
Follow Instagram aku ya: Hendra.putra13
Primus berdiri beku dengan luka-luka yang menggores wajahnya. Cowok itu menunduk dengan perasaan resah yang menyelimuti. Keheningan di antara dirinya dan Lula saat ini membuat dadanya sesak. Tangisan Lula yang tak ingin berhenti membuat hati Primus terasa tertusuk dalam rasa bersalahnya.
Untuk sekian kali dia telah mengecewakan Lula. Dia takkan pernah peduli dengan pandangan orang lain terhadap dirinya, tetapi kalau Lula marah dan mengecap buruk dirinya, Primus tidak akan bisa tenang. Dia teramat takut jika Lula akan menarik diri dari kedekatan mereka selama ini.
Primus memberanikan diri menatap Lula meskipun perasaannya kontan rapuh saat melihat air mata di pipi Lula. "Gue minta maaf, La." tuturnya gemetar.
"Gue nggak bisa nahan emosi." Primus melanjutkan kalimat dan merasa hancur karena sahabatnya itu masih saja membisu.
Lula mengangkat wajah dan sepasang matanya memandang ke arah Primus walaupun dia tidak benar-benar menatap sosok cowok itu. Saat ini dia masih belum cukup kuat melihat jejak-jejak darah di wajah Primus. Perkelahian tadi benar-benar membuatnya ikut merasakan perih.
"Gue capek bilangin lo, Prim." Ada getaran rasa sakit dalam nada ucapannya sewaktu Lula mulai membuka suara.
"Lihat lo luka-luka begini gue nggak tega, Prim. Kapan lo mau berhenti berantem? Tunggu gue mati?" Lula menghela napas panjang kemudian melanjutkan ucapannya. "Biar lo puas sekalian berantem, gak ada yang larang-larang lo lagi!"
__ADS_1
Primus melangkah maju berusaha menggapai tangan Lula. Dia merasakan perempuan itu sangat marah padanya. "Lula.... jangan bilang begitu. Maafin gue, La."
"Please.... jangan marah lagi." Primus memohon tulus.
Lula melepaskan genggaman tangan Primus di sana. Suara perempuan itu meninggi. "Gue nggak marah, tapi gue khawatir sama lo! Kenapa sih lo nggak pernah mau sekali aja dengerin gue?!"
Lula mengentakkan kaki ke lantai. "Gue benar-benar capek, Prim." Dengan rasa kecewa, Lula menyerahkan kotak obat yang sedari tadi dipegangnya pada Primus. "Nih, obatin aja sendiri luka lo."
Perempuan itu lantas melangkah keluar melewati pintu UKS akan tetapi Primus menghentikan Lula sebelum berhasil meninggalkan ruangan. "Lula.... jangan tinggalin gue sendiri."
Primus menggumam serak dan tajam. "Bukannya begitu, La. Gue tadi nggak bisa nahan emosi karena Daniel sudah kurang ajar sama lo."
Lula mendesah. "Apa pun alasan lo, gue kecewa. Yang gue mau bukannya lihat lo belain gue. Mau gue cuma satu, lo berhenti nyakitin diri lo sendiri. Nggak usah berantem lagi!"
"Kenapa sekarang lo diam, Prim?" tanya Lula. "Lo mau sampai kapan di cap preman di sekolah ini?"
__ADS_1
Karena Primus kini hanya menundukkan kepala, Lula menggeleng dan pergi dari sana. Ketika ingin melangkah maju untuk kembali mengejar Lula, tiba-tiba langkah Primus terhalang oleh seorang perempuan yang dikenalnya bernama Beby. Perempuan itu menyapanya dengan raut khawatir. "Primus...."
Tangannya berupaya menggapai bahu Primus. "Lo nggak pa-pa?"
Primus tersenyum tipis di antara luka di bibirnya. "Gue nggak pa-pa kok."
Beby masih bersimpati. "Itu bibir lo masih luka. Sini gue bantu obatin luka lo."
"Nggak usah.... gue nggak pa-pa." Tolak Primus dengan suara halus, dia juga entah kenapa merasa risih dengan perhatian yang ditujukan Beby kepadanya.
Perempuan berbando merah muda itu menggeleng dan tersenyum tulus. "Sudah lo diam aja, serahin sama gue. Luka lo ini harus diobatin dulu."
Lula melangkah di koridor dengan perasaan tak tenang. Perempuan itu seketika terjebak pada permainan hatinya yang tak bisa jauh dari Primus, bahkan meninggalkan cowok itu dalam keadaan terluka, dia tidak akan pernah sanggup. Lula pun berbalik arah menuju UKS kembali. Namun ketika tiba di sisi jendela ruangan itu, ada sesak di hatinya melihat Primus bersama seorang perempuan. Hati Lula semakin berantakan ketika mengenali siapa sosok perempuan itu.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Lula mundur teratur dari sana kemudian berlari sekencang mungkin dengan selapis bening air yang menggenang di matanya. Ini sudah waktunya Lula harus belajar menjauh dari Primus, seseorang yang sangat dia cintai.
__ADS_1
*****