
...Follow Instagram aku: Hendra.putra13...
Primus mengambil dua gelas es jeruk manis yang baru saja dibayarnya kepada ibu kantin, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Lula yang sudah menunggunya di meja. Primus sudah biasa melakukan ini sebagai wujud kasih sayangnya terhadap Lula. Mungkin ini satu-satunya perhatian yang bisa diberikan oleh dirinya, dia sendiri juga tak tega jika melihat Lula harus mengantre panjang karena suasana kantin selalu melebihi kapasitas.
Cowok itu memutar tubuh dengan dua gelas di tangan, menampilkan senyum menawan pada Lula yang meniliknya di depan sana, lalu mulai beranjak ke depan. Pada langkah ketiga, Primus tiba-tiba terhuyung karena dorongan seseorang. Dia terjatuh ke lantai dan membuat kedua gelas yang dipegangnya sontak tertumpah.
Daniel menatap punggung Primus sambil tersenyum puas. Musuh bebuyutannya semenjak awal masuk sekolah hingga kelas dua belas itu terjatuh di hadapannya. Ketika Primus memalingkan wajah, mendongak padanya, Daniel mengeluarkan cibiran. "Megang gelas aja lo sampai tumpah-tumpah, Prim."
Kepala Daniel pun tergeleng-geleng. "Primus.... Primus...."
Primus bangkit dengan sigap. Alisnya bertaut serta napasnya berembus lebih cepat menatap Daniel yang sudah pasti menubruknya dari belakang dengan sengaja. Rahang Primus mengertak. Sesungguhnya dia ingin memberikan bogem mentah di wajah Daniel, namun karena teringat akan tekadnya yang ingin berubah demi Lula, Primus pun menahan diri untuk melakukan itu. Primus langsung mengurungkan niatnya untuk berkelahi.
Primus kini hanya tersenyum sehingga membuat Daniel mengernyit. Sangat langka sekali mendapati Primus yang hanya bergeming, tidak memberikan serangan balasan padanya.
Daniel mendadak tertegun. Ada yang salah dengan rivalnya itu. Setelah menyadari perubahan penampilan Primus yang rapi, Daniel pun berseru meremehkan Primus yang berdiri di hadapannya. "Tunggu.... kayaknya ada yang baru nih."
"Lo jadi anak cupu sekarang?"
Dagu Daniel terangguk-angguk. "Tapi pantes aja kok."
Primus mengepal erat tangannya. Ternyata dia masih belum bisa mengendalikan emosinya seperti malaikat yang suci sehingga Primus mempertanyakan maksud Daniel mengapa mendorong dirinya. Terlebih Daniel masih memancing amarahnya. "Lo sengaja kan nabrak gua?"
__ADS_1
Daniel terkekeh lalu membuang ludah ke lantai. "Kalau iya kenapa?" cetus cowok itu sambil menaikkan dagu.
Mata Primus seketika berapi-api menyaksikan tingkah songong Daniel. Rahang Primus mengeras dan sangat tak sabar lagi ingin melayangkan tinjunya. "Tadi gue niatnya mau sabar. Gue nggak mau nyari masalah lagi di sekolah ini."
"Tapi...." Primus mendengus keras. "Ternyata masalah justru yang datang menghampiri gue."
Daniel bertepuk tangan, membuat situasi di kantin semakin heboh sehingga membuat semua pasang mata memerhatikan mereka. Para murid di sana pun membuat lingkaran seolah-olah akan terjadi pertandingan besar. "Widih.... ada yang mulai emosi." Sindir Daniel.
Tak tahan lagi, Primus lantas mengeluarkan seragam putihnya seraya melonggarkan dasi. "Lo sudah halangin niat gue untuk tobat jadi anak nakal."
Daniel semakin senang melihat lawannya itu kini memberi respons. Dia sudah tak sabar ingin berkelahi dengan Primus. Maka dari itu Daniel mendorong kilat dada Primus. "Terus malu lo apa?"
Lula bangkit buru-buru dari kursi dan menjangkau jarak Primus. Tangannya mencengekram lengan cowok itu. "Sudah, sudah. Prim...."
"Gak usah ladenin, Daniel. Lo harus bisa nahan emosi." Lula menatap dalam-dalam mata Primus dan suaranya terdengar gemetar karena khawatir. "Lo mau berubah, kan?"
Daniel yang terkenal playboy di SMA Patriot, pada saat itu mengambil kesempatan mencolek dagu Lula agar Primus terpancing emosi lebih dalam lagi. Sebab semua murid di sekolah juga tahu bahwa Primus sangat melindungi Lula.
"Lula, jadi pacar gue yuk." Sekali lagi cowok berambut cokelat gelap itu mencolek dagu perempuan di sisi Primus. Kedua mata Daniel berkilat menggoda. "Mau nggak?"
Primus menyingkirkan tangan Daniel dengan sentakan keras. Cowok itu sekarang benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya jika menyangkut Lula yang kini ikut-ikutan diganggu. "******! Tangan lo bisa sopan nggak?!"
__ADS_1
"Gue nggak suka lo sentuh-sentuh sahabat gue." sambung Primus seraya membekam kerah seragam Daniel.
Daniel sontak tertawa melihat mata Primus yang membara. "Hari gini sahabatan sama cewek? Bangun dari mimpi lo."
"Itu mah alasan lo doang. Lo pasti suka kan sama Lula?" Daniel mengempaskan terkaman tangan Primus di kerahnya. "Punya kaca kan Lo? Lula nggak mungkin mau sama lo."
"Mending sama gue lah." Lantas Daniel sekali lagi menyentuh tangan Lula. "La, malam ini kita jalan, bisa kan?"
Wajah Primus memerah. Cowok itu bisa merasakan amarah mendidih dalam dirinya. Bahkan kemudian nada bicara yang dilontarkannya begitu tajam dan terasa mengerikan. "Jauhin tangan lo dari Lula. Kalau nggak—"
Daniel memotong ucapan Primus seenaknya. "Kalau nggak kenapa? Gue nggak takut sama ancaman lo."
"Cepet hajar gua!" Tantang Daniel dengan angkuh.
Bersamaan dengan emosi yang meledak, Primus tanpa basa-basi lagi langsung melayangkan pukulan kilat yang berupa gumpalan tangan terkerasnya ke wajah cowok kurang ajar itu. Primus tidak ingin lagi berkata-kata, biarkan kini kedua tangannya yang berbicara.
Lula terengah, sementara jeritan-jeritan murid makin memekik menonton pertarungan antara kedua cowok itu. Untuk kesekian kalinya, mereka beradu pukulan keras.
Napas Lula tersengal mendengar suara hantaman keras sewaktu Primus berulang-ulang menghajar Daniel hingga bibir cowok itu meneteskan seberkas darah ke lantai. Perkelahian di hadapannya itu sangat liar sehingga Lula hanya bisa berteriak memanggil nama Primus. "Primus.... Berhenti...." pinta Lula sambil menangis.
*****
__ADS_1