Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
LIMA BELAS: PRIMUS GOMBAL


__ADS_3

Follow Instagram: Hendra.putra13 gratis kok :)


Selamat membaca


Senyum Lula tak secerah langit yang membungkus kota pagi ini sebab mengingat hari ini dia akan berangkat ke sekolah sendiri tanpa Primus. Lula bahkan tidak bisa menyembunyikan kelesuannya itu. Lula menyadari bahwa selama ini Primus adalah sumber semangatnya. Berdekatan dengan Primus, menatap senyum Primus, menilik tingkah Primus,  salah satu alasan  mengapa senyumnya bisa tercipta. Apa pun mengenai Primus selalu membuatnya mampu bahagia.


Namun ketika Lula membuka pintu depan, didapatinya Primus baru saja ingin mengetuk pintu rumah dengan kepalan tangan yang sudah mengudara. Primus di sana tersenyum karena belum saja sempat mengetuk, pintu sudah terbuka untuknya.


Lula seketika merasa senang menemukan Primus berseragam sekolah walaupun kening perempuan itu berkerut. Dia masih merasa bingung. "Loh... kok lo masuk sekolah, Prim?"


"Lo kan kena skors tiga hari gak boleh masuk sekolah." Lula mengingatkan, takut Primus lupa akan hal itu yang merupakan hukuman akibat dia ketangkap basah berkelahi di sekolah.


Primus mencengkeram erat tali tas selempangnya sambil tersenyum segar. Lula bahkan memekik dalam hati menyaksikan betapa tampan sahabatnya itu. "La... gue ini sudah bego, kalau gak masuk sekolah nanti gue tambah bego."


"Gue entar mau menghadap ke kepala sekolah. Gue boleh deh dihukum apa aja asal jangan diskors." imbuh Primus sambil menyugar rambut lebatnya ke belakang. Meskipun sudah biasa memandang wajah Primus namun Lula tak pernah berhasil mengontrol dirinya untuk tidak bisa terlihat tenang karena hatinya yang selalu bergetar. Dia selalu merasakan itu ketika Primus menatap matanya dengan saksama.


Sorot mata Lula pun takjub. "Tumben, Prim?"


Primus berdeham santai. "Maksudnya, La?"


Sambil melangkah menuju pagar besi yang dicat biru lembut, Lula menyelipkan rambut ke sela telinga. "Iya.... tumben aja lo gitu gak mau diskors. Biasanya kan lo malah senang gitu kalau habis buat masalah di sekolah terus dapat hukuman skors."

__ADS_1


Lula mengayunkan kaki melewati pagar lantas menyambung ucapan. "Lo kan baru puas kalau diskors."


Primus mencondongkan bahu ke kanan ke arah Lula. Cowok itu berkacak pinggang sambil lagi-lagi membagikan senyum memikatnya. "Lula... gue kali ini sudah benar-benar berubah."


"Ucapin selamat tinggal sama Primus yang dulu."


Senyum Lula mengembang menyaksikan sebelah mata Primus yang berkedip menawan untuknya. "Duh, pagi-pagi gini lo sudah bikin gue senyum aja, Prim."


Jemari Lula mencolek hidung Primus yang mancung. "Gue ikut senang lihat lo berubah begini."


"Gue juga senang bisa lihat lo terus tersenyum seperti ini." sahut Primus dengan cepat.


Sebelum menyusul Primus ke motor, Lula menggerutu. "Kok bawa-bawa pohon sih, Prim?"


Primus berdecak dengan gantengnya. "Dengerin dulu kali.... gue mau gombalin cewek cantik yang ada di samping gue boleh, kan?"


Lula menggeleng-geleng saja. "Apaan sih, Prim. Buruan berangkat, entar kita telat."


Primus kukuh menahan Lula sejenak. "Iya... dengerin dulu ya, La."


Lula melipat tangan di dada lalu menyeletuk gemas. Dia juga sebenarnya tak sabar ingin mendengarkan gombalan Primus untuknya. Lula merasa menjadi perempuan beruntung sedunia karena mendapat rayuan sepagi embun begini. "Buruan apa?"

__ADS_1


Sambil menyipitkan mata, Primus bersiul. "Belum juga digombalin sudah senyum-senyum gitu."


Dengan pipi yang memerah matang, Lula menggigit bibir menahan alunan hatinya yang mengentak-entak. "Kalau mau gombalin gue, cepat deh Prim."


"La...." Mata Primus terpaku pada perempuan di sampingnya. "Lo itu seperti pohon,"


Lula yang berdiri di sisi motor mengerutkan kening. "Kok gitu, Prim?"


Primus terkekeh namun tetap serius. "Iya, lo itu selalu setia memberikan oksigen buat hidup gue. Persis seperti pohon."


"Gimana? Meleleh kan lo dengar gombalan maut gue? Hehehe." Primus menggaruk kepala sebelum memasang helm.


Lula membalas sambil bercanda walaupun jujur hatinya sendiri sudah terbang entah sampai langit ke berapa. "Bukan meleleh lagi, Prim. Tapi gue mau pingsan dengarnya."


Mata Primus melebar seiring kebahagiaan menjalari hatinya. "Seriusan, La? Gak sia-sia gue mikirin gombalan itu semalaman. Khusus gue dedikasikan buat lo." omongnya penuh kejujuran.


Lula selanjutnya menggeleng malu-malu. Secepat mungkin naik ke motor takut salah tingkahnya kepergok lebih jauh lagi oleh Primus.  "Enggak kok. Biasa aja. Ayo berangkat."


Sepanjang perjalanan Lula merasa malu untuk mengakui pada Primus kalau dia benar-benar ingin pingsan mendengar rayuan itu. Hanya menunggu waktu saja Lula akan sadar dan merasa lelah sendiri dengan sandiwaranya itu. Bahwa dia begitu mencintai Primus dan ingin cowok itu selalu bersikap manis padanya sampai kapan pun.


****

__ADS_1


__ADS_2