
Daniel melangkah mengikuti arah pandangnya. Matanya menyipit menemukan Lula mengisi salah satu kursi panjang di taman sekolah. Seakan ingin menjauhi keramaian, perempuan itu memilih kursi paling ujung agar siapa pun sulit menjangkaunya.
Dengan langkah panjang, Daniel cepat tiba di sana dan menempatkan diri di samping Lula. Terdengar dia berdeham. "Duduk sendirian aja. Mau gue temenin gak?"
Begitu Daniel menilik ke wajah Lula, cowok itu mengerutkan kening, merasa khawatir. "La? Lo habis nangis?"
Suara Lula masih sangat serak ketika dia melontarkan balasan setelah menilik sekejap seseorang yang mendatanginya. "Apaan sih?!" Lula kemudian menegakkan tubuh dan melangkah ke depan.
"La... lo mau pergi ke mana?" Daniel mengangkat wajah dan mencoba menyamai langkah kaki Lula.
Wajah Lula datar meskipun pipinya lembap karena air mata. "Gue gak mau diganggu." cetusnya pada Daniel.
Daniel mencondongkan tubuhnya ke samping, menahan Lula pergi dengan menggenggam tangan perempuan itu. "Siapa yang mau gangguin lo? Gue ke sini mau temenin lo kali."
Lula mendesah, berupaya menarik tangannya dari pegangan Daniel. "Gue lagi mau sendiri. Lepasin tangan gue, Niel."
Daniel masih bertekad ingin mencari tahu alasan mengapa mata Lula tampak redup. Percikan kesedihan terpancar dari mata perempuan itu. Meskipun lirihan suara Lula berhasil menyentuh hatinya, Daniel masih tidak melepaskan pegangan tangannya. Dia ingin sekali bisa membantu Lula apabila perempuan itu memang mempunyai sebuah masalah. "Gue gak mau." kata Daniel.
Lula masih melirih. "Tolong lepasin."
__ADS_1
Daniel mengembuskan napas dan tatapan lembut diarahkanya pada Lula. "Tapi lo harus cerita kenapa lo tadi nangis. Setelah itu baru gue lepasin."
Primus yang memang mencari-cari keberadaan Lula, akhirnya menemukan perempuan itu berdiri di sebelah seorang cowok. Menyadari cowok itu adalah Daniel, dan sedang memegang tangan Lula, Primus lari secepat mungkin lalu mendorong Daniel sehingga cowok itu terhuyung ke belakang beberapa langkah. Nyaris tersungkur.
"Woi... maksud lo apa megang-megang tangan Lula?" geram Primus, amarahnya berkelebat dalam rautnya. "Lo cari masalah mulu sama gue."
Daniel menyimpulkan senyum sinis. "Datang-datang jadi pengganggu aja lo, Prim."
Rahang Primus mengeras. Primus maju ke depan dan memberi peringatan tegas. Satu tangannya terkepal sementara satu tangannya yang lain diacungkan ke udara. "Lo jangan pernah coba-coba dekatin Lula!"
"Gue gak terima tipe cowok yang suka mainin perasaan cewek kayak lo deketin orang yang gue sayang." bentak Primus.
Cowok berkulit putih itu menepis acungan tangan Primus di depan wajahnya. "Jadi lo gak ada hak buat ngelarang gue. Karena lo bukan pacar Lula, Prim."
Lula menekan bagian dalam bibirnya, mencetus perlahan di antara sengitnya emosi yang berderak di hadapannya. "Apa yang dibilang Daniel benar, Prim."
Ungkapan Lula serempak membuat Primus dan Daniel menatap Lula. Keterkejutan menyerbu perasaan kedua cowok itu. Namun Primus yang paling terheran dan terpukul dengan pernyataan itu. "Lula..."
"Maksud lo apaan?"
__ADS_1
Napas Lula tercekat untuk beberapa saat, setelah menguatkan diri untuk mengumpulkan suara, Lula kembali mencetus dengan nada bicara yang gemetar karena perempuan itu sendiri ragu-ragu dengan apa yang akan diucapkannya. "Lo gak perlu ngelarang siapa pun yang mau dekat sama gue."
Daniel masih tidak paham mengapa Lula seolah membelanya ketimbang Primus. Tapi cowok itu tidak melepaskan momen ini begitu saja. Dia tertawa dan berseru pada Primus. "Tuh... dengerin, Prim."
"Lulanya aja gak masalah. Lo aja yang ribet."
Primus tak mengacuhkan Daniel lagi. Sekarang perhatiannya dijuruskannya penuh pada Lula. Dia sangat tidak mengerti dengan sikap Lula hari ini. Kedua alis cowok itu masih bertaut sementara dia mendekat di hadapan Lula. "La... lo pasti bercanda, kan? Lo gak serius kan ngomong begitu?"
Lula abai saja dengan pertanyaan itu. Dia menggengam tangan Daniel untuk bersama-sama meninggalkan Primus. "Daniel, ayo kita pergi dari sini."
****
PS: 850 vote dan 200 komentar untuk lanjut ke chapter selanjutnya.
Silahkan FOLLOW karena chapter selanjutnya akan di PRIVATE
Instagram Penulis: Hendra.putra13
Terima kasih.
__ADS_1