
Bahu Primus tersentak begitu suara Lula menderu di telinganya. Cowok itu refleks tersadar dari bayang-bayangnya beberapa detik yang lalu. Kata cemburu ternyata hanya tersimpan dalam hatinya. Tertutup dan terkunci rapat. "Ehm... iya, La?" balas Primus.
Lula menahan garpu di tangannya, siap untuk menyatap hidangan panasnya kembali. "Melamun mulu lu, Prim. Pasti lagi mikirin Beby ya?"
Primus menyengir dan senyum cowok itu selalu tampak memesona. "Gue lagi mikirin lo kali, La."
Tiba-tiba Lula lebih ingin mendengar penjelasan Primus ketimbang melanjutkan makan malamnya di paviliun. "Mikirin gue?"
"Memangnya gue kenapa, Prim?"
Primus memandang Lula dari tempat duduknya. "Gue mau tanya satu hal boleh gak, La?"
Lula menjawab dan merasa sedikit agak tegang."Tanya aja kali, Prim. Bikin penasaran aja deh."
Primus mencoba menelaah ke dalam mata Lula yang indah. "Tipe cowok lo itu kayak Daniel ya, La?"
Napas Lula tercekat mendengar pertanyaan itu. "Prim... kok lo tiba-tiba nanya gitu sih?"
Bahu Primus terangkat rendah. "Ya gak pa-pa sih, La. Gue sebagai sahabat lo pengen tahu aja gitu."
Lula mengambil waktu untuk menarik napas sejenak. Perempuan itu tidak tahu dan tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan mereka. Primus sendiri sebelumnya tidak pernah menanyakan sesuatu hal semacam ini padanya.
"Lo benar-benar mau tahu tipe cowok idaman gue, Prim?" Lula bertanya balik. Senyum Lula yang mengembang membuat Primus terpana.
Dagu Primus terangguk. "Iya, La... seperti apa?"
__ADS_1
Lula merapikan helaian rambutnya ke sela telinga lalu menjawab dengan senyum kecil di bibirnya. "Tipe cowok yang gue suka itu kayak lo, Prim."
Primus mengembuskan napas tanda dia menginginkan jawaban serius dari Lula. "Yaelah. Serius dong, La. Gue gak lagi mau bercanda sekarang."
Melihat Lula yang hanya terkekeh, Primus pun memberikan pertanyaan lagi. "Oh ya, La... kalau lo disuruh pilih satu cowok antara gue sama Daniel, lo pilih siapa, La?"
Pipi Lula merona, lalu tertawa. "Enggak ada pilihan lain lagi, Prim? Zayn Malik gitu?"
Primus memasang wajah masam menatap Lula yang lagi-lagi bercanda padanya. "La, serius. Jangan ketawa dong."
Senyum Lula menipis dan berhenti tertawa. Primus cepat-cepat mendikte sebelum Lula menyampaikan jawabannya. "La... gue minta lo jangan pilih Daniel ya."
Tiba-tiba rasa ingin tahu yang besar menyerbu hati Lula. "Kalau gue pilih dia kenapa, Prim?"
"Pokoknya jangan, La. Gue bakal sakit hati."
Primus terengah, tak sadar dia tadi sempat keceplosan. "Maksud gue... gue takut lo dimainin sama dia, La."
"Entar lo kan sakit hati. Kalau lo sakit hati gue juga ikut sakit, La." Primus menutup dalihannya dengan kekehan.
Hati Lula selalu terbang ketika Primus menaruh perhatian besar padanya. "Iya, Prim... gue tahu kok. Dia kan playboy."
Primus terdengar menghela napas. "Lega gue dengernya, La."
"Jadi lo dari tadi mikirin itu, Prim?" Lula menyenggol bahu Primus yang kuat.
__ADS_1
Primus mengiyakan, lesung pipinya terlihat jelas. "Gue gak kebayang aja gitu kalau lo entar dekat sama Daniel."
Lula lagi-lagi hanya bisa melengkungkan bibirnya. "Lo tenang aja, Prim. Lagi pula kan ada lo. Lo pasti jagain gue, kan?"
"Jangan mentang-mentang ada Beby, gue jadi dilupain." Nyinyir Lula pada sahabatnya itu.
Primus mengedipkan mata sambil menyugar rambut lebatnya ke belakang. "Gue gak mungkin lupain lo kali, La."
"Seriusan, Prim?"
"Seriuslah, La. Dua rius malah. Selamanya gue selalu ada untuk lo. Gue janji, La."
Lula mengangguk saja mendengar janji yang diucapkan Primus. "Iya... iya... gue percaya kok sama lo."
"Ya sudah, Prim. Habisin tuh mie lo. Keburu dingin." tambah Lula.
Primus terkekeh memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi. "Iya. Iya. Siap kesayangan gue yang bawel. Hehehe."
****
PS: 850 like dan 200 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.
Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE
Instagram Penulis: Hendra.putra13
__ADS_1
Terima kasih.