
Sebelum baca ayok follow Instagram aku: Hendra.putra13
Primus bolak-balik di kasur karena pesan serta panggilan teleponnya tidak mendapat gubrisan dari Lula. Cowok itu menyugar rambut dengan jemarinya lalu menarik tubuh untuk duduk bersandar. Satu kakinya tertekuk sementara lengan lainnya ditumpangkan ke lutut. Kegelisahan adalah yang tepat untuk menggambarkan cowok itu saat ini.
Semenjak pulang sekolah, Primus tidak menemukan perempuan itu di parkiran. Tanpa ada kabar dari Lula hingga malam ini membuat Primus khawatir. Akhirnya cowok itu memberanikan diri untuk menemui Lula meskipun dia sangat sadar kalau Lula menghilang seperti ini karena marah padanya. Tetapi Primus juga tidak bisa diam-diaman terlalu lama sama Lula.
Primus menarik diri keluar dari rumah. Setelah izin kepada om Irfan untuk bertemu dengan Lula, Primus melangkah ke halaman belakang rumah. Cowok itu menemukan sosok Lula yang tengah duduk di paviliun sambil mengayunkan kaki.
Lula cukup sadar akan kehadiran Primus di sisinya saat ini tetapi dia lebih memilih untuk diam. Primus menyandarkan punggung di tiang kayu paviliun lalu seketika keheningan malam memeluk mereka. Keadaan yang mereka alami sekarang sesungguhnya sangat menyiksa hati. Ada rasa sayang yang bergetar di hati mereka namun terus saja tertahan di dalam dada.
Primus menarik napas panjang lalu memulai memecahkan udara yang berderak dingin. Primus mengerti kalau harus membuat sahabatnya itu kembali tersenyum. Itu adalah tugas dan janjinya sendiri. "Lihat bintang mulu, La." tegurnya bersama dengan sunggingan senyum.
Masih sambil melipat tangan di dada, Primus melanjutkan kalimat dengan mata berbinar. "Kapan lo lihat cowok di sebelah lo ini?"
"Bisa dicek sebentar kali," Bahu Primus tergidik. "Gimana keadaan gue gitu."
Primus masih setia menatap Lula sementara perempuan itu masih tak ingin memberikan respons. Lula menghentikan ayunan kakinya saat berpikir dalam waktu yang singkat. Lula sebenarnya tak tega karena mengabaikan Primus sementara cowok itu terus saja mengajaknya berbicara. Tapi di satu sisi dia sadar kalau kedekatan mereka itu tidak akan bertahan lama lagi. Karena sudah ada sosok perempuan lain yang akan menggantikan dirinya.
"Lo gak khawatir lagi sama gue, La?"
"Lula." panggilnya lagi.
Primus membujuk sahabatnya itu. "Coba lihat cowok yang sudah bikin lo marah ini sekali aja."
Pandangan Lula yang terkunci pada bintang-bintang pun terlepas. Dia menoleh sosok yang berdiri di sebelahnya. "Apaan sih, Prim?"
__ADS_1
Primus tersenyum. "Akhirnya.... lo mau lihat gue juga, La."
"Tandanya lo gak marah lagi kan sama gue?"
Jantung Lula berdebar keras sewaktu Primus meninggalkan tiang paviliun untuk duduk di sampingnya. Seluruh diri Lula merasa menggigil karena rasa sesalnya yang telah meninggalkan Primus begitu saja di saat cowok itu sangat membutuhkan dirinya. Perkataan Primus selanjutnya yang terdengar serak membuat dada Lula bergemuruh.
"Lo sadar gak, kita itu ditakdirkan selalu bersama. Gak bisa terus diam-diaman begini." Senyum Primus menipis namun tidak mengurangi ketulusan cowok itu. "Gue masih butuh perhatian dari lo, La."
Primus menegur Lula yang menatapnya dengan bibir terkatup rapat. "Lula, kok lo diam aja?"
"Jangan cemberut mulu, entar cantiknya hilang." sambung Primus menggoda.
Sekejap terlintas ide jail di benak Primus untuk mengambil perhatian Lula yang masih pura-pura tak acuh itu dengan dirinya. Setelah semenjak lama bersahabat, bukan Lula kalau perempuan itu tidak khawatir dengannya. "Ahk..." Lantas cowok itu memekik sambil memegang ujung bibir.
Sontak Lula mengernyitkan keningnya. "Lo kenapa?"
Lula berdecak seraya membuang muka meskipun kekhawatiran itu masih ada di hatinya—terlebih saat menyaksikan Primus kesakitan seperti itu. "Alah... lo pasti bohong aja kan. Lo itu sudah kebal, luka gitu doang gak mungkin bikin lo sakit."
Primus masih berusaha dengan aktingnya sambil tersenyum jail. "Serius La, sakit tahu. Ahk...."
Tak tahan lagi mendengar Primus mengerang sakit, Lula pun mencondongkan tubuhnya ke samping untuk mengecek keadaan sahabatnya itu. Dia tidak bisa lagi mempertahankan keegoisannya untuk mengabaikan Primus. Dengan kedua tangan, Lula menangkup wajah Primus. "Sini gue lihat luka lo."
Lula memerhatian lamat-lamat luka di sudut bibir Primus. "Beneran sakit, Prim?" tanyanya cemas.
Tetapi kemudian Primus mengembangkan senyum lebar. "Rasanya gak sesakit saat lo diamin gue kok, La."
__ADS_1
Kontan di detik itu Lula langsung memberengut dan menarik tangannya dari wajah Primus. Ternyata Primus hanya pura-pura. "Nyebelin banget lo."
Kekehan Primus terdengar. "Ternyata lo masih perhatian sama gue, La." Primus bertepuk tangan berkali-kali sambil berbicara. "Baikan.... baikan..... baikan...."
Melihat sahabatnya yang tengil itu, Lula melototkan mata. Hapal sekali dengan tingkah Primus yang selalu bisa saja membuat dia tersenyum dengan tingkah konyol cowok itu. "Ih... Primus berisik!"
Pelan-pelan Primus menyenggol bahu Lula sebelum akhirnya merangkul hangat perempuan itu. "Iya gue diam. Tapi jangan marah lagi ya, biar kita bisa sama-sama lihat bintangnya."
Mata Primus memperlihatkan sorot tulus ketika mereka kembali saling bertatapan. "Gue minta maaf karena sudah bikin lo kecewa, La."
"Sebagai permintaan maaf gue... lo mau gak sesuatu dari gue?" Primus menaikkan kedua alisnya. "Gue mau kasih hati gue hanya buat lo, La."
Lula terperangah tak percaya kata-kata itu mendengung di telinganya. Pandangan mereka saling terkunci beberapa saat dengan hati yang berdesir.
"Hehehe. Kenapa lo lihatin gue seperti itu." seru Primus, membuat Lula melepaskan tatapannya dari cowok itu. "Gue becanda aja kok. Habisnya lo diam mulu." Dalam hatinya, sebenarnya Primus tidak bercanda. Itu ungkapan spontan yang keluar dari hatinya.
"Ayo minta satu hal, entar gue turutin deh." cetusnya pada Lula.
Lula kembali menoleh pada Primus. "Yakin?"
Anggukan Primus mengiringi senyuman cowok itu. "Seribu persen yakin, sebutin aja."
Lula mengangkat bahu. "Ntar deh gue pikirin. Awas aja nanti lo gak nurutin."
Primus menempatkan empat jarinya di kening dengan dada membusung. Tegap sempurna bersama dengan kelegaan menyerbu hatinya. Lula sudah mau berbagi obrolan dengannya kembali. "Siap!"
__ADS_1
Primus menyadari bahwa Lula adalah hal penting yang tak boleh dia kecewakan lagi. Primus dan Lula sendiri sesungguhnya tidak pernah mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi di persahabat mereka. Keduanya merenung sejenak sambil menekuri bintang, berharap mereka selalu bisa berbagi sinar seperti bintang-bintang itu.
****