Surat Dari Primus

Surat Dari Primus
TUJUH BELAS: PERASAAN PRIMUS, LULA, DAN BEBY


__ADS_3

Follow dulu yuk instagram aku: hendra.putra13


Beby melangkah setengah berlari. Seiring langkahnya, perempuan itu nyaris saja berteriak kalau saja tidak berpapasan dengan salah seorang guru di koridor. Beby tersenyum sopan lalu kembali bergerak secepat mungkin menyusul Maia yang berada di toilet.


Sewaktu memasuki ruangan yang berisi beberapa bilik kamar kecil itu, Beby langsung saja menyerbu ke arah Maia yang didapatinya tengah berdiri di depan wastafel. Sambil melompat-lompat kecil, perempuan itu berseru riang. "Mai....."


Maia yang berpaling dari cermin, memerhatikan Beby dengan tatapan bingung. "Ada apa sih teriak-teriak gitu, Beb?"


Saking merasa senang, suara yang dialunkan Beby hampir menyerupai sebuah jeritan. "Gue tadi anu Primus!"


"Anu apaan?" Maia tidak bisa menahan keingintahuannya. "Lo tenang sedikit bisa kan ngomongnya. Tarik napas.... hembuskan....."


Dengan dada sedikit membusung, Beby menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan sesuai aba-aba Maia. Perempuan itu melakukan tindakan tersebut berulang kali sampai dia merasa sedikit tenang.


"Oke... lo mau bilang apa?" tanya Maia selanjutnya.


Beby menggigit bibir lalu mencetus langsung. "Gue tadi anuin Primus."


Kontan Maia menganga mendengar tuturan Beby yang mengejutkannya. "Haah? Lo gila sudah anuin Primus."


"Lo sudah ternodai gitu?" bisiknya kemudian.


Beby menggeleng mengabaikan prasangka aneh temannya itu. "Bukan itu maksud gue, Mai..."


Maia mengembuskan napas lega sewaktu bahunya terselonjor ke bawah. "Kirain itu. Jadi maksud lo apaan?"


Hati Beby berbunga-bunga. Matanya penuh binar cinta. Senyumnya sekarang tidak bisa lebih indah lagi daripada yang ditampilkannya ini. "Gue... tadi...."


"Iya... apa?" Maia merasa makin tak sabar.


Suara Beby kembali meninggi dan terdengar lugas. "Gue tadi bilang suka sama Primus."


Melihat tingkah perempuan di depannya, Maia dengan lekas menutup mulut Beby. "Jangan teriak juga kali Beb, entar ada yang dengar. Bikin malu aja."


"Gue gak tahu harus ngapain, Mai."


"Gue malu banget." lanjut Beby sambil mengepalkan kedua tangan di udara.


Maia mengibaskan tangan di depan wajah Beby. "Salah lo sendiri lah. Lo sudah gila ternyata."

__ADS_1


Pernyataan itu sama sekali tidak membuat Beby tersinggung. Perempuan itu justru semakin terlihat senang. "Iya.... gue sudah gila! Tergila-gila sama Primus!"


Maia melipat tangan di depan dada. "Jadi gimana?"


"Gimana apanya, Mai?"


Maia berdecak serius. "Primus jawab apa?"


Tercipta kebisuan beberapa detik sebelum Beby menjawab pelan. "Nggak jawab apa-apa."


Maia membuat bunyi dengan dua jarinya sambil membalikkan badan kembali ke hadapan cermin. "Tanda nih,"


Beby menyusul di sisi Maia. "Tanda apaan?"


Maia memandang wajah Beby dari cermin besar di hadapannya seraya menjawab. "Pertanda kalau dia gak ngerespons kata-kata lo."


Beby lantas mengerutkan kening sambil membilas tangannya dengan air dari pancuran wastafel. "Enggak kok. Walaupun Primus gak jawab apa-apa tapi dia tadi senyumin gue."


Sambil merapikan dasi pitanya, Maia tidak tahan untuk tidak menyela. "Senyum itu banyak artinya keleus."


Bukan Beby kalau dia tidak optimis dengan perasaannya kepada Primus. Dengan senyum yang terulas, perempuan itu menimpali komentar temannya. "Tapi gue yakin senyum Primus itu artinya dia kasih gue lampu hijau buat deketin dia terus."


****


Dada Lula seketika menyesak. Hatinya dirambahi perasaan resah. Dirinya teramat tak menyangka dengan percakapan yang baru saja didengarnya dari tempatnya berdiri di salah satu bilik kamar kecil. Lula mengambil kesimpulan dari obrolan tersebut bahwa Beby ternyata benar-benar menginginkan hatinya Primus.


Setelah suara pintu toilet terdengar terbuka dan Lula tahu pasti kedua perempuan yang mengobrol tadi sudah pergi dari sana, tangan Lula gemetar menarik kenop pintu. "Gue gak boleh cemburu. Ingat La, lo itu cuma sahabat Primus." gumamnya pada diri sendiri sambil melangkah keluar dari bilik kamar kecil.


Lula berupaya menghela napas namun kelegaan tidak benar-benar menghampiri perasaannya. "Lo harus tersenyum. Gak ada cinta-cintaan. Buang jauh-jauh perasaan lo yang kampungan itu."


Baru saja Lula menarik pintu ruangan toilet hingga terbuka, tiba-tiba perempuan itu tersentak kecil mendapati Primus yang sedang berdiri di depan pintu sambil menenteng ember penuh air berbusa. Primus bermaksud ingin membersihkan tujuan terakhirnya yang pasti meninggalkan banyak jejak sepatu kotor di koridor tepat di depan ruangan toilet.


"Lula...." Kaget Primus sambil menurunkan ember ke lantai.


Lula menelan ludah. "Primus. Lo bikin kaget aja."


Primus saat itu mengerutkan kening. "Perasaan gue gak kagetin lo. Lo kali yang kagetin gue."


Lula melangkah ke depan. "Sudah ah, gue mau masuk ke kelas."

__ADS_1


Primus yang menangkap sesuatu lain di raut Lula, mencegat langkah perempuan itu sebelum sempat berhasil melintasi dirinya. "Lula... muka lo kenapa sedih gitu?"


Primus tetap bisa melihat apa yang coba disembunyikan oleh Lula. Walaupun sudah berusaha menutupi kesedihannya, namun Lula tidak bisa mengelabui sahabatnya itu. Mungkin karena Primus yang sudah terlalu mengenal dirinya.


Gelagat Lula sangat tidak tenang. Matanya tidak fokus pada Primus. "Siapa juga yang sedih. Jangan sotoy lo, Prim."


Primus masih berdiri dengan tongkat pel yang digenggamnya erat. "Gak usah bohong deh, La. Lo tahu kan kalau gue orang yang paling mengenal lo."


"Jadi... sehebat apa pun lo nyembunyiin kesedihan itu, gue pasti bisa lihat." jelas Primus tanpa tersenyum. Dia menatap mata Lula dengan sungguh-sungguh.


Lula pura-pura merapikan rambutnya karena gelisah terus diperhatikan oleh Primus. "Apaan sih? Gue gak sedih kok."


Primus mendecakkan lidah. Jelas-jelas dia bisa merasakan kesedihan yang tersirat dari wajah polos sahabatnya itu. Primus memperdekat jaraknya kemudian bersuara dengan tenang. "Cerita sama gue kenapa lo jadi sedih begini?"


"Oh gue tahu...." Primus membiarkan tongkat pel tersangga di dalam ember. Tangannya menempel di dagu sementara menilik hati Lula.


Di depan Primus, Lula bertanya-tanya. Apakah Primus tahu jika dirinya sedih karena hatinya yang retak? Apakah kini Primus sudah bisa mengetahui semuanya, perasaan yang dikuburnya di sudut hati yang gelap agar Primus tak bisa melihatnya? Sungguh, Lula tidak bisa menahan rasa malu apabila Primus benar-benar tahu akan perasaan itu.


"Sudah deh, La. Gak usah drama lagi. Jujur sama gue tentang perasaan lo itu ke gue!" tegas Primus dengan sepasang mata yang disipitkan.


Lula membisu seketika karena terkejut luar biasa. Ternyata Primus sudah benar-benar tahu mengenai perasaan ini?


"Mm pasti...." Primus menyelidik ekspresi Lula yang sangat resah itu. "Lo sedih kan lihat gue ngepel begini?"


Primus terkekeh dan Lula pun mengembuskan napas yang sempat ditahannya selama beberapa detik. Perempuan itu lega karena bukan masalah perasaan hati yang diselidiki oleh Primus. "Gue gak apa-apa kok. Lo tenang aja, La." gumam cowok itu.


Sambil tersenyum lebar, Primus memegang bahu Lula penuh perasaan. "Hukuman ini kecil aja bagi gue. Lo gak perlu sedih lagi. Gue aja bahagia kok."


Primus menarik tangannya kembali seraya mengerdip pada Lula. "Please kasih gue senyum dong, La. Biar gue semangat nih bersihin koridornya."


Lula pun tersenyum untuk menahan air matanya yang ingin jatuh. Senyumnya bukan berarti dia senang. Senyumnya juga bukan berarti dia merasa bahagia. Senyum yang dia tampilkan sekarang untuk dapat menyembunyikan kepedihan, luka, perih, yang tidak akan pernah Primus ketahui. Lula di sini berusaha menutupi segalanya.


Primus membuat kedua jarinya menyerupai pistol sembari tersenyum. "Gitu dong.... biar tambah cantik, La."


Lula pun perlahan berjalan menjauh dari sana, meninggalkan Primus. Pada detik-detik sebelum punggung Lula lenyap dari pandangan, cowok itu melirih penuh arti. "Gue gak bisa lihat lo sedih, La. Gue sayang sama lo."


*****


PS: 550 like dan 100 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya dijamin baper. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2