Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
DUA PULUH LIMA: NASIHAT SISKA


__ADS_3

Siska memandang Lula yang sedang berdiri di sampingnya. Tak tahan dengan sikap Lula yang selalu saja menyakiti hatinya sendiri dengan mengelak rasa sayangnya yang lebih kepada Primus, membuat perempuan itu menggerutu. "Sedih aja terus lo, La."


Lula membalas sambil memilih menatap ke arah lain, ke keramaian trotoar yang ada di sampingnya. "Apaan sih, Sis? Gue gak ngerti lo ngomong apaan."


Terdengar Siksa berdecak saking gemasnya dengan pertahanan Lula. "Gini nih kalau lagi patah hati, memang suka bikin otak agak konslet."


"Please La, jangan hancurin hati lo sendiri." sambung Siska sementara Lula berbalik dan melangkah mundur untuk duduk di kursi halte sekolah yang berada di belakang mereka.


Siska menarik napas sambil menggelengkan kepala. Kemudian perempuan itu menyusul Lula dan mengambil tempat di sebelahnya. "Lula... Lula... dengan cara lo biarin Primus anterin Beby tadi, itu sama aja lo nyakitin hati lo."


"Gue lihat mata lo sekarang sampai-sampai bisa ngaca tahu gak, La."


Tangan Siksa terulur menangkup bahu Lula. "Gue memang bukan cenayang. Tapi lihat lo sekarang ini, anak kecil juga tahu kalau lo saat ini lagi sedih."


Siska lantas mendengus menemukan Lula yang semakin murung. "Kayaknya gue harus peringatin Beby nih."


Lula bergidik, tetapi suaranya terdengar terlalu lemah dan gemetar. "Peringatin apaan sih, Sis?"


Dengan sangat yakin, Siska menjawab. "Buat ngejauhin Primus lah."


Lula perlahan-lahan menunduk dan bergumam. "Siska... gue gak keberatan kok kalau Primus dekat sama dia."

__ADS_1


Siska menyentak pelan bahu Lula ketika dia kembali menjawab. "Tapi gue yang keberatan. Gue gak mau lihat lo sedih-sedihan gini."


"Gue gak sedih, Sis." lirih Lula. "Lagi pula gue sendiri kok yang minta Primus untuk pacarin Beby."


Kontan Siska mengernyit dan mendesah tak percaya. "Alasannya apa, La? Kenapa lo minta hal yang nantinya bikin lo sama Primus gak bisa sama-sama lagi?!"


Lula menoleh, bibirnya bergerak kecil saat hati-hati melemparkan balasan. "Alasannya.... karena gue gak mau dibikin repot sama Primus lagi."


"Gue sudah capek."


Siska dengan cepat menimpali. "Lo sudah capek bohongin perasaan lo kali?!" Perempuan itu lalu merapatkan diri ke Lula dan mendekap bahu teman baiknya itu. "Kalau lo sudah capek, lo tinggal bilang sama Primus kalau lo sayang sama dia."


Siska mengamati wajah Lula lamat-lamat. "Sayang lo ke dia lebih dari sekedar sahabat, kan?"


Lula mengangkat bahu, mencoba melepaskan diri dari rangkulan Siska. "Ngaco lo ah, Sis. Gak ada cinta-cintaan di persahabatan kita."


"Kenapa sih lo ngotot banget?" Lula meninggikan sedikit suaranya. "Gue sudah bilang kan kalau gue sama Primus cuma sahabatan."


"Sahabat rasa pacar!" pekik Siska, lalu lanjut berbicara. "Kalau lo terus begini, siap-siap aja Beby melalang buana nempel-nempel sama Primus. Gue gak bisa bayangin kalau Primus nanti pacaran sama beby."


Lula tetap berusaha mengelak perasaannya. "Kalau Primus bahagia, gue ikut senang kok."

__ADS_1


"Senang lo bilang?" sahut Siska. "Jangan terlalu naif, La. Yang gue lihat sekarang lo itu sedih. Sedih banget. Gak ada tanda-tanda bahagia tuh di muka lo."


Napas Lula terembus lemah. "Gue lagi banyak pikiran aja."


"Pikirin Primus kan, pasti? Hati lo gelisah, kan?" Siska meremas punggung tangan Lula. "Lula... itu tanda lo cemburu!"


Air mata Lula menitik dan cepat-cepat perempuan itu mengangkat tangan untuk menghapusnya. "Terserah lo deh mau bilang apa, Sis."


Sebelum mengakhiri pembicaraan mereka, Siska meminta kepada Lula. "Gue harap lo gak lagi ingkari kata hati lo, La."


Lula mengangguk kecil dan berusaha tersenyum agar temannya itu tidak khawatir. "Gue baik-baik aja, Sis."


****


PS: 650 like dan 150 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.


Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE


Instagram Penulis: Hendra.putra13 serbu ada giveaway lo hehe


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2