan akta pernikahan di meja.


"Wanita yang aku bawa ini sudah resmi menjadi istriku," ucap Rafael.


Hartanto terbelalak, ia melihat akta pernikahan itu.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menerima wanita ini sebagai menantuku," teriak Hartanto.


Mendengar keributan itu, Helena tiba-tiba datang. Rafael menyunggingkan senyumnya.


"Wanita simpanan dan murahan itu bukanlah istriku, tapi ia ada di sampingmu," celetuk Rafael.


"Dasar anak kurang ajar, beraninya kau menghina ibumu sendiri," bentak Hartanto.


"Ibuku sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, dan aku hanya memiliki satu ibu," jawab Rafael.


"Beraninya kau..." Hartanto mengayunkan tongkatnya ke arah Rafael.


Seketika Rafael menahannya dan mendorongnya dengan keras. Helena berusaha menenangkan suaminya, begitu juga dengan Delia.


"Jangan pernah mencoba memukulku Hartanto, urus saja istri dan anak tirimu itu," teriak Rafael.


"Hei... kenapa kau bawa bawa aku," kata Firdaus saudara tirinya.


Pria itu mendekati mereka setelah mendengar keributan yang terjadi disana.


"Yah... pantas saja kau memilihnya, wanitamu ini sangat mengagumkan, mungkin jika aku yang lebih dulu bertemu dengannya, aku juga akan berbuat yang sama, tanpa pikir panjang aku akan menikahinya," sambung Firdaus sambil menilai tubuh Delia.


"Jaga mulut sialanmu itu. Kau tidak pantas menilai istriku. Jangan pernah menyentuhnya, jika kau berani, kau dan ibumu akan merasakan akibatnya," bentak Rafael.


"Cukup... dasar anak tak tahu balas budi. Kau berani melawanku, kau menghancurkan reputasi keluarga Widjaja karena wanita murahan ini. Mundurlah sebagai CEO, Firdaus lebih pantas mengurus perusahaan," ujar Hartanto.

__ADS_1


"Wah benarkah pi, aku setuju," ucap Firdaus.


Helena menyunggingkan senyumnya, "papi jangan marah marah, nanti kau sakit," ucapnya membuat Rafael merasa jijik.


"Kau dengar Rafael, keluarlah dari perusahaan. Firdaus, mulailah mengurus perusahaan dengan baik," ucap Hartanto lagi.


"Baik pi..." kata Firdaus tersenyum penuh kemenangan.


"Ciiiih... lihat saja nanti. Kau akan membawaku kembali ke perusahaan Hartanto Widjaja," ujar Rafael seraya menarik Delia menuju kamarnya di lantai dua.


*****


Delia terus terdiam di kamar Rafael. Lagi lagi ia dihina dan dicaci maki sebagai wanita murahan dan wanita simpanan. Padahal ia tidak pernah melakukan hal itu sekalipun.


"Kau baik baik saja, sayang?" tanya Rafael mendekati istrinya.


"Seharusnya aku yang bertanya sebaliknya. Aku tak tahu jika kau dan keluargamu seperti ini," jawab Delia.


"Tentu saja aku baik baik saja, beginilah keluargaku yang sebenarnya. Sekarang aku diusir dari perusahaan, apa kau berubah pikiran setelah aku menjadi miskin?" tanya Rafael.


Delia terkejut mendapat pertanyaan seperti itu, "apa maksudmu? apa aku menginginkan uangmu, sejak awal juga..." Rafael memotong ucapan Delia dengan menarik dan menci um wanita itu.


"Sejak tadi aku ingin melakukan ini Delia," ucap Rafael.


Rafael kembali menarik tengkuk leher Delia, pria itu menci umnya lebih dalam membuat mereka hampir kehabisan nafas.


Delia menarik diri, membuat Rafael kecewa.


"Apa kau lupa syarat yang aku ajukan? Kau sudah melanggarnya berkali-kali," celetuk Delia.


Seketika Rafael mengumpat, "demi Tuhan Delia, aku sangat menginginkanmu. Syarat itu berlaku karena pernikahan kita hanya pura pura, tapi bukankah aku sudah mengatakannya padamu. Aku berubah pikiran, aku menginginkanmu. Dan aku rasa kau juga sama halnya denganku."


Wajah Delia merah karena malu, benar yang diucapkan Rafael, ia juga sangat menginginkannya. Rafael tak bisa menahan dirinya lagi, ia kembali menarik tubuh wanita itu, kali ini ia memeluknya dengan erat.


"Demi Tuhan, aku sangat menginginkanmu," kata Rafael seraya melepaskan pelukannya dan kembali menci um Delia.


Rafael ingin sekali melakukan lebih dari sekedar ciu man, namun ia tak ingin membuat Delia takut. Masih banyak juga yang harus mereka selesaikan saat ini.


Rafael melepaskan ciu mannya, "aku harus menghentikannya, kalau tidak... aku bisa keluar batas," kata Rafael sambil mengecup kening Delia.


Delia masih merasakan debaran jantungnya. Sikap Rafael yang begitu lembut, mampu membuatnya kehilangan kesadaran.


"Aku ingin mandi terlebih dahulu, setelah itu aku akan mengantarkanmu ke hotel Aston," ujar Rafael lalu meninggalkan Delia menuju kamar mandinya.


Delia yang masih tercengang, hanya bisa menatap kamar luas itu. Kamar yang menurutnya nyaris sebesar rumah orang tuanya. Tidak ada rasa takut lagi atas pernikahan yang secara tiba tiba yang ia lakukan, sikap Rafael mampu mengubah penilaiannya.


Entah apa yang saat ini mereka rasakan, namun Delia harus tetap menjalaninya dengan baik. Inilah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan.


Rafael keluar dari kamar mandi namun pria itu sudah rapi kembali.


"Mandilah, lalu ganti pakaianmu," kata Rafael.


Delia menggelengkan kepalanya, "aku akan melakukannya di hotel saja."


"Baiklah, ayo kita keluar."


Delia menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Rafael keluar dari kamarnya. Hanya ada Firdaus di salah satu ruangan rumah itu, Firdaus menatap Delia tanpa mengedipkan matanya sama sekali. Seketika Rafael menyembunyikan istrinya di belakang tubuhnya.


"Jaga matamu Firdaus, aku akan mencongkel kedua matamu jika memandang istriku seperti itu," ancam Rafael.


"Oh ayolah kak, wanita yang kau bawa hanya wanita murahan, pasti sudah banyak pria yang menidurinya," ejek Firdaus.


Rafael terbelalak, ia menggertakkan giginya seraya menghampiri Firdaus. Tanpa ampun Rafael langsung menghajarnya.


"Hentikan... cukup Raf..." teriak Delia.


Rafael tak mendengarkan ucapan Delia, ia terus menghajar Firdaus. Keributan itu membuat Helena kembali muncul.


"Ya Tuhan... hentikan Raf... Bagaimanapun ia adalah adikmu," teriak Helena.


Rafael menghentikannya, ia menatap keduanya dengan jijik seraya menarik tangan Delia keluar dari rumah tersebut.


"Sialan..." umpat Firdaus setelah Rafael dan Delia pergi.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2