
FOLLOW INSTAGRAM AKU YA: HENDRA.PUTRA13
Momen menit terakhir sebelum bel pulang berbunyi dihabiskan seluruh murid untuk membereskan buku-buku di meja. Lula mengumpulkan tiga buah buku menjadi satu tumpuk kemudian menaruhnya ke dalam ransel.
Sambil melakukan pekerjaan yang sama, Siska menegur Lula. Perempuan itu gemas dengan sikap teman sebangkunya yang terus saja bungkam dengan perasaannya sendiri. "La, gue mau bicara sama lo."
Lula yang sedang menarik ritsleting ransel tak menoleh, tetapi dia tetap menjawab. "Bicara aja. Gue dengerin kok."
"Lo tadi kasih air minum buat Primus, kan?"
"Lo suka kan sama, Primus?" cecar Siska barusan membuat gerakan Lula terhenti. Perempuan itu membiarkan ranselnya terbuka separuh sementara mulai menatap Siska.
"Enggak ada yang namanya laki-laki dan perempuan itu bisa sahabatan," Kali ini Siksa berbicara realistis penuh keyakinan. "Lo pasti suka sama Primus."
Lula mengembuskan napas. Ada getaran samar dalam kalimatnya. "Sudah berapa kali sih gue bilang ke elo kalau gue sama Primus murni sahabatan."
Cukup mudah Siska menangkap keragu-raguan dalam ucapan dan sinar mata Lula yang mendadak redup. "Fix, lo suka sama Primus."
Lula kembali pada ranselnya. Setelah menutupnya rapat, perempuan itu menggantung benda itu di pungungg. "Enggak, Sis."
Percakapan mereka sempat terhalang jeda karena guru berpamitan sebagai tanda pelajaran hari ini sudah selesai dan menyilakan para muridnya untuk meninggalkan kelas. Hampir semua murid sudah beranjak dari ruangan tetapi Siska menahan Lula karena masih berkeras kepala ingin menyambung persoalan tadi.
"Jujur sama gue."
"Lo perhatian banget sama dia, La. Pasti di persahabatan kalian ada bumbu cintanya."
__ADS_1
Sergahan Lula diiringi dengan *******. "Lo gak tahu apa-apa, Sis. Jangan sok tahu deh."
Siksa bergidik. "Gak capek lo bohongin perasaan lo sendiri?"
Lula yang tak ingin lagi membahas masalah itu, mengabaikannya saja. Bangkit dari kursi tetapi Siska membentangkan satu tangan untuk menahan perempuan itu. "Lula, kalau lo suka Primus, gue bisa bilang ke dia kalau lo itu suka."
Mata Lula menyipit. "Jangan ngaco,"
Siska tersenyum tulus. "Gue bilangin ke Primus ya? Gue ikut senang lihat lo sama Primus bisa pacaran."
Lula mengencangkan pegangannya pada tali ransel. "Kalau lo cuma mau bicarain ini, gue mau ke parkiran. Primus pasti kebingungan nyariin gue."
Siska menyusul berdiri kemudian mereka bersama-sama melangkah. "Jangan ingkari kata hati lo deh, La. Ntar nyesel lo. Giliran nanti Primus bener jadian sama Beby, lo pasti bisanya cuma nangis."
"Sebelum semua itu kejadian, katakan yang ada di hati lo sama Primus. Gak usah dipendem-pendem gitu kali." Nasihat Siska saat mereka berdiri di ambang pintu.
Perempuan itu berupaya melawan gejolak di hatinya. "Dengerin gue baik-baik."
Siska melipat tangan di dada. Hapal sama sikap Lula yang selalu mengelak sementara gelagat perempuan itu sendiri menyiratkan kalau adanya sebuah rasa cinta untuk Primus. "Oke, lo mau nyangkal apa lagi, La?"
Tarikan napas Lula berat dan gemetar. "Mulai sekarang lo gak usah mempertanyakan perasaan gue. Gue sama Primus sebatas sahabatan dan gak akan pernah lebih dari itu."
"Gue gak mungkin juga suka sama cowok berandalan kayak Primus." Seperti ada petir yang baru menyambar di hatinya, atau seperti ada hujan deras yang tiba-tiba membuat badai di sana, hati Lula terasa tak keruan. Ini adalah kebohongan terbesarnya.
Primus menunduk di balik pintu dan memaki dirinya sendiri di dalam hati. "Lo bodoh Prim, cowok berandalan kayak lo gak berhak dapetin perasaan Lula. Lo harus sadar diri setelah mendengar semua itu."
__ADS_1
Primus mencoba kembali tersenyum seolah tak pernah mendengar pernyataan Lula itu. Cowok itu masuk ke dalam kelas, kembali pada niat awalnya yang ingin mencari keberadaan Lula.
"Lo ternyata masih di sini, La."
"Gue kebingungan nyariin lo. Biasanya lo nungguin di parkiran." kata Primus terdengar tak semangat.
Lula dan Siska saling bertatapan dan menghentikan semua pembicaraan mereka karena kedatangan Primus. "Iya nih, sori ya lama." balas Lula.
Kekehan Primus terasa hambar. "Oh, gue kira lo diculik. Ayo pulang."
Pada akhirnya Primus kini menyadari bahwa memang sepantasnya tidak ada tempat orang seperti dirinya di hati Lula. Namun Primus tetap ingin mencintai Lula, bukan berarti meminta Lula agar memberikan rasa yang sama.
*****
Gimana nih, lanjut gak hehe?
Penasaran bab selanjutnya?
Halooo, yang baca komentar hai di sini hehe :)
Jangan lupa vote, like dan komentarnya yang banyak ya, aku tunggu loh :)
Kalau udah baca buat sg dan tag aku ya: hendra.putra13
Sebentar lagi ada kuis, yang aktif vote dan komentar di setiap bab bakal dapat hadiah, aku pantau ya hehehe
__ADS_1
Selamat membaca :)