Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
ENAM BELAS: BEBY BILANG SUKA


__ADS_3

Mau novel gratis, buruan follow instagram: hendra.putra13


Subscribe youtube: Hendra Putra


Beby dan Maia mengisi langkah mereka yang beriringan dengan sepintas obrolan santai. Maia monoleh penasaran pada teman sebangkunya itu yang sekarang menemainya pergi ke kamar kecil. "Lo yakin Beb, mau sama Primus?"


Maia masih heran kepada Beby mengapa sampai bisa menyukai seorang Primus yang bandelnya minta ampun. Meskipun siswi-siswi di sekolah tidak ada yang menampik kegantengan serta pesona lain dari diri Primus, tetapi Primus sepertinya adalah tipe cowok cuek yang bakal susah mengerti hati perempuan. Maia bisa menebak sendiri kalau Primus sudah pasti akan mengabaikan perasaan temannya itu.


Namun lagi-lagi Beby menyunggingkan senyum manis seperti biasa. "Iya.... Primus itu menurut gue beda."


Mereka membelok dan Maia menyenggol Beby dengan lengannya untuk mengingatkan sesuatu mahapenting. Jauh sebelum perempuan-perempuan lain berharap bisa dekat sama Primus, ada Lula yang selama ini menempel di sisi Primus. Fakta itu seharusnya membuat Beby menyingkirkan perasaannya yang konyol itu.


"Tapi Beb," Mata Maia menyipit. "Dia itu dekat banget loh sama Lula."


Sementara terus melangkah bergerak maju, tidak ditemukan raut kecemasan di wajah Beby. Perkataan Maia dianggapnya seperti angin lalu yang baru saja lewat. "Iya gue juga tahu. Itu kan bukan rahasia umum lagi kalau Primus dekat sama Lula."


Maia berhenti mendadak di dekat tong sampah yang dicat biru, menangkap tangan Beby untuk menghentikan perjalanan mereka sesaat menuju toilet. "Jadi lo masih mau deketin Primus?"


Bahu Beby terangkat ringan. "Iya lah. Gak ada masalah, kan?"


Maia tak bisa menahan decakan lidahnya karena merasa gemas. "Beby! Entar lo makan hati tahu gak sih lihat Primus berduaan sama Lula kayak prangko sama surat gitu! Gak mungkin bisa dipisahin!"


"Maia...." Beby menghela napas pelan. "Primus sama Lula itu sahabatan doang."


Maia memutar bola matanya, berpikir realistis. "Please deh, Beb. Sahabatan lo bilang? Mereka itu sudah ada di tahap sahabat rasa pacar!"


Maia terkekeh sambil menggeleng di hadapan Beby. "Gue ragu lo bisa gantiin posisi Lula."


Beby menepuk bahu Maia dua kali dengan sebuah senyum penuh keyakinan. "Lo gak usah ragu. Percaya sama gue." Mata Beby lebih berbinar pada kalimat selanjutnya. "Gue yakin bisa dapetin hati Primus."


Maia masih teguh dengan asumsinya sendiri. "Sudah deh Beb, sudah cukup sampai lo nekat majang surat cinta lo itu di mading. Jangan lagi deketin Primus, surat itu aja belum direspons balik. Gimana lo mau dapetin dia?"


Belum sempat mereka kembali melangkah, Maia menegur Beby cepat-cepat. Dagunya mengarah ke seberang lapangan menyiratkan ada seseorang di sana yang sedang mengepel lantai selain kang Udin yang biasa bertugas melakukan itu.

__ADS_1


"Beb, Beb," serunya buru-buru.


Beby membalas santai. "Ada apa lagi sih, Mai?"


"Itu Primus,"


Daerah di antara alis Beby berkerut sementara dia belum menilik ke arah yang Maia maksud. "Lo mimpi? Dia kan kena skors kemarin."


Kali ini Maia menunjuk posisi Primus dengan telunjuknya. "Itu lihat, dia ngepel koridor."


Seketika senyum Beby mengembang lepas. Debaran jantungnya terasa berdetak lebih keras apabila sedang memandang cowok tinggi nakal itu.


Maia bersuara menyadarkan lamunan Beby. "Lo kenapa sekarang senyum-senyum kayak habis dapat hadiah gitu,"


Ada kegembiraan berkelebat di mata Beby. "Pucuk dicinta ulam pun tiba." Beby tiba-tiba merangkul Maia agar lebih dekat dengannya untuk berbisik. "Lihat deh sekarang, takdir seolah-olah membuat semuanya lebih mudah. Fix! Gue mau nyamperin Primus, lo ke toilet sendirian aja gih!"


Beby mengambil langkah seribu sebelum mendapat persetujuan dari Maia. Temannya itu hanya bisa menggeleng sambil melanjutkan langkah secepat mungkin ke kamar kecil. "Beby.... Beby..."


*****


"Hai, Prim." Sapa Beby lembut.


Tangan Primus berhenti menggerakkan tongkat pel untuk menjawab heran sapaan perempuan di hadapannya. "Ada apa?"


Beby terpesona dan memekik dalam hati ketika menyaksikan sepasang mata Primus yang dibingkai kedua alis tebal. Sambil menggigit bibir, perempuan itu bertanya. "Gue ganggu gak?"


Alis Primus bertaut serta membalas apa adanya. "Kayaknya ganggu. Soalnya gue lagi sibuk sekarang."


Beby terkekeh sambil berupaya meredam debaran jantungnya yang keras. "Gitu yah," Tangan perempuan itu menyorongkan sebuah botol minuman seraya mengulas senyum. "Oh iya, Prim. Gue bawain lo minum."


Pandangan Primus turun menatap botol itu lalu kembali menatap Beby. "Gak usah."


Beby tetap bersikukuh memberikannya. "Ambil aja deh."

__ADS_1


Dengusan Primus terdengar selagi mengambil botol yang tersodor untuknya itu. "Ya sudah kalau lo maksa. Makasih ya."


"Sini gue pegangin," Beby meraih tongkal pel sementara membiarkan Primus melegakan tenggorokannya. "Gue bantuin ya sekalian."


Primus berhenti meneguk dan menyipitkan mata. "Emang lo bisa ngepel?"


Beby mengangkat wajah sambil merapikan helain rambutnya ke belakang telinga. "Lo ngeremehin gue, Prim?"


Primus menurunkan botol lalu melangkah mendekati perempuan itu. Dia mengambil alih cepat alat pel itu kembali. "Enggak.... Lo gak usah bantuin gue deh. Ntar lo kecapean."


Beby cemberut beberapa detik karena Primus tidak mau menerima bantuannya. Namun detik selanjutnya dia tersenyum karena ingat pada tekadnya yang ingin menggaet hati Primus. "Prim, gue boleh minta kontak lo?"


Primus yang fokus mengepel lantai yang kotor, menjawab tanpa menoleh. "Buat apa?"


"Mm.... buat ngingetin lo makan, ngucapin selamat malam, dan selamat istirahat."


Primus mendongakkan wajah dan menatap Beby. Cowok itu menyugar rambut tebalnya ke belakang dengan satu tangan. "Lo serius mau ngelakuin itu?"


Senyum Beby bertambah manis dua kali lipat sambil menyaksikan Primus yang makin menawan di hadapannya. "Iya..." jawabnya dengan anggukan malu.


Tubuh tinggi Primus menegak. Matanya dalam-dalam menatap Beby. Dia merasa bingung tetapi juga takjub dengan sikap perempuan itu. Sudah beberapa kali perempuan itu menunjukkan sikap perhatian padanya dan sebelumnya juga sempat menuliskan surat cinta untuknya. "Kenapa lo care gitu sama gue?"


"Lo gak takut sama gue? Gue ini preman." imbuh Primus menakut-nakuti Beby.


Kepala Beby tergeleng lalu mengambil napas panjang sebelum menjawab. "Gue gak takut, Prim. Tapi gue suka sama lo."


Mata Beby melotot mencerna ucapannya sendiri seolah dia tidak sadar telah mengucapkan rasa sayang itu secara langsung pada Primus. Alhasil pipinya memerah dan dia jadi salah tingkah sendiri. Detik itu juga, Beby mundur dan berbalik arah meninggalkan Primus.


Primus menegur santai. "Mau ke mana lo?"


"Jadi gak nih kontak gue?" Tetapi perempuan itu sudah telanjur hilang di kelokan koridor. Primus terkekeh. "Lucu juga itu cewek."


*****

__ADS_1


PS: 100 like dan 100 komentar ya untuk lanjut ke chapter selanjutnya. Makasih.


__ADS_2