Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
DUA PULUH SEMBILAN: PRIMUS KESAL


__ADS_3

Instagram: hendra.putra13


Beby berhasil memaksa Primus agar mau ikut dengannya. Primus sendiri ikut khawatir, takut ada sesuatu yang darurat atau berbahaya yang sedang dihadapi Beby. Namun ketika mereka mulai memasuki ruang perpustakan sekolah, Primus melepaskan pegangan tangan Beby lalu mengeryit menatap perempuan itu.


"Tunggu, Beb."


"Kita ngapain ke perpustakaan?" imbuh Primus kebingungan.


Beby lantas memilin bibir. Malu-malu mengungkapkan tujuannya. "Jadi gini... gue kesusahan ambil buku, Prim."


Beby bergidik, menunjuk lokasi buku di sebuah rak. "Gue minta tolong sama lo buat ambilin buku yang di atas itu."


Primus menatap tajam. "Beby..."


Perempuan di hadapannya itu pun menjawab hati-hati. "Iya, Prim?"


Merasakan tatapan Primus yang berubah, Beby menyambung kalimat dengan suara pelan. "Kok lo lihatin gue seperti itu?"


Kening Primus berkerut. Tidak ada senyum di bibir cowok itu. "Gue kira lo minta gue cepat-cepat itu karena ada yang penting."


"Prim..." lirih Beby, merasa gelisah karena sadar kalau Primus saat ini sedang kesal padanya.


Sementara itu Primus kembali mencetus. "Ternyata lo cuma bercanda sama gue, Beb. Gak lucu. Masa lo gak bisa ngambil buku di atas itu?"


Primus berdecak dengan senyum miring tanda bahwa dia kesal sekali. "Masa ngambil buku aja perlu bantuan gue?"


Beby kembali menjawab. "Kan gue gak sampai, Prim."


Dagu Primus terangkat. "Itu banyak bangku, Beb. Lo tinggal naikin aja."

__ADS_1


Beby memekik dalam hati, kecewa karena idenya berakhir kacau. Sangat kacau sehingga Primus yang berusaha dipikatnya justru menampilkan sosok yang seolah-olah antipati padanya.


Dari sela bibir Beby, terdengar ******* lirih. "Lo marah ya, Prim?"


Primus menanggapi pertanyaan Beby dengan cepat. "Gue gak marah, Beb."


Di sepasang mata Beby kini tampak menggenang bening air mata. "Lo marah kan sama gue?" tanyanya lagi pada Primus.


Primus menarik napas dalam-dalam, meredamkan kegeramannya, lalu menatap Beby tanpa kedip. "Enggak. Tapi gue gak habis pikir aja."


"Gue ngerasa lo udah ngerjain gue."


Beby sontak menangkap pergelangan Primus kembali. "Primus... maafin gue."


Primus menunduk, menilik cengkeraman tangan Beby di tangannya, lalu bersegera melepaskannya. "Oke... gue ambilin buku yang lo mau."


Menyaksikan Beby yang hanya mematung, Primus menggumam. "Beby... kenapa lo malah diam?"


Sambil menahan air mata yang ingin sekali menitik dari matanya, Beby mengangguk dan meraih buku yang diberikan Primus.


"Sudah, kan?" tanya Primus dengan sebelah alis terangkat.


Beby berujar pelan. "Makasih, Prim."


Kernyitan di kening Primus belum menghilang meskipun cowok itu mengangguk. "Sama-sama. Lain kali kalau lo butuh bantuan gue, yang penting-penting aja, Beb."


"Sudah dulu ya. Gue mau nyamperin Lula. Kasihan dia gue tinggal sendiri."


Beby melirih lagi sebelum Primus bergeser dari rak buku. "Primus..."

__ADS_1


Dengan terpaksa cowok itu menoleh. "Ada apa lagi?"


"Ada buku yang lo mau lagi?"


Kepala Beby tergeleng. "Sebenarnya gue ngajak lo ke sini bukan untuk minta bantuan."


Primus terkekeh mengiyakan. "Gue juga ngerasa begitu. Lo cuma mau ngerjain gue, kan?"


Tanpa berpikir panjang lagi, Beby meluapkan keinginannya. "Gue mau berduaan sama lo, Prim. Gue juga mau bisa dekat sama lo seperti Lula."


"Oke... lo mungkin memang sudah tahu kalau gue suka sama lo, Prim. Dari surat yang gue tempel di mading. Tapi kali ini gue mau bilang di depan lo."


Beby berhenti bicara sejenak, mengatur napasnya yang gemetar karena didera kegugupan yang besar. Tapi kali ini dia memang harus mengatakannya langsung pada Primus agar cowok itu tahu kalau dia sama sekali tidak ingin bermaksud mengerjainya. Dia hanya ingin Primus juga bisa dekat dengannya.


"Gue gak bisa lagi nahan ini cuma dalam hati aja." Beby tidak peduli lagi, dia menatap mata Primus dalam-dalam. "Primus... gue suka sama lo. Dari kelas sepuluh gue sudah suka sama lo."


"Mungkin ini sudah waktunya gue ungkapin semua perasaan gue sama lo. Gue ngelakuin hal ini cuma untuk cari perhatian lo."


Mulut Primus terkatup rapat untuk beberapa saat. Tapi kemudian cowok itu maju selangkah dan memegang kedua bahu Beby. "Makasih untuk pengakuan lo, Beb. Makasih lo sudah suka sama gue."


Bibir Primus melengkungkan senyum. "Tapi caranya bukan begini, Beb. Bukan begini caranya lo cari perhatian gue."


"Gue bisa kasih hati gue untuk elo."


Beby menekan bibir bawahnya. "Primus...."


"Lo gak perlu lagi bertingkah aneh seperti ini. Kalau sudah waktunya... gue bakal balas perasan lo." tukas Primus dengan senyum manisnya.


****

__ADS_1


__ADS_2