
Hari sudah semakin siang, Rafael dan Delia sama sama membisu sejak kejadian ciu man itu. Delia bahkan tidak berani menanyakan perihal pengakuan cinta suaminya, karena ia takut salah mendengarnya.
Rafael juga mulai sibuk dengan laptopnya, walaupun Delia masih duduk di sampingnya. Delia terus menatap wajah tampan Rafael yang sedang serius bekerja.
"Bagaimana bisa pria tampan, kaya dan arogan seperti ini jatuh cinta padaku, mungkin saja aku salah dengar tadi," pikir Delia.
Merasa dipandangi terus oleh Delia, Rafael menolehkan wajahnya lalu mendekati telinga Delia.
"Apa kau begitu menyukai suamimu yang tampan ini?" bisik Rafael.
Merasakan hembusan nafas Rafael di telinganya membuat Delia bergidik. Delia mundur dan memalingkan wajahnya.
"Ka..kau sangat narsis Raf," ujar Delia gugup.
Delia beranjak dari tempat duduknya ingin meninggalkan suaminya karena malu. Tapi tangan Rafael seketika menahan pinggangnya.
"Kau mau kemana? Tetaplah di sampingku, sambil menunggu kabar dari kepolisian. Aku membutuhkanmu sayang," ujar Rafael.
Diingatkan tentang orangtuanya, Delia kembali duduk dan wajahnya kembali murung.
"Apa kita hanya bisa menunggu seperti ini?" tanyanya.
Rafael mengangguk, "kita harus bersabar sayang, kita sudah melakukan berbagai cara untuk menemukan mereka. Percayakan semuanya pada anggota kepolisian," jawab Rafael, "hanya ini yang bisa kita lakukan sekarang, aku bahkan sudah menyewa detektif tapi Bethran dan Katrina masih belum ditemukan keberadaannya. Polisi juga langsung bergegas ke rumah Dowell, namun wanita itu tidak terlihat di rumahnya. Jadi polisi saat ini terus menunggu wanita itu disana," imbuhnya.
"Tuhan... aku mohon selamatkan ayah dan ibu. Kembalikan mereka tanpa terluka sedikitpun," pinta Delia.
"Amien..." jawab Rafael, "jika sampai mereka terluka karena ulah Bethran dan Katrina, aku takkan membiarkannya dan akan mengejar mereka walaupun sampai ke lubang semut," imbuhnya.
Delia berusaha tenang kembali. Beberapa menit kemudian, suara dering ponsel Rafael memecah keheningan, tertera nomor baru disana, tidak salah lagi itu adalah Bethran. Untung saja pihak kepolisian mulai menyadap ponselnya, jadi dengan sangat mudah melacak keberadaan Bethran nanti.
"Siapa?" tanya Delia.
Rafael menggenggam tangan Delia, "jika aku tidak salah menebaknya, ini pasti Bethran. Kau jangan bersuara saat aku mengangkat teleponnya."
Delia menganggukkan kepalanya.
"Halo..." ucap Rafael saat mengangkat teleponnya.
Karena Delia sangat penasaran, Rafael menggunakan pengeras suara ponselnya.
"Bagaimana? Apa kalian sudah mengambil keputusan sekarang?" tanya Bethran tanpa basa basi.
"Aku akan melakukan permintaanmu, sekarang berikan lokasi kau menyekap mertuaku," jawab Rafael.
Bethran melepaskan tawanya, "kau kira aku bodoh, tidak semudah itu aku mempercayaimu, sekarang berikan surat cerai itu pada Delia. Delia yang harus menemuiku sendiri. Nanti aku akan memberitahu lokasinya. Jangan berbuat macam macam, jika kau lapor polisi atau ada yang mengikuti Delia, aku tidak akan segan segan memotong salah satu tangan mertuamu," ancam Bethran.
__ADS_1
Delia terkesiap sambil menutup mulutnya. Mendengar ucapan Bethran membuat Delia sangat ketakutan. Rafael menggenggam tangan Delia semakin erat, pria itu berusaha menenangkan istrinya.
"Jika kau sudah sepakat, kita bisa mulai bertukar. Berikan Delia padaku, dan aku akan menyuruh anak buahku melepaskan ibunya. Setelah itu tinggal urusanmu dengan Katrina, karena hanya Delia yang aku butuhkan," sambung Bethran seraya memutuskan telponnya.
"Halo... halo..." teriak Rafael.
Seketika Rafael mengumpat saat tahu teleponnya terputus. Delia mulai menangis karena ketakutan.
"Tenanglah sayang, lokasinya pasti sudah dilacak polisi, kau bersabarlah. Aku yakin Bethran tidak akan berani melukai ayah dan ibu," ujar Rafael.
"Tapi apa maksudnya, kenapa ia hanya melepaskan ibu? Bagaimana dengan ayah?"
"Sepertinya mereka bekerja sama untuk memisahkan ayah dan ibu, kau di tukar dengan ibu, sedangkan aku ditukar dengan ayah."
"Mereka benar-benar sudah gila, bukankah ini namanya obsesi? Haruskah mereka melakukan hal ini demi mendapatkan cinta?"
"Setiap tindakan yang salah, pasti akan hukumannya. Aku rasa, setelah ini mereka benar-benar akan menyesal karena melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Tapi kau tenang saja Del, aku yakin mereka tidak akan menyakiti ayah dan ibu karena yang mereka inginkan hanya kita."
"Haruskah kita mengalah demi keselamatan ayah dan ibu?"
"Berhentilah mengatakan hal itu, masalah ini sudah diatasi oleh polisi. Kita tidak perlu melakukan hal gila yang mereka inginkan, yakinlah Tuhan menjaga mereka, yakinlah aku akan menyelamatkan mereka tanpa kekurangan apapun. Aku sudah berjanji padamu, aku tidak akan membiarkan mereka terluka walaupun sedikit. Bisakah kau percaya padaku?"
Delia menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih Raf, kau membuat pikiranku selalu tenang."
"Berhentilah mengucapkan kata terima kasih, aku adalah suamimu. Sudah menjadi tugasku bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada istriku."
Delia memberanikan diri merebahkan kepalanya di pundak Rafael, seketika Rafael mengusap rambutnya dengan lembut.
Ponsel Rafael kembali berdering, kali ini dari kepolisian. Rafael menunjukkan layar ponselnya pada Delia.
"Mereka menghubungiku, semoga lokasi Bethran benar benar ditemukan," ucap Rafael seraya mengangkat teleponnya.
Rafael cukup lama berbicara di ponselnya, Delia menunggu dengan harap harap cemas.
"Del, mereka benar-benar menemukan keberadaan Bethran. Aku akan segera ke lokasi," kata Rafael setelah menutup teleponnya.
"Bolehkah aku ikut, please?"
"Ini berbahaya sayang, jika ada sesuatu di luar kendali kita bagaimana?" jawab Rafael.
Wajah Delia kembali murung. Rafael tidak tega melihatnya, ia pun akhirnya menganggukan kepalanya membuat Delia sangat senang. Keduanya pun segera berangkat menuju lokasi yang diberitahukan pihak kepolisian.
*****
__ADS_1
Anggota kepolisian berhasil mengikuti mobil yang dikendarai Bethran. Namun ada yang janggal, mobil tersebut justru masuk ke sebuah sorum. Tanpa menunggu lagi, beberapa anggota polisi melakukan penggerebekan di sorum mobil tersebut.
Penggerebekan itu berlangsung cukup lama, mobil yang dikendarai Bethran memang ada disana. Namun pria yang mereka cari tak terlihat batang hidungnya. Pihak sorum menjelaskan, bahwa mobil tersebut memang di sewa oleh seorang pria. Namun pria itu meminta pihak sorum untuk mengambilnya di depan sebuah mini market. Mereka sama sekali tidak mengenal siapa Bethran Markes, penyewa mobil mereka atas nama pria lain.
Pihak kepolisian ternyata tertipu oleh Bethran, pria itu sepertinya sudah mengetahui jika ia diikuti oleh polisi.
*****
Rafael dan Delia berangkat menuju lokasi. Saat baru setengah perjalanan menuju lokasi, Rafael kembali mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Pria itu seketika menepikan mobilnya dan mengangkat teleponnya.
"Ternyata kau mulai main main denganku Rafael Widjaja. Kau mengirim polisi untuk mengikutiku, tapi aku lebih pintar dari kalian. Karena kau menantangku, jadi aku juga akan menyerahkan salah satu tangan mertuamu itu sebagai peringatan," ucap Bethran.
"Kau jangan coba-coba menyakiti mereka, aku tidak akan pernah melepaskanmu Markes," bentak Rafael.
Seketika Delia merebut ponsel Rafael, "aku mohon jangan sakiti ayah dan ibuku, aku tahu kau hanya menginginkanku. Jadi aku mohon lepaskan mereka, Bethran."
Bethran melepaskan tawanya, "akhirnya aku bisa mendengar suaramu sayang, apa kabar Delia? Apa kau masih ingat padaku?"
"Jangan berbasa-basi, sebenarnya apa maumu?"
"Ternyata kau sekarang mulai tidak sabaran. Aku sudah memberitahu suamimu dengan jelas apa mauku. Jika kau ingin orang tuamu selamat, kau ikuti saja keinginanku. Jangan coba coba bekerja sama dengan kepolisian, jika kau tak ingin melihat salah satu tangan mereka aku potong."
Tubuh Delia mulai gemetar, Rafael kembali mengambil ponselnya dari tangan Delia.
"Aku akan mengikuti keinginanmu, tapi kau harus melepaskan keduanya. Dan jangan pernah memanggil istriku dengan panggilan sayang," pinta Rafael.
"Aku tidak menyuruhmu untuk bernegosiasi denganku. Serahkan Delia, aku akan melepaskan ibunya, karena Delia akan menjadi milikku, aku tentu saja bebas memanggilnya dengan panggilan apapun. Kau jangan mengancamku, karena kendali ada padaku," jawab Bethran seraya menutup teleponnya lagi.
Rafael mengumpat, ia sangat marah apalagi melihat istrinya kembali menangis.
"Berani beraninya pria sialan itu mengancamku. Aku tidak akan pernah melepaskannya, kau akan menyesal telah menyentuh orang di sekitarku," pikir Rafael geram.
Rafael menarik Delia ke dalam pelukannya, ia kembali menenangkan wanita itu.
"Lebih baik kita kembali ke cafe Huda lagi, aku akan memikirkan cara lain untuk menyelamatkan ayah dan ibu," ucap Rafael.
Delia menganggukkan kepalanya.
"Sekarang berhentilah menangis sayang, kau menyakiti hatiku," pinta Rafael.
Delia menghentikan tangisannya. Wanita itu berusaha menahan isakannya agar Rafael tidak terlalu mengkhawatirkannya. Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke cafe Huda.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1